ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
50. Keinginan


__ADS_3

Hari ini, Shane akan kembali pada rutinitasnya sebab ia sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan sejak merencanakan pernikahannya bersama Elara.


Elara sendiri, juga sibuk mempersiapkan kebutuhan suaminya yang akan kembali ke dunia kerja.


Elara menyiapkan setelan untuk Shane, lalu berniat memasak untuk pria itu. Akan tetapi di Mansion keluarga Gladwin ternyata ia tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki ke dapur kotor. Batas pijakan Elara hanya sampai ruang makan. Bahkan untuk memasuki dapur bersih saja Elara dilarang oleh kepala pelayan.


"Aku hanya ingin memasak untuk suamiku?" protes Elara.


Dan terjadi sedikit perdebatan disana, dimana Elara tidak menerima keputusan itu.


Tak berapa lama, Shane turun dan mendapati istrinya bersama kepala pelayan sedang terlibat dalam sebuah perdebatan.


"Ada apa ini?" tanya Shane yang dimulai dengan berdehem pelan.


Elara sontak menyadari kehadiran Shane disana dan mengatakan keinginannya.


"Aku hanya ingin memasak untukmu, Shane. Tapi kenapa tidak bisa?" protes wanita itu.


Shane memahami situasinya sekarang.


"Sayang, kau tidak perlu repot memasak untukku karena disini sudah ada para pelayan yang mengatur menu untuk kita makan setiap harinya," tutur Shane lembut.


"Jadi aku benar-benar tidak boleh memasak?" Elara berucap dengan nada tak percaya.


"Tidak." Shane menyahut tenang.


"Bahkan memasak untuk suamiku sendiri?"


"Ya."


Elara terdiam. Shane menelisik ke arah wajah istrinya dan dua menemukan kekecewaan disana.


"... kalau kau benar-benar mau memasak, nanti kau bisa memasak saat kita berada di Apartmen."


Elara berdecak lidah, lantas pergi dari hadapan Shane dengan perasaan kesal. Ia kembali memasuki kamarnya. Hingga akhirnya, Shane kembali menyusul Elara disana. Dia mendapati Elara duduk di pinggiran ranjang dan tampak terdiam.


"Sayang?"


Elara mengangkat wajah dan melihat suami tampannya mematut senyum disana. Elara malah melengos, membuang pandangan. Entah kenapa ia kesal pada Shane.


"Aku juga mau merasakan masakanmu, tapi disini ada aturan yang sudah dijalankan sejak dulu. Jika kau sudah menjadi nyonya rumah, maka kau tidak bisa memasuki kawasan dapur. Percayakan semuanya pada pelayan saja."


Elara mendengkus pelan. "Kau bilang padaku jika kau mau memberikan apa saja untukku. Tapi, hanya masalah memasak saja, bahkan keinginanku tidak terpenuhi!" sungutnya.

__ADS_1


Shane memijat pangkal hidungnya sekarang.


"Baik. Apakah kalau kau bisa memasak di dapur maka kau akan kembali senang?" tanya Shane.


"Tentu saja!" jawab Elara mantap.


"Well, semua aturan tampaknya harus dilanggar." Shane menjeda ucapannya. "Jika itu kesenanganmu maka lakukanlah, aku akan mengatakannya pada Jullie," lanjutnya kemudian. Jullie adalah kepala pelayan di Mansion-nya.


Mendengar itu, Elara jadi merasa tidak enak hati. Apakah hanya karena keinginannya maka peraturan Mansion yang sudah berlaku sejak lama benar-benar harus diubah sebab dirinya?


Saat Shane sudah kembali berderap, secepat kilat Elara menghadang langkahnya.


"Maaf, aku tau aku salah. Tidak seharusnya aku melanggar peraturan disini hanya karena keegoisanku sendiri." Elara menundukkan wajah dalam-dalam.


Shane memegang puncak kepala istrinya, lalu mengangkat dagu Elara agar wajah mereka dapat saling bertatapan satu sama lain.


"Kau yakin? Aku hanya tidak mau jika nanti kau mengatakan bahwa aku tidak berusaha menuruti keinginanmu."


Wajah Elara berubah sendu. "Aku yang salah," ujarnya. Ada tarikan nafas yang Elara hembuskan sejenak. "Tidak seharusnya aku memaksakan sesuatu. Maafkan aku," lanjutnya tulus.


Shane mengulas senyum sekarang. Tak lama ia berucap pelan.


"Peraturannya akan ku longgarkan jadi tidak ada yang harus dilanggar. Kau masih bisa memasak di dapur bersih, nanti. Bagaimana?"


"Benarkah?" tanya Elara antusias.


"... tugasmu yang sebenarnya adalah menjadi istriku," lanjut Shane dengan kekehan diujung kalimatnya. Ia tau jika istrinya sudah menebak apa yang akan ia ucapkan, sehingga cepat-cepat ia meralat kalimat agar lebih terdengar masuk akal di indera pendengaran sang istri.


"Apa yang selama ini ku lakukan, tidak menunjukkan jika aku sudah menjadi istrimu?" tanya Elara memutar bola matanya.


Shane kembali tertawa pelan. "Tentu saja kau sudah menujukkannya, Sayang. Jadi, teruslah seperti itu ..." paparnya dengan senyum penuh maksud.


"Ya, ya, i know what you think." Elara melengos dan Shane tergelak kencang.


...***...


Begitu Shane tiba di kantornya, ia menerima banyak draft berkas yang harus ia tanda-tangani. Dibantu oleh penjelasan Max, ia mulai memahami apa saja isi dari berkas-berkas tersebut.


"Baiklah, nanti aku akan memeriksanya kembali." Shane selalu teliti mengenai hal ini, bukan ia tidak percaya pada penjelasan singkat yang Max tuturkan tapi akan lebih baik jika nanti ia kembali melakukan kroscek terhadap semua hal yang melewati proses persetujuannya.


Max keluar dari ruangan Shane setelah undur diri dengan sopan. Namun hanya berselang beberapa menit dari kepergian Max, Shane mendapatkan telepon dari pria itu.


"Tuan, Nona Stevi ingin menemui Anda. Menurut resepsionis, dia sudah mengunjungi kantor dalam seminggu ini hanya untuk bertemu dengan anda."

__ADS_1


Shane sudah terbiasa menghadapi berbagai masalah dengan gelagatnya yang tenang, tapi mengenai Stevi, ia selalu malas untuk memulainya. Wanita ini terlalu banyak berkamuflase hingga Shane kadang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hanya kepura-puraan.


Tapi, Shane bukan juga seorang pria yang akan lari menghindar dari sebuah masalah yang datang. Dia adalah sosok yang tidak gentar untuk menghadapi masalah apalagi masalah itu yang sengaja menunjukkan diri didepannya.


"Baiklah, minta dia datang ke ruangan ku."


Hanya dengan sekali bertitah, maka tak lama suara ketukan pintu pun terdengar. Shane menyuruh seseorang itu masuk. Yang ia tahu jika itu adalah Stevi.


"Ada apa kau mencariku?" tanya Shane to the point. Matanya masih menatap pada tumpukan pekerjaan di meja, tanpa melirik sedikitpun pada Stevi yang menyambangi kantornya.


"Maura sakit. Keluargaku sedang dalam masa sulit. Aku butuh biaya untuk putriku, Shane."


Shane mengerutkan dahi, apakah bayi yang bukan keturunan Gladwin itu harus menjadi tanggung jawabnya juga? Sebenarnya tidak, tapi baiklah, Shane akan menolong bayi tidak berdosa itu sebab rasa kemanusiaan.


"Baiklah. Berapa yang kau butuhkan untuk membeli obat atau biaya perawatan Maura?"


"Tidak banyak. Tapi, kau mau menolongku, kan?"


"Hmm ..." Shane menjawab sembari membubuhkan tanda-tangannya pada berkas yang lebih mengundang atensinya ketimbang keberadaan Stevi disana.


"Terima kasih, Shane. Kau memang baik."


"Jika sudah selesai, segeralah pergi! Aku akan meminta max untuk mengirim uangnya ke rekeningmu."


"Sekali lagi terima kasih, Shane. Aku tau kau tidak akan membiarkan Maura dalam keadaan sakit."


Shane diam tak menyahut. Tak lama, ia mendengar suara langkah kaki Stevi yang menuju pintu hendak keluar, namun tiba-tiba suara wanita itu kembali terdengar.


"Selamat untuk pernikahanmu, Shane."


Kali ini, ucapan Stevi berhasil membuat Shane mengangkat wajah, ia mendapati Stevi dengan penampilan yang bisa dibilang berbeda. Tubuhnya lebih kurus dengan wajah pucat tanpa polesan make-up yang biasa Stevi kenakan.


Sebenarnya Shane ingin bertanya darimana Stevi mengetahui soal pernikahannya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk diam mengenai hal itu.


"Thanks," jawab Shane merespon ucapan selamat dari Stevi.


Sepertinya Stevi, Shane memanggil Max dan meminta sang asisten mengirim sejumlah uang ke rekening Stevi.


"Apa Nona Stevi sedang sakit, Tuan?" tanya Max kemudian.


"Entahlah, dia hanya mengatakan jika Maura yang sakit," jawab Shane terus-terang.


"Dia kelihatan tidak sehat," ujar Max mengungkapkan isi kepalanya.

__ADS_1


Shane mengakui itu dalam dirinya, namun ia tidak menyahuti perkataan sang asisten. Shane mencoba abai dengan keadaan Stevi sekarang. Lagipula, apa urusannya? Begitulah pemikiran Shane saat ini.


...Bersambung ......


__ADS_2