Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 9


__ADS_3

Kebahagiaan yang Sameer rasakan terasa lengkap dengan bertambahnya usia. Dia memiliki si kembar yang selalu memberikannya kebahagiaan dan orang tua yang hadir ditengah-tengahnya.


"Dad, kapan kita punya mami?" celetuk Zafira ditengah makan malam yang mereka santap untuk merayakan ulang tahun Sameer.


"Aku tidak mau punya Mami," ketus Zafran.


Sameer terdiam, mengalihkan pandangannya pada kedua orang tuanya. Mereka pun hanya tersenyum menanggapi tatapan Sameer.


"Kenapa Zafira ingin punya Mami? dan kenapa Zafran tidak mau?" tanya Umi Iza. Sameer kembali diam sembari menunggu jawaban dari kedua anaknya yang memiliki pertanyaan yang bertolak belakang.


"Karena semua teman Za di antar mami, apalagi sebentar lagi di sekolah ada acara hari ibu," kata Zafira polos.


"Apa hanya itu?" tanya Umi Iza.


"He...em." Zafira memberi anggukan. "Dan kata temen Za, kalau mami nya meninggal berarti Daddy harus cari Mami baru seperti Daddy nya Luisa," lanjut Zafira celotehan khas anak kecil.


"Apa kamu pikir punya Mami semudah membeli mainan?" sindir Zafran pada adiknya. Zafira cemberut mendengar sindiran sang kakak.


Sameer dan kedua orang tua Sameer tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka jawaban itu terlontar dari anak ber⅞usia lima tahun.


"Abang Zaf selalu emosi, nanti cepat tua loh!" ejek Zafira terkekeh geli membayangkan sang Abang berwajah tua.


"Masih 40 tahun lagi bisa di kata tua," bantah Zafran dengan gaya bicaranya bak orang dewasa.

__ADS_1


"Dasar kalian ini, kalian ini masih kecil jangan berpikir terlalu jauh," tutur Abi Ahmed memberikan usapan penuh kasih sayang pada kedua cucu nya.


"Kalian kalau sudah selesai makan, segera sikat gigi dan tidur," perintah Sameer.


"Baik Dad," jawab mereka serempak segera turun dari kursi meja makan menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.


Sepeninggal si kembar, Umi serta Abi berbincang santai dengan Sameer di halaman belakang sambil menikmati secangkir kopi.


"Gimana kabar kamu Sam?," tanya Abi Ahmed memulai pembicaraan sambil meletakkan secangkir kopi yang baru saja di minumnya.


"Alhamdulillah, Sam baik Abi."


"Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja, Abi bangga sekarang kamu bisa sesukses ini," kata Abi Ahmed yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bangganya pada sosok sang putra.


"Sam," panggil Umi Iza


"Iya Umi?"


"Bagaimana menurut mu permintaan Za?," tanya Umi Iza hati-hati tidak ingin Sameer merasa tersinggung.


Sameer mendesah, pikirannya menerawang jauh. Dia memang belum bisa melupakan Humaira bahkan Humaira masih mengisi seluruh hatinya tapi dia juga tidak bisa selalu menutup mata atas permintaan sang putri.


"Sam sadar Umi kalau Za sudah lama menginginkan sosok Ibu tapi, Sam belum bisa memberikan itu pada Za."

__ADS_1


"Kenapa kamu berpikir begitu? Apa kamu belum bisa meninggalkan bayang-bayang Humaira?"


Sameer menganggukan kepalanya. Sameer tidak bisa menyangkal hal itu.


"Sam merasa bersalah sama Humaira, Sam terlalu banyak menyakiti Humaira. Sam belum bisa membahagiakan dia Umi. Dia wanita yang sangat baik, Sam pikir tidak akan ada wanita seperti Humaira. Walaupun Sam terus menyakiti dia, dia masih mau tetap disisi Sam. Rasanya Sam tidak pantas mendapatkan itu dari dia," tutur Sameer panjang lebar mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan.


"Ada kalanya kita berpikir seperti itu Sam, tapi apa kamu tidak ingin melihat dari sisi anak-anak mu. Mereka juga membutuhkan sosok seorang Ibu di sisi mereka," timpal Abi Ahmed yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


"Tapi Zafran tidak bisa menerima itu Abi, Umi. Berbeda dengan Za," kata Sameer yang merasa kalau Zafran menolak memiliki Mami baru.


"Sam, kenapa Zafran tidak ingin memiliki Mami baru karena dia merasa kamu tidak siap. Zafran tidak ingin memaksa itu pada mu, karena dia tidak ingin kamu merasa sedih," terang Umi Iza.


"Putra mu itu diam dan perasa Sam, dia juga sebenernya merindukan pelukan seorang Ibu. Hanya saja Zafran tidak ingin berbicara, dia lebih baik diam daripada melihat mu sedih," ungkap Abi Ahmed.


Sameer terdiam merenungi setiap perkataan yang terlontar dari kedua orang tuanya.


Selama ini dia memang tidak pernah bertanya dari hati ke hati dengan putranya itu. Zafran lebih banyak diam dan dingin sungguh berbeda dengan Zafira yang lebih mau mengungkapkan apa saja yang ada di pikirannya, khas anak kecil. Polos dan juga ceplas ceplos.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN ya


Makasih semuanya 😘

__ADS_1


__ADS_2