ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
32. Berkunjung dan Melamar


__ADS_3

Seperginya Elara dari kediaman Gladwin, Stevi tersenyum puas dan bersorak menang dalam hatinya. Ia kemudian menghampiri Emma yang terlihat gelisah di ruang tamu.


"Shane ada dimana, ibu?" tanya wanita berbadan dua itu.


"Dia mengejar Elara," keluh Emma dengan decakan lidah.


"Huh, aku yakin jika bayi yang dikandungnya bukan anak Shane."


"Darimana kau yakin?"


"Aku bisa melihat kedekatannya dengan Kyle dan keyakinanku adalah jikapun Ela hamil maka itu pasti darah daging Kyle."


Emma memicing pada Stevi yang mulai kembali duduk dengan majalah di pangkuannya.


"Kata Shane mereka bersahabat, kan?"


"Sudahlah, ibu. Keputusanmu menolaknya tadi itu sudah benar. Kau tau kan, tidak ada hubungan persahabatan antara seorang gadis dan lelaki. It's bullshitttt," jawab Stevi dengan seringainya.


Emma mengangguk. Sejak sebelum Elara datang, Stevi memang sudah memberitahunya bahwa gadis pilihan Shane pasti bukan wanita dari kalangan baik-baik. Sebenarnya Emma juga tidak terlalu peduli pada derajat orang lain, tapi Stevi berhasil meyakinkan Emma bahwa dia lebih baik ketimbang kekasih Shane. Dan karena kepercayaan Emma yang besar pada Stevi--ia pun lebih percaya pada wanita itu ketimbang kekasih Shane yang baru ia kenal.


Sekarang, saat sudah melihat dan menilai gadis pilihan putranya, ditambah ucapan dari Stevi tadi--yang mengatakan jika Elara sangat dekat dengan Kyle--justru membuat Emma ikut terpengaruh bahwa Elara hanya berniat memanfaatkan Shane yang sebenarnya bukanlah ayah biologis dari bayi yang dikandung Elara.


Tanpa Emma ketahui, bahwa sebenarnya Elara memang tidak pernah mengandung benih siapapun karena itu hanyalah muslihat Shane saja demi mendapat restu, tapi nyatanya Emma malah menghina Elara seperti ini.


"Jadi, kapan kau akan melahirkan, Stev?"


"Akhir bulan depan, ibu. Aku sudah tidak sabar. Pasti putraku nanti akan mirip dengan Shane. Meski ini anak Shawn, tapi Shane dan Shawn memiliki paras yang mirip, bukan?"


Emma mengangguk dan tersenyum bahagia mendengar ucapan Stevi, ia juga sudah tak sabar untuk menimang cucunya.


...***...


Karena kekeraskepalaannya, Shane berhasil mengejar Elara yang pergi begitu saja dari acara makan malam di kediaman Gladwin karena hinaan Emma kepadanya.


Kini keduanya berada dalam satu mobil yang sama dalam keadaan mulut terkatup dan senyap yang merajai situasi.


Elara harus mengakui bahwa ia tidak bisa menolak kehadiran Shane dalam hidupnya. Pun dihatinya ia sudah terlanjur mencintai pria itu, namun hinaan dari Emma membuatnya merasa tidak memiliki harga diri. Meski ia tau iapun tidak sesuci itu, tapi ia masih memiliki martabat untuk tidak diinjak-injak oleh keluarga Shane yang kaya raya.


"Lara ..."

__ADS_1


Setelah sekian lama diam akhirnya Shane berhasil menemukan suaranya kembali yang sebelumnya seolah hilang karena keadaan yang baru saja terjadi tadi.


"Aku minta maaf atas sikap ibuku. Aku berharap, kau masih bersedia menjadi istriku meski tanpa restu ibu."


Mendengar itu Elara sontak menoleh pada Shane yang tampak fokus mengemudikan mobil tersebut.


"Aku tidak bisa menikah tanpa restu," jawab Elara dingin.


"Jadi, apa kau mau menyerah dengan hubungan kita karena restu itu? Apa kau akan meninggalkanku?" lirih Shane.


"Aku mungkin akan memilih meninggalkanmu daripada bersamamu tapi harga diriku diinjak-injak!" ketus Elara.


"Sayang, apa hanya segini perjuanganmu untuk kita? Aku pikir kau akan berkeras sepertiku yang akan selalu memperjuangkan mu walau ibuku menentang beribu kali."


Elara bungkam, ia kehilangan kata karena ucapan Shane barusan.


"Please, Lara. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita bina rumah tangga kita dengan atau tanpa restu ibuku. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja selama kita masih memiliki perasaan cinta yang sama."


"Aku tidak bisa Shane. Lagipula keluargaku tidak akan mau menerima semua ini. Aku yakin akan hal itu!"


Shane mengesah frustrasi didalam posisinya. Genggamannya pada setir mobil terasa semakin mengerat.


"Turunkan aku didepan gedung Apartmen saja. Tidak usah turun dan ikut mengantarku sampai didepan pintu unit."


"Sayang, jangan menjaga jarak dariku. Aku bisa hancur tanpa dirimu," mohon Shane dengan wajah memelas.


Elara melengos, ia membuang pandangan ke jalanan dan ia sedang tidak bercanda dengan kekecewaan yang dirasakannya.


Shane dengan terpaksa berhenti di bahu jalan saat gedung Apartmen Elara sudah terlihat. Ia berniat membukakan pintu mobil untuk Elara, namun gadis itu segera beringsut keluar begitu mobil baru saja berhenti.


"Lara!" Shane mengejar langkah Elara, namun tak sekalipun gadisnya menoleh ke belakang.


Dengan hati yang berkecamuk, Shane akhirnya berjalan kembali ke mobilnya.


Tanpa pernah Shane tau, Elara menatap punggung pria itu yang lemas dan meluruh. Elara kembali melanjutkan langkahnya ketika ia tau Shane tidak terus mengejarnya.


Shane tak mau mengejar langkah Elara karena ia akan memberikan gadis itu waktu untuk berpikir. Shane sangat ingin memaksa Elara untuk tetap bersamanya, namun ia tau jika Elara sangat membenci sebuah pemaksaan.


Kali ini Shane membiarkan Elara, biar saja gadis itu berpikir mengenai hubungan mereka berdua yang Shane harap Elara tidak akan melepaskannya karena masalah ini.

__ADS_1


...****...


Elara mendapat telepon dari keluarganya. Saat menerima panggilan video itu--Elara terkejut mendapati Kyle yang ada dirumah orangtuanya di Indonesia.


Semuanya menyapa Elara dengan riuh disana. Ada Ayah, bunda dan kedua adiknya. Kyle dengan wajahnya yang teduh melambaikan tangan ke arah kamera dimana Elara terpaku saat menjawab video call tersebut.


"Kyle ada disana, Ayah?" tanya Elara pada sang Ayah yang memegang ponsel.


"Iya, dia mengunjungi kami disini. Kenapa kamu gak ikut?" tanya Anton lewat panggilan itu.


"Ela sangat sibuk, Ela gak bisa pulang kesana. Maaf ya, Ayah."


"Gak apa-apa. Kebetulan tanpa kamu kesini, Kyle juga tetap mengunjungi kami. Lihat, dia bawa banyak sekali seserahan."


"Seserahan?" ulang Elara dengan kening mengernyit.


"Ya. Apa Kyle tidak bilang jika tujuannya kesini untuk melamarmu?"


Jantung Elara rasanya berdetak dua kali lebih cepat. Ia tak menyangka Kyle akan melakukan hal ini. Bukankah Kyle mengatakan ada urusan di Indonesia? Elara pikir kunjungan Kyle ke rumah orangtuanya hanya mampir karena kebetulan dia sedang berada di negara asal Elara itu.


"A-ayah, apa boleh Ela bicara dengan Kyle?"


"Ya tentu saja." Anton mengerling pada putrinya, lalu menyerahkan ponsel yang masih dalam panggilan itu kepada Kyle yang sedang berbicara dengan adik bungsu Elara di sebuah sofa.


"Kyle?"


"Ada apa, Ela?"


"Are you crazy? Kau melamarku pada kedua orangtuaku? Kau bahkan membawa seserahan. Apa maksudnya ini?"


Kyle tersenyum disana. "Ela, ku pikir aku sudah memberimu waktu cukup lama untuk memiliki kekasih. Saat aku rasa kau tidak juga memilikinya dan ku pikir hanya aku yang mampu menjagamu, maka ini tidak akan sulit untuk kita. Kita sudah terbiasa bersama dan aku memiliki rasa kasih yang begitu besar untukmu. Kau tau, ibuku juga mendukung niat ini, jadi ku putuskan untuk merealisasikannya."


Elara menghela nafas sepenuh dada. "Kyle ... bukankah harusnya kau bertanya padaku dulu," protes Elara.


"Jadi, apa kau menerimaku? Sekarang aku bertanya padamu?"


"Oh my ..." Elara memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri. Masalahnya dengan Shane saja belum selesai kenapa sekarang Kyle membuat ulah dengan melamarnya pada keluarganya.


"Kau tidak mau? Aku akan menunggu jawabanmu sampai kau berkata iya," ujar Kyle disana yang terdengar sangat pengertian.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2