
The black adalah komunitas yang dibina oleh Vi, komunitas ini terdiri dari sepuluh orang anggota dan mereka mantan anak - anak jalanan yang dipungut oleh Vi.Komunitas ini sekarang membina anak-anak jalanan yang berusia dibawah lima belas tahun dan ada sekitar lima belas anak binaan the black.Dari mana Vi bisa membiayai mereka semua...?
Tentulah dari hasil balapan liarnya.
Ya inilah rumah singgah Vi.Disinilah biasanya ia menuangkan semua hasil jerih payahnya bersama sepuluh orang yang kini sudah sama-sama memiliki penghasilan.
Hari ini setelah kuliah siang,Vi berniat datang kerumah singgah untuk melihat bagaimana keadaan anak - anak.Memang tak setiap hari Vi datang kesana hanya sesekali saja.Karena disana sudah ada pengasuh khusus.
" Hallo adik - adik apa kabar nih...?"tanya Vi ketika ia memasuki rumah singgah dari hasil kerja kerasnya beserta anak - anak jalanan yang lain.Vi memang tak punya teman dekat dari golongan orang kaya selain Kania.Vi lebih suka berteman dengan mereka yang kondisinya tak berbeda jauh dari dirinya.
" Baik kakak...!" Jawab mereka bersamaan.Rumah singgah yang ia beri nama the black,mungkin terkesan sanggar bila kita mendengar nama itu.Tapi the black adalah tempat kasih sayang dan tempat mencari ilmu bagi anak - anak binaan mereka.
Hanya rumah sederhana dengan bangunan yang terbuat dari papan dan tidak terlalu besar.
Kania adalah penyumbang buku - bukunya.Basic keluarga Kania yang memanglah pebisnis itu sering kali menyumbangkan banyak buku untuk anak - anak,bahkan sudah sekian komputer bekas dari kantor Ayah dan Omnya.
" Kalian sudah makan...?" Tanya Vi kepada mereka yang menyambutnya di depan pintu.
" Sudah kak ...!" jawab Anak - anak serempak.
__ADS_1
" Good ,kakak masuk dulu ya...!" pamit Vi lalu ia pun masuk kedalam rumah singgah dan disambut oleh teman - temannya disana.
" Guys gimana keadaan keuangan kita...?" tanya Vi
Mereka ragu untuk menjawab pertanyaan dari Vi.
" Hei kenapa diam...?"
" Apa persediaan kita udah menipis....?" Tanya Vi lagi ,ia sangat paham dengan ekspresi wajah teman - temannya itu.
Vi menghela nafas,meski keadaan sedang sulit tapi sebisa mungkin Vi tetap tersenyum.
" Maaf Vi ,gaji gue sebagai kuli panggul di pasar tak bisa banyak membantu the black." Seorang pemuda teman Vi yang berprofesi sebagai kuli panggul di pasar merasa sangat bersalah.
" Gue juga Vi, parkir juga sepi seminggu ini." Ucap yang lain
" Jualan koran juga sepi Vi ."
Mendengar itu Vi berusaha tetap tenang dan tersenyum.
__ADS_1
" Udah gue bilang kan jangan khawatir.Dan kalian juga jangan menyerah,yang penting tetap berusaha." Ucap Vi membesarkan hati teman - temannya.Memang rumah singgah ini mengandalkan penghasilan dari Vi dan juga mereka yang hanya berprofesi sebagai kuli panggul,tukang parkir dan penjual koran.Maklumlah mereka hanya tamat SD jadi hanya profesi itu yang bisa mereka dapatkan.
Jika keadaan seperti ini maka Vi yang akan berfikir keras dan mencari solusi.Sudah lama Vi tak balapan jadi tak ada uang lebih.
Ketika pulang dengan mengendarai motor kesayangannya Vi berfikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari keadaan yang sulit ini.Karena sedang berfikir keras Vi sampai tak sadar ada mobil Ezra disampingnya.
Jika biasanya Vi langsung bertindak gila,maka kali ini berbeda.Vi fokus menatap lampu merah didepannya sambil berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Ezra menatap Vi dari pintu mobilnya.Ia sangat hafal dengan gadis itu meski wajah Vi tertutup helm.
" Vi " Gumam Ezra
Entah kenapa seperti ada rasa berbeda kala matanya menangkap sosok Vi yang diam saja seperti ini.
" Kenapa tidak menoleh ..?" batin Ezra berharap Vi menoleh kearahnya dan menampilkan senyuman termanis nya seperti biasa.
" Lihat aku Vi ,aku ada disini...!" batin Ezra lagi namun sepertinya belum ada chemistry diantara mereka, sehingga Vi tak menoleh sedikit pun kearahnya.
Sedikit kecewa sih ,tapi Ezra berusaha menepis rasa itu kala lampu didepan sana sudah berubah menjadi hijau.Dan motor Vi sudah melesat jauh didepan.
__ADS_1