
Kania kesal karena kelakuan Vi.Gadis seumuran dengannya itu benar - benar sudah gila.Bayangkan saja Vi nangis kejer kayak anak kecil yang tidak di larang makan permen oleh ibunya.
" Aku heran sama Vi ,hanya karena Om Ezra dia bisa berbuat gila kayak gini.Setahu aku selama ini Vi tak pernah kayak gitu.Vi adalah gadis yang kuat.Tak pernah sekalipun aku melihat dia sampai menangis seperti ini."
" Hah ,dia memang sudah gila karena Om.Lagi pula apa sih yang Vi lihat dari Om...?"
" Om ini kan sudah tua, dingin lagi...!" Cerocos Kania ia Samapi lupa jika orang yang dia katai adalah orang yang dia ajak bicara.
Opa sampai melongo mendengar itu semua.
Hei tahukah Kania bila ucapannya barusan bisa membuat Ezra tambah Insecure...?
" Ehm ..." Ezra berdehem membuat Kania sadar akan keberadaan Ezra disana.Tiba - tiba hawa panas menyerang Kania.
" Sorry....!" Sesalnya sambil menggaruk tengkuknya.
" Kamu jaga Opa dulu,aku mau keluar sebentar." Kata Ezra lalu ia pun pergi meninggalkan ruang perawatan itu.
" Opa....!" Kania menoleh pada opanya dan berharap jika sang Opa tidak marah.Opa hanya mengedikkan bahunya tanda ia tak mau ikut campur.
Ezra keluar untuk menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.Rasa bersalah semakin memenuhi hatinya.Di tambah lagi ucapan Kania didalam tadi.
Pria itu duduk sendirian disebuah cafe.Pandanganya tak lepas dari keramaian jalan.
__ADS_1
Ezra sadar ia memang tak pantas untuk Vi.Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi.Vi adalah gadis yang bebas dan ceria.Sedangkan dirinya adalah pria dingin yang terbelenggu oleh rasa sakit hati.Apalagi perbedaan usia mereka yang sangat jauh.
Ezra takut Vi tak akan bahagia bersamanya.Vi hanya tau tentang covernya saja ia sama sekali tak tau isi kehidupan Ezra yang sesungguhnya.
Ezra takut jika mereka sampai bersama,Vi tak akan menerima kenyataan tentang diri Ezra yang banyak kekurangan.
" Maafkan aku Vi " Ucapnya sambil menyesap rokok.
Rokok adalah pelampiasan bagi Ezra kala hatinya sedang gundah.Memang tidak baik bagi kesehatan tubuh kita.Tapi bagi sebagian orang rokok adalah sebagian dari hidupnya.meski kita bukan perokok tapi kita tak bisa mencaci mereka.Biarlah mereka dengan hidup mereka dan kita dengan hidup kita sendiri.
*****
" Ah...Om Ezra,kenapa bayanganmu tidak mau hilang dari otak ku..." teriak Vi didalam rumah.
Vi sangat frustasi ,ia tak bisa membohongi dirinya sendiri.
Wajah Ezra yang menawan,bulu - bulu halus yang menghiasi rahangnya,tatapan elangnya , tubuhnya yang kekar,aroma wangi tubuhnya.Ah semuanya sangat jelas mengganggu fikiran Vi.
Selama seminggu ini Vi menjadi gila.Layaknya suminten edan yang gila karena Raden Subroto.
Vi tak keluar rumah sama sekali.Ia hanya diam didalam kamarnya.Kondisi Vi sangat memprihatikan tubuhnya tampak lebih kurus,kucel dan dekil.
Seminggu ini pula Vi tak mau bisa makan dan minum.Karena setiap setiap benda disana ia lihat seperti Ezra ya g tengah memandangnya dengan tatapan dingin.Vi sadar jika itu hanyalah halusinasi saja.Maka dari itu ia takut jika keluar rumah ia akan melihat semua orang berubah menjadi Ezra dan Vi akan memeluk orang - orang yang dia kira sebagai Ezra.
__ADS_1
Ternyata memendam rindu itu berat ....
Vi tidak sanggup.
Gadis itu sekarang hanya bisa duduk dilantai sambil bersandar pada lemari plastik bergambar power rangers favoritnya.
Gadis itu duduk dengan memeluk tubuh kedua lututnya. matanya sembab karena kebanyakan menangis dengan lingkaran hitam.Persis seperti panda....
Gila ....
Vi gila ....
iya gadis itu sadar jika ia gila.
tapi mau bagaimana lagi...
Ah biarlah menjadi gila,mungkin dengan menjadi gila ia akan terbebas dari beratnya menahan rindu.....
" Vi ....bukak Vi ,Lo didalam kan...?"
" Lo masih hidup kan Vi...?" teriak Kania dari luar rumah sambil menggedor-gedor pintu rumah Vi yang terbuat dari kayu jati tua itu.
Kania datang mencari Vi karena sudah seminggu ini ia mencari Vi kemana - mana dan tak menemukan gadis gila itu dimanapun.Padahal ia sudah berkali-kali datang kerumah ini.Tapi tak ada tanda-tanda Vi dirumah dan dibengkel pun Vi tidak ada.
__ADS_1
Sedangkan motor Vi masih terparkir cantik di parkiran kampus.
" Vi ,jawab Lo masih hidup kan...?" ulang Kania ....