
Elara hendak turun dari mobil Shane yang mengantarkannya sampai pelataran gedung Apartmen, tapi Shane buru-buru mencegah Elara yang akan segera pergi.
"Aku antar sampai pintu Apartmenmu, hmm?"
"Tidak usah, terima kasih sudah mengantarku sampai disini."
Shane menatap Elara dengan tatapan yang sukar diartikan. Namun yang jelas, ia tidak menyukai penolak Elara. Gadis itu seakan masih membentengi diri darinya.
"Boleh aku tau kenapa kau melarangku ke Apartmenmu?"
"Shane, aku---"
"Kau menyembunyikan sesuatu?" tebak Shane.
Elara menghela nafas singkat. Shane sudah meng-klaim dirinya menjadi milik pria itu, sehingga Elara tau jika Shane tidak menyukai pagar pembatas yang sengaja Elara buat diantara mereka.
"Aku tidak menyembunyikan apapun." Elara mematut senyum.
"Apa kau tinggal bersama Kyle disana?"
"Oh, Shane! Jangan berpikiran terlalu jauh. Aku dan Kyle hanya berteman. Bukankah aku sudah sepakat untuk mencoba menjalani hubungan denganmu, lalu apalagi?" Elara bersungut-sungut kesal karena Shane terus menganggapnya memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan Kyle.
"Oke, maaf, aku percaya kau dan Kyle hanya berteman. Aku yang kekasihmu. Right?" Shane menyeringai diujung kalimatnya.
"Ya, terserah kau saja!" Elara memutar bola matanya.
"Jangan membangkang, atau kau akan mendapat hukuman, Lara!"
Elara berdecak lidah. "Aku tidak membangkang, aku hanya---" ucapan Elara menggantung di udara sebab Shane segera menyergahnya dengan ciuman yang dalam.
Awalnya Elara berusaha menolak serangan Shane, namun nyatanya ia kalah dan turut larut dalam ciuman itu.
"I miss you " Shane mengakhiri ciumannya dan menatap Elara lekat. "Bisakah kau jangan pulang dulu, hmm?" pintanya.
Elara mengelus rahang Shane lembut. "Maafkan aku, aku tidak bisa," ujarnya dengan raut serba salah.
"Why? Kau juga merindukanku, kan?"
Elara mengangguk, ia tidak memungkiri lagi segala perasaannya terhadap pria itu. Tapi ia memiliki janji dengan Eve dan wanita paruh baya itu sudah menunggunya hampir seharian didalam Apartmen.
"Baiklah jika kau ingin tau. Aku ada janji dengan Aunty Eve, dia ada di Apartmenku jadi aku tidak mungkin bersamamu terus menerus."
"Aunty Eve? Siapa dia?"
"Ibunya Kyle. Dia sudah seperti ibuku sendiri. Ku harap kau memahami keadaanku sekarang, Shane." Elara menyatukan jari jemarinya dengan milik Shane, menggenggamnya singkat kemudian kembali undur diri dari hadapan pria itu.
"Oke. Tapi berikan aku nomor ponselmu, aku tidak mau sulit menghubungi kekasihku disaat aku merindukannya," kata Shane sembari menyodorkan ponselnya ke arah Elara agar gadis itu mengetik nomornya disana.
Elara menurut, lalu meraih ponsel Shane yang sedikit membuatnya tercengang kala mendapati wallpaper disana adalah wajahnya.
__ADS_1
"Kau mengenalnya? Dia kekasihku," kata Shane merujuk pada foto Elara di ponsel itu.
Elara tertawa kecil. "Aku sangat mengenal kekasihmu, Shane. Dia sangat cantik," kata Elara yang memuji dirinya sendiri.
Shane ikut tertawa. "Kau benar, dia juga memiliki hati yang baik, untuk itu aku jatuh cinta padanya," paparnya.
Elara hanya geleng-geleng kepala mendengar pujian dari pria itu.
Setelah membubuhkan nomornya pada ponsel Shane, Elara segera turun dari mobil pria itu, kemudian memasuki gedung Apartmennya sendiri.
Shane memperhatikan pergerakan Elara yang semakin menjauh. Ia senang karena Elara mulai melunak padanya, pun sudah tampak seperti dulu lagi.
"Aku sangat merindukanmu, Lara," gumamnya. Namun ada secercah kelegaan dalam hati Shane meski ia tak dapat berlama-lama dengan gadis itu. Ia lega karena akhirnya berhasil meyakinkan Elara untuk menjalani hubungan mereka yang ... yah, Shane tau ini tidak akan mudah. Apalagi untuk menghadapi ibunya.
...***...
"Ibu, kapan ibu kembali dari Milan?" Shane menghubungi Emma lewat panggilan seluler.
"Ada apa, Shane? Apa kau sudah menerima tawaran ibu untuk menikahi Stevi?"
Shane mendengkus pelan karena ia sudah menebak jika menelepon sang ibu maka ia harus siap jika yang dibahas Emma adalah hal yang ini-ini saja.
"Aku mau bicara secara langsung dengan ibu. Jadi ku harap, ibu bisa segera tiba di Hamburg. Secepatnya," kata Shane menekankan kata terakhirnya.
"Baiklah, Shane. Ibu akan segera pulang jika ini berkaitan dengan keputusanmu."
"Iya, Bu. Aku sudah mendapat keputusan atas tawaran ibu dan keputusanku tetap pada pilihanku di awal yaitu tidak akan menikahi Stevi," kata Shane bermonolog.
Shane akan mengajak ibunya bicara terkait hubungannya dengan Elara dan ia tidak menerima penolakan sebagaimana ibunya juga tidak menerima penolakannya untuk menikahi Stevi.
"Kita lihat, siapa yang paling keras disini," kata Shane yang tersenyum smirk kemudian.
Shane keluar dari ruang kerjanya dan turun ke lantai dasar, disana ia berpapasan dengan Stevi yang tampak semakin membesar perutnya dari hari ke hari.
Shane berpikir sejenak, mungkin bicara pada Stevi tidak ada salahnya. Mungkin wanita ini akan memikirkan ucapannya baik-baik.
"Apa kau sibuk?" tanya Shane pada wanita berbadan dua itu.
Stevi sedikit terkejut karena Shane yang lebih dulu menyapanya. Biasanya pria itu tampak dingin dan tak tersentuh, bahkan terkadang Stevi ragu untuk menyapa Shane lebih dulu. Tapi tak dapat dipungkiri jika melihat wajah Shane mampu membuat kerinduannya pada Shawn sedikit terobati karena mereka memang cukup mirip.
"Tidak. Ada apa, Shane?"
"Aku mau bicara denganmu." Shane berujar sembari berjalan dan duduk di sofa yang terdekat.
Stevi mengikuti jejak Shane sebab mendengar pria itu mu bicara dengannya.
"Kenapa? Apa kau sudah punya jawaban terkait hubungan kita?" tanya Stevi penuh harap.
Shane menyunggingkan senyum sarkas. "Ku pikir aku sudah menjawabnya sejak lama, Stev," paparnya.
__ADS_1
"Ya, dulu jawabanmu adalah penolakan, jadi ku kira sekarang---"
"Sekarang masih sama," potong Shane membuat Stevi terdiam.
Beberapa saat, hening yang merajai mereka. Tapi Stevi cukup penasaran dengan apa yang ingin Shane bicarakan kepadanya sehingga ia yang kembali buka suara lebih dulu.
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan padaku?" Entah kenapa perasaan Stevi mulai tidak enak melihat gelagat pria didepannya, ia menebak ada yang tidak beres. Stevi selalu merasa was-was setelah Shane hilang berhari-hari di hutan. Pria itu dulu memang cuek, tapi selepas kepergiannya ke Hutan waktu itu--Shane berubah semakin dingin--terutama kepadanya.
"Aku mau bertanya padamu. Kenapa kau menyetujui saran ibuku untuk menikah denganku?"
"Tentu saja karena bayi ini, Shane!" jawab Stevi lantang. Ia tampak memegang perutnya sendiri.
"Tapi kau tau pasti jika bayimu itu bukan milikku."
"Ya, tapi ini milik Shawn. Dia kakakmu, bukan? Apa salahnya kau mempertanggungjawabkan perbuatan kakakmu yang telah tiada, Shane!"
Sekarang Shane tertawa sumbang. "Apa kau pikir aku mau menerima getah akibat buah yang dinikmati oleh kakakku?" tanyanya sarkas.
"Tapi, Shane ... kita bisa memulai segalanya dari awal. Bukankah bayiku ini juga keturunan keluarga Gladwin?"
"Apa sudah ada buktinya?" Shane malah menantang Stevi.
"Apa maksudmu, Shane? Apa kau menuduhku bermain dengan pria lain selain Shawn?" tanya Stevi meradang. Wajahnya memerah bahkan sudah berdiri dari duduknya sekarang.
"Aku tidak menuduh. Tapi itu mungkin saja terjadi. Ku pikir hanya wanita yang tidak punya harga diri yang tetap bertahan di kediaman ini meski pada kenyataannya aku sudah menolakmu berkali-kali!" tegas Shane.
Stevi lantas melayangkan pukulan ke wajah Shane dan tidak ditepis oleh pria itu sedikitpun. Shane tau ucapannya keterlaluan, tapi itu memang kenyataannya. Bukankah Shawn sudah meninggal? Jadi keberadaan Stevi di kediaman Gladwin benar-benar tidak selayaknya, meski dia beralasan jika anak yang dikandungnya adalah anak Shawn.
Stevi sendiri--menatap tangannya yang tampak bergetar sesaat setelah ia menampar Shane. Ia tidak menyangka telah melakukan hal itu dan sepertinya Shane memang sengaja memancingnya.
"Aku sudah memutuskan," kata Shane, ia menjeda kalimatnya sejenak. "Ku kira kondisiku sudah cukup pulih, jadi ... jika kau tidak pergi dari kediaman Gladwin, maka aku yang akan pergi dari sini," pungkasnya.
"Shane?" Stevi menatap Shane dengan sorot tak percaya.
"Kenapa? Kau mau mengadu pada ibuku? Silahkan! Aku juga sudah menelepon ibu dan akan membicarakan ini padanya. Meski aku anak bungsu ibu, tapi aku bukan anak kecil!" kata Shane kemudian.
Stevi mengangguk-angguk, dengan airmata yang meleleh di pipi. "Baik, jika kau ingin pergi dari rumah ini, silahkan! Tapi aku tidak akan meninggalkan kediaman Gladwin sebelum anakku mendapat kejelasan," katanya lirih.
Shane menyeringai. "Dasar tidak tau malu!" sinisnya. Kemudian benar-benar berderap untuk mengemasi barang-barangnya.
"Shane!"
Pria itu menghentikan langkah karena panggilan Stevi.
"Apa kau begini karena kau sudah memiliki kekasih?" tanya Stevi. Inilah yang sudah ia pikirkan sejak Shane tampak sibuk sendiri bahkan bukan mengurusi soal pekerjaan.
Shane hanya menipiskan bibir namun tidak berminat menjawab pertanyaan wanita itu.
...Bersambung ......
__ADS_1