Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 24


__ADS_3

Kedatangan Senja seperti sebuah cahaya yang memberikan penerangan, sambutan hangat dari Umi Iza serta Zafira membuat Senja merasa memiliki sebuah keluarga baru. Selama ini dia hanya hidup sebatang kara, hanya Havid keluarga satu-satunya yang dia miliki. Dia bahkan tidak mengenal orang lain selain Havid suaminya.


"Abang Zaf," panggil Zafira melihat Zafran yang hanya berdiri memperhatikan mereka semua.


"Sini, ayo ketemu Mommy!" Zafira menarik tangan Zafran mendekati Senja yang sedang duduk bersama Umi Iza.


"Aku bisa jalan sendiri Za," protes Zafran tidak terima Zafira menarik tangannya.


"Abang kalau jalan lama," keluh Zafira masih mengandeng tangan Zafran menuju ke arah Senja.


"Mommy, ini abang Zaf," kata Zafira memperkenalkan Zafran. Zafran masih terdiam memperhatikan Senja intens.


"Assalamualaikum Abang Zaf," sapa Senja mengulurkan tangannya.


"Waalaikumsalam," balas Zafran menyambut tangan Senja, mengecup punggung tangan Senja.


Deg..


Senja merasakan desiran aneh yang menyusup kedalam hatinya saat Zafran mendaratkan kecupan di punggung tangannya.


Ada sesuatu yang hangat sekaligus rasa haru yang memenuhi hatinya. Matanya terlihat berkaca-kaca memandang setiap jengkal wajah Zafran yang merupakan dupiklat Sameer, apalagi matanya yang hitam pekat.


"Tampan sekali," puji Senja mengelus wajah Zafran, tak terasa cairan bening mengalir dari pelupuk matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Zafran mengusap air mata Senja.


"Tidak, sepertinya Tante pernah bertemu kamu," tutur Senja, senyuman manis terus tersungging dari bibirnya.


"He..em di sekolah," kata Zafran.


Senja terdiam seperti ada sekelebat bayangan didalam pikirannya ketika menatap wajah tampan Zafran tapi dia tidak tahu dimana.


"Dad, bolehkah Tante Senja tinggal dengan kita?" pinta Zafran menatap Sameer meminta persetujuan.


"Boleh kalau Tante Senja mau." kata Sameer menyetujui permintaan putranya. Membawa Senja tinggal bersama mereka, memang telah menjadi tujuannya sejak awal.


"Tante, mau tinggal bersama kita?" tanya Zafran.


Senja hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajah Sameer yang sedari tadi berdiri di hadapannya bahkan dia tidak tahu bagaimana rupa wajah Sameer sang pimpinan tempatnya bekerja.


"Tante, tidak bisa sayang. Tante juga punya rumah yang perlu di jaga, Tante juga punya pekerjaan yang harus di kerjakan," kata Senja memberikan pengertian pada Zafran. Umi Iza menyentuh tangan Sameer lembut memberikan isyarat untuk membawa Senja masuk kedalam rumah mereka. Sameer menghembuskan napasnya pelan.


"Nona Senja bisa bekerja sebagai pengasuh Zafran dan Zafira," kata Sameer.


Senja masih berdiam memikirkan permintaan Sameer untuk bekerja sebagai pengasuh Zafran dan Zafira.


"Bagaimana nona?" tanya Sameer memastikan sekali lagi.


"Tapi saya punya pekerjaan lain Tuan," kata Senja lirih masih setia menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Sameer.

__ADS_1


"Saya akan membiayai seluruh biaya rumah sakit suami kamu tapi dengan syarat kamu menjadi pengasuh kedua anak saya, bagaimana?" tanya Sameer memberikan penawaran terakhir.


Sameer tahu selama ini Senja bekerja keras untuk membayar segala biaya pengobatan Havid yang terus naik setiap bulannya.


"Baiklah saya mau Tuan," putus Senja akhirnya menerima tawaran Sameer, tidak ada salahnya dia bekerja sebagai pengasuh kedua anak bosnya.


Apalagi dengan penawaran yang di berikan Sameer untuk membayar seluruh biaya rumah sakit Havid, itu akan meringankan sedikit beban yang selama ini di pikulnya seorang diri.


"Hore !!! Mommy akan tinggal bersama kita," teriak Zafira girang. Zafran dan Umi Iza tersenyum senang.


...*****...


Keesokan harinya Senja telah di jemput supir pribadi Sameer, Sameer memang khusus memperintahkan Pak Asep untuk menjemput Senja secara langsung. Sameer tidak tega membiarkan Senja berangkat seorang diri ke rumahnya.


Seluruh penghuni rumah pun sudah berada di ruang tamu, Bi Marni yang pernah bekerja bersama mendiang Humaira tidak sabar untuk bertemu Senja.


Dia sendiri merasa penasaran semirip apa Senja dengan mendiang Nyonya muda di rumah ini, apalagi saat mendengar cerita Zafran serta Zafira yang begitu antusias bercerita tentang Senja bahkan mereka berdua yang paling antusias menyambut kedatangan Senja.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepan rumah, seorang wanita bergamis hitam berhijab tosca keluar dari dalam mobil.


Senja menatap mereka yang menyambut kedatangannya, ada perasaan tidak nyaman melihat mereka semua menyambutnya sedemikian rupa apalagi dia merasa dia hanya seorang pengasuh dirumah itu tapi di istimewakan seperti ini.


Mungkin juga mereka menyambutnya karena dia mirip mendiang Nyonya muda dirumah itu yang tak lain adalah istri dari Sameer majikannya.


"Assalamualaikum," sapa Senja menyunggingkan senyumnya, menyalami mereka satu persatu.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Pak, tolong barang-barang Senja bawa masuk ya," perintah Sameer pada Asep sang supir.


"Iya Tuan," Pak Asep mengangguk paham. Pak Asep bergegas mengeluarkan tas Senja dan membawanya masuk.


"Apa kabar Non Senja?" tanya Bi Marni. Bi Marni tidak menyangka Senja begitu mirip dengan mendiang Humaira.


"Alhamdulillah baik Bi,"


"Mulai hari ini Senja akan bekerja sebagai pengasuh Zafran dan Zafira, tolong semuanya nanti bantu Senja," kata Sameer memperkenalkan Senja pada seluruh penghuni rumahnya.


"Senja, ini namanya Bi Marni, Bi Nani, dan ini Abi Ahmed suami Umi," sambung Umi Iza. Senja menyalami mereka satu persatu memperkenalkan dirinya, senyuman tidak pernah luntur dari bibirnya. Senja tidak menyangka mereka akan bersikap ramah seperti ini, dia merasa seperti menemukan keluarganya yang telah lama hilang.


"Semoga kamu betah disini ya Senja," tutur Abi Ahmed.


"Terima kasih Abi,"


"Mommy, ayo kita ke kamar!" ajak Zafira menarik tangan Senja menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Zafira tidak sabar ingin menghabiskan waktunya bersama Senja.


"Pelan-pelan Za, kasihan Tante Senja," tegur Zafran pada sikap Zafira yang terus menarik tangan Senja, membuat Senja kesulitan mengimbangi jalan Zafira.


"No tante, abang. but Mommy," protes Zafira mendelik tajam pada sang kakaknya.

__ADS_1


"Oh...Ok! Mommy," tutur Zafran menyerah setelah mendapat tatapan tajam Zafira. Mereka yang mendengar perdebatan kecil saudara kembar itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Mirip sekali Nyonya," komentar Bi Nani yang sedari tadi tidak lepas memperhatikan Senja.


"Iya Nyonya, kenapa saya merasa kalau itu seperti Nyonya muda?" timpal Bi Marni yang dulu cukup dekat dengan sosok Humaira.


"Sam, apa kamu sudah menyelidiki semuanya? Abi setuju dengan Bi Marni, kalau dia sangat mirip Humaira. Bahkan saudara kembar identik pun pasti ada perbedaannya," tutur Abi Ahmed yang sependapat dengan Bi Marni.


"Sudah Abi, dia wanita bersuami," kata Sameer.


"Apa kamu juga menyelidiki masa lalunya? Sebelum dia menikah?" tanya Abi Ahmed lagi.


Sameer terdiam, dia memang tidak menyelidiki Senja sampai sejauh itu. Dia pun tidak kepikiran untuk menyelidiki masa lalu Senja, dia hanya menganggap kemiripian mereka hanya sebagai sebuah kebetulan semata.


"Aku tidak berpikir sejauh itu Abi karena kita semua juga melihat bagaimana proses pemakaman Humaira, dari detik terakhirnya sampai di pemakaman," jelas Sameer tidak percaya kalau Humaira bisa hidup lagi apalagi dia melihat sendiri proses pemakaman itu.


"Sam, apa kamu pernah tanya sama Mama mertua mu apa Humaira punya saudara kembar?" tanya Umi Iza.


"Kita semua tau Umi, Humaira kecil seperti apa bahkan saat masih bayi aku juga ikut mengendongnya. Sam pikir Humaira tidak punya saudara kembar," kata Sameer kembali mematahkan asumsi seluruh keluarganya. Bagi Sameer sendiri sangat mustahil orang yang telah meninggal bahkan telah masuk keliang lahat bisa hidup kembali.


Semua orang saling menatap satu sama lain, lalu kembali diam dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan sesekali hembusan nafas pelan terdengar dari mereka.


Sameer sendiri memaklumi semua pikiran mereka, kemiripan Humaira dengan Senja memang hampir mendekati 100%. Tutur bahasa dan sikapnya pun sangat lembut, yang membedakan hanya cara berpakaian mereka serta tatapan mata. Tatapan mata yang di miliki Senja begitu sendu seperti ada beban berat yang di pikulnya.


...*****...


Yuhuuuuu....!


Jangan lupa ya guys...


😀 LIKE


😀 KOMEN


😀 VOTE


VOTE PAKE APK NOVELTOON MASIH SAMA YA SEPERTI DULU...


VOTE PAKE APK MANGATOON SEKARANG SUDAH BERUBAH,


JANGAN LUPA YA...!


TERUS DUKUNG DUA CINCIN SATU CINTA. DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI SEKALI. 😘😘😘😘😘


TERIMA KASIH


*kritik dan saran selalu aku tunggu.


CARA VOTE APK MANGATOON

__ADS_1



__ADS_2