
Hari pernikahan Sameer dan Elena
Hari bahagia untuk Sameer dan Elena. Aura calon pengantin terpancar dari wajah keduanya. Pernikahan Sameer dan Elena diadakan secara sederhana dirumah Sameer, yang hadir hanya keluarga dekat dan para sahabatnya. Kecuali orang tua Sameer dan Akbar yang memilih tidak datang ke pernikahan Sameer.
Mereka masih kecewa dengan keputusan Sameer yang memilih menikah lagi, menduakan istrinya dan menjadikan rumah tangganya. Rumah tangga poligami.
"Mbak sangat cantik" puji Humaira saat menemani Elena yang sedang dirias.
"Terima kasih Mai" balas Elena tersenyum.
"Berias yang cantik mbak, Humaira akan lihat kak Sameer dulu" pamit Humaira, Elena hanya menganggukkan kepala mempersilakan Humaira pergi meninggalkan kamarnya.
Bagaimana perasaan Humaira ? Hancur, Kecewa dan Sedih.
Tapi ia tidak mampu lagi terlalu banyak bicara, ia hanya pasrah menerima takdir Allah. Takdir yang membawa rumah tangganya dalam rumah tangga poligami yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Zauya" panggil Sameer yang sedang bersiap di kamarnya.
"Dinda" sambut Sameer tersenyum bahagia.
"Kenapa belum dipakai kemejanya? Mbak Elena saja sudah cantik" goda Humaira tersenyum. Mengambil kemeja putih yg masih tergeletak diatas ranjang.
"Pakaikan untuk Zauya" pinta Sameer mengerlingkan sebelah matanya.
"Dasar manja!" kekeh Humaira.
Humaira memakaikan kemeja itu ke tubuh tegap Sameer. Perlahan Humaira mengancingkan kemeja Sameer, Sameer pun menatap Humaira intens membuat Humaira merasa aneh dengan tatapan suaminya.
"Kenapa hemm?" tanya Humaira seraya memakaikan dasi ke leher sang suami. Senyuman selalu Humaira sunggingkan untuk sang suami
"Terima kasih Dinda" ucap Sameer mendaratkan kecupan di kening Humaira
"Sama-sama Zauya" Humaira sekali lagi harus memasang senyum bahagianya ditengah hatinya yang kesakitan.
***
__ADS_1
Ia menuntun lengan suaminya menuruni tangga, semua orang menatap sepasang suami istri itu yang tengah bergandengan mesra dan terlihat serasi. Mereka tidak menyangka kalau sang istri pertama akan mengizinkan sang suami menikah untuk yang kedua kalinya dan mengantarkan sendiri sang suami berjalan ke pelaminan.
Humaira mengantar Sameer ketempat duduknya, dimana sudah ada penghulu dan juga saksi yang siap menyaksikan ijab kabul kedua bagi Sameer. Sameer sendiri terlihat jauh lebih tenang dan santai daripada saat pernikahannya dulu dengan Humaira. Ia tidak merasakan gugup atau pun jantung berdebar, ia hanya merasa tenang.
Ijab kabul untuk kedua kalinya telah Sameer lakukan dengan nama wanita berbeda. Suasana pernikahan juga tampak khidmat.
Satu kata SAH menggema, saat itu pula perlahan air mata luruh dari mata indah Humaira.
Batinnya terkoyak melihat suaminya bersanding bersama wanita lain. Saat Sameer mencium kening madunya, air matanya semakin mengalir deras.
Ia merasakan begitu kesakitan. Rasanya ada tembakan yang terus di tujukan ke dada, peluru kekecewaan dan peluru kesedihan menjadi satu menembus jantungnya.
Ketiga sahabat Sameer menatap iba pada sosok Humaira yang tak kuasa menahan tangisnya. Mereka tersayat melihat wanita itu yang berdiri tegap menatap sang suami duduk dipelaminan bersama Elena, apalagi aura bahagia jelas terpancar dari keduanya.
Bahkan Abi Ahmed dan Umi Iza tidak sanggup menghadiri pernikahan kedua Sameer. Mereka terlalu murka dengan apa yang putra semata wayang mereka perbuat.
Sebelumnya ia juga dilarang kedua mertuanya untuk datang ke pernikahan Sameer karena itu nantinya akan menyakiti hatinya tapi ia bersikukuh untuk mendampingi sang suami sebagai bukti baktinya kepada sang suami.
"Sabar Mai, kamu harus lebih kuat" ujar Santi (istri Damar) menggenggam erat tangan Humaira memberinya kekuatan.
"Ada kami yang siap memeluk mu saat kamu terluka" ujar Damar
"Kau harus bahagia Mai" imbuh Hasan menatap Humaira iba.
Mereka sendiri sebagai sahabat Sameer tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
Humaira adalah sosok wanita yang baik dan sabar tapi dengan mudahnya Sameer menguji kesabaran wanita itu. Mungkin kalau wanita lain tidak akan sanggup berdiri setegar Humaira, tapi Humaira mampu melakukan itu.
***
Setelah selesai acara pernikahan, Sameer menemui Humaira di kamarnya. Sameer menghampiri Humaira yang tengah duduk santai dibalkon kamar menikmati semilir angin malam. Sebuah buku serta secangkir teh rosela menjadi teman Humaira.
"Dinda" sapa Sameer duduk disamping Humaira.
Humaira terperanjat dengan kehadiran Sameer, ia segera mengalihkan perhatiannya kepada sosok Sameer yang sudah duduk disampingnya.
__ADS_1
"Loh kenapa Zauya ke sini? Ini kan malam pengantin Zauya" Humaira menampilkan senyum terbaiknya menyembunyikan kesedihan dihatinya.
"Zauya ingin mengucapkan terima kasih kepada Dinda yang sudah mengizinkan Zauya menikah dengan Elena" Sameer duduk disamping Humaira, menggenggam tangan Humaira erat.
"Tadi kan Zauya sudah bilang terima kasih, masak sekarang bilang lagi. Zauya sudah pikun ya" ejek Humaira terkekeh kecil
"Mungkin hari ini Zauya terlalu bahagia" tutur Sameer tersipu malu sembari menggaruk tengkuknya untuk menutup sikap kikuknya. Gelak tawa terdengar dari bibir Humaira, suaminya sangat lucu saat salah tingkah seperti itu.
"Kenapa kamu tertawa?" Sameer menatap heran sang istri.
"Wajah Zauya lucu saat salah tingkah seperti tadi"
"Dasar kamu ya!" Sameer mencubit kedua pipi Humaira gemas seraya memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Humaira, membuat Humaira tertawa geli.
"Zauya...."Humaira menatap Sameer tepat di manik matanya. "Selamat berbahagia" ucap Humaira mengelus wajah sang suami.
"Terima kasih dan tidurlah sayang" Sameer mengecup kening Humaira lembut berlalu meninggalkan Humaira.
Tes..tes..
Air mata itu kembali luruh membasahi wajahnya. Ia mendongak menatap langit malam. Senyuman miris ia tampilkan dibibirnya. Tawa ceria tadi berganti tangis air mata kesedihan yang bercampur kekecewaan.
"Apa kau sedang mengejek ku wahai rembulan? Kau mengejek ku dengan keindahan mu itu. Sangat menjengkelkan bukan?" kekeh Humaira berlinang air mata.
Ini malam pertama suaminya, hati kecilnya meronta dan menjerit. Ia menutup wajahnya, tangisnya pecah. Humaira memegangi dadanya yang sesak, bahkan sesekali dia memukul dadanya pelan menghalau rasa sesak yang mendera.
Pikirannya pun melayang membayangkan aktivitas sepasang suami istri yang sedang dilakukan Sameer dan Elena. Membayangkan hal itu terjadi, membuat gorengan luka di hati Humaira semakin bertambah.
Baru sebentar dia merasakan manisnya dan romantisnya perlakuan Sameer yang dia rasakan, tapi rupanya itu hanya bersifat sementara kini semua rasa manis itu akan terbagi dengan wanita lain.
Kini resmi sudah dia berbagi suami, bukan hanya raga tapi jiwa suaminya juga sudah terbagi.
Terkadang ia ingin merutuki takdir hidupnya sendiri, takdir macam apa yang menguji kesabarannya sebagai hamba Allah. Takdir yang seakan-akan mempermainkan hati dan perasaannya. Tapi lagi-lagi dia sebagai seorang perempuan harus belajar kuat dan sabar menerima takdir ini.
***
__ADS_1