
Tawa riang penuh canda terdengar di sepanjang koridor kantor, tangan yang saling bergandengan erat serta dua pasang kaki yang dengan lincahnya berlari kecil menuju sebuah ruang kerja yang tempatnya berada paling ujung, ruangan terbesar dilorong itu sekaligus ruangan satu-satunya milik sang presdir perusahaan.
"Selama siang tampan, cantik," sapa Jenny menyambut Zafran dan Zafira yang datang ke kantor sang Daddy.
"Selamat siang aunty Jenny," jawab mereka serempak tersenyum manis.
"Selama siang Umi," sapa Jenny pada sosok wanita paruh baya yang menemani Zafran dan Zafira datang ke kantor.
"Selamat siang Jen, apa Sameer ada di dalam?" tanya Umi Iza.
"Ada Umi, Tuan baru saja tiba."
"Baru saja tiba? jam makan siang?" tanya Umi Iza terkejut, bagi Umi Iza tidak biasanya Sameer datang saat makan siang bahkan tadi sang putra juga berangkat pagi-pagi sekali.
"Iya Umi."
"Terima kasih ya Jen."
"Iya Umi."
"Oh ya ini makan siang untuk kamu dan juga Henry," Umi Iza meletakan dua rantang makanan tepat di meja kerja Jenny.
"Terima kasih Umi," jawab Jenny membungkukan tubuhnya mengucapkan terima kasih pada Umi Iza. Umi Iza hanya membalasnya dengan senyuman sambil berlalu meninggalkan Jenny.
Tok...tok...tok...
Umi Iza mengetuk pintu ruangan Sameer. Setelah mendengar jawaban Sameer dari dalam. Mereka bergegas masuk ke dalam ruang kerja Sameer.
"Assalamualaikum Daddy," sapa Zafran dan Zafira kompak dari balik pintu.
"Waalaikumsalam My Love," balas Sameer beranjak dari kursi kebesarannya menyambut kedatangan kedua anaknya serta sang Umi. Memberikan mereka pelukan serta kecupan di kening kedua anaknya.
"Assalamualaikum Sam," sapa Umi Iza meletakan rantang makanan diatas meja.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Umi," Sameer mengecup punggung tangan Umi Iza.
"Dad, kita kesana dulu ya," kata Zafran menunjuk sebuah ruangan khusus tempat mereka bermain ketika berkunjung ke kantor Sameer.
"Ok Boy," Sameer mengacak rambut Zafran.
"Kata Jenny kamu baru tiba, Sam," kata Umi Iza membuka satu persatu rantang makanan serta menyusunnya dimeja.
"Iya Umi," jawab Sameer mengambil tempat duduk di sebelah sang Umi yang sedang menyiapkan makan siang.
"Apa yang membuat mu datang siang Sam? tadi Umi lihat kamu juga berangkat sangat pagi dan itu semua di luar kebiasaan kamu," selidik Umi Iza. Umi Iza merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Sameer.
Sameer menghela nafas berat, menundukkan kepalanya sejenak dan mengangkatnya kembali memandang Umi Iza yang masih menunggu jawabannya.
"Aku sudah tahu wanita yang mirip sekali dengan Humaira."
"Wanita mirip Humaira?" tanya Umi Iza.
"Tapi kenapa kamu murung seperti itu Sam? bukankah harusnya kamu merasa senang?" tanya Umi Iza.
"Dia sudah punya suami, suaminya sedang sakit,"
"Siapa namanya? kerja dimana dia?" tanya Umi Iza semakin penasaran dengan sosok wanita yang mirip Humaira.
"Namanya Senja Aulia, dia bekerja disini sebagai koki kantin perusahaan," terang Sameer.
"Astagfirullah, ternyata dia begitu dekat dengan kita. Apakah ini jalan yang Allah tunjukkan Sam?" tanya Umi Iza antusias.
"Umi jangan salah paham terlebih dahulu, dia bukan Humaira, dia adalah Senja Aulia yang memiliki kemiripan dengan Humaira. Jangan sampai Umi berpikir untuk membuat Senja sebagai pengganti Humaira," tutur Sameer mengingatkan Umi Iza.
Plak...!
"Auwww....!" Sameer mengelus lengannya yang terasa panas akibat pukulan Umi Iza.
__ADS_1
"Umi tidak sepicik itu, Umi hanya merasa bersyukur karena kerinduan Umi bisa terobati dengan melihat wajah Senja. Bagi Umi, Senja ya Senja, Humaira ya Humaira mereka berdua mungkin memiliki wajah yang sama tapi sikap dan sifat mereka mungkin berbeda. Dari cara berpakaian saja bisa di lihat kalau mereka sudah berbeda," jelas Umi Iza berbinar senang. Umi Iza tidak bisa memungkiri kalau dia merasa begitu bahagia bisa bertemu Senja dan menatap Senja secara langsung.
"Dad, Nenek!" teriak Zafira berlari menuju kearah mereka. Membuat kedua orang dewasa itu terkejut mendengar teriakan Zafira.
"Zafira bisa memanggil dengan cara yang baik, tidak perlu berteriak," tegur Umi Iza.
"Za mau turun pergi ke taman, Za mau bertemu Mommy. Za melihat Mommy," kata Zafira riang.
"Pergi ke taman? Bertemu Mommy?" tanya Umi Iza menatap Sameer bingung.
"Za, itu bukan Mommy," ujar Zafran menyusul Zafira, wajahnya terlihat sebal.
"Itu Mommy, Abang." kata Zafira kekeh kalau yang di lihatnya memang Mommy nya.
"Itu bukan Mommy, itu hanya wanita yang mirip Mommy," tegas Zafran tidak suka Zafira sang adik menganggap wanita lain sebagai Mommy mereka.
"Kalian lihat Mommy dimana?" tanya Umi Iza.
"Disana," Zafira menunjuk arah jendela besar di ruangan Sameer yang langsung menuju ke taman kantor.
Umi Iza yang memang penasaran berjalan menuju jendela, Umi Iza menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya Senja sedang menikmati makan siangnya seorang diri. Sameer yang memang tahu hanya mampu terdiam, membiarkan Umi Iza serta kedua anaknya melihat Senja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
😊LIKE
😊KOMEN
😊VOTE
ya guys....
Terima kasih semuanya... 🤗😘
__ADS_1