DUDA DI KEJAR GADIS GILA

DUDA DI KEJAR GADIS GILA
Ayo menikah


__ADS_3

Sudah lima hari Vi berada dirumah Ezra,Pria itu meski dingin ternyata ia sangat perhatian mengurus Vi.Lihatlah pagi - pagi sekali pria itu rela bangun untuk membuat sarapan.Meski Vi hanya makan sedikit bahkan kadang Vi tak mau makan sama sekali.Tapi Ezra tak pernah bosan memasak untuknya.


" makan Vi ....!" Perintah Ezra dengan lembut.Ia ingin menyuapi Vi tapi Vi tak merespon itu.Vi hanya diam dengan tatapan kosong.


Hati Ezra semakin sakit dibuatnya.


" Om...." Kania datang tepat pada waktunya,disaat Ezra kesulitan membujuk Vi ,gadis itu datang.Mungkin dengan Kania Vi bisa makan dan mau berbicara meski tak banyak.


" Vi aku gak akan maksa kamu buat makan,aku hanya ingin kamu bicara terserah kamu mau bicara apa.Mau kamu memakai atau apa terserah yang penting kamu bicaralah." Kania bukanlah orang yang suka basa-basi,jadi dia berbicara to the point saja.


" Kenapa ini terjadi sama aku,kenapa harus aku Kania katakan apa dosa ku sehingga Tuhan menghukum aku seperti ini." Akhirnya Vi mau berbicara juga meski sangat pilu.


Ucapan Vi itu bagaikan pisau tajam yang semakin mengiris hati seorang Ezra.


Mendengar itu Kania langsung memeluk Vi.Vi terisak dalam dekapan sang sahabat.


" Vi Lo harus bangkit Lo gak boleh menyerah, dan maafin gue gak bisa jaga Lo waktu itu." Kania menepuk bahu Vi yang masih bergetar.

__ADS_1


"Katakan gue harus apa sekarang,gue sudah kehilangan sesuatu yang harus gue jaga.satu - satunya hal yang paling berharga, mahkota gue sudah diambil orang.Dan parahnya gue gak tau siapa orang itu.Rasanya gue mau mati ..." Semakin Vi bicara hati Ezra semakin sakit.


" Gue sudah ternoda,lalu apalagi yang musti gue banggakan dihadapan Om Ezra." Vi semakin terisak.


Vi Menangis dalam pelukan Kania, sedangkan Kania ia malah tersenyum senang.Apalagi ketika Ezra mendekati mereka.


" Vi jangan bicara seperti itu, apapun keadaan kamu sekaran aku tak peduli,mari kita menikah secepatnya." Tiba-tiba saja kata - kata itulah yang keluar dari bibir Pria itu.Sadar atau tidak hanya Ezra danTuhan yang Tau.


Kania semakin kegirangan sepertinya rencananya telah berhasil,lihat saja tanpa dia minta Om nya itu kini telah melamar Vi.


Ezra semakin mendekat,dan diraihnya kedua tangan Vi yang dingin.


Vi semakin tergugu mendengar itu,dia senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pria yang selama ini dikejarnya tapi itu dulu sebelum Vi kehilangan kesuciannya.Kini semuanya menjadi berbeda meskipun ajakan menikah dari Ezra adalah sesuatu yang ia tunggu-tunggu kali ini lamaran Ezra sudah tak membuat Vi bahagia.Ia malah semakin kecewa,tak ada lagi sesuatu yang akan Vi banggakan dihadapan pria itu.


" Kamu mau kan menikah dengan ku...?" Ezra mengulangi pertanyaannya berharap Vi berkata iya...


Vi menggeleng ,ia tak mau Ezra menjadi suaminya bukan karena ia sudah tak mencintai Ezra lagi tapi Vi hanya tak ingin Ezra mendapatkan barang bekas ,bahkan bekas siapa Vi juga tak tau.

__ADS_1


" Tidak Om, aku sudah bekas Orang.Om tau kan aku sudah tak suci lagi." tolak Vi


" Vi dengar ,aku tak peduli dengan semua itu.Aku mencintaimu Vi jadi biarkan aku bertanggungjawab." Bujuk Ezra


Ya kini tak ada lagi kata gengsi bagi Ezra ,ia tak mau melepaskan Vi ,ia sadar ia telah mencintai Vi.


" Bukankah kamu juga mencintai aku Vi .." tanya Ezra


" Ya aku memang mencintai Om bahkan sampai saat ini.Tapi aku tak mau menjadi istri Om lagi.Aku tau om melamarku hanya karena kasihan sama aku."


" Dengar Om ,aku Vivian Gonzales tak butuh untuk dikasihani.Jangan berbohong padaku om.Om tidak mencintai aku kan...?" Vi tersenyum pilu


Andai kata Cinta Ezra ia dengar sebelum kejadian ini mungkin Vi tak akan banyak berfikir untuk berkata " Ya aku mau jadi istri Om Ezra." Tapi semuanya terlambat.


" Aku tau Om membenciku sejak dulu apalagi sekarang Om pasti jijik denganku."


Ezra ingin memeluk Vi ,tapi Vi malah menghindar.

__ADS_1


" Keluar Om ...!" Kata Vi dengan keras sehingga membuat Kania terkejut.


" Ah gila ,Vi memang keras kepala...." Gerutu Kania dalam hati.


__ADS_2