
Ezra terbangun kala ia mencium aroma masakan.Ezra mengernyitkan dahinya.Ia masih belum sepenuhnya sadar, nyawanya belum terkumpul seratus persen.Ezra berusaha mengingat - ingat apa yang telah terjadi kenapa dirinya bisa tidur di lantai dengan beralaskan kasur lantai yang tipis.
Oh ya semalam ia mendapati Vi dengan keadaan demam,lalu dimana sekarang gadis itu.Ezra bangun memeriksa ranjang diatasnya.Memastikan apakah Vi masih ada di sana atau tidak.
" Apakah aroma masakan ini Vi yang masak...?" Dalam benaknya Ezra bertanya.Tak ada siapa pun dirumah ini selain dirinya dan gadis gila itu.
Kruk...kruk...kruk...
Mencium aroma makanan Cacing dalam perut Ezra berdemo ria, pantas saja perutnya merasakannya lapar ini sudah lewat waktunya sarapan.Jam sudah menunjukkan angka Delapan, biasanya dijam seperti ini Ezra telah bersiap untuk pergi kerumah Micheal.Entah kenapa pagi ini dia bisa terlambat untuk bangun.
" Pagi Om....!" Sapa Vi ketika melihat Ezra berjalan menuju lemari pendingin.
" Hem ..." Jawab Ezra dengan dingin tanpa melihat kearah Vi.Sedabgkan Vi hanya tersenyum melihat sikap Ezra padanya,tak masalah pria itu dingin.Nyatanya Ezra perhatian juga terhadap dirinya.Hehe....
" Sarapan sudah siap ,ayo Om kita sarapan bareng " Ajak Vi kepada Ezra.Sebenarnya Ezra ingin menolak tapi apalah daya, perutnya sudah sangat lapar.
Vi tampak sibuk menata makanan diatas meja makan.Hanya ada nasi goreng lengkap dengan beberapa sayuran seperti kol dan wortel,ada juga telur mata sapi serta acar.Sepertinya sangat lezat, beberapa kali Ezra meneguk air liur yang hampir saja menetes.
__ADS_1
" Maaf ya Om hanya ini yang bisa Vi siapkan, Semoga Om suka...!" Ucap Vi seraya meletakkan piring dimeja Ezra, setelah Ezra duduk Vi mengambilkan nasi goreng itu.
" Segini cukup Om...?" tanya Vi ,sudah selayaknya seorang istri yang melayani suaminya.
" Sudah cukup!" Kata Ezra menghentikan Vi yang akan menambahkan nasi kedalam piring Ezra.
"Baiklah, selamat makan Om...!" Vi tersenyum sangat tulus kepada Ezra.Senang sekali rasanya Vi bisa makan satu meja dengan Lelaki ini.
Ezra hanya mengangguk,tapi dari Ekspresinya Ezra sangat menikmati makanan hasil jerih payah Vi.
Tentu saja Ezra sangat menikmatinya,masakan Vi memang tak bisa diremehkan,meski Vi tomboi dan bar - bar ,tapi karena keadaan Vi pun bisa masak dengan sangat hebat.
Ah membayangkan betapa bahagianya jika suatu saat nanti Vi bisa menemani Ezra makan setiap hari dengan status sebagai Istri dari Ezra Subastian.
" Semoga Engkau mengabulkan do'aku Ya Tuhan ." Vi berdoa dalam hati.
Tanpa Vi sadari ternyata sesekali Ezra melirik kearahnya.Ezra tak menyangka kalau gadis gila itu bisa masak seenak ini.Sungguh sesuatu yang luar biasa bukan.Ternyata selain balapan dan tawuran serta gila ,ada bakar lain yang dimilikinya.
__ADS_1
" Aku cantik ya Om...?" Tanya Vi kala ia memergoki Ezra yang meliriknya.
" Uhuk..." Ezra tersedak makanannya.Reflek Vi yang duduk didepannya mengambilkan segelas air putih buat Ezra.
" Pelan - pelan makanya Om !" ujar Vi
" Om baru sadar ya kalau Vi cantik,makanya Om terima lamaran Vi buat jadi istri Om.Vi jamin deh Om gak bakalan rugi.Selain cantik Vi juga bisa masak.Om sudah buktikan sendiri kan sekarang...?" Kata Vi dengan pedenya,Vi sudah seperti seorang sales yang menawarkan dagangannya.
" Kamu bisa diam...?" Tanya Ezra ,menyuruh Vi buat diam.
" Ok " kata Vi lalu dia pun diam tak lagi bicara.Bahkan sampai mereka berdua sama-sama selesai Makan,Vi tak lagi bicara.
Setelah selesai makan dan membereskan alat makan Vi kembali kedalam kamar dimana ia dirawat Ezra selama semalam.
Vi mengeluarkan ponselnya dari dalam Tas punggung miliknya yang ada di atas nakas.
" Astaga,emak menelpon ratusan kali..." Vi terkejut saat melihat ke layar ponselnya.Ada sekitar Seratus sepuluh panggilan dari nomor yang ia beri nama " Emak " disana.
__ADS_1
Ya Emak adalah panggilan Vi buat Kania.
" Mati aku....!" Gumam Vi