ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
67. Akhirnya mengetahui


__ADS_3

Semalaman Elara menangis tidak henti-hentinya. Menyalahkan diri. Merasa bodoh. Pun merasa keberuntungan tidak berpihak padanya. Elara tampak semakin putus asa. Tidak memiliki harapan. Yang terpancar di wajah cantiknya hanyalah kesedihan.


Inilah yang menyebabkan Shane tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Elara. Tapi, setelah Elara mengancamnya semalam, mau tak mau akhirnya Shane jujur dan terbuka mengenai apa yang telah menimpa Elara.


Lagipula, Shane tau jika tidak semestinya ia merahasiakan mengenai keadaan Elara terus-menerus. Mau sampai kapan ia menyembunyikannya? Cepat atau lambat Elara pasti akan mengetahuinya.


Setelah mempertimbangkan itu, juga tak mau Elara tau dari orang lain yang justru akan memicu kemarahan yang lebih besar lagi karena telah menutupi apa yang terjadi, akhirnya Shane mengungkapkan segalanya pada Elara.


Dan inilah akibatnya, Shane tidak bisa mencegah kesedihan istrinya setelah Elara mengetahui segalanya.


"Bersedihlah ... kau boleh menangis sepuasnya. Tapi setelah ini, berjanjilah untuk bangkit lagi."


Shane mendekap Elara dalam pelukannya. Sumpah demi apapun, tangisan Elara merupakan kesedihan juga untuk dirinya.


"Puaskan sedihmu, puaskan tangismu, percayalah jika setelah ini kau akan menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Kata orang, akan ada pelangi sehabis hujan jadi percayalah pelangimu akan segera tiba setelah tangisanmu mereda."


Elara mendongak pada sang suami. Ia tak menyangka Shane akan bisa menghiburnya dengan kalimat seperti itu.


"Thank you. Aku beruntung memilikimu, Shane."


Shane mengangguk, menangkup kedua pipi Elara dengan telapak tangannya, kemudian mempertemukan dahi mereka satu sama lain.


"Aku tau kau kuat, untuk itulah kau diberi cobaan seperti ini." Shane berujar pelan, tepat didepan wajah istrinya, jarak mereka hanya beberapa senti saja sekarang.


"I love you, Shane."


"Too, Sayang. So much."


Elara yang lebih dulu mengecup bibir Shane dan merasai jika Shane turut membalasnya dengan ciuman yang menuntut.


Mungkin keadaan Elara sudah tidak sempurna lagi sekarang. Tapi ia tidak boleh terus meratapi nasib yang sudah terlanjur. Dia masih memiliki suami yang harus ia perhatikan. Lihat, Shane sampai tampak kacau begini sejak ia menghilang dan sudah seharusnya Elara kembali bangkit untuk dirinya sendiri juga untuk suami yang mencintainya ini.


Ciuman mereka terlepas saat keduanya seakan kehabisan oksigen. Elara dan Shane tampak ter-engah, dan Elara tau jika suaminya menginginkan sesuatu yang lebih daripada ini.


Elara menatap Shane yang wajahnya tampak berubah sayu.


"Mungkin aku tidak bisa melayanimu seperti dulu. Kondisi fisikku sudah tidak memungkinkan untuk menyambutmu dengan sempurna, tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik." Elara menatap ke dalam netra Shane dihadapannya.


Shane meletakkan satu jarinya di depan bibir Elara.


"Shhh ... kau tidak perlu memaksakan diri karena mulai sekarang aku yang akan melayanimu. Jangan terlalu berusaha, sebab aku yang akan lebih banyak bergerak," kata Shane pengertian. Ia menyunggingkan seulas senyuman karena Elara memahami keinginannya.


Elara tau suaminya sudah terlalu lama menahan ini, hingga ia pasrah saat Shane memulai semuanya hingga membawanya ke puncak surgawi.


...***...


Shane sudah mendapatkan sebuah clue dari Ferdinand yang melakukan keinginannya untuk menanyai pasien pasca operasi transplantasi ginjal itu.


"Ada beberapa pasien yang menjalani transplantasi ginjal di dua hari terakhir. Tapi aku memutuskan untuk menanyai yang sempat ku temui saja."


Shane sudah was-was jika ternyata yang Ferdinand tanyai bukanlah Stevi, tapi begitu mendengar kelanjutan ucapan pria itu, Shane merasa lega karena yang diwawancarai Ferdinand benar-benar Stevi.


"Namanya Stevani Schäfer. Usianya 27 tahun. Dia menjalani transplantasi ginjal kiri. Dan sekarang sedang dalam tahap pemulihan."


Shane menyeringai ditempatnya. "Lalu apa info yang kau dapat darinya setelah menjalani operasi itu?" selidik Shane.


"Dia mengatakan kondisinya semakin membaik pasca operasi. Tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuhnya dan dia bersiap untuk hidup yang baru."

__ADS_1


Sekarang Shane tersenyum sinis. "Darimana dia mendapatkan donor itu? Apa dia mengatakannya padamu?"


"Ya, dia tidak mendapat donor dari rekomendasi Rumah Sakit---"


"Lalu?" serobot Shane tak sabar.


Ferdinand terkekeh kecil diseberang sana. "Sabar Shane, aku sudah mendapatkan jawabannya. Dia mendapat donor itu dari seorang kerabatnya," jelasnya.


"Kerabat?" Shane tau Stevi tak punya banyak kerabat. Dia hanya memiliki Gracia dan kalaupun kerabat lain mungkin itu hanya Eve dan Kyle.


"Ya, itu yang dia dan ibunya katakan. Aku tidak sempat bertemu dengan pendonornya, tapi demi dirimu aku menyelidiki sampai ke pihak Rumah Sakit dan benar jika Nona Stevani mendapatkan donor ginjal dari kerabatnya. Itu seorang pria."


"Pria? Kau tau identitasnya?"


"Nama yang ku lihat adalah Kyle Ritter."


Shane mengesah panjang.


"Shane, apa refrensi mu sampai memerlukan identitas si pendonor itu?" Ferdinand terkekeh lagi diujung sana. Ucapannya terdengar menyindir keingintahuan Shane akan semua ini.


Baiklah, Shane mengerti jika temannya ini tidak bisa untuk dia kelabui. Apa sebaiknya Shane jujur saja?


"Baiklah, kau menang," kata Shane menyerah.


Ferdinand kembali tertawa renyah disana. "Apa yang sebenarnya terjadi, Shane? Kau bisa mempercayaiku untuk mencari tahu hal ini lebih lanjut," katanya menawarkan.


"Aku tau, sejak awal aku memang mempercayaimu. Hanya saja aku belum bisa berterus terang kemarin. Baiklah, aku akan mengatakannya padamu."


Shane pun mulai menceritakan pada Ferdinand mengenai apa yang menimpa Elara sesaat setelah mereka ingin memeriksakan keadaan Elara yang diduga hamil saat pemeriksaan Ferdinand sendiri--waktu itu.


"Pantas saja aku seperti pernah mengenalnya." Ferdinand memberikan pendapatnya. "Ternyata dia Stevi yang pernah dipacari oleh Shawn?" lanjutnya.


"Ya, kau benar."


"Baiklah, Shane. Aku akan mencari tau hal ini lebih lanjut."


"Apa ada kemungkinan jika mereka melakukan sabotase di Rumah Sakit atas pendonoran itu?" tanya Shane lagi.


"Mungkin saja jika sudah uang yang berbicara."


Mendengar itu, Shane jadi semakin tertarik menguliti semua ini. "Baiklah, jika memang di Rumah Sakit itu menerima suap, maka aku akan memanfaatkan uangku hanya untuk mendapatkan info yang sebenarnya," putusnya.


...****...


Sesuai janjinya, Shane mengajak Elara untuk berlibur ke Dubai beberapa hari lagi. Kondisi Elara mulai berangsur pulih dan Shane ingin istrinya sedikit melupakan apa yang sudah terjadi.


Perlu diketahui seseorang bisa hidup dengan semestinya meski hanya menggunakan satu ginjal. Itu yang saat ini berusaha dijalani Elara dengan lapang dada. Meski demikian, tentu kondisinya tidak seperti saat ia masih memiliki dua ginjal. Elara tak boleh terlalu lelah. Aktivitasnya juga harus dibatasi.


Mengenai penyelidikan Shane di Rumah Sakit tempat Ferdinand bekerja, sekaligus Rumah Sakit tempat Stevi menerima donor, Shane menyerahkan tugas itu kepada Max dan Jose. Ia akan menunggu hasilnya sembari menghabiskan kebersamaan bersama sang istri di Dubai.


Karena walau bagaimanapun, kesehatan mental Elara juga penting, jadi Shane tak mungkin hanya memikirkan cara mencari oknum pencuri ginjal itu sampai mengabaikan istrinya. Semuanya harus seimbang agar Shane bisa mencapai tujuannya.


Tentu saja tujuan Shane yang utama adalah membangun kembali kepercayaan diri Elara meski kondisi istrinya tak lagi sama. Shane juga ingin membuat mental Elara yang down menjadi semangat kembali. Selain itu, tujuan Shane yang lain--menyelidiki Stevi--bisa dilakukan oleh Max dan Jose yang siap sedia membantunya.


"Sayang, sudah ku katakan jika kau tidak perlu repot menyiapkan isi koper, biar Lisa saja yang melakukannya," kata Shane saat mendapati Elara sibuk berkemas ketika ia pulang dari bekerja.


"Tidak apa-apa, aku butuh kesibukan untuk melupakan hal-hal menyakitkan." Elara tersenyum sendu ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Lara ... listen to me, aku tidak ingin kau lelah. Bahkan sebelum kondisimu seperti ini aku sudah meminta Lisa untuk melayanimu."


"Tapi aku bosan jika terus berdiam diri di rumah. Apa aku boleh mengajar lagi seperti dulu?"


Shane senang Elara mulai menemukan semangatnya kembali. Tapi untuk membiarkan Elara mengajar lagi, entah kenapa Shane tidak bisa menyetujuinya begitu saja.


"Soal itu ... akan ku pikirkan lagi." Shane menatap Elara dengan tampang meyakinkan.


"Ah ... kau pasti tidak mau membiarkanku kembali terjun ke dunia pengajaran."


"Bukan begitu, Sayang..."


"Atau karena kondisiku yang sekarang?"


"Jangan menganggapku mengasihanimu. Aku belum memberi keputusan, kan? Aku sudah bilang akan memikirkan lagi mengenai hal ini."


"Kau sungguh-sungguh?"


"Ya, bukankah aku selalu mengusahakan apapun untuk istriku?" Shane mengedipkan sebelah mata demi menggoda Elara.


"Kau memang yang terbaik. Tapi lebih baik lagi jika kau langsung mengizinkanku untuk kembali mengajar," kelakar wanita itu.


Mereka berdua terkekeh. Lalu Shane memberikan sebuah bingkisan yang sejak tadi ia bawa dan hendak ia berikan kepada Elara.


"Untukmu, My Queen ..." Shane memperlihatkan apa yang ia jinjing dihadapan sang istri.


"Apa ini?" respons Elara. "Mari kita lihat, apa yang diberikan suami tampanku ini," katanya meledek dan Shane mengulumm senyumnya saat melihat Elara mulai membuka paperbag pemberiannya.


Mata Elara seketika membola saat melihat apa yang Shane berikan.


"Bagaimana? Kau suka?"


Elara terkekeh tapi kemudian mengangguk juga. "Sepertinya ini lebih tepat dijadikan hadiah untukmu daripada untukku," sindirnya kemudian.


Shane menahan geli. Memang yang dikatakan Elara itu benar, hadiah itu lebih tepat dikatakan kado untuknya dibanding buat Elara.


"Tapi kan, kau yang akan mengenakannya." Shane tertawa. Ia memperhatikan Elara yang mengeluarkan isi kado yang ia bawa.


"Ini bagus tapi aku tidak yakin bisa sesuai ekspektasi mu saat mengenakannya," kata Elara ikut tertawa


Ia mengangkat tinggi sebuah lingerie yang kini ada ditangannya.


"Aku sudah membayangkannya." Shane mengadah ke langit-langit kamar. "Dan saat kau mengenakannya pasti jauh lebih indah dari pada ekspektasi ku sendiri," ujarnya dan kini menatap Elara.


"Maybe yes ..." Elara kembali tertawa, ia memegang sisi wajah Shane. "Tapi ini terlalu banyak," sambungnya merujuk pada isi kotak yang dipenuhi lebih dari satu buah lingerie, bahkan itu terlihat dengan berbagai warna.


"Itu tidak banyak..." jawab Shane enteng.


"Apanya yang tidak banyak. Ini berbagai warna dan ..." Elara langsung memikirkan kemungkinan yang ada di kepalanya. "... jangan bilang kalau kau menginginkanku mengenakan ini setiap hari selama di Dubai nanti," tebaknya.


Dan Shane mengangguki perkataan istrinya dengan kulumann senyum yang masih sama.


"Kau ini me sum sekali," cibir Elara.


"Bagaimana tidak me sum jika Tuhan memberiku istri yang sepertimu," ujarnya santai dengan senyum penuh arti.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2