ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
35. Kesepakatan


__ADS_3

Keesokan harinya, Shane kembali ke kediaman Elara namun Apartmen itu masih kosong. Apa Elara tidak pulang kemarin?


Banyak pertanyaan di kepala Shane. Ia juga khawatir setengah mati mengenai kondisi gadisnya. Elara ada dimana? Kenapa tak pulang? Atau dia kembali mengajar?


Ya, satu-satunya harapan Shane adalah mendatangi universitas dimana Elara mengajar. Ia kesana dan lagi-lagi harus bertemu dengan Kyle yang sepertinya sama-sama mencari keberadaan Elara.


"Dia tidak ada."


Tanpa perlu Shane tanya, pria itu sudah lebih dulu menjelaskan padanya. Ini berarti Kyle juga mencari Elara--seperti dugaannya.


"Kemana?" tanya Shane yang akhirnya menanggapi Kyle disana.


Kyle mengangkat bahu. "Katanya dia mengundurkan diri."


"What?" Sontak saja hal itu membuat Shane terkejut.


Shane tidak menyangka dampak dari pertengkaran dan pemaksaannya pada Elara berujung dengan kepergian gadis itu tanpa mengucap apapun kepadanya. Shane merasa bersalah disini. Ia menyesal. Menyesal telah membuat Elara harus pergi dalam keadaan seperti ini. Seharusnya ia tidak bertindak gegabah dengan melakukan pemaksaan. Sekarang gadis itu benar-benar pergi tanpa pamit, mungkin Elara masih bimbang dan belum memiliki jawaban terkait apa yang Shane tawarkan--kawin lari--tempo hari.


"Apa dia ada rencana pulang ke Indonesia? Ini tiba-tiba sekali." Shane membekap wajahnya sendiri, akhirnya ia terduduk lesu disamping Kyle yang mematut reaksi tak jauh berbeda dengan dirinya. Sama sama tak bersemangat.


"Kenapa kau bisa mencintai Elara?" tanya Kyle yang justru balik bertanya pada Shane disana. Ia mengalihkan topik, bahkan tidak menjawab apa yang seharusnya ia jawab dari pertanyaan Shane sebelumnya.


Shane lantas mengembuskan nafas perlahan. "Elara adalah gadis yang apa adanya. Dia polos. Sikapnya natural tidak dibuat-buat. Dia punya komitmen dalam hidup dan aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya," akuinya pada Kyle.


"Kau benar, kau cukup mengenalnya dengan baik ternyata," ujar Kyle tanpa menatap pada pria yang duduk tak jauh darinya itu.


"Lalu, apa kau tau kemana dia sekarang?"


"Jika aku tau, aku tidak akan duduk disini bersamamu. Aku pasti akan segera menyusulnya tanpa memberitahumu apapun. Apa kau pikir aku mau memberi info pada rivalku sendiri?" Kyle menyunggingkan senyum tipis yang tampak miris.


Shane ikut mengulas senyum. "Kau sendiri, kenapa kau harus melamarnya? Bukankah kalian bersahabat?"

__ADS_1


"Aku memiliki kasih sayang yang besar untuk Ela. Aku sudah memberinya waktu untuk mencari pasangan. Aku tidak mengikatnya, karena ku pikir akan ada yang bisa menjaganya. Tapi makin kesini, ku pikir tidak akan ada yang bisa menyamaiku dalam hal menjaga Ela, jadi ku putuskan untuk menikahinya saja, agar dia tidak sulit mencari orang lain yang bisa sebaik aku untuk melindunginya."


Shane tertawa sumbang sekarang. "Kau terlalu percaya diri, rupanya," sarkasnya.


"Kenyataannya memang begitu. Aku yang selalu menjaga Ela, terutama dari pria sepertimu."


Shane menarik nafas dalam. "Jika memang begitu, cari dan jagalah dia kembali, pastikan kau yang menemukannya lebih dulu dari pada aku."


Kyle mengernyit sekarang. Sampai akhirnya, Shane kembali melanjutkan kalimatnya.


"Jika saat aku bertemu lagi dengannya dan kau ada bersamanya, maka aku akan menyerah."


Kyle mengulas senyum sekarang, namun ia belum mau menyahuti perkataan Shane sebab ia tau jika pria itu masih memiliki sambungan kalimat lainnya.


"... tapi, jika suatu saat aku dan Elara kembali bertemu dan disaat itu Elara masih sendiri--tanpamu-- maka dia adalah milikku!" tuntas Shane kemudian.


Kyle mengangkat kedua alisnya, cukup terkejut dengan ujaran Shane sekaligus penawarannya itu.


"Jadi, jika aku lebih dulu menemukan Elara artinya kau akan menyerah?"


"Baiklah. Aku terima kesepakatan ini." Dikepala Kyle sudah terlintas beberapa tempat yang mungkin akan didatangi Elara.


"Tapi, sesuai kesepakatan juga, apabila aku yang lebih dulu menemukannya dan saat kami bertemu tidak ada kau lagi dalam hidupnya, maka ku pastikan jika dia akan menjadi milikku."


Kyle mengangguk memahami. "Lalu, Stevi?" tanyanya.


"Sejak awal aku sudah mengatakan jika aku tidak pernah memilihnya. Dia bukan istriku. Bayi yang dikandungnya juga bukan milikku, jadi aku tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab padanya."


Kyle mengendikkan bahu, tampak acuh tak acuh, namun ia bertekad dalam hati untuk menemukan Elara lebih dulu sebelum Shane menemukannya. Atau minimal, Shane akan bertemu lagi dengan Elara disaat Kyle sudah membersamai gadis itu, agar Shane dapat mundur dengan teratur sesuai kesepakatan mereka hari ini.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, dilain sisi, Elara pergi menggunakan jasa travel ke sebuah desa yang sebenarnya belum pernah ia kunjungi sekalipun. Ini bahkan tidak ada dalam list daftar perjalanannya meski sebenarnya tujuannya kesana adalah mewujudkan salah satu impiannya yang masih tertunda.


Permasalahannya dengan Shane yang cukup pelik, membuat Elara terpaksa melarikan diri. Ia ingin menenangkan hatinya, terutama karena masih saja terhina atas segala ucapan yang dilontarkan Emma kepadanya.


Mengenai Kyle, Elara tau jika Kyle akan turut mencari keberadaannya namun saat ini Elara benar-benar memutuskan untuk menyendiri dulu sehingga ia tidak pergi ke tempat yang akan bisa ditebak oleh sahabatnya itu. Lagipula, Elara sudah mengatakan dengan jelas pada Kyle bahwa ia telah menolak lamaran pria itu. Elara harap Kyle memahami posisi dan kondisinya.


"Aku tidak bisa menerimamu, Kyle. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku juga tidak bisa membalas perasaanmu, aku hanya akan menjadi istri yang tidak tau diri nantinya," kata Elara dalam hatinya. Ia tidak mau jika nantinya ia hanya menyiksa batin Kyle jika beristrikan dirinya yang tidak bisa membalas kasih sayang Kyle dengan cinta yang sama.


"Dan Shane, maafkan aku. Aku tidak bisa mengikuti keinginanmu untuk kawin lari. Bagiku, pernikahan itu sangat sakral dan aku tidak mau suatu saat kau menyesal telah melepas semuanya hanya demi wanita sepertiku."


Elara menatap hamparan pemandangan dari kaca jendela mobil travel yang disewanya. Ia butuh hidup baru yang lebih baik, meski ia sendiri tidak yakin bagaimana bisa ia menjalaninya jika separuh hatinya sudah dibawa ikut bersama Shane di Hamburg.


Elara hanya berharap, jika ulasan mengenai 'jodoh pasti bertemu' akan memihak kepada kisah cintanya.


Saat kaki Elara menapak di sebuah tanah pedesaan dengan hamparan hijau yang menyegarkan. Kedatangan Elara langsung disongsong oleh beberapa anak-anak kecil yang menyambutnya.


"Hallo, Nona Elara. Saya Jasmine."


"Hai, Nona Jasmine," sapa Elara ramah. "Ternyata kau lebih manis dari yang ada di foto," katanya terus terang.


Jasmine terkekeh sekilas. "Kau sama cantiknya dengan yang ku bayangkan. Kau juga pasti memiliki jiwa yang sabar," katanya balik memuji.


"Jangan berlebihan, kita akan mengajarkan anak-anak disini bersama-sama."


"Yup. Semoga kau betah. Selamat datang disini."


Elara mengangguk dengan seulas senyum yang terbit dikedua ujung bibirnya.


Ya, mulai sekarang ia akan memilih hidup baru. Mencoba melupakan hal-hal yang mungkin tidak bisa untuk ia raih. Salah satunya adalah Shane, yang mungkin tidak ditakdirkan menjadi pasangannya.


Elara memang mempunyai cita-cita untuk mengajar dan mengabdi di sekolah-sekolah yang ada di pedalaman dan pelosok. Menjadi guru bagi murid-murid kecil yang membutuhkan sokongan untuk bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


...Bersambung ......


Yang pernah baca Novelku yang judulnya EX--bagian bonchap, disana pernah disinggung mengenai cita-cita Elara yang ini ya... btw, ini memang sekuel dari novel tersebut yang Elara adalah anaknya Anton dan Nadine (Dalam novel EX) Makasih🙏🙏🙏🙏


__ADS_2