
Kondisi Elara sudah mulai membaik, lukanya mulai mengering meski belum sepenuhnya.
Hari ini Elara meminta untuk ikut dengan Shane mencari sinyal ponsel. Meski jika mengikuti kata hatinya ia masih ingin berlama-lama dengan Shane di Hutan ini, tapi Elara tak boleh egois dengan mengantungkan perasaan keluarga yang menanti kabarnya disana.
Setalah membujuk Shane dengan sedikit merengek, akhirnya pria itu mengizinkan Elara untuk ikut dengannya.
Shane meminjamkan Elara sepatu yang bisa melindungi kaki gadis itu.
"Lalu kau pakai apa jika aku menggunakan sepatumu?" tanya Elara kebingungan, tentu ia tak mau Shane mengorbankan diri dengan bertelanjangg kaki demi dirinya.
"Sepatu ini bisa melindungi mu, aku takut kau menginjak duri atau yang lebih parah digigit ular." Shane mengingat beberapa hari lalu saat ia bertemu hewan melata itu, jadi ia tidak mau Elara dalam bahaya jika hanya beralaskan sepatu tipis yang tidak membungkuk seluruh permukaan kakinya. "... aku bisa mengunakan ini," sambung Shane menunjukkan sendal miliknya yang juga ia bawa.
"Tapi itu hanya sendal gunung biasa, Shane. Kau juga bisa digigit ular jika mengenakan itu di tempat ini."
"Aku bisa melindungi diriku. Trust me, okey?"
Elara akhirnya mengangguki perkataan Shane, ia mulai mengenakan sepatu pria itu yang kebesaran saat dipakainya.
"Meski itu tidak nyaman, tapi kau lebih terlindungi," ujar Shane seolah memahami isi kepala Elara.
Elara tersenyum tipis, ia senang Shane selalu mengerti dirinya. Namun dilain sisi, Elara takut semakin terjebak dalam pesona pria itu. Kendati hubungan mereka saat ini adalah sepasang kekasih tetapi Elara tak mau berharap banyak jika nantinya ia harus patah hati karena ia belum mengenal Shane di kehidupan yang sebenarnya.
"Ayo!" Shane mengulurkan tangannya dan disambut Elara dengan senyum terkembang.
Mereka berjalan bergandengan menuju sebuah pohon yang sudah diincar Shane untuk dipanjat demi mencari sinyal.
"Berjanjilah jangan melepaskan tanganku!" kata Shane dan Elara menganggukinya.
Shane menebas beberapa ranting dan semak yang mereka lewati, sementara Elara membantu kegiatan Shane dengan menandai jalanan itu dengan stiker tanda panah yang memang sengaja dibawa.
Untungnya, pohon yang dikatakan Shane tidak terlalu jauh dari tenda, karena Shane takut membuat Elara lelah mengingat kondisinya.
"Disini lebih terbuka ketimbang didekat tenda kita. Tapi untuk memasang tenda disini sepertinya lebih rawan hewan buas, jadi kita tetap harus kembali ke tenda kita nanti."
Elara percaya pada perkataan Shane, lagipula pria itu lebih mengerti situasi ketimbang dirinya yang awam dalam hal perkemahan.
"Tunggu disini dan jangan buat suara apapun yang menarik perhatian. Aku akan memanjat pohonnya, jadi jangan kemana-mana. Kau mengerti?"
"Jangan terlalu lama, cukup katakan pada mereka jika aku masih hidup dan baik-baik saja. Katakan juga kalau aku sedang berusaha keluar dari hutan."
"Tenanglah, percaya padaku. Aku akan memberitahu keluargamu. Yang penting jangan membuatku khawatir ketika aku diatas pohon. Jika ada sesuatu yang membuatmu takut, atau ada suatu hal yang urgent kau bisa menggunakan ini."
Shane pun mengulurkan sebuah be-la-ti untuk Elara.
__ADS_1
Elara sedikit ragu menerimanya tapi ia harus.
"Thank, Shane."
"Tolong lindungi dirimu untukku." Shane mengecup dahi Elara singkat.
Sekali lagi Elara mengangguk. Shane mengusap puncak kepalanya lembut, kemudian mulai berusaha memanjat pohon yang ia maksud, sementara Elara menunggu dibawah.
Elara sudah menyimpan nomor keluarganya di ponsel Shane untuk dapat dihubungi jika pria itu berhasil mendapatkan sinyal diatas sana.
Shane tiba di pertengahan pohon dengan tidak begitu sulit. Memanjat pohon seperti ini sering ia lakukan dikala keadaan darurat. Bisa untuk melindungi diri dari binatang buas, ataupun mencari sinyal juga.
"Hallo ..."
Panggilan Shane tersambung, Elara sudah mengatakan jika orangtuanya adalah warga negara Indonesia asli. Ayahnya bisa berbahasa inggris, tapi tidak bisa bahasa Jerman. Jika yang menerima teleponnya adalah wanita, itu adalah bundanya, dan Shane bebas menggunakan bahasa Jerman sebab bundanya cukup mahir berbahasa.
(Othor tidak mengetik dengan bahasa Jerman biar mudah dipahami. Jadi, anggap mereka sedang bicara bahasa asing saja)
Kebetulan yang menerima telepon adalah wanita, jadi Shane memperkirakan jika ini adalah ibu dari Elara.
Shane mengucapkan kalimat pertamanya yang menyatakan jika Elara masih hidup. Namun sinyal yang didapatnya kurang baik sehingga penerima sambungan selulernya diseberang sana kurang jelas menerima info darinya.
"Apa? Kau mengatakan apa?"
"Aku tidak begitu jelas mendengarnya."
Shane mengulangi lagi perkataannya sampai beberapa kali, namun fokusnya teralihkan kala mendengar suara Elara dibawah sana.
Shane melupakan niat awalnya untuk menelepon, ia melihat Elara dari posisinya dan benar saja, gadis itu dikelilingi oleh dua ekor anjing liar, Elara mengacungkan be-la-ti ke arah dua anjing itu dengan nafas yang turun naik menunjukkan ketakutannya.
"Shane!!!" Akhirnya Elara menjerit, padahal ia tidak ingin menimbulkan suara berisik seperti saran Shane tapi ketakutannya lebih mendominasi dan mendorongnya untuk melakukan hal itu.
Shane ingin turun dari atas pohon namun merasa itu terlalu lama. Ia sedikit berteriak pada Elara.
"Tetap di posisimu! Jangan bergerak sedikitpun! Aku akan menyingkirkan mereka!" seru pria itu.
Dengan sigap Shane merogoh sisi tubuhnya dan ...
Dor!!
Dor!!!
Anjing-anjing itu berlari takut saat mendengar suara pistol yang pelurunya dilesatkan Shane ke arah yang tak terlalu jauh. Sementara Elara, menutup kedua telinganya dengan posisi berjongkok ketakutan.
__ADS_1
Shane turun dan tiba di bawah, ia memeluk Elara dan mencoba menenangkannya. Ia tahu Elara tak kuat mendengar suara pistolnya, bahkan saat mendengar petir saja Elara tampak ketakutan.
"Maaf, maafkan aku ..." Shane menepuk dan mengelus punggung Elara secara teratur.
Elara melihat pada Shane dengan mata yang masih nampak terkejut. Pria itu membalasnya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Kita kembali ke camp. Aku sudah menghubungi ibumu. Ku pikir dia bisa mencerna ucapanku meski tadinya sangat susah karena beliau mengatakan suaraku terputus-putus dan kurang jelas."
Shane kembali memeluk Elara saat perempuan itu tidak mengatakan apapun. Shane tau Elara masih terkejut terutama dengan pistol yang dimilikinya.
Shane akhirnya menggendong tubuh Elara karena gadis itu seperti lunglai dan tidak kuat untuk berdiri. Shane menyadari Elara masih sangat syok akan hal ini.
"Shane, kau membawa pistol?"
Setelah sekian lama diam, akhirnya Elara berkata saat dirinya masih dalam gendongan Shane yang membawanya menuju kembali ke tenda mereka.
"Hmm ..." sahut Shane singkat.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Aku hanya membawanya untuk berjaga-jaga, seperti kejadian tadi, semua hal yang tidak terduga bisa saja terjadi, kan?" ungkap pria tersebut.
"Bagaimana bisa kau memilikinya, Shane?"
Shane hanya menjawab Elara dengan senyuman tipis.
"Shane?"
"Itu legal, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Hmm?" Shane menurunkan Elara saat mereka sudah berada didepan tenda.
Elara menatap Shane dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi Shane yang memiliki intuisi tinggi, cukup bisa menyimpulkan arti dari sorot mata gadis itu.
"Kemarilah," kata Shane mendekati Elara yang sudah berdiri didepannya. Shane memeluk Elara lagi. "Jangan takut padaku, pistol itu legal. Aku memilikinya karena aku memang harus punya untuk melindungi diriku sendiri," jelasnya ditelinga Elara.
"Melindungi diri dari apa? Apa kau tergabung dalam gangster?"
Shane melerai pelukan mereka, kemudian tertawa pelan karena perkataan polos Elara.
"Bukan, Sayang. Aku bukan anggota gangster. Kau percaya padaku, kan? Itu hanya benda untuk perlindungan diri disaat aku mendaki gunung ataupun berkemah di hutan."
...Bersambung ......
Mau lanjut? Kirim Vote dan dukungan ya. Maaf othor absen kemarin, kirain gak ada yang nungguin novel ini✌️
__ADS_1