ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
75. Menceritakan tentang hidup


__ADS_3

Elara senang sekali bisa kembali ke dunianya. Ya, kegiatan mengajar seperti ini adalah dunia yang pernah ia impikan. Elara pernah berharap bisa mengajar di pelosok, membantu banyak anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan. Menjadi orang pertama yang mengajarkan anak-anak itu membaca, menulis, dan mengenal banyak hal darinya.


Elara juga senang karena ia bisa kembali bertemu dengan Calvin dan murid lainnya yang sempat ia tinggalkan beberapa saat lalu.


Namun, sejak awal Elara sudah mengatakan pada mereka bahwa jangka waktunya disini tidak tetap, ia bisa pergi lagi dari sana sewaktu-waktu. Elara melakukan ini agar ank-anak tidak banyak berharap dengan kembalinya dirinya, syukurnya mereka mengerti dan tetap bahagia meski Elara tak akan lama disana.


"Jas?" Elara memanggil Jasmine dan memberikan satu dus berukuran sedang pada gadis itu.


"Apa ini?" tanya Jasmine.


"Beberapa saat lalu aku sempat jalan-jalan bersama Shane, aku membelikan ini untuk anak-anak yayasan dan ada juga untukmu."


Mata Jasmine membulat sempurna, ia tampak antusias. "Kau bepergian dan mengingat untuk membelikan oleh-oleh buat kami semua?" tanyanya terperangah.


Elara menganggukinya.


"Elara kau benar-benar baik. Kebaikanmu itu bahkan diluar prediksiku."


"Jangan berlebihan, aku hanya memberikan sesuatu yang tidak seberapa," kata Elara tersenyum.


"Bukan masalah apa dan seberapanya, tapi dengan kau yang masih mengingat kami itu adalah hal yang luar biasa seakan-akan kami ini patut untuk terus kau ingat."


Elara menyunggingkan senyum. "Dan ya, itu memang patut ku lakukan."


"Baiklah, aku akan membantumu membagikan oleh-oleh ini untuk anak-anak."


Semua anak-anak yang ada di yayasan sangat bahagia mendapat oleh-oleh yang Elara bawa dari Dubai. Mereka mengucapkan banyak terima kasih.


Seusai jam mengajar, Jasmine dan Elara kembali ke kamar mereka yang ada disana. Seperti dulu, mereka akan terbiasa membicarakan hal mengenai kehidupan pribadi masing-masing.


"Kau pasti bahagia sekali ya menikah dengan Shane. Kalian sudah kemana saja selain ke Dubai?" tanya Jasmine dengan keantusiannya.


"Ya, aku bahagia dengannya. Sebelumnya kami sudah lebih dulu ke Indonesia mengunjungi keluargaku dan kebetulan pernikahan kami juga diadakan disana."


"Hm, maaf ya aku tidak datang ke pesta pernikahanmu waktu di gelar di Hamburg."


"Tak apa, Jas. Aku memaklumi keadaanmu." Elara menepuk punggung tangan Jasmine dengan akrab.


Jasmine sendiri berada ditempat ini juga karena pelariannya. Ia hendak dijodohkan oleh orangtuanya pada seorang pria kaya tapi sudah sangat berumur. Sementara jangankan dengan kakek tua itu, dengan pria muda saja Jasmine belum kepikiran untuk menikah maka dari itu dia kabur dari rumah dan tahun ini adalah tahun keduanya menetap di Yayasan sekaligus sekolah anak-anak desa.


"Thank you, Ela. Aku memang tidak mungkin menunjukkan diri di kota. Aku takut ada salah seorang kerabatku yang melihatku disana."

__ADS_1


"It's oke, Jas. Sudah ku bilang aku tau keadaanmu."


Jasmine menggenggam jemari Elara. "Kau begitu baik. Pantas saja hidupmu sangat bahagia, Ela."


Elara tersenyum penuh ironi. "Tidak semua yang kau lihat bahagia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, Jas."


"Maksudmu?"


"Bagitulah, jangan menilai kebahagiaan orang lain berdasarkan apa yang sekilas kau lihat."


"Jadi, kau tidak bahagia? Apa Shane menyakitimu?"


Elara menggeleng. Sudah sepatutnya ia berbagi masalah pada orang lain yang ia percayai seperti Jasmine. Selain ingin membagi pengalaman, ia juga tidak mau terus memendam rasa sendirian. Apabila membagi cerita justru akan membuat hatinya lapang dan lega, maka sekarang adalah saatnya.


"Terlepas dari Shane, sebenarnya hidupku sangat menyakitkan." Elara memulai ceritanya dan Jasmine bertindak sebagai pendengar yang baik.


Tentu saja semua yang menimpa Elara belakangan hari tidak luput dari bahan obrolan mereka sehingga Jasmine yang mendengarnya merasa begitu miris dengan hidup Elara yang dia sangka bahagia dan baik-baik saja.


"Aku tidak pernah mengira kau akan mengalami problem sepelik ini, Ela." Jasmine memandang Elara dengan sendu.


"Begitulah, aku tidak bisa mengharapkan rasa kecewaku terhadap Kyle. Berkatnya, sekarang aku dalam kondisi yang seperti ini. Pergerakanku sekarang terbatas, aku tidak bisa terlalu lelah. Aku sudah menjadi Elara yang berbeda. Terutama kondisi fisikku."


Jasmine terenyuh mendengar cerita Elara, ia merangkul tubuh wanita itu yang tampak bergetar saat menceritakan segalanya.


Elara mengangguk, ia tak sanggup berkata lagi.


"Yang patut kau syukuri adalah ... Shane menerimamu apa adanya."


"Tentu saja aku mensyukurinya, Jas."


"Ya, dan aku yakin setelah ini kehidupanmu akan lebih baik. Tuhan akan mengangkat derajatmu lebih tinggi lagi daripada sebelumnya. Kau percaya, kan?"


"Yah, aku percaya itu. Thank you, Jasmine."


Dan benar saja, setelah mengeluarkan segala unek-uneknya pada sang sahabat, Elara merasa lebih plong dan lega. Tidak perlu menutupi kekurangannya didepan Jasmine, justru gadis itu akan tau bagaimana memperlakukan dirinya yang tak lagi sempurna. Jasmine akan menjaganya.


"Lalu ... kenapa Shane tidak ikut disini bersamamu? Kenapa kau hanya bersama Nolan?"


"Shane meminta Nolan untuk menjagaku. Shane memiliki banyak urusan di Hamburg yang salah satunya bisa aku tebak ... dia pasti sedang mengurus hukuman untuk Kyle." Elara menatap ke arah langit-langit kamarnya. Ia tidak tau apa hukuman yang akan Shane berikan kepada Kyle.


...***...

__ADS_1


Sementara disana, Shane sudah puas menghajar Kyle dengan tangan kosong. Sebuah tempat semacam ruang bawah tanah menjadi saksi kekejian pria itu terhadap mantan sahabat istrinya. Ya, hanya mantan sahabat karena Shane takkan pernah mengizinkan Elara berhubungan lagi dengan si kepa rat Kyle.


Kyle sudah babak belur disana, tapi dia belum mati. Dan ya, Shane memang tidak mau membuat Kyle mati begitu saja. Jika dia mau, maka sejak awal dia sudah menembakk kepala Kyle dengan pistol dan tidak perlu membuang tenaga untuk memukulinya seperti ini.


"Ke-na-pa kau ... ti-dak lang-sung membu--nuh-ku sa--ja?" ujar Kyle dengan susah payah. Wajahnya dipenuhi luka karena kemurkaan Shane padanya.


"Kau pikir aku mau membuunuhmu begitu saja? Jangan mimpi Kyle! Itu terlalu mudah untukku dan itu terlalu terhormat untuk pecundang sepertimu!"


"Su-dah ku kata--kan, aku ... pas-rah me-ne-ri-ma hukumanmu ..."


"Ya, tapi bukan berarti kau akan ku biarkan mati begitu saja tanpa merasakan sakit!" Shane menginjak dada Kyle dengan sepatu berkilatnya, membuat sebuah suara derakan terdengar. Itu adalah tulang-tulang dada Kyle yang remuk karena ulahnya. Shane menyeringai puas, pun ini ia lakukan karena Kyle berhak menerimanya.


"Aku mau kau tersiksa lebih dulu."


Shane sangat geram pada Kyle, tapi dia sudah sampai pada sebuah keputusan akhir yakni melepaskan pria itu dalam keadaan masih bernyawa.


Karena sekarang, Shane punya tujuan selanjutnya. Tujuan utama dari yang utama.


Melenyapkan Gracia. Dia adalah otak dari semuanya.


Dalam hidup Shane, lantang baginya memukul seorang wanita. Apalagi jika wanita itu adalah sosok yang sempat ia segani. Sehingga, ia meminta Max dan Jose mengurus soal Gracia.


Shane mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu dari kedua asistennya.


"Apa kalian sudah melakukannya?"


"Sudah, Tuan." Jose yang menerima panggilannya.


"Bagus."


"Sekarang apa lagi yang harus kami lakukan, Tuan?"


"Tinggalkan dia sendiri disana. Biarkan obat itu bekerja dengan sendirinya sampai akhirnya dia akan lumpuh dan mati dengan sendirinya."


Shane memutus panggilannya. Ia tersenyum miring membayangkan nasib wanita paruh baya itu. Suntikan obat ilegal yang akan membuat tubuh Gracia perlahan-lahan habis. Kulitnya akan terbakar sedikit demi sedikit, lalu menimbulkan penyakit baru yang akan membuat tubuhnya mulai membusuk dengan sendirinya.


Tidak akan ada yang dapat menolong Gracia disana. Dia akan menerima siksaaannya dengan kesendirian sampai akhirnya dia akan lenyap tanpa campur tangan Shane untuk menyiksa fisiknya secara langsung.


Shane kembali ke kediamannya sendiri. Membersihkan diri dan memandang bayangan dirinya didepan cermin.


"Kau menjadi monster hari ini. Tapi, istrimu tidak boleh mengetahui sisi terburuk yang ada padamu hari ini." Shane berujar untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Walau bagaimanapun, ia tidak mau Elara tau kekejamannya. Yang ia inginkan Elara hanya mengenalnya sebagai sosok suami yang amat mencintai wanita itu, bukan pria yang kadang mengerikan jika miliknya diganggu.


...Bersambung ......


__ADS_2