
Didalam sebuah kamar sederhana,kamar yang tak terlalu luas hanya ada ranjang kecil, lemari pakaian dan sebuah nakas.Terbaringlah seorang gadis sedang merintih kesakitan diatas ranjang.Badanya menggigil , tubuhnya terasa panas kepalanya pusing dan perutnya lapar....
" Gini amat jadi gue,sakit tapi tak ada yang mengurus." Keluhannya diantara rintihan.
Karena rasa lapar yang sangat Vi bangun.Dengan langkah sempoyongan Vi berjalan menuju dapur.Dibukanya lemari es untuk melihat ada makanan apakah disana yang bisa ia makan.
Ah sial ternyata lemari es itu kosong hanya ada air putih.Ya kemarin Vi tak jadi berbelanja kebutuhan dapur karena menyelamatkan Micheal dari serangan seorang sniper.
" Ah kosong ,mana lapar lagi." Dengusnya
Vi hanya bisa menegak air dingin berharap ia bisa mengganjal perutnya yang benar-benar lapar.
Tentu saja Vi kelaparan sejak kemarin siang ia belum makan sama sekali.Hanya cairan infus yang masuk kedalam tubuhnya.
Vi memejamkan matanya rapat - rapat untuk mengurangi rasa pusing dikepalanya.
" Ya Tuhan kirim aku malaikat penolong." Doanya entah akan dikabulkan atau tidak oleh Tuhan....
Meski sakit Vi berjalan keluar berharap ada Abang kang Makanan keliling entah kang bakso,kang somay ,kang bubur atau apapun itu asal Vi bisa makan.
Ternyata Tuhan masih sayang padanya Doa Vi terkabul seorang akang Bubur melintas didepan rumahnya.
" Terimakasih Ya Tuhan ternyata Engkau mengabulkan doa ku.Kau kirimkan seorang penyelamat padaku." Syukurnya
" Kang...Akang...beli kang.Beli bubur...!" Teriak Vi lebih tepatnya bukan teriakan melainkan rintihan yang tidak di dengar oleh si akang tukang bubur keliling.
__ADS_1
Bugh....
Tepat ....
Sandal yang Vi lempar mengenai tepat di kepala kang Bubur itu.
" Dasar gila ,hei mbak kenapa lempar sandal sembarangan...?" Protes si akang.
Vi berjalan mendekat
" Sorry kang ,habis akang gak dengar sih aku panggil.Mau beli buburnya dua porsi." Ucap Vi nyengir
" Mau beli tapi tapi dilempar sendal,untung sandal jepit kagak bonyok kepala gue ." Sikang Bubur ngedumel tak karuan.Sudah berkali-kali Vi minta maaf tapi mulut siakang kayak lambe turah tak mau diem.
" Nih gue Bungkus totalnya tiga puluh ribu." kang bubur itu menyodorkannya dua bungkus bubur dengan ketus.
" Sekali lagi maaf ya bang." ucapnya lalu masuk kedalam rumah.Vi berhenti dan berbalik.
" Kang sandal aku mana...?" Tanya Vi teringat jika sandalnya sebelah masih ada di kang Bubur.
" Eh ini neng." Ekspresi wajah Kang Bubur seketika berubah yang awalnya kesal sama Vi kini terlihat ramah.Ya pastilah orang Vi kasih uang lebih dua puluh ribu malah.Emang tak seberapa sih tapi bagi mereka uang segitu sangat berarti loh dapat dua kilo beras lumayan kan buat nyambung idul.
Vi makan bubur itu dengan lahap.Selera makan Vi emang perlu diacungi jempol selalu dua porsi.Vi tak akan pernah kenyang jika makan hanya dengan satu porsi saja.
Meski makan banyak tapi tubuh Vi tak ada tuh melar.Berat badan Vi jarang banget naek ,kalo mau naek mungkin hanya setelah kilo itu aja kalo turun bisa dua kilo.Heran deh sebenarnya kemana perginya makanan dalam tubuh Vi ya ...?Apa ada cacing yang menghisap sari - sari makanan didalam perutnya.Ah entahlah
__ADS_1
Selesai makan Vi berniat untuk tidur ,tapi matanya tak bisa terpejam kala ia teringat akan Ezra.
" Oh Om Ezra sudah dua hari aku tak datang kerumahnya." Rasa sakit yang ia rasakan mendadak hilang.Vi bangun dan meraih jaketnya.
Jam menunjukkan pukul lima sore.
Vi mengendarai motornya tak terlalu kencang.Jalanan pada sore seperti ini memang masih padat merayap.Di jam - jam seperti ini memang banyak orang yang baru saja pulang bekerja.Vi bersyukur meski tak besar tapi Vi punya usaha sendiri jadi waktunya lebih fleksibel.
Tapi mungkin waktu fleksibelnya tak akan berlangsung lebih lama lagi ,karena nanti setelah lulus kuliah bukankah ia harus bekerja sebuah rumah sakit sebagai seorang dokter kandungan yang akan membantu para pasiennya.
Vi harus mengikuti peraturan.Datang dan pulang sesuai aturan.
Vi berhenti didepan sebuah rumah makan.
Bukan untuk makan tapi dia hanya ingin membeli buat oleh - oleh untuk Ezra siapa tau pria idamannya itu belum makan dan mereka bisa makan bersama dirumah Ezra.
Vi tersenyum membayangkan bisa makan semeja dengan Ezra.Vi bisa memandang wajah tampan itu sepuasnya hah pasti enak sekali jadinya makan dengan memandang wajah Ezra.
Semoga saja Ezra menyambutnya dengan baik.Doa Vi.
" Auh..." Rasa sakit ditubuhnya kembali ia rasakan.
Vi menggigil kedinginan didepan rumah Ezra.
Ya saat sampai didepan gerbang Vi tak melihat mobil Ezra disana,itu artinya Ezra belum pulang.Vi tak mau pulang ia bertekad untuk menunggu sampai pria itu datang.
__ADS_1
Vi duduk diatas motornya, kepalaku yang semakin pusing ia sandarkan di atas helm yang ia letakkan atas tangki motor.
Perlahan Vi tertidur di atas motornya.Hingga ia tak sadar orang yang tunggunya selama hampir tiga jam datang.