
Sesekali Vi dan Kania mengusap air mata dipipi , mendengar kisah tentang pengorbanan Ezra membuat mereka tak bisa membendung air mata mereka.
Bukankah sangat menyedihkan jika ketulusan dan pengorbanan kita tak pernah dianggap oleh orang yang kita cintai.
Apalagi Ezra telah mengorbankan harta dan hidupnya demi kehidupan Maria,tapi kenapa wanita itu malah tega menghancurkan Ezra.
Meski tak melukai fisik tapi meluluh lantakkan hati bukan hanya hati Ezra tapi juga hati semua keluarga Ezra termasuk Opa.
" Itulah mengapa putra Opa yang satu ini tak mau menjalin hubungan dengan seorang wanita.Ia bahkan menutup hatinya.Takut sakit hati " Kata Opa sambil menghela nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
" Sejak saat itu kami belum pernah sekalipun bertemu dengan putrinya." Mata Opa terlihat berkaca-kaca saat ia teringat dengan cucunya anak dari Ezra.
"Hiks kenapa kejam sekali ." Isak Vi
" Opa jika ada wanita yang ingin menjadi pendamping Om Ezra ,kira - kira wanita seperti apa tipenya...?". Tanya Vi di sela Isak tangisnya
" Tak ada tipe khusus atau kriteria apapun Vi ,hanya seseorang yang bisa menerima keadaannya saja.Wanita yang bisa mencintainya dengan tulus." Jawaban dari Opa membuat semangat Vi berkobar kembali.Yah Vi bisa menerima Ezra apa adanya dan juga ia punya cinta yang tulus untuk pria itu.
"Opa jika Vi punya itu semua apa Opa setuju Vi jadi mantu Opa...?" Tanya Vi takut - takut, meski Opa sangat menyayanginya tidak menampik kemungkinan bahwa Opa tak setuju jika Vi menjadi istri Ezra.
__ADS_1
" Opa sudah bilang kan sama Vi , berjuanglah jika kamu tulus sudah pasti Opa akan setuju dan merestui kamu.Asal jangan mengecewakan Opa dengan menyakitinya." Opa mengelus puncak kepala Vi dengan sayang.
Sementara Kania hanya terbengong - bengong.Ia berusaha mencerna maksud dari pembicaraan Vi dengan Opa.
Serta beberapa saat Kania pun akhirnya paham bahwa Vi benar-benar serius dengan Om nya.
" Lo serius mau sama Om Ezra." Kania menatap Vi ingin mencari tanda-tanda bahwa Vi sedang bercanda.
" Iya gue serius,entah kenapa gue sangat ingin jadi pendamping Om Ezra." Jawab Vi dengan mantap seperti tak ada keraguan dalam dirinya.
" Ok gue dukung kalau gitu." Akhirnya Kania pun serta Merta mendukung Vi.
Ezra baru saja keluar dari ruang VVIP restoran yang ada disebuah Mall terbesar di kota ini.Ia berjalan tepat disamping Michael,mereka baru saja melakukan meeting dengan beberapa klien dari luar negeri.
" Gimana Michael,kamu sudah mengerti kan apa yang menjadi keputusan dalam meeting kita tadi...?" Tanya Ezra memastikan kalau Michael benar - benar paham dengan hasil rapat kerjasama itu.Jika memang Michael sudah paham maka Ezra akan tenang menyerahkan proyek ini agar ditangani oleh Michael.Sebagai calon CEO memang Michael harus mulai menangani beberapa kerjasama besar.
" Yah Uncle meski ada beberapa yang aku kurang paham.Tapi secera garis besar aku mengerti." jawaban Michael ini membuat Ezra bisa bernafas lega.Tak masalah meski ada beberapa hal yang belum anak itu mengerti.Ia bisa belajar pelan - pelan nanti.
Setidaknya kini Michael mulai ada keinginan untuk belajar dan serius.
__ADS_1
" Tak masalah.Nanti akan Uncle bantu." Ezra menepuk pundak Michael lalu mereka terus berjalan.
Saat mereka berada di eskalator,Tak sengaja mata Ezra menangkap sosok seorang perempuan yang sangat ia kenal sedang berjalan mengandeng seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun dilantai bawah.
Deg ....
Sesaat jantung Ezra berhenti berdetak.Tatapanya terpaku,tubuhnya terasa lemas nafasnya sesak.
" Maria...!" Gumam Ezra matanya terlihat berkaca-kaca.
" Gracia...!" Ezra berusaha menahan air matanya agar tak keluar dari matanya.
" Ya Tuhan,putriku sudah sebesar itu." Batin Ezra
" Maafkan papa Cia ,Papa tak bisa berbuat apapun untuk mu.Papa memang Ayah yang tidak berguna." Hari Ezra dipenuhi rasa bersalah terhadap putrinya itu.Hampir sembilan tahun ia tak pernah bertemu dengan Cia,kini bayi mungil itu telah tumbuh menjadi seorang gadis cilik yang sangat cantik.Gadis itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengannya.
Ezra tak pernah menemui sang putri bukan karena ia tak sayang tapi karena Maria tak mengizinkan Ezra menemui sang putri bahkan Ezra tak boleh memberikan nafkahnya walau sepersen.
sungguh malang nasib Pria itu.Pengorbanan dan cintanya yang tulus tidak pernah dihargai.
__ADS_1