
" Om Vi datang....!" seru Vi didepan intercom rumah Ezra.
" Hah gadis gila itu ,mau apa sih dia...?" Gerutu Ezra mendengar suara Vi yang melengking membuat telinganya berdenging.
Mau tak mau Ezra membukakan pintu.Jika tidak sudah pasti gadis itu akan bertindak lebih gila lagi.Ia akan memencet bel rumah secara terus-menerus sampai Ezra membukakan pintu.
" Apa ...?" Ucapnya ketus.
Tanpa Ezra duga gadis itu sudah berlutut didepannya dengan menyodorkan buket bunga mawar kepadanya.
" Will you marry me...?".Tanya Vi layaknya seorang pria tengah melamar gadis pujaannya.
Ezra tersentak karena kaget.
Gadis ini semakin hari semakin gila membuat Ezra tak tau harus seperti apa menanggapinya.
" Mau dong Om...!" Rengek Vi sebelum Ezra dapat berkata apapun.
" Aku janji akan jadi istri yang baik untuk om." Vi masih betah berlutut.
" Bangun !" Perintah Ezra tanpa menerima Buket bunga ditangan Vi.
" Masuk.." Perintahnya lagi.Ezra minta Vi untuk masuk karena dia ingin bicara sering dengan Vi.
"Makasih" ucap Vi lalu berdiri dan mengikuti Ezra masuk kedalam rumah.
__ADS_1
" Duduk " Perintahnya lagi ,dan Vi pun menurut duduk di seberang Ezra.
" Vi , sudah berkali kali aku katakan sama kamu berhenti bersikap gila seperti ini.Sampai kapan pun aku tak bisa menerimamu.Jadi mulai hari ini aku minta dengan sangat jangan pernah lagi kamu menemui aku." Tegas Ezra meski dalam hati ia tak tega.
Vi masih menunduk ia tak berani melihat wajah Ezra.Vi takut ia tak akan kuat.
" Sekali lagi aku tegaskan menyerahlah Vi , sampai kapanpun aku tak akan tertarik dengan mu.Kamu bukan tipe ku." kata Ezra membuat Vi semakin sedih mendengarnya.Tapi Vi tak akan menyerah begitu saja.Ia tak peduli dengan penolakan Ezra.Vi akan tetap kembali.
" Ok kita lihat ,siapa yang akan Menang Om." Ucap Vi sembari berdiri.Ia melangkah melewati Ezra,tapi sebelum itu Vi berbisik tepat ditelinga Ezra.
" Ingat Om sampai kapan pun aku tak mau menyerah.Om sendiri yang akan meminta Vi jadi istri Om." ucapnya penuh percaya diri.Lalu ia keluar dari rumah dan meninggalkan Ezra yang semakin frustasi.
Ezra masih tetap duduk di sofa sambil memandang bekas vi duduk .
Menikah....?
Apakah Ezra trauma, jawabannya adalah Ya.
***
Vi mengendarai motornya dengan sangat kencang.
Malam ini Vi ingin kerumah Kania ,bukan untuk bertemu dengan sahabatnya itu melainkan ia ingin menemui Opa Bastian untuk bertanya banyak hal tentang Ezra.Siapa tau Opa Bastian akan banyak info tentang Ezra.
" Opa...!" Teriak Vi tak sabaran .Karena sudah menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri Vi langsung berlari menuju kamar Opa Bastian.Vi tak peduli dengan tatapan Kania yang ingin membunuhnya.
__ADS_1
" Vi " Teriak Kania memanggil Vi karena merasa diabaikan oleh sahabatnya itu.Sebenarnya Kania sudah tidak marah lagi kepadanya tapi ia hanya ingin Vi mengatakan penyebab luka di punggungnya.
" Urusan gue sama Opa bukan Lo." Kata Vi ketus
" Sialan Lo " Kania melempar sandal jepitnya kearah Vi tapi tak kena.
" Opa..." Vi mengetuk pintu kamar Opa Bastian
" Vi ada apa...?" tanya Opa dari balik pintu.
" Vi mau bicara serius sama Opa.."
"Om Ezra menolak Vi opa.." Adu Vi kepada Opa Bastian,yang membuat opa tertawa.Ia sudah tau jika Ezra putranya itu pasti akan menolak Vi mentah-mentah.
" Kenapa tertawa Opa...?" Tanya Vi kesal.
Opa mengajak Vi ke ruang tamu dimana disana masih ada Kania yang menatapnya dengan tatapan ingin membunuh Vi.Melihat tatapan Sang Sahabat Vi hanya nyengir dan mengacungkan kedua jari membentuk Huruf V.
" Kamu mau tau apa tentang Om Ezra Vi ...?" Tanya Opa ketika mereka sudah duduk.Vi duduk di sebelah Kania sedangkan Opa duduk di depan mereka di sebuah sofa single.
" Mau tau semuanya tentang Om Ezra Opa." Jawab Vi .Kania disana hanya diam dan menoleh pada mereka secara bergantian, otaknya masih belum bisa mencerna topik pembicaraan Vi dan Opa Bastian.
" Tentang masa lalu Om Ezra mungkin." Ucap Vi
" Ehm ." Opa berdehem sebelum menceritakan kisah kelam masa lalu putranya.
__ADS_1
Berat memang menceritakan kembali sebuah luka lama yang telah dikubur dalam - dalam.Kisah Ezra ini pun ikut menggoreskan luka pada Opa.Sebagai seorang Ayah tentulah Opa juga merasa sakit hati dan tak terima jika anaknya diperlukan seperti apa yang telah dilakukan oleh mantan menantunya.
Dengan menahan emosi serta kesedihan,Opa pun menceritakan bagaimana kisah Ezra hingga membuatnya menutup hatinya untuk wanita.