ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
60. Mengundang


__ADS_3

Pesta pernikahan Shane dan Elara akhirnya terlaksana setelah semua persiapan benar-benar telah dipersiapkan dengan matang. Acara itu dibuat di sebuah Resort yang ada di pinggir pantai.


Jika saat di Indonesia tidak banyak teman dan rekan Shane yang hadir, maka ketika pesta pernikahannya diadakan di Hamburg, Shane sengaja untuk mengundang banyak koleganya sekaligus agar dia bisa mengumumkan jika dia telah menikah.


"Selamat, Shane. Akhirnya kau mengakhiri masa lajangmu." Seorang teman Shane datang bersama anak dan istrinya ke acara itu. Ia mengucapkan serangkaian kata selamat khusus untuk Shane dan Elara.


"Congrats, akhirnya kau menikah juga."


"Woa, selamat, Brother!"


"Semoga kalian berbahagia dan cepat mendapat penerus."


Dan banyak ucapan lain yang bernada hampir sama--Shane terima hari ini.


Pesta itu sangat privasi. Shane sengaja melakukan itu agar tidak ada pihak-pihak yang tidak diinginkan--ikut hadir di acara tersebut.


Tidak sembarang orang bisa mendapat akses masuk kesana. Dan Shane memberlakukan penjagaan ketat disana.


Shane tidak mengundang Ryder, apalagi Megan. Ia tidak mau mengambil resiko kalau-kalau pestanya akan rusak jika dihadiri oleh kedua orang itu, sebab mereka bisa mempengaruhi mood-nya dan perasaan Elara.


Tapi, Shane tau jika istrinya mengundang Kyle ke acara mereka.


Shane tidak tau kenapa Elara melakukannya, tapi yang dapat ia simpulkan adalah istrinya merasa bersalah telah mengabaikan Kyle dan tak memberitahu pria itu sejak awal mengenai pernikahan mereka.


Dan sekarang, Shane tidak tau apakah pria itu akan datang menghadiri undangan dari Elara atau justru tidak hadir disana.


"Kau ... menunggunya?" Mati-matian Shane menahan rasa gemuruh dihatinya. Ia tidak suka jika Elara menunggu pria lain, kendati itu adalah sahabatnya sendiri.


Shane tau Elara mencintainya, tapi Shane tidak bisa membagi hati Elara meski itu hanya untuk rasa persahabatan terhadap Kyle. Bagaimanapun, Kyle adalah orang asing bagi hubungan pernikahannya.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Elara.

__ADS_1


"Siapa lagi jika bukan sahabatmu itu, kau mengundangnya, kan?" Shane terlalu malas untuk menyebutkan nama Kyle, sehingga ia menggunakan kata ganti lain.


"Kau tidak suka?"


"Aku tidak bilang begitu," jawab Shane. "Tapi seharusnya kau membicarakannya lebih dulu padaku, Lara," tukasnya.


Elara menatap Shane dengan ekspresi yang entah. Ia tidak menyangka jika Shane akan berkata seperti ini padanya. Atau justru memang dia yang salah karena tidak mendiskusikan hal ini lebih dulu dengan Shane? Mengenai undangannya untuk Kyle?


Elara hanya tidak mau memperkeruh hubungannya dengan Kyle yang sudah terlanjur merenggang. Jika saat di Indonesia ia bisa mengabaikan Kyle dan tidak mengundangnya datang, bahkan tak memberitahunya sama sekali, tak mungkin saat ia mengadakan acara di Hamburg ia kembali melupakan sahabatnya itu. Walau bagaimanapun, Elara masih mengingat kebaikan Kyle kepadanya.


"Sudahlah, apa kita harus berdebat disini? Lagipula belum tentu juga Kyle akan datang karena dia amat kecewa padaku," jawab Elara akhirnya.


Shane mengembuskan nafas panjang. Memang tak seharusnya ia membahas hal itu sekarang dan berujung dengan perdebatan bersama istrinya.


Alasan Shane tidak menyukai jika Elara mengundang Kyle ke pesta mereka, bukan hanya karena cemburu pada pria itu, tapi ia juga memikirkan dampak lain yaitu Stevi menjadi tau mengenai kabar ini dan bisa saja merencanakan hal buruk untuk merusak pesta mereka. Semacam itulah dan Shane jadi merasa gusar sekarang.


"Ela ..."


"Kyle, kau datang?" Elara menatap sungkan pada sang sahabat yang akhirnya menunjukkan diri dihadapannya.


Shane tau tidak seharusnya ia merasa begini, tapi menyaksikan pemandangan ini tetap saja membuatnya cemburu. Walau bagaimanapun, selain Kyle adalah sahabat Elara, pria itu juga pernah melamar wanita yang sekarang menjadi istrinya ini, kan? Apakah salah jika Shane cemburu padanya?


"Selamat atas pernikahan kalian. Aku mendoakan semoga kau selalu bahagia, Ela." Kyle mengulurkan jemarinya ke hadapan Elara dan disambut oleh wanita itu.


Jangan tanyakan perasaan Elara sekarang. Ia merasa bersalah sekaligus tak percaya Kyle masih mau menghadiri undangan darinya. Bukankah Kyle memiliki jiwa yang besar dengan hadirnya dia di pesta ini?


"Thank, Kyle. Thank you so much." Mata Elara tampak berkaca-kaca haru saat melontarkan kalimatnya.


Kyle mengulas senyum pada wanita yang amat disayanginya itu. Lalu, berusaha segera melepas kontak fisik diantara mereka, karena ia tak mau jabatan tangan itu kembali mengalirkan rasa dihatinya. Kyle menoleh pada Shane yang memasang wajah datar disana. Ia tau pria ini tak menyukai kehadirannya, tapi sekarang ia harus menerima kekalahannya karena pada akhirnya Shane adalah pemenangnya.


"Selamat untuk kalian." Kyle menatap Shane lamat-lamat. "Ku harap kau bisa menjaga Elara dengan baik. Jangan menyakitinya dan berikan dia kebahagiaan," pungkasnya menjabat tangan Shane dengan erat. Ada semacam tanggung jawab yang sekarang ia hibahkan kepada Shane.

__ADS_1


"Kau tidak perlu meragukannya. Tanpa kau minta, aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk istriku." Shane sengaja menekankan kata terakhirnya, agar Kyle sadar jika Elara benar-benar sudah resmi menjadi miliknya sekarang.


"Ya, aku percayakan dia padamu." Kyle tersenyum miring dan Shane mengendikkan bahunya tak acuh.


"Selamat menikmati pestanya." Shane berubah ramah. Entah hanya kepura-puraan saja demi menghindari perang dingin yang terjadi antara dirinya dan Kyle disana. "Ah, ya, dan semoga kau cepat mendapatkan kekasih juga untuk kau nikahi," lanjutnya dengan senyuman meledek.


Kyle tertawa sumbang, lalu kembali ke meja yang seharusnya ia tempati dalam acara tersebut.


Dari posisinya, Kyle melihat jika Elara menatapnya. Ia menyunggingkan senyum pada wanita itu sembari mengacungkan gelas wine ditangannya. Elara hanya diam menatapi Kyle yang mulai menandaskan minumannya. Tak bisa dipungkiri jika Elara dapat melihat raut kekecewaan yang besar diwajah Kyle disaat yang bersamaan.


"Jika kau peduli pada perasaannya, itu berarti kau memiliki rasa padanya," bisik Shane tepat ditelinga Elara. Ia dapat bicara seperti itu karena ia melihat apa yang baru saja terjadi termasuk saat Elara memperhatikan Kyle disana.


"Shane, harus berapa kali ku katakan ... aku sudah menjadi milikmu jadi berhentilah mencemburuiku dengan Kyle."


"Kau selalu bilang, bagaimana jika situasinya terbalik. Dan sekarang, aku ingin mengatakan hal yang sama. Bagaimana jika keadaannya terbalik, dimana aku yang memiliki seorang sahabat wanita, lalu dia menatapku dengan penuh cinta dari meja yang ada di ujung sana?" ujar Shane merujuk pada sikap Kyle disana.


Elara lantas menoleh pada suaminya itu. Sorot matanya tak terbaca, tapi dihati Elara tentu menolak tegas ucapan Shane yang menyudutkannya.


"Bagaimana? Apa kau bisa menerima jika keadaannya dibalik?" Rupanya Shane menuntut sebuah jawaban dari bibir istrinya.


Elara meneguk ludahnya dengan susah payah. Sekarang ia tau posisinya dan ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Shane ketika harus menghadapi Kyle yang datang menyambanginya.


"Aku tau." Elara akhirnya menemukan kembali suaranya yang sempat tercekat di kerongkongan dan nyaris tak bisa keluar. "Aku tau kau pasti sakit hati atas semua ini. Tapi, Kyle adalah sahabatku, Shane?" sambungnya dengan wajah sendu.


"Dan kau hanya boleh memikirkan perasaanku, Lara."


"Of course, aku hanya merasa bersalah pada Kyle."


"Mulai saat ini, hapuslah rasa seperti itu dalam hatimu. Karena kau tidak salah apapun. Perasaan bersalah itu muncul karena kau sendiri yang menstimulasi otakmu jika kau telah melakukan kesalahan padanya. Sedang pada kenyataannya, kau tidak bersalah apapun, karena semua yang telah kau ambil adalah hak mutlak yang sudah kau putuskan atas dasar kesadaran dirimu sendiri."


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2