Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 41


__ADS_3

Jangan lupa ya...


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


Terima kasih


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Turki merupakan negara yang kaya akan sejarah, arsitektur bangunan yang megah dan indah serta masakan khas yang bercita rasa tinggi yang kental akan rempah-rempah.


Semua itu salah satu persona Turki yang membuat orang betah untuk berkunjung khususnya di Istanbul. Langkah kaki penuh semangat itu tidak pernah surut dari Humaira.


Usia kandungan yang sudah mulai membesar sama sekali tidak menghalanginya untuk menikmati keindahan Istanbul. Terkadang membuat mereka bertiga para pria mengernyit heran dengan semangat Humaira.


"Kamu ingin mengajak kita kemana sayang?" tanya Sameer masih setia menggenggam tangan sang istri.


"Tadi Dinda sudah browsing di internet dan Dinda rasanya ingin pergi ke sini. Makanannya bikin Dinda lapar" kata Humaira menunjukan salah satu restoran yang cukup terkenal di Turki. Humaira menunjukan Asitane Restaurant.


"Pilihan yang bagus" kata Akbar menyetujui pilihan Humaira


"Itu salah satu restaurant yang menu nya dari kesultanan Ottoman dan sangat lezat cukup terkenal di Turki" jelas Elmir.


"Zauya, kita kesana ya?" tanya Humaira menatap Sameer manja sambil mengedipkan kedua matanya.


"Apapun itu asal membuat Dinda bahagia"


"Dih...dasar bucin kumat!" ejek Akbar


"Ayo El kita pergi! tidak tahan aku melihat orang bucin" kata Akbar merangkul pundak Elmir meninggalkan mereka berdua.


Sameer dan Humaira terkikik geli dengan sikap Akbar yang anti pati.


"Dasar bujang lapuk!" teriak Sameer terkekeh.


***


Menu makanan telah tersaji diatas meja hampir memenuhi seluruh meja. Para pria tampan itu saling memandang satu sama lain, mereka hanya bisa bengong menatap semua makanan itu.


Semua makanan yang tersaji di atas meja adalah hasil dari pesanan Humaira. Mereka seakan tak percaya Humaira akan memesan makanan sebanyak itu sampai membuat meja terisi penuh.


"Selamat makan!" ucap Humaira ceria menepuk dua tangannya.

__ADS_1


Humaira mulai menyendokkan Piruhi olahan pasta dengan bayam, keju serta bawang. Humaira mengunyahnya secara perlahan menikmati setiap rasa pasta yang masuk kedalam mulutnya.


Ketiga pria tampan itu hanya menelan salivanya, melihat Humaira menikmati makanannya bahkan Humaira hanya mencicipi satu sendok dari enam makanan yang tersaji di atas meja.


"Kalian makanlah, aku sudah kenyang" kata Humaira santai meletakkan sendoknya di atas meja sambil menyeruput secangkir lemon tea hangat.


"Hah??" jawab mereka bertiga bengong.


Elmir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa sikap sang kakak sangat aneh, apalagi semenjak kakaknya hamil.


"Mbak Mai tidak salah? Kami harus makan sisa Mbak Mai?" tanya Elmir


"Apa kalian tidak suka? Aku kan hanya mencicipi satu sendok saja El. itu saja aku pakai 6 sendok baru. INGAT ENAM SENDOK BARU" Kata Humaira penuh penekanan.


"Tapi Mai itu sama saja tidak sopan, itu sama saja kamu memberikan makanan sisa. Seharusnya kamu tau adab saat makan" tegur Akbar yang tidak sepaham dengan tindakan Humaira.


Humaira menatap Sameer menampilkan puppy eyesnya. Matanya pun terlihat berkaca-kaca. Sameer yang melihat tatapan istrinya hanya menghela nafas pelan menekan kesabarannya untuk tidak mengkritik tindakan sang istri.


"Zauya..." panggil Humaira manja, mengalungkan tangannya di lengan Sameer manja.


"Iya Dinda"


"Mereka memarahi ku, Mereka jahat" rengek Humaira menunjuk Akbar dan Elmir bergantian.


Akbar dan Elmir saling berpandangan penuh rasa bersalah. Mereka sadar kalau Humaira tengah hamil dan biasanya Ibu Hamil memiliki perasaan yang cukup sensitif.


"Apa Zauya juga membela mereka? Apa Zauya juga akan marah pada ku seperti mereka?" keluh Humaira.


"Zauya tidak membela mereka, Zauya juga tidak akan marah seperti mereka" Sameer memberikan tatapan tajam ke arah mereka berdua. Lagi-lagi mereka berdua menjadi salah tingkah sendiri di situasi saat ini.


"Apa Zauya sudah boleh makan? Zauya juga lapar" Sameer mengelus lembut kepala Humaira.


"Ok..Zauya bisa makan. tapi setelah ini kita beli ice cream ya. Dinda sudah ingin Ice cream"


"Siap Tuan putri" Sameer memberikan kecupan di kening Humaira.


"Astaga jiwa jomblo ku meronta" sindir Akbar


"Terus saja keluarkan ke bucinan kalian. Kalau tau begitu sejak awal aku menolak permintaan Humaira untuk pergi jalan-jalan" kata Akbar sebal sambil mengunyah Brasied Lamb and Chestnut olahan daging domba dengan bawang mewah dan chestnut.


"Zauya, Gus Akbar mulutnya jahat sekali" Adu Humaira.


Sameer pun melayangkan tendangan kakinya tepat di tulang kering milik Akbar, seketika membuat Akbar mengadu kesakitan sampai membuatnya tersendak makanan yang di kunyahnya.


"Dasar kau ya, sama sekali tidak bisa mengontrol ucapan mu" omel Sameer.

__ADS_1


"Kak Akbar minum dulu" Elmir menyodorkan segelas air putih. Akbar pun segera meneguknya.


"Sialan kau Sam, Kau menendang kaki ku" gerutu Akbar


"Itu yang harus kau bayar, Lihat kau membuat istri ku sedih"


"Sekarang kau sudah menjadi suami-suami takut istri ya, bergidik aku jadi nya" celetuk Akbar.


"Sialan mulut mu benar-benar ya" Sameer memukul kepala Akbar dengan sendok.


"Hey...kau menyiksa ku terus-terusan" Keluh Akbar tidak terima perilaku Sameer.


Elmir dan Humaira terkekeh geli melihat keduanya yang selalu Bertengkar, sudah seperti kucing dan tikus tidak pernah akur.


****


Seorang wanita berdiri di gedung apartemen tempat tinggal Sameer. Wajahnya terlihat pucat, dia terlihat resah sesekali melihat kesana kemari.


Tak berapa lama sebuah mobil berhenti, turunlah Humaira dan Sameer. Sameer menuntun pelan sang istri menuju apartemen mereka.


"Sameer!!" teriak Seorang wanita yang tak lain Elena berlari kecil menghampiri Sameer dan Humaira.


Rasa terkejut dan tidak percaya tampak dari wajah keduanya saat melihat kehadiran Elena yang tidak terduga.


"Ele!" seru Sameer menatap Humaira.


Humaira hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tau mengapa Elena berada di Turki bahkan sampai Elena mengetahui tempat tinggal mereka.


"Sam, apa kita bisa bicara berdua saja?" tanya Elena dengan tatapan mata sendunya.


"Maaf Ele, kita sudah bukan muhrim tidak sepantasnya kita hanya berbicara berdua" tegas Sameer


"Tapi aku belum setuju untuk bercerai dengan mu Sam" kekeh Elena


"Ele, aku sudah menjatuhkan talak tiga pada mu itu artinya secara agama kita sudah bukan sepasang suami istri. Lagi pula tanpa aku menjatuhkan talak pun pernikahan kita rasanya tidak Sah"


"Kenapa tidak Sah? kita menikah secara agama dan hukum Sam" bantah Elena tidak setuju mengenai pernyataan Sameer tentang pernikahan mereka yang tidak sah.


"Karena kamu masih terikat hubungan pernikahan dengan pria lain tanpa sepengetahuan ku dan dulu bodohnya aku tidak meminta akta cerai pada mu, sebagai tanda bukti bahwa kamu benar-benar sudah bercerai"


"Sam, mari kita bicara sebentar" mohon Elena


"Sedari tadi kita sudah bicara Ele, kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi. Aku permisi!" Tanpa panjang lebar lagi Sameer mengandeng tangan Humaira meninggalkan Elena yang masih tetap berdiri didepan gedung apartemen.


Elena menatap kepergian Sameer dengan sedih. air mata yang telah sedari tadi ditahannya meluncur juga membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


'Tunggu aku Sam, tidak akan ada yang bisa merebut mu dari ku' Elena mengepalkan tangannya.


*****


__ADS_2