ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
13. Berusaha sendiri


__ADS_3

Sekarang Elara semakin sadar jika ia hanya sendirian di dalam hutan. Hanya ada dua pilihan baginya, bertahan sampai keajaiban datang untuk menyelamatkannya atau berusaha keluar dari hutan dengan keadaannya yang terbatas.


Elara menarik nafas dalam-dalam. Ia tak memiliki apapun sebagai bekal untuk bisa keluar dari hutan secara hidup-hidup. Jangankan keahlian bela diri untuk mempertahankan hidup dari serangan binatang buas ataupun halangan di medan yang akan ia lalui, bahkan alat penunjuk jalan pun ia tak punya. Elara tak tau dimana selatan, barat atau utara. Haruskah Elara nekat keluar dari hutan dengan modal insting diri saja?


Akan tetapi, jika Elara berdiam diri disini tanpa usaha sama sekali, ia takut akan menyesalinya. Setidaknya, jika nanti ia mati dalam perjalanan mencari jalan keluar dari labirin hutan, ia sudah pernah mencoba dan berusaha daripada ia hanya berdiam disini menunggu ajal yang mungkin bisa menjemputnya juga sewaktu-waktu.


"Shane, aku akan meninggalkan tempat ini. Aku akan berusaha menjaga diri untukmu, begitu kan pesanmu saat sebelum pergi kemarin?" Elara menarik nafas dalam. "Baiklah, ku harap kau akan mencariku suatu saat nanti." Jauh dalam lubuk hati Elara, ia masih berharap jika Shane masih hidup dan berada di suatu tempat yang entah dimana. Shane tidak pernah berniat meninggalkannya tapi keadaan yang membuat Shane entah kemana dan membuatnya sendirian di hutan seperti saat ini.


Nekat, Elara mulai memakai tas gunung milik Shane yang tertinggal di tendanya. Ia juga sudah menggulung tenda dan siap pergi dari sana. Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu Elara menyempatkan diri untuk mengisi stok air untuk persediannya.


Meski sebenarnya Elara takut untuk kembali ke mata air yang dekat dengan sungai dimana Elara pernah menemukan banyak cacing-cacing air, tapi gadis itu seakan mati rasa dan hilang rasa geli karena keadaannya yang menyedihkan saat ini.


Elara berderap meninggalkan letak hutan yang sudah sembilan hari ia tempati. Ia tidak kuat jika nanti malam harus tetap berada disana sendirian. Setidaknya hari ini ia harus mencoba menyelamatkan diri dengan mengandalkan dirinya sendiri tanpa Shane ataupun orang lain.


...***...


Sudah setengah hari Elara berkeliling di hutan yang sama. Perjalanan itu memang tidak mudah. Elara sudah dapat memperkirakannya sebab ia memang tidak biasa dalam dunia seperti ini. Gadis itu menangis tanpa airmata.


Elara tak pernah menyangka jika akan tersesat di Hutan, ia bahkan takut hanya untuk membayangkannya saja. Akan tetapi, kenyataannya sekarang ia benar-benar sendirian ditempat seperti ini. Tempat yang sama sekali tidak memiliki celah untuk keluar. Bahkan sinar matahari tidak terlihat disaat siang. Gelap seakan berada dalam ruangan tanpa cahaya lampu.


"Apa aku harus bermalam disini?" batin Elara. Ia memutuskan untuk memasang tenda di sebuah tempat yang agak lengang dari pepohonan. Menancapkan pasak ditambah yang sedikit basah. Rasanya, ia sudah tak kuat lagi menyusuri hutan yang sama sekali tak menunjukkan jalan keluar.


Rasa-rasanya bahkan Elara hanya berputar-putar di satu tempat yang sama saja, membuang energinya, seolah ia tidak beranjak dari tempat semula sebab semuanya tampak sama.


Jangan tanyakan suara hewan liar dan lolongan yang bersahut-sahutan, jelas itu sangat terdengar jelas membuat Elara semakin ngeri dan bergidik sendiri. Ini lebih menyeramkan daripada film horor yang sering ia tonton.


Elara merasa sangat lapar, ia memutuskan untuk mengonsumsi buah-buahan liar yang masih tersisa tak cukup banyak dari terakhir kali Shane mencarikan untuk stok makanan mereka.


Lambat laun, Elara mulai tertidur di tenda yang sudah kembali ia pasang. Rasa lelah membuatnya pulas. Elara sangat berharap ketika ia bangun nanti ia sudah berada di kediamannya.


Keesokan harinya, Elara merasa sangat lemah. Ia melihat pada luka di perutnya yang paling parah ketimbang luka di bagian tubuhnya yang lain.


"Padahal beberapa hari lalu lukanya sudah mulai mengering. tapi karena kemarin aku banyak bergerak, lukanya menjadi basah kembali." Elara mengeluh, rasanya ia sudah terlalu banyak bergerak hingga berimbas pada lukanya.


Elara melihat stok makanannya untuk hari ini dan hanya tersisa dua bongkah ubi jalar jadi ia harus bisa bertahan dengan itu saja hari ini.


"Ya Tuhan, apa pada akhirnya aku akan mati di hutan ini?"

__ADS_1


Elara mulai memasak ubi jalar nya untuk menu sarapan sekaligus makan siangnya hari ini.


Setelah sarapan Elara memutuskan untuk beranjak dari tempat itu karena ia tak mau membuang waktu lagi. Ia harus keluar dari hutan saat ini juga.


Elara memutuskan membuat sebuah bendera dari baju Shane yang ia robek. Warna kainnya berwarna merah, Elara sangat berharap ini dapat membantunya. Bendera itu ia pasang disebuah ranting pohon yang ia temukan.


Elara kembali menyusuri hutan sambil sesekali menebas semak yang ia terobos. Saat matanya tak sengaja melihat terik matahari yang menyilaukan Elara yakin jika sekarang ia mulai berada di area minim pepohonan.


Elara menancapkan benderanya di area yang tidak terlindung oleh pohon, ia berharap ada helikopter yang lewat untuk menyelamatkannya.


Sayangnya, sampai menjelang sore harapan Elara tidak terwujud. Ia terpaksa memasang tenda kembali disana. Namun, belum sepenuhnya tenda itu terpasang, Elara sudah pingsan dan tak sadarkan diri.


...****...


Elara merasa kepalanya sangat sakit, kedua kelopak matanya terasa sulit dibuka seakan ditimpa berkilo-kilo benda yang berat.


"Ela?"


Elara mendengar namanya dipanggil, ini terasa tak mungkin sebab ia mengenal pemilik suara itu.


"Ela? Kau sudah sadar?"


"Syukurlah, Ela. Aku akan memanggil dokter, sebentar ya!"


Elara tetap belum bisa melebarkan kelopak matanya, namun ia mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa disekitarnya.


"K-Kyle ..." lirih Elara.


"Ya, ya, ini aku. Kau mengingatku? Astaga, Ela ... aku amat sangat mengkhawatirkanmu dan sekarang aku benar-benar merasa lega."


Suara Kyle terdengar serak, sepertinya pria itu menangis disana.


"Sebentar, aku panggil dokter untuk memeriksa mu."


Elara tak menyahut lagi, ia tersenyum miris, ia yakin jika sekarang ia sedang bermimpi dimana ia sudah mendengar suara Kyle yang mengkhawatirkannya.


"Mungkin sebelum aku mati, aku diperbolehkan untuk memimpikan orang-orang yang dekat denganku selama hidup didunia," batin Elara.

__ADS_1


Tak berapa lama, suara langkah lain kembali terdengar ditelinga Elara.


"Dokter, Elara baru saja sadar beberapa saat lalu." Sepertinya Kyle sedang berbicara pada seseorang yang disebutnya sebagai dokter.


"Saya akan segera memeriksa dan mengecek organ vitalnyaa."


"Baiklah, terima kasih dokter."


Kini Elara merasa jika ia benar-benar sedang diperiksa menggunakan stetoskop. Kemudian kelopak matanya dibuka kiri dan kanan dan disenteri.


"Nona Elara? Apa kau bisa mendengarku?"


"Y-ya," lirih Elara. Lagi-lagi ia mencoba untuk membuka mata, berusaha sebisa mungkin sebab ia ingin melihat keberadaannya.


"Nah, begitu, pelan-pelan saja." Dokter memberi instruksi saat Elara mulai mengerjapkan kedua matanya, tampak lega dan menatap Elara dengan sendu kemudian.


"Syukurlah anda bisa diselamatkan. Tuan Kyle sudah menghubungi keluarga Anda dan mereka sedang menuju ke Rumah Sakit ini sekarang."


"Jadi, aku betul-betul masih hidup?" gumam Elara lebih kepada bertanya pada dirinya sendiri.


Dan ternyata sang dokter justru menyahuti perkataan gadis itu.


"Iya, Nona. Anda berhasil diselamatkan oleh tim SAR yang sedang mencari seseorang yang dinyatakan hilang di hutan."


Elara mengembuskan nafas lega, ternyata ini bukan alam sebelum kematian, melainkan ia benar-benar masih berada di dunia. Ia masih diberi kesempatan untuk hidup dan selamat.


"Apa orang hilang yang dicari itu ditemukan?" tanya Elara pada dokter yang menanganinya.


Dokter itu sempat mengernyit sesaat akan pertanyaan Elara. Tapi kemudian ia menjawab juga.


"Belum ditemukan. Mereka malah menemukan anda di hutan yang sama."


Elara sedikit terenyuh mendengarnya, pasti orang hilang itu akan kesulitan hidup di hutan itu sama sepertinya selama beberapa hari disana.


"Setelah ini kita akan melanjutkan pengobatan untuk anda, Nona. Karena sepertinya ada beberapa organ dalam yang mengalami cidera."


Elara mengangguki saja ucapan dokter tersebut. Ia memang merasa lega karena akhirnya ia dapat selamat dari hutan yang menyeramkan. Akan tetapi, ada hal yang tetap terasa mengganjal di hati gadis itu. Kepergian Shane yang belum ia dapatkan jawabannya.

__ADS_1


...Bersambung ......


Kopi, boleh?✌️


__ADS_2