
Vi menunggu Ezra yang sedang rapat dengan beberapa klien di dalam ruangan Ezra.Sebenarnya ia sangat bosan karena sudah satu jam ia menunggu namun Ezra belum juga kembali.Tapi tak apalah ia masih bisa menunggu dengan melihat - lihat sekeliling ruangan itu.Ruangan dengan dominasi warna hitam sama seperti warna pada rumah pria itu.
Saat Vi tengah asik memandang kearah luar melalui kaca besar saat itu pula Ezra masuk kedalam ruangannya.
" Apa aku lama ...?" Tanya Ezra seraya meletakkan beberapa berkas ke atas meja kerjanya.Meski mempunyai asisten tapi Ezra adalah sosok yang mandiri jadi ia tak meminta asistennya untuk membawakan berkas - berkas pekerjaanya.
" Iya , sebenarnya aku bosan tapi tak apa Om kan bekerja jadi aku akan tetap menunggu disini." Jawab Vi jujur tanpa ada yang ia tutupi.
" Maaf " Ucap Ezra seraya menghampiri Vi yang berdiri di dekat kaca.
" It' s Ok ." Jawab Vi seraya tersenyum.Senyuman yang mampu membuat Ezra bertambah gugup.
" Apa mau aku antar sekarang...?" Ezra menutupi kegugupannya dengan bertanya.
" Boleh " Lagi - lagi Vi tersenyum sangat manis.Ezra pun membalas senyum Vi dan mereka pergi bersama dengan bergandengan tangan,Ezra sama sekali tak peduli dengan pandangan penuh tanya dari para karyawan di kantor,yang ia pedulikan kini hanyalah hubungannya dengan Vi yang kian dekat.
Ya kini tak ada lagi tembok besar sebagai penghalang hubungan mereka.
" Makasih Om." Ucap Vi ketika mereka telah tiba didepan kampus.
" Maaf Vi aku tak punya uang cash.." Sesal Ezra ketika Vi mengulurkan tangannya.
" Ish ,aku tidak minta uang Om,aku ingin Salim.." Jawab Vi membuat Ezra seketika kaget.
" Oh " Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya sambil menerima uluran tangan Vi lalu Vi mengecup punggung tangan Ezra.
Deg
__ADS_1
Jantung Ezra berdegub sangat kencang.
Sungguh hal ini tak pernah Ezra duga.
" Aku masuk dulu ya, nanti Om gak usah jemput biar aku pulang naik taksi atau nebeng sama Kania." Vi melepas Seat beltnya lalu mendekatkan wajahnya kepada Ezra dan
Cup
Dengan berani Vi mencium pipi Ezra,membuat tubuh Ezra seketika kaku.
" Da Om..." Vi turun dari mobil meninggalkan Ezra yang masih diam tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
Senyum Ezra seketika melebar.Ya inilah sebenarnya yang dia inginkan.
" Dasar gadis gila...!" Ucapnya sambil memegang bekas ciuman Vi dipipinya.Bahagia tentu saja ia sangat bahagia.
Ezra menyalakan mobilnya dan kembali kekantor dengan perasaan bahagia.Wajah yang biasanya terlihat dingin dan datar kini tampak berseri-seri hanya karena sebuah ciuman dari gadis yang telah ia nikahi tiga bulan yang lalu.
" Vi kamu sudah selesai...?"Sebuah pesan masuk diponsel Vi.Vi membacanya dan mengernyitkan dahinya.Ia tak tau pesan itu dari siapa sehingga ia mengabaikan pesan itu namun sedatij kemudian ponselnya kembali bergetar.
" Mau makan siang bersama...?" Vi semakin bingung sebenarnya siapa yang mengirimkan pesan tersebut.
" Halo ini siapa....?" Karena penasaran Vi pun menelpon si pengirim pesan.
" Ini aku Vi Ezra." Jawab Ezra diseberang sana.
" Hah Om Ezra ...!" Vi terkejut dari mana Ezra mengetahui nomornya.
__ADS_1
" Iya, bisa kita makan siang bersama ...?" Ulang Ezra.
" Bisa , sebentar lagi aku selesai.Kita mau makan dimana Om...?" Tanya Vi
" Aku jemput kamu lima belas menit lagi." Kata Ezra
Benar kan hubungan mereka kian membaik.
Akhirnya kini mereka telah sampai disebuah restoran yang tak jauh dari kampus Vi.Mereka duduk saling berhadapan sambil menunggu pesanan.
" Vi / Om.." panggil mereka bersamaan.
" Om duluan " Kata Vi canggung
" Kamu saja " Tolak Ezra.
" Ehm Om bisakah kita mulai semuanya dari awal,meski sekarang Om belum cinta sama aku, setidaknya berikan aku waktu untuk bisa merebut hati Om." ucap Vi dengan berkaca - kaca.
" Om aku sangat tersiksa.Tinggal satu atap tapi kita seperti orang asing.Maaf jika Vi berbuat gila sama Om.Ini semua Vi lakukan karena Vi benar - benar mencintai Om." Akhirnya tangis Vi pecah.Jika dulu Vi sekuat mungkin tidak menangis didepan Ezra maka sekarang tidak.Ia akan terbuka untuk mencurahkan segala isi hatinya tanpa rasa gengsi.
Entah kenapa ia sangat cengeng kalau menyangkut dengan perasaannya dengan Ezra.
" Vi ,jangan menangis.Oke kita mulai semuanya dari awal kau adalah istriku dan aku adalah suamimu." Jawab Ezra dengan sungguh-sungguh.
" Tapi Om ,aku kan sudah ternoda.Apa Om..." Belum sempat Vi meneruskan ucapannya Ezra sudah menggeleng pertanda Vi tak perlu membahas itu semua.
" Vi ...jangan bahas itu jika kau bersedih.Bagiku semua itu tak masalah." Ya Ezra tak mau mempermasalahkan kesucian Vi.
__ADS_1
" Terimakasih Om..." Vi masih menangis tapi bukan lagi tangis kesedihan melainkan tangisan bahagia karena kini ia bisa kembali mengejar Ezra.