
Kania dan Ezra sudah sampai di depan sebuah kamar bernomor 356.Karena terlalu khawatir tanpa pikir panjang Ezra langsung mendobrak pintu kayu berwarna coklat dihadapannya itu.
Ezra tak peduli dengan resiko yang akan dia dapatkan dari pihak hotel,yang dia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan Vi.Semoga saja tidak terjadi apa - apa dengan Vi.
" Vi....!" Teriak Ezra saat melihat keadaan Vi yang mengenaskan.Bagaimana tidak mengenaskan bila kini ia tengah meringkuk diatas ranjang dengan kondisi telanjang bulat dan terlihat pakaian Vi berserakan dilantai.Rambut Vi tampak acak - acakan dengan tubuh bergetar tanda Vi sedang menangis.
" Vi ..." Lirihnya, mata Ezra terasa panas rasa sesak menghimpit dadanya, sakit sekali melihat gadis itu saat ini,tubuh Vi yang putih mulus itu kini penuh dengan tanda kiss Mark dan terdapat noda darah diatas seprei.
" Ya Tuhan , mungkinkah...?" Ezra tak mampu meneruskan ucapannya.lidahnya terasa kelu, lehernya terasa tercekik.
Ezra yakin jika Vi baru saja diperkosa oleh seseorang tapi siapa....
" Brengsek..." Batinnya sangat marah.
Meleleh sudah air mata yang sejak tadi ia tahan.
__ADS_1
" Vi...." Panggil Ezra lagi dengan suara bergetar.Ezra mendekati Vi tangannya terulur ingin menyentuh gadis itu tapi Vi langsung menepisnya.Ezra meraih selimut dan menutupi tubuh Vi,meski Vi tak mau disentuh olehnya tapi Ezra memaksa untuk memeluk Vi.
Vi hanya bisa pasrah,ia tak mau menolak pelukan itu.Ya hanya pelukan lah yang Vi butuhkan saat ini,ia tak peduli tubuh siapa itu.
" Maafkan aku Vi ,maaf ....!" Kata maaf pun terlontar dari bibirnya itu.Ia tak tau kata apalagi yang harus ia katakan kepada Vi.
" Maafkan aku Vi...!" lirihnya lagi sambil mempererat pelukannya terhadap Vi.
" Bicaralah Vi...!" bisiknya tepat ditelinga Vi ,tapi tak ada respon dari Vi.Hatinya sangat sakit,Ezra merasa bersalah andai ia tak menolak Vi sudah dipastikan kejadian ini tak pernah terjadi,sudah pasti ia akan melindungi Vi.
Ezra mengusap air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
" Maaf Vi , inilah satu - satunya cara agar Om Ezra mau sama Lo." ucap Kania dalam hati.
" Om ayo kita bawa Vi pulang..." saran Kania.
__ADS_1
" Biar aku yang bantu Vi berpakaian." Seperti sudah disiapkan Kania datang dengan menenteng paper bag yang berisi pakaian ganti untuk Vi.
Saat Kania sibuk menggantikan pakaian Vi ,Ezra juga sibuk menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu siapa yang melakukan ini terhadap Vi.
" Cepat tangkap orang itu,bawa dia keruang bawah tanah.Siksa dia sampai hidup tak mau mati pun enggan." Perintah Ezra dengan emosi sudah naik ke ubun-ubun.
Ingin sekali Ezra meremukkan tulang orang itu.
Setelah emosinya mereda Ezra kembali masuk kedalam kamar tempat kejadian perkara.Kini Vi sudah berpakaian lengkap dalam pelukan Kania.
" Kita bawa Vi kerumah Om aja.Aku khawatir Opa akan shock melihat Vi seperti ini Om,dan tak mungkin kan kita biarkan Vi ada dirumahnya sendiri..." Saran Kania dan disetujui oleh Ezra.
Ezra mengangkat tubuh Vi dan membawa gadis itu pulang kerumahnya.Rumah dimana Vi selalu datang untuk mengganggunya dengan cara yang gila.Sungguh Ezra merindukan masa-masa itu.
Masa - masa dimana Vi dengan percaya dirinya melamarnya.Tak hanya sekali bahkan hampir setiap hari dan dengan berbagai macam cara.
__ADS_1
Tapi kini gadis itu hanya diam saja sama sekali tak bersuara.Sungguh berbeda dari Vi sebelumnya.
Lihatlah kini Vi diam dengan tatapan yang kosong.