
Rindu....
Aku merindukan sosok mu yang selalu hadir disetiap hari ku. Rindu ini semakin mengebu semenjak aku membuat keputusan yang berat. Sebuah pilihan yang tidak seharusnya ku lakukan, tapi harus ku lakukan karena itu demi kebaikan diri ku sendiri.
Egois memang, tapi itulah nyatanya. Aku memilih meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan kita, sejak kita masih awal menikah sampai kita akan memiliki malaikat kecil di tengah-tengah kehidupan kita.
Meninggalkan rumah bukan semata-mata keputusan yang telah ku buat dengan tergesa. Tapi itu telah ku rencanakan jauh-jauh hari. Hati ku terlalu rapuh untuk melihat Zauya bersanding dengan Mbak Elena. Meskipun aku terlihat tersenyum, tapi itu semua hanya untuk menutupi segala luka yang ku pendam. Maafkan aku Zauya, kalau aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu.
"Jadi kamu sudah merencanakan itu sayang," gumamnya menghembuskan nafas kasar.
"Ya...semua memang salah ku karena membawa duri di dalam pernikahan kita," sambungnya.
Zauya....
sejujurnya aku merasakan rasa takut yang luar biasa saat memilih untuk pergi meninggalkan rumah. Aku takut, kalau aku akan kehilangan segala perhatian mu pada ku dan pada baby kita.
"Dasar gadis bodoh!!!," umpat Sameer.
Walaupun nyatanya semua pemikiran ku itu salah. Entah mengapa kamu lebih sering datang kepada ku, kamu posesif dan cukup banyak bicara. Salah satu sifat mu yang baru aku tau. hahahahaha.....
Kamu pun cukup manja dan kekanakan 🤭
Meskipun begitu, Dinda tetap mencintai Zauya ❤
Sameer tersenyum, dia meraba tengkuknya salah tingkah. Ledekan Humaira membuatnya malu. Istrinya pun bisa meledeknya juga rupanya walaupun itu hanya dalam bentuk sebuah tulisan.
Zauya...
Taukah kamu? Aku selalu melewati malam yang panjang serta menakutkan. Setiap malam aku selalu bermimpi buruk, saat kamu tak disisi ku, aku hanya bisa meratapinya seorang diri. Aku tidak tahu itu pertanda apa.
Di mimpi itu aku melihat kita memiliki jarak yang jauh, kamu tersenyum bersama kedua baby kita sedangkan aku tersenyum seorang diri. Zauya....apakah itu tandanya kalau kita akan berpisah? apakah itu tandanya takdir kita hanya sampai disini saja? Tidak kah kita di izinkan untuk terus bersama membentuk keluarga kecil kita Zauya?
Sameer meneteskan air matanya. Kenapa Istrinya bisa berpikir seperti itu?
Sebulan penuh aku selalu memimpikan hal yang sama, sampai aku memiliki ketakutan sendiri kalau itu memang terjadi. Aku ingin mengatakan pada mu Zauya, tapi aku takut...apalagi saat itu Zauya sedang mengurus proses perceraian dengan Mbak Elena.
__ADS_1
Aku mencoba berpikir positif, berdoa dan tidak menyakini mimpi itu. Aku hanya menganggap mimpi itu hanya sebuah ilusi serta bunga tidur yang tidak seharusnya ku yakini dan ku percaya.
"Jadi...kamu sudah merasakan itu sayang, maafkan Zauya yang tidak menyadari kondisi mu," katanya.
"Maafkan Zauya harus membiarkan mu merasakan mimpi itu seorang diri," Sameer mengusap wajahnya kasar.
Zauya...
Aku sangat bahagia saat Zauya mengatakan ingin membawa ku ke Turki. Aku sangat ingin pergi kesana, aku pun rindu dengan Mama dan Papa.
Terima kasih Zauya..telah mewujudkan keinginan ku untuk datang ke Turki.
Tapi Zauya...
Ternyata, mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama. Zauya aku harus seperti apa? Apa aku harus berserah diri pada sebuah takdir yang telah Tuhan gariskan untuk ku? Tapi mengapa Tuhan memberikan ku tanda seperti itu?
Zauya...
Kalau Tuhan lebih memilih ku untuk pergi terlebih dahulu. Dinda hanya bisa berpesan, jagalah malaikat kecil kita! jagalah mereka dengan baik. Rawat dan sayangi malaikat kecil kita karena mereka adalah sumber kebahagiaan kita, sekaligus bukti dari rasa cinta kita. Bisakah Zauya mengabulkan permintaan ku itu?
"Kenapa kamu bodoh sekali sayang? tanpa kamu minta aku akan menjaga malaikat kita. bahkan aku akan menjaga dengan seluruh nyawa ku."
Satu lagi Zauya...
Ini wajib dan harus Zauya ingat.!!
Zauya harus mencari perempuan yang menyayangi malaikat kita, jadikan dia malaikat pelindung bagi malaikat kecil kita. Bentuklah kembali keluarga bahagia.
Sameer terkekeh, gelak tawanya memenuhi seluruh kamar itu. Dia menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak akan terjadi, keluarga bahagia?? hanya dengan mu aku bisa membentuk keluarga bahagia. Kalau kamu ingin aku membentuk keluarga bahagia, maka kembali lah jangan pergi meninggalkan ku. Ini terlalu sakit..." tangis Sameer.
Dia kembali menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mewujudkan keinginan istrinya untuk membentuk keluarga baru. Baginya keluarga bahagia adalah saat ada Humaira dan kedua malaikat kecilnya. Dia tidak mengharapkan orang lain menggantikan posisi Humaira.
"Kamu melukai ku sayang," katanya masih berurai air mata.
__ADS_1
...****************...
Hancur....
Saat ini perasaannya begitu hancur. Kehilangan Humaira tentu merupakan pukulan terberat baginya. Istana yang ingin dia bangun kembali bersama Humaira harus runtuh dengan hancurnya satu pondasi yang ikut andil memperkuat istana itu.
Kepergian Humaira sama saja menghilangkan separuh nyawa yang dia miliki, tapi bagaimana Humaira bisa berpesan untuk menggantikan posisinya untuk membentuk kembali keluarga bahagia. Keluarga bahagia dengan membentuk orang baru tanpa Humaira itu bukan definisi dalam hidupnya.
Meskipun begitu, dia tidak bisa terus terpuruk akan kepergian Humaira. Dia harus tetap berdiri tegak demi Zafran dan Zafira. Mereka berdua membutuhkan Daddy nya.
Sameer menutup jurnal itu, menyimpannya kembali kedalam kotak. Dikecupnya kotak itu.
"Ini akan tetap menjadi kenangan indah yang selalu tersimpan di hati Zauya, tidak akan ada yang bisa menggantikannya, Sayang"
Sameer menyimpan kotak itu ke dalam sebuah lemari. Lemari yang khusus Sameer siapkan untuk menyimpan seluruh barang peninggalan Humaira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada yang masih penasaran sama POV Sameer kah?
Kalau ada yang masih penasaran...
Enaknya di buat, dari awal Sameer bertemu Humaira atau dibagian mana??
Kalian penasaran sama perasaan Sameer yang dibagian mana?🤭
KOMEN YA DI BAWAH....👇🏻
Eitsss....Tapi jangan lupa buat...😉
√ LIKE
√ KOMEN
√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
√ VOTE
Terima kasih semua 😉😘