
Semenjak kepergian Sameer tiga minggu yang lalu, Humaira masih menjalankan kegiatannya seorang diri. Dia masih sibuk dengan toko kuenya yang semakin ramai pengunjung dan semenjak itu pula Sameer belum memberinya kabar sampai saat ini.
Gelisah, khawatir, sedih sekaligus kecewa itu yang Humaira rasakan. Rasanya ia ingin menyusul Sameer ke Bogor, tapi Entahlah ia tidak tau tepat dimana Sameer tinggal.
"Zauya, aku merindukan mu" gumam Humaira duduk diayunan yang berada dihalaman belakang rumahnya dengan ditemani bunga-bunga yang selama ini ia rawat untuk mengisi kesibukannya.
"Apa Zauya merindukan ku? Zauya apa kamu akan bahagia kalau aku sekarang hamil? Zauya apa kau sudah bertemu Elena? Apa kau bahagia Zauya? Mengapa kau tidak memberikan kabar?" Gumam Humaira seorang diri, bertanya-tanya akan keadaan sang suami saat ini.
"Humaira" panggil Umi Iza setengah berteriak memasuki rumah.
Humaira yang terkejut mendengar panggilan Umi Iza, tergopoh-gopoh menghampiri Umi Iza karena tidak biasanya Umi Iza berteriak memasuki rumah, itu bukan seperti kebiasaan Umi Iza.
"Wa'alaikumsalam Umi" sapa Humaira
"Assalamualaikum, maafkan Umi tidak salam dulu"
"Ada apa Umi? Kenapa Umi berteriak?" Humaira menatap Umi Iza penuh tanda tanya
"Kamu harus ikut Umi ke rumah utama, ada yang harus kita selesaikan sayang dan ada yang harus kamu jelaskan"
Humaira linglung menatap Umi. Penjelasan? Apa yang harus ia jelaskan pada Umi dan Abi? Ia tidak merasa memiliki sesuatu yang harus ia jelaskan kepada mertuanya itu. Pikirannya berkecamuk memikirkan perkataan Umi Iza.
"Ayo sayang!" Umi Iza menggandeng Humaira keluar dari rumahnya. Humaira hanya diam menuruti kemauan Umi yang membawanya menuju rumah utama.
Tak berapa lama mereka sudah tiba dirumah utama. Saat keluar dari dalam mobil. Humaira terdiam terpaku menatap mobil milik Sameer berada di rumah utama. Jantungnya berdetak kencang, Humaira merasa kalau ada sesuatu yang akan terjadi.
Tanpa banyak bicara Umi Iza menggandeng tangan Humaira memasuki rumah utama.
Deg..
Tubuhnya mendadak kaku, lidahnya kelu, kakinya terasa lemas jangan lupakan jantungnya yang berdetak kencang. Matanya mulai berkaca-kaca, air mata sudah mulai menggenang dipelupuk matanya.
Lelaki yang tiga minggu ini ia rindukan, lelaki yang selama ini ia tunggu kabar dan keberadaannya. Tengah duduk didepan orang tuanya dengan disampingnya ada seorang gadis. Gadis berkulit sawo matang, rambut hitamnya yang tergerai indah jauh dari kata seorang wanita muslimah, tentu dengan parasnya yang menawan.
"Humaira, duduklah sayang" pinta Abi Ahmed.
Humaira mendudukan tubuhnya di sebuah sofa single, kepalanya menunduk siap mendengarkan apa yang akan mertuanya bicarakan. Suasana terasa tegang mencengkam seperti ada berita besar dari Sameer dan gadis yang berada di sisinya. Yang saat ini tengah menggenggam lengan Sameer erat.
"Sameer disini sudah ada istri mu, bicaralah apa yang ingin kau bicarakan" kata Abi Ahmed mempersilahkan Sameer berbicara.
Umi Iza yang duduk disamping Abi Ahmed memalingkan wajahnya dari sang putra, ia marah, kecewa dan sedih melihat Sameer membawa gadis dari masa lalunya.
Sameer menghampiri Humaira yang masih senantiasa menundukkan kepalanya. Sameer bersimpuh di hadapan Humaira menggenggam tangan Humaira erat.
__ADS_1
"Dinda" panggil Sameer dengan suara lembutnya.
"Iya Zauya, sampaikanlah apa yang ingin Zauya sampaikan. Dinda siap mendengarkan" katanya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Maafkan Zauya yang tiga minggu ini tidak memberikan mu kabar. Zauya pulang bersama Elena, Zauya sudah menikah dengan Elena secara agama" ujar Sameer pelan.
Sesak..dadanya terasa sesak. Air matanya menetes jatuh tepat ditangan Sameer. Hancur sudah harapannya. Ia sesenggukkan dengan tangisnya, hatinya sakit seperti ada ribuan paku yang menancap seakan siap membunuhnya.
Tiga minggu ia menunggu suaminya, ini yang ia dapatkan sebuah berita pernikahan. Walaupun ia tau kalau ini akan terjadi tapi ia sungguh tidak menyangka kalau akan secepat itu terjadi. Semua itu tetap menyakitinya.
"Zauya meminta restu pada mu"
Humaira menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Iya Zauya, Dinda memberi restu" kata Humaira miris. Humaira menarik napas berat, menghembuskannya perlahan menetralisir rasa sesak di dada.
Humaira sedikit mengangkat wajahnya menatap Sameer sendu. Dibelainya wajah Sameer, ditatapnya mata Sameer penuh cinta dan kerinduan yang teramat dalam.
"Dinda..." Sameer terdiam sejenak. Humaira mengelus lembut tangan Sameer memberikan tanda untuk Sameer melanjutkan perkataannya.
"Zauya ingin menghalalkan pernikahan Zauya dengan Elena bukan secara agama saja tapi juga secara hukum" lanjutnya mencium tangan Humaira.
Deg...
"Berbahagialah Zauya, temukan kebahagiaan Zauya dengan mbak Elena. Semoga Allah meridhoi pernikahan kalian" ucap Humaira menahan sesak di dadanya.
Sesakit inikah rasanya patah hati. Mungkin ini lebih dari patah hati. Entahlah apa namanya, Saat ini ia tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaannya kini.
"Maafkan Dinda ya Zauya" diciumnya kening Sameer dalam, air matanya terus mengalir dari mata indahnya.
Umi Iza yang melihat itu hanya menangis tergugu dipelukan Abi Ahmed, ia tidak menyangka kalau putra yang paling ia cintai akan menduakan istrinya dengan perempuan dimasa lalunya.
Ia bahkan tidak punya kekuatan apapun lagi untuk membantu mencegah pernikahan kedua Sameer. Semua dilakukan Sameer tanpa sepengetahuan mereka bahkan Humaira yang istri pertama tidak tau pernikahan kedua sang suami.
"Sameer kenapa kau begitu kejam? Umi tidak menyangka kau tega menyakiti istri mu. Salahkah Umi melahirkan mu? Salahkah Umi mendidik mu?" Umi tidak bisa menahan kemarahannya melihat perbuatan sang putra kesayangannya.
Ia sakit hati dengan sikap sang putra, ia tidak percaya kalau sang putra akan menikah lagi. Berpoligami. Seluruh wanita didunia ini tidak ada yang pernah menginginkan sebuah poligami bahkan ia sekalipun tidak akan mau kalau di poligami.
"Umi tenangkan dirimu" Abi Ahmed mengelus punggung Umi Iza.
"Bagaimana Umi bisa tenang Abi? Lihatlah putra kita Abi. Ia menyakiti hati istrinya, bukan hanya hati Humaira yang sakit tapi hati Umi juga dan bahkan mungkin hati Kirana kalau mengetahui putri mereka dimadu. Abi salahkah kita mendidik putra kita? Jawab Umi, Abi. Jawab!!!" Umi menggoyangkan tubuh sang Suami, tangisnya histeris. Tangisan itu seakan mewakili tangisan Humaira.
"Umi maafkan Sameer, sejak awal memang wanita yang Sameer cintai adalah Elena. Maafkan Sameer kalau keputusan ini membuat Umi dan Abi bersedih. Maafkan Sameer!" ucap Sameer menatap sang Umi yang menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Plakkk....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sameer, semua orang menatap tercengang atas tindakan Abi Ahmed yang tiba-tiba. Ini pertama kalinya Abi Ahmed memukul Sameer.
Sameer memegang pipinya yang memerah, terasa panas bahkan sudut bibirnya robek mengeluarkan darah. Sameer sungguh tidak menyangka kalau Abi Ahmed akan melayangkan sebuah tamparan diwajahnya. Ini seumur hidupnya ia mendapatkan tamparan dari sang Ayah.
Elena yang menyaksikan semuanya hanya mampu terdiam, ada rasa bersalah didalam hatinya. Ia merasa ini sebuah kesalahan karena sudah menerima Sameer menjadi suaminya. Ini akan menyakiti semua orang bahkan ia bisa melihat kalau istri Sameer begitu baik, merelakan suaminya bersanding dengan perempuan lain. Apalagi itu perempuan dari masa lalunya.
"Pulanglah bawa istri kedua mu dan biarkan istri pertama mu disini bersama Abi dan Umi" kata Abi Ahmed tegas
"Tidak Abi, Humaira akan tetap tinggal bersama kami"
"Bersama kami?" tanya Umi Iza menatap sinis Sameer
"Kamu ingin menyatukan mereka dalam satu atap? Apa yang kau pikirkan Sameer? Neraka jenis apa yang ingin kau ciptakan dirumah tangga mu?" kata Sang Abi menohok hati Sameer.
Sameer menggelengkan kepalanya menyangkal pendapat Sang Abi.
"Tidak Abi, Sameer yakin mereka bisa hidup bersama"
"Omong kosong" kekeh Abi Ahmed sesekali menggelengkan kepalanya. "Tidak ada seorang wanita pun yang bisa berbagi dengan orang lain. Apa lagi itu sudah menjadi miliknya, jangan buta Sameer" lanjut Abi Ahmed tanpa menatap wajah Sameer. Gurat kekecewaan sungguh terlihat dari wajah tuanya.
"Setelah pernikahan mu Abi dan Umi akan menjemput Humaira. Abi tidak mau mantu Abi makan hati hidup bersama mu dan istri kedua mu, dan satu lagi jangan harap Abi dan Umi datang kepernikahan mu. Karena sampai kapan pun Abi dan Umi tidak akan merestui" Abi berlalu meninggalkan ruang keluarga.
Baru mencapai tangga kedua, Abi menghentikan langkahnya membalikkan badannya menatap mereka semua.
"Mulai hari ini KAU MUHAMMAD SAMEER BARIQ" Teriak Abi menunjuk ke arah Sameer. Semua perhatian terpaku pada sang Abi. "KU HARAMKAN KAU MENGINJAK RUMAH KU. Persetan dengan Poligami" tegas Sang Abi melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka semua yang masih terdiam dengan segala pikiran yang berkecamuk.
Umi Iza memeluk Humaira sayang, dikecupnya kening dan kedua pipi Humaira. Dibelainya wajah yang tertutup cadar itu. Sungguh pemandangan yang sedap dipandang mata. Bagaimana kasih sayang seorang mertua kepada menantunya yang terjalin erat.
"Maafkan Umi dan Abi ya sayang, jaga kesehatan mu" ucap Umi Iza
"Iya Umi, tidak apa-apa. Umi tidak perlu meminta maaf"
"Jangan biarkan laki-laki brengsek itu tau tentang anaknya" bisik Umi Iza tepat ditelinga Humaira.
***
Suasana siang yang cerah berubah mendung. Keluarga Bariq murka. Abi Ahmed adalah salah seorang yang tidak menyukai hal yang berbau poligami. Baginya orang yang berpoligami hanya mengedepankan nafsunya.
Laki-laki sejati adalah laki-laki yang mampu menjaga satu hati. Bukan mengumbar nafsu untuk memiliki hati lainnya. Sungguh Abi Ahmed tidak ingin membenarkan perbuatan Sameer. Tidak ada poligami yang berlandaskan agama. Semua hanya berlandaskan hawa nafsu.
Abi Ahmed hanya mampu berserah diri kepada sang Maha kuasa. Ia berharap sang putra segera dibukakan pintu hatinya.
__ADS_1
***