
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Stevi mengikuti saja keinginan Shane untuk melakukan tes DNA tersebut. Yang pada akhirnya berakhir dengan ia yang ingin menyabotase hasil akhir dari tes itu.
Dalam kata lain, Stevi akan lebih dulu mengetahui hasilnya. Apabila itu adalah anak Shawn maka ia akan membiarkan Shane mengetahuinya, tapi apabila bukan, ia akan menukar hasilnya lebih dulu sebelum diketahui oleh Shane.
Membayar seorang perawat yang nantinya akan menerima hasil itu pertama kali--begitulah niat Stevi--yang sudah ia rencanakan sejak dilakukannya tes tersebut.
Sayang, kelicikan Stevi tidak berlaku untuk seorang Shane yang jauh lebih pintar untuk membaca situasi, sebab sejak mendapat sampel untuk tes DNA tersebut, Shane meminta agar sampel itu dibagi dua dan yang satunya akan di cek di rumah sakit yang berbeda.
Dan hari ini, dimana tes itu harusnya sudah keluar, mereka akan melihat hasilnya bersama. Sebuah jawaban ada di amplop yang baru saja diterima Emma saat mereka tiba di depan Lab pemeriksaan.
Shane mengendikkan bahu acuh tak acuh saat ibunya mulai membuka amplop berisikan hasil tes DNA itu--dengan hati-hati.
"Positif," gumam Emma dengan mata berkaca-kaca haru, ia dan Stevi lantas berpelukan satu sama lain. Ia menjadi yakin jika Maura--anak Stevi--adalah cucunya.
"Sudah ku duga hasilnya akan seperti itu, Bu," tutur Stevi dengan senyum jumawa. Ia melirik Shane dengan sunggingan tipis yang terkesan mencibir. Senyuman itu seakan meremehkan ucapan Shane yang selama ini telah meragukan putrinya.
Shane membalas senyuman culas Stevi dengan seringaian penuh arti yang akhirnya ia pun ikut bersuara.
"Ya, ya, aku juga yakin hasilnya akan seperti ini," kata Shane tenang. "Bukankah ini hasil yang kau mau, Stev?" tanyanya kemudian, tentu dengan niat menyindir.
Stevi yang tidak merasa berbuat salah, hanya membalas ucapan Shane dengan senyum yang sama seperti tadi. Seolah arti senyum itu adalah makna dari 'salah sendiri kau meragukanku, sekarang terimalah kenyataan ini'.
"Sekarang sudah terbukti jika Maura memang cucu ibu. Jadi, jangan meragukan hal itu lagi disaat semuanya sudah jelas seperti ini. Kau mengerti kan maksud ibu?" Emma menatap putranya lamat-lamat.
"Ya, ya, semuanya sudah sangat jelas," kata Shane penuh arti. Tatapan matanya terus mengarah pada Stevi seolah mengintimidasi wanita itu, sayang Stevi tidak memahami arti tatapan yang Shane beri kepadanya karena yang ada Stevi terus mengumbar kemenangannya yang berhasil membuktikan jika selama ini tuduhan Shane kepadanya adalah kesalahan besar.
"Kau lihat kan, Shane? Aku sudah menuruti tes yang kau inginkan. Sekarang apa lagi? Apa kau masih mau mengelak akan tanggung jawab keluarga Gladwin pada putriku?" ujar Stevi dengan percaya dirinya.
Shane tersenyum miring. "Ku akui kau pandai sekali berakting, Stev," ujarnya penuh makna.
Stevi menegak. Ucapan Shane seolah ingin menguliti perbuatannya hari ini. Apa Shane tau ia telah berbuat curang? Batin Stevi mendadak cemas.
"Aku penasaran dimana kau mengikuti kelas akting," lanjut Shane. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. "Atau justru, kau pernah terdaftar sebagai aktris opera?" sindirnya lagi.
"Apa maksudmu, Shane?" Emma ikut menimpali.
"Apa ibu tidak merasa ada yang janggal?" sahut Shane.
__ADS_1
"Apanya yang janggal?"
"Soal hasil itu."
Disini tubuh Stevi benar-benar membeku dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Ia takut Shane tau manipulasi yang ia lakukan untuk hasil tersebut. Ya, mau bagaimanapun Stevi mengelak--jauh dalam lubuk hatinya yang sudah lebih dulu mengetahui hasil tes itu--seakan ketakutan jika kebohongannya harus terbongkar saat ini juga.
"Hasil itu palsu, Bu ..."
"Apa?"
"Yang asli ada padaku," ujar Shane yang dengan santainya mengeluarkan amplop lain dari saku jas yang ia kenakan.
Emma meraih amplop dari Shane dan melihat keterangan disana yang menampilkan hasil berbeda. Negatif. Ia menjadi bingung siapa yang harus ia percayai disini, Shane atau justru Stevi?
"Wanita ini terlalu manipulatif. Apa ibu tidak menyadarinya?" ujar Shane lagi, membuat Stevi salah tingkah ditempatnya.
"Shane, kau bicara apa? Kenapa kau memberi ibu amplop lain yang justru akan membuatnya bingung?" ujar Stevi setelah beberapa saat diam untuk menguasai keadaan.
"Hahaha, kau berbakat, ku akui kau berbakat, Stev!" Shane menatap tajam pada wanita yang wajahnya mendadak pias tersebut.
"Seharusnya ibu bisa meneliti mana hasil yang palsu dan mana yang asli." Shane kembali menyeringai.
Mendengar itu, Emma langsung membandingkan kedua surat yang sama-sama sudah berada di tangannya hingga ia menemukan sesuatu yang janggal karena surat pertama yang ia buka dengan pernyataan jika Maura adalah positif cucunya justru memiliki stempel Rumah Sakit yang tidak jelas.
"Kau menipuku, Stevi?" tanya Emma yang sudah menyadari kekeliruannya.
"Tidak, ibu. Shane yang menipu ibu dengan surat palsu yang baru saja dia berikan itu," kata Stevi bersikukuh sebab tidak mau kebohongannya segera diketahui Emma.
"Tidak, surat yang diberikan Shane ini asli. Lihat, ini resmi dari rumah sakit, aku bisa melihat dari kepala surat dan stempelnya. Sementara yang pertama ini tidak jelas, bagaimana bisa suratnya tidak ada logo rumah sakit dimana tes nya dilakukan!" hardik Emma.
Stevi semakin pucat pasi, padahal ia sudah membayar perawat yang tadinya mengantarkan surat itu untuk membuat salinan lain--yang sama persis--tapi tentu dengan hasil yang menyatakan bahwa Maura positif keturunan Gladwin. Tapi kenapa semuanya jadi begini?
"Kenapa? Kau bingung karena kebohongan ini langsung ku ketahui?" ujar Shane.
Stevi terdiam dengan telapak tangan yang mendadak dingin dan berkeringat karena hasil dari kebohongannya.
"Aku juga bisa memberi ibu hasil tes lain dari rumah sakit yang berbeda jika kali ini ibu tidak percaya padaku," ujar Shane dengan segala kemungkinan yang sudah ia perkirakan.
__ADS_1
"Tidak usah. Ibu hanya ingin mendapat jawaban dari Stevi. Tentu dengan jawaban yang jujur," desak Emma dengan suara tercekat. Ia tak percaya Stevi membohonginya, tapi inilah kenyataan yang saat ini harus ia terima.
"Ini semua bohong, Ibu. Shane yang menjebak ku. Ibu lihat sendiri kan jika hasil tadi diantarkan oleh perawat secara langsung kepada kita?"
"Kau membayar perawat itu, Stevi!" sela Shane. "Sedang aku membayar Rumah Sakit ini untuk memberiku hasil yang asli," sambungnya dengan pongah. Untuk pertama kalinya--atau justru sering--Shane merasa kekuasaan dan uang selalu membuatnya lebih berkuasa, tentu juga diselingi dengan otak yang encer agar tidak dibodohi oleh orang semacam Stevi.
"Kau benar-benar membuatku kecewa, Stevi! Kau juga membuatku terlihat bodoh selama ini!" geram Emma dengan gigi yang rapat.
"I-ibu ..."
"Berhenti memanggilku ibu!" marah Emma. "Kau membuatku muak! Jika itu bukan anak Shawn, jadi Maura anak siapa? Itu sama saja jika kau seorang wanita murahan, Stev!" umpatnya.
Stevi menangis dalam posisinya. Ia tak menyangka dihina seperti ini oleh Emma. Tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya akan merasakan hal semacam ini. Ini menyesakkan saat ia menerimanya dalam tenggang waktu singkat yang justru membuatnya terkejut. Apa ini yang juga dirasakan Elara saat mendapat penghinaan dari Emma waktu itu? Ah, kenapa sekarang ia merasa semiris Elara?
"Kau tau, aku sudah berpikir bahwa putrimu itu adalah darah daging dari Shawn, dan dia adalah keturunan keluarga Gladwin! Tapi nyatanya, kau malah menipuku mentah-mentah!"
"Ibu--ibu ... ini ti-tidak seperti yang ibu katakan. Ini salah paham. Ya, ini ada kesalahan."
"Ya, dan kesalahan itu ada padamu!" cerca Emma.
Shane hanya tersenyum menyaksikan tontonan yang disajikan didepan matanya ini. Ia ingin mendengar Stevi mengucap maaf atau mengakui kesalahan, tapi nyatanya perempuan itu tidak mengucapkan hal itu sama sekali. Stevi malah mengatakan ada kesalahpahaman yang terjadi.
Emma sangat kecewa pada Stevi, ia sudah menaruh kepercayaan yang begitu besar pada wanita itu, tapi kenapa seperti ini jadinya? Padahal ia sudah sangat ingin memiliki cucu dan kenyataannya ia malah tertipu. Mendadak, ia teringat dengan Elara--gadis yang ia sempat hina--bukankah gadis itu juga tengah mengandung cucunya?
Jika begini, sama saja artinya Emma mengambil langkah yang salah dengan menerima Stevi dan bayi yang bukan cucunya, lalu ia membiarkan Elara pergi yang ia ketahui sedang mengandung cucu yang sebenarnya. Bagaimana ini?
"Shane?"
"Ada apa, Ibu?"
"Bukankah Elara juga hamil? Itu bayimu, bukan? Biarlah ibu kehilangan cucu dari Stevi, tapi bayi yang dikandung Elara benar-benar cucu ibu, kan?"
Sekarang Shane yang menegakkan tubuh. Itu adalah kebohongannya dimana sebenarnya Elara tidak pernah hamil. Astaga, ia juga telah membohongi sang ibu.
"Cari Elara! Ibu mau menemuinya, Shane!" mohon Emma dengan wajah yang penuh penyesalan.
...Bersambung ......
__ADS_1