ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
43. Memahami ketakutanmu


__ADS_3

Sebuah genggaman tangan yang terasa erat--dirasakan Shane ketika ia baru saja menempati kabin pesawat. Shane menoleh pada gadis cantik yang duduk disampingnya. Itu adalah Elara yang tampak mengusung raut cemas.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang." Shane membalas genggaman tangan Elara di jemarinya, bahkan memberikan sentuhan pelan dengan ibu jarinya demi untuk menenangkan Elara.


Shane dapat memahami ketakutan Elara saat harus kembali menggunakan transportasi udara seperti sekarang. Walau bagaimanapun, Elara sempat mengalami kecelakaan dengan pesawat kurang dari setahun yang lalu--yang justru karena hal itu pula mereka dipertemukan.


"Aku takut, Shane," cicit Elara mengakui. Sebenarnya ia dan Shane sudah membahas hal ini dari beberapa hari yang lalu disaat Shane sudah menyediakan tiket pesawat untuk kepergian mereka menuju Indonesia, tapi tetap saja Elara tidak bisa tenang meski sudah begitu banyak kalimat penenang yang Shane ucapkan kepadanya.


"Kau hanya perlu berdoa. Dan kali ini perjalananmu tidak sendirian, jadi jangan terlalu cemas. Hmm?" Shane menatap Elara dengan sorot meyakinkan, membuat gadis itu hanya bisa terdiam tanpa tau harus merespon apa atas pernyataan lelakinya.


Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 16 jam tersebut, juga akan diselingi dengan dua kali transit sehingga wajar saja jika Elara masih merasakan trauma yang berlebihan akibat kejadian yang sempat menimpanya di masa lalu.


Masih teringat dengan jelas di benak Elara, bagaimana awal mula pesawat yang ditumpanginya waktu itu mengalami goncangan kemudian semua penumpang mendadak kalut dan bising. Sekarang, Elara harus dibayang-bayangi kejadian itu lagi saat ia kembali duduk di kabin pesawat seperti saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana takutnya Elara sekarang? Bahkan ia harus menekan rasa itu dalam-dalam lebih dari 16 jam ke depan?


"Jika kau takut, maka tidurlah ... percayalah jika saat kau terbangun nanti, tanganku ini masih akan menggenggam tanganmu."


Dan Elara tersenyum sendu dengan kalimat yang Shane utarakan. Ia tau jelas bagaimana perasaan pria yang memperjuangkannya itu.


"Aku sangat memahami ketakutan mu. Untuk itu, aku tidak akan marah jika kau tampak berlebihan sekarang. Tapi, bisakah kau melupakan sejenak momen kecelakaan itu? Rileks dan enjoy dalam perjalananmu kali ini. Oke?"


Elara mengangguk, kali ini Shane bagai menghipnotisnya.


"Aku ... terlalu norak ya?"


Shane tertawa pelan. "Jika orang melihatmu sepintas maka jawabannya adalah iya, mungkin bagi orang lain kau seperti pertama kalinya menaiki pesawat. Tapi bagiku, aku tau kau begini karena trauma-mu. But, who cares? Kau tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain," kata Shane pengertian.


"Terima kasih karena sudah memahamiku."


"Tentu saja, Sayang. Tentu saja." Shane mengelus pipi Elara singkat. "Jika kau tetap tidak bisa tidur, maka gunakanlah ini." Shane pun memakaikan earphone pada Elara, meminta agar gadis itu mendengarkan lagu-lagu dengan genre yang disukainya.


Dalam hati, Elara sangat bersyukur karena semesta mempertemukannya dengan Shane.


"Terima kasih, Tuhan. Karena Kau menakdirkan aku mencintai pria sepertinya," batin Elara mengucap syukur.

__ADS_1


...***...


Elara bisa bernafas lega kala perjalanan panjang mereka benar-benar sudah berakhir. Kini, mereka sudah berada di negara asalnya. Indonesia.


Elara merasa amat lelah, pun ia memahami jika Shane pasti merasakan hal serupa.


"Jika kau belum siap untuk langsung bertemu keluargaku, maka kau bisa memesan hotel dan kita bertemu lagi besok di rumah orangtuaku, Shane."


Shane menggeleng, ia balas menatap mata bening milik Elara. "Kau sudah menghubungi keluargamu dan pasti mereka akan menjemputmu disini, kan?" tanya Shane merujuk pada Bandara tempat dimana mereka berpijak sekarang.


Elara mengiyakan. Keluarganya memang akan menjemput, atau mungkin sudah berada di Bandara namun entah di bagian mana, sebab Elara belum melihat satupun keluarganya disana.


"Baiklah, aku akan menemui mereka sesegera mungkin."


"Apa kau yakin? Apa kau tidak lelah?"


Shane mengulas senyuman. "Bohong jika aku bilang aku tidak lelah, tapi tujuanku kesini memang untuk bertemu dengan keluargamu, kan?" pungkasnya.


"Liora!!!" pekik Elara, ia memanggil adik perempuannya disana.


Liora--sang Adik--langsung menghambur ke dalam pelukan sang Kakak. Setelah dirasa puas, keduanya melerai pelukan tersebut dan didetik yang sama Liora dapat melihat jika Elara tidak pulang sendirian melainkan bersama seorang pria asing yang penampilannya ... bulas alias bule asli. Hehehe.


"Siapa, Kak?" Liora menunjuk Shane dengan isyarat mata. Tentu saja Elara tau apa yang dimaksud oleh Adiknya.


Sebelumnya, Elara memang tidak mengatakan jika ia akan pulang bersama dengan Shane. Lagipula, keluarganya memang tidak mengetahui jika Elara sedang menjalin hubungan serius dengan Shane. Yang keluarga Elara tau adalah Elara dekat dengan Kyle dan kepergiannya mengajar di pelosok desa waktu itu adalah demi menjaga jarak dari Kyle--agar hubungan pertemanan mereka tidak rusak--akibat lamaran sang sahabat tempo hari. Elara memberi alasan jika ia perlu waktu menyendiri untuk membuat hubungannya dengan Kyle tidak canggung lagi setelah penolakannya.


Sadar jika Liora menanyakannya, Shane mengulurkan tangan ke arah adik perempuan Elara tersebut.


"Hai. Aku Shane."


Sekarang Elara terkikik-kikik, masalahnya adalah Shane memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar lucu karena ke-tidak-biasaan-nya mengucapkan bahasa tersebut.


Liora ikut tertawa tapi sembari menyambut uluran tangan Shane tentunya.

__ADS_1


"Hai, aku Liora. Kau orang Jerman? Atau orang Inggris? Aku bisa menggunakan kedua bahasa itu agar kita mudah berkomunikasi," jawab Liora ramah dengan bahasa inggrisnya. Gadis itu berusaha memberi Shane opsi, untuk mempermudah komunikasi keduanya.


Shane pun menipiskan bibir, sadar jika Liora sepintar Elara.


"Ibuku orang Inggris, tapi Ayahku orang Jerman. Kau bisa menggunakan bahasa yang mana saja asal jangan bahasa Indonesia sebab aku belum mahir melafalkannya," akui Shane terus terang.


Mereka bertiga akhirnya terkekeh. Shane merasa adik Elara sangat humble dan mudah berbaur dengannya. Ia senang mendapat sambutan seperti ini dan diterima oleh Liora.


"Kamu sama siapa, Dek? Ayah sama Bunda gak ikut?" tanya Elara pada sang adik.


"Sebenarnya tadi Ayah mau ikut, Kak. Tapi ada telepon dari Cafe. Kayaknya ada sedikit masalah disana. Aku saranin ayah kesana aja dulu, kakak kan bisa aku jemput sendirian. Kalau bunda, Kakak tau sendiri, kalau belakangan hari bunda kurang sehat. Kalau Saka, dia lagi sibuk ngejar-ngejar dosen buat skripsi akhir."


Elara mengangguk memahami situasinya, karena mereka tiba di Indonesia memang di jam sibuk seperti saat ini. Perlu diketahui, jika Ayah Elara memiliki usaha yakni beberapa cabang Cafe dan Liora ikut membantu mengelolanya. Bunda Elara juga punya usaha butik dan bridal yang kadang juga dipantau oleh sang Adik karena bunda yang kurang sehat akhir-akhir ini.


Sekarang Elara mengajak Shane untuk ikut menaiki mobil yang diparkirkan Liora di slot bandara.


Sebenarnya Shane tidak terbiasa disupiri oleh seorang gadis muda seperti Liora, ia merasa canggung, tapi tidak mungkin juga ia yang mengambil alih kemudi--mengingat jika ia belum memiliki izin untuk melakukan hal tersebut di negara kelahiran kekasihnya.


"Kita kemana, Kak?" tanya Liora pada Elara. Shane sendiri banyak diam memperhatikan interaksi dua orang kakak beradik itu. Wajah mereka tampak mirip, tapi Shane tau jika Elara dan Liora berbeda ibu, Elara sendiri yang menceritakannya pada Shane tempo hari.


"Aku dan kedua adikku berbeda ibu. Ibu kandungku sudah meninggal beberapa saat setelah melahirkan aku. Jadi, yang nanti akan kau temui di Indonesia adalah bundaku. Dia memang bukan ibu yang melahirkan aku, tapi dia mengasihi aku dengan sangat tulus, bahkan dia yang merawatku sejak bayi. Dia tidak pernah membeda-bedakan antara aku, Liora dan Saka. Aku sangat menyayangi dan menghormati Bunda sebagaimana ibu kandung yang semestinya."


Kalimat Elara selalu terkenang di benak Shane sampai ia penasaran seperti apa wajah Bunda yang merawat Elara dengan sepenuh hati sejak gadisnya bayi. Pasti Bunda telah mengorbankan banyak hal untuk merawat Elara yang semestinya bukan tanggung jawabnya karena waktu itu Bunda juga belum menikah dengan Ayah Elara.


(Buat yang mau tau kisah Ayah-Bunda Elara, baca novel EX, cari di profilku🙏)


"Kita langsung pulang ke rumah aja, ya, Dek. Kakak mau ketemu sama Bunda dan nanti kita video call ayah kalau kita udah di rumah," jawab Elara merespon pertanyaan Liora sebelumnya.


"Oh, oke, Kak." Liora kembali fokus untuk membawa mobilnya menuju kediaman mereka di Indonesia.


...Bersambung ......


Jangan lupa dukungannya ke novel ini ya. Tekan like, vote dan berikan komentarnya. Ah iya, kasi bintang juga ya🙏🙏🙏🙏 semoga berkah selalu buat yg setia dukung othor sampai bab ini. Terima kasih all Readers❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2