
Setelah melewati perdebatan yang alot antara Sameer dan Umi Iza. Akhirnya Umi Iza memberikan izin untuk Humaira kembali pulang bersama Sameer, dengan berbagai syarat yang harus Sameer penuhi.
Sebelum kembali pulang kerumah, Sameer mengantar Humaira ke toko kue terlebih dahulu. Meskipun Sameer melarang Humaira untuk bekerja tapi sang istri tetap kekeh untuk pergi bekerja.
Sammer khawatir kalau Humaira terlalu lelah apalagi dengan kehamilan yang semakin besar dengan dua janin yang dia kandung.
Setibanya ditoko kue, Sameer melihat pemandangan yang membuat darahnya langsung mendidih. Sameer melihat sosok Akbar yang datang menyambut Humaira penuh senyuman.
"Selamat pagi bidadari ku" sapa Akbar mengerlingkan sebelah matanya.
"Kondisikan mata mu, dasar tidak tau malu" umpat Sameer sengit.
"Siapa yang tidak tahu malu disini? Suami tukang bikin sakit hati" cibir Akbar tidak kalah sinisnya.
"Apa kau bilang?" tanya Sameer yang siap melayangkan tinjunya. Tapi Humaira segera mencegahnya.
"Zauya ini masih pagi, jadi jangan bertengkar"
"Kamu bela dia sayang?"
"Bukan membela Zauya tapi hanya memperingatkan kalian berdua"
"Sini sayang ku.." Akbar menarik tangan Humaira sampai Humaira jatuh kepelukan Akbar. Sameer yang tidak terima dengan tindakan Akbar, melayangkan bogem mentah diwajah Akbar membuat bibir Akbar berdarah.
"Gus Akbar!" Teriak Humaira membantu Akbar yang jatuh tersungkur.
"Zauya ini kenapa sih selalu memakai kekerasan fisik?" Omel Humaira.
"Kenapa kamu selalu membela dia sih sayang? dia sudah berani meluk kamu" kata Sameer tidak terima sang istri terus membela Akbar.
Akbar memandang Sameer dengan tersenyum miring, seakan mengejek Sameer membuat Sameer semakin geram dengan tindakan Akbar.
"Apa hubungan kamu sama dia? Kamu selalu membela dia yang jelas-jelas melakukan tindakan yang salah" tanya Sameer mencoba meredam emosinya. Dia tidak ingin kembali bertengkar dengan Humaira.
"Karena dia kakak ku" ceplos Humaira menatap Sameer sengit.
"A-apa?" Sameer membulatkan matanya terkejut. "Ka-Ka-kakak?" Sameer tergagap.
Gelak tawa terdengar dari sosok Akbar yang sedari tadi menyaksikan drama sepasang suami istri itu. Akbar memegangi perutnya tidak bisa menahan tawanya, apalagi melihat wajah Sameer yang bingung dan linglung.
"Kau?" Sameer menunjuk Akbar kesal yang masih tertawa. "Sialan kau ya, kau mempermainkan ku?" Sameer menjepit leher Akbar di ketiaknya. Akbar pun menghentikan tawanya.
"Sakit Sam. sialan kau"
"Jadi kau yang mengirimkan foto-foto itu?"
"Kau pikir siapa lagi?"
Humaira yang tidak menyadari apa yang terjadi diantara mereka segera menarik kedua telinga Sameer dan Akbar, membawa mereka masuk kedalam ruangan pribadi Humaira yang ada ditoko untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara mereka berdua.
"Ada apa sebenernya diantara kalian?" tanya Humaira memandang Sameer dan Akbar. "Apa kalian tidak malu bertengkar seperti anak kecil di depan toko?" Omel Humaira.
"Tanya saja sama dia sayang, apa yang sudah dia lakukan?"
__ADS_1
"Apa sih Sam, aku hanya mengirimkan foto ku dan Humaira" jawab Akbar enteng. "Ku pikir itu bukan masalah besar. kau saja yang mudah emosi" lanjut Akbar meneguk teh hangat yang tersaji dihadapannya.
"Cih...." Sameer menatap Akbar sinis. "Kau mengirimkan itu karena aku tidak tahu hubungan mu dan Humaira. Jadi kau memanfaatkan keadaan untuk menguji kesabaran ku" terang Sameer tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
Sameer baru mengetahui kalau Humaira memiliki seorang kakak karena setahu dirinya Humaira anak sulung.
"Kenapa aku baru tahu kalau kalian bersaudara? bahkan saat Humaira lahir pun aku melihatnya" kata Sameer
"Itu ceritanya cukup panjang, akan sangat panjang kalau aku cerita sekarang. Sebaiknya kau pulang, istri mu yang satunya pasti sudah menunggu"
"Kau mengusir ku?" tanya Sameer sinis
"Ya, aku mengusir mu. Cepat sana pergi"
Humaira yang sedari tadi mendengar perbedatan mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
****
Dering ponsel milik Sameer terus berbunyi sepanjang jalan. Sudah sedari tadi Bi Imah menelfonnya memberikan kabar tentang keadaan Elena yang kembali mengamuk.
Sameer pun memacu kendaraannya secepat mungkin, beruntung hari ini jalanan tidak begitu padat cukup lenggang untuk di gunakan berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Pyarrr...."
Elena memukul kaca itu sekuat tenaga, ia benci menatap tubuhnya di cermin. Setiap menatap tubuhnya bayang-bayang pergulatan panasnya bersama Erik. Bagaimana Erik mencumbu setiap bagian tubuhnya, dan bagaimana ia menggeliat menikmati setiap sentuhan Erik karena obat perangsang yang sengaja Erik berikan.
"Elena" panggil Sameer merangsek masuk ke dalam kamar Elena. Melihat pecahan kaca berserakan dengan darah yang mengucur dari tangannya.
"Tenanglah Ele" Sameer memeluk erat Elena, memberikan rasa nyaman pada sosok wanita yang kini jiwanya sedang terguncang.
"Jangan tinggalkan aku Sam" pinta Elena sendu
"Aku di sini Ele, aku tidak akan meninggalkan mu" ujar Sameer mengeratkan pelukannya.
Pandangan matanya mulai terasa buram, dan kepalanya terasa sakit. Elena meraba wajah Sameer, bayangan wajah Sameer begitu banyak.
Brukk...Elena jatuh pingsan tepat dipelukan Sameer.
"Bi Imah!" teriak Sameer memanggil Bi Imah.
"Astagfirullah..!"seru Bi Imah terperanjat dengan kondisi kamar Elena, terlebih Elena yang pingsan di pelukan Sameer.
"Bi Imah tolong bereskan kamar ini ya, saya akan memindahkan Elena ke kamar tamu dan tolong telfon dokter Johan" perintah Sameer membopong tubuh Elena meninggalkan kamar.
"Baik Tuan" Humaira mengangguk mengerti.
Sameer pun menuruni tangga membopong tubuh Elena, memindahkan Elena ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.
Penampilan Elena yang biasanya cantik dan selalu sempurna, sekarang berantakan dengan wajah pucat pasi khas orang depresi. Sameer iba melihat kondisi Elena saat ini.
"Assalamualaikum" sapa Dokter Johan datang bersama Bi Imah
"Waalaikumsalam Jo, mari silahkan" tutur Sameer mempersilahkan Dokter Johan untuk memeriksa kondisi Elena.
__ADS_1
"Bagaimana Jo keadaan Elena?" tanya Sameer menatap Johan was-was, apalagi dilihat dari ekspresi wajah Johan yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sam, sepertinya kau harus membawa Elena konsultasi" kata Johan.
"Konsultasi? Aku pikir dia sudah lebih baik Jo. Kemarin dia sudah bersikap normal"
"Tapi kenyataannya memang seperti itu Sam, jiwanya masih terguncang. Berada di posisi istri mu itu bukan hal mudah"
Sameer mengusap wajahnya kasar. Dia merasa begitu frustasi menghadapi semua cobaan yang diberikan padanya.
Hidupnya yang biasanya tenang dan damai, kini mendadak seperti roller coster, kapan saja bisa naik, bisa turun, bisa cepat dan bisa lambat.
"Aku akan membicarakan ini setelah dia sadar Jo. Terima kasih atas sarannya"
"Kau harus sabar, kau baru saja di beri ujian" Johan meremas bahu Sameer memberikan kekuatan untuk Sameer. Sameer menganggukan kepalanya.
Sameer memandang wajah Elena yang terlelap akibat obat penenang yang disuntikan Johan. Sameer mengelus kepala Elena iba.
"Cepatlah sembuh Ele" Sameer mengecup kening Elena.
****
Sebulan sejak peristiwa itu terjadi, kesehatan psikis Elena mulai membaik. Atas bujukan Sameer pula Elena mau berkonsultasi dengan psikiater yang merupakan salah satu faktor yang mempercepat kesembuhan Elena.
Selama sebulan itu pula Sameer meminta Humaira untuk kembali tinggal bertiga dalam satu atap. Sameer membutuhkan Humaira untuk selalu disisinya, untuk memberikannya kekuatan.
Hoek....hoek....hoek....
Elena memuntahkan isi perutnya, Sameer yang mendengar suara Elena segera berlari menghampiri Elena. Memijat tengkuk Elena pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Sameer cemas. Wajah Elena berubah pucat pasi dan badannya pun lemas sampai Sameer harus menyangga tubuh Elena supaya tidak jatuh.
"Tidak tau Sam. Aku akhir-akhir ini lemas dan pusing" jawab Elena lirik.
"Cuci dulu muka mu ya, setelah itu kamu tidur nanti aku akan telfon Johan untuk mengecek kondisi mu"
"Tidak perlu Sam, mungkin aku hanya masuk angin saja. Nanti juga sembuh"
Sameer mengendong Elena membaringkan tubuh Elena di ranjang. Sameer mengelus surai Elena lembut seraya memberikan kecupan di kening Elena.
"Kamu istirahat ya, aku akan tetap menelfon Johan. Aku khawatir sekali dengan keadaan mu" tutur Sameer menaikan selimut sebatas dada Elena. Elena hanya mengangguk pasrah, dia sudah tidak sanggup lagi menjawab perkataan Sameer.
"Mbak Elena kenapa Zauya?" tanya Humaira melihat Sameer baru keluar dari kamar Elena.
"Tidak tau, dia muntah dan badannya lemas. Aku akan menelfon Johan"
"Zauya makan dulu, biar nanti Dinda yang menelfon Dokter Johan" Sameer mengangguk mengiyakan perkataan Humaira, apalagi cacing diperutnya sudah berdemo minta di isi.
...****************...
Bonus visual AKBAR HUSAIN AS UDI KARNI
__ADS_1