
Melihat Kyle disana, seulas senyum tipis tersungging dari sudut bibir Shane, tapi ia tetap tak berniat melepaskan genggaman tangannya pada lengan Elara.
"Kyle? kau sudah kembali?" ujar Elara saat menatap sang sahabat disana.
Kyle mengangguk, namun sorot matanya masih terus menatap pada jemari Shane yang enggan melepaskan Elara.
"Ada apa ini, Ela?" tanya Kyle yang akhirnya menatap Elara.
Elara hendak menjawab, namun Shane lebih dulu bersuara. "Kebetulan sekali kau datang. Seperti yang kau lihat, sesuatu telah terjadi diantara kami dan sepertinya Elara tidak perlu menjelaskan apapun kepadamu," katanya tenang.
"Aku bertanya pada Ela, bukan padamu," ujar Kyle dingin, sorot matanya menatap Elara seolah meminta penjelasan.
Elara menarik nafas panjang sampai akhirnya ia mampu berkata,
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku dan Shane memiliki hubungan ..." Elara menjeda kalimatnya demi melihat Shane yang menyeringai puas akan jawabannya itu, serta tatapan kecewa dari wajah Kyle. "Tapi hari ini aku meminta untuk berpisah," lanjutnya, membuat Shane meneguk salivanya dengan berat.
"Lara ..." lirih Shane.
Elara menggeleng. "Aku tidak bisa, Shane. Maaf," katanya pelan.
Sekarang giliran Kyle yang menipiskan bibir.
"Kau dengar sendiri, kan? Ela sudah memutuskan hubungan kalian. Ku pikir itu adalah pilihan terbaik karena Ela tidak mungkin menjadi perusak hubunganmu dengan Stevi!" ujar Kyle menatap remeh pada Shane. "Iya, kan, Ela?" lanjutnya mengarah pada gadis yang berada tak jauh darinya itu.
Elara bergeming. Ia tidak menyahut pertanyaan Kyle, berbeda dengan Shane yang sudah mengepalkan tangannya erat.
"Dengar!" sergah Shane. "Aku dan Stevi tidak pernah memiliki hubungan apapun. Semua itu hanya kamuflase ibuku, aku dan dia tidak pernah menikah!" katanya tegas.
"Benarkah? Lalu, apa bisa kau jelaskan mengenai kehamilannya?"
"Itu perbuatan Shawn, kakakku. Jadi, bukan aku yang harus mempertanggungjawabkannya," pungkas Shane.
"Baik, mungkin aku mulai bisa membaca situasinya. Tapi disini, Ela tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Jadi ku harap kau tidak perlu memaksanya," ujar Kyle.
Shane melangkah pelan sampai ia mencapai tubuh Kyle yang berdiri tak jauh darinya. Ia menepuk pelan pundak Kyle dengan gayanya yang sangat tenang.
"Ku pikir kau tidak perlu mencampuri urusanku dengan Lara, karena kau bukan siapa-siapa."
"Aku peduli pada Ela dan aku tidak suka jika kau memaksanya."
__ADS_1
"Apa urusanmu? Ini hanyalah tentang kami berdua!"
"Karena aku sudah selangkah lebih maju darimu, Shane!" desis Kyle dengan seringai meremehkan diwajahnya.
Mendengar itu, sorot mata Shane dipenuhi tanda tanya. Apa yang membuat Kyle sangat percaya diri jika dirinya sudah selangkah lebih maju dari Shane?
"Aku sudah melamar Elara, dan kebetulan keluarganya sudah menerima lamaranku. Hari ini aku disini karena aku mau menjemput calon istriku, jadi ku rasa kau harus mulai mencoba untuk mengenyahkan harapanmu bersamanya," cetus Kyle disertai decihan sinis diujung kalimatnya.
Mendengar perdebatan keduanya, serta ujaran Kyle yang bisa memancing kemarahan Shane, membuat Elara segera menarik lengan sahabatnya--karena saat Shane menghampiri Kyle tadi--tangan Elara sudah dilepaskan oleh pria itu.
Elara mengajak Kyle menjauh semata-mata karena ia tak mau ada keributan disekitar tempat mengajarnya. Sementara dimata Shane, perbuatan Elara sangat mengecewakannya, apalagi Kyle baru saja mengatakan bahwa lamarannya telah diterima oleh keluarga Elara di Indonesia.
"Lara!" Suara bariton Shane berhasil membuat Elara menghentikan langkahnya dan menoleh menatap wajah kecewa Shane disana.
Shane menggeleng samar dengan wajah sendu yang tampak hilang harapan. "Comeback to me, Lara!" mohonnya.
Elara menahan airmatanya agar tidak jatuh berurai dihadapan Shane. Ia sebenarnya tidak tega membuat pria itu seperti ini, tapi ia juga sadar bahwa mereka tidak akan bisa bersama.
"Lara, please!"
Elara menatap ke arah langit-langit dan Shane tampak menunggu gadis itu dengan penuh pengertian. Apapun keputusan Elara hari ini adalah sebuah jawaban untuk mereka bertiga kedepannya. Jika Elara tetap memilih pergi bersama Kyle itu artinya Elara turut menerima lamaran pria itu, tapi Shane sangat berharap langkah Elara akan kembali ke arahnya,
Secara tiba-tiba, Elara justru melepas jemarinya di lengan Kyle. Ia pun menatap lamat-lamat pada sang sahabat.
"Maafkan aku, Kyle. Aku tetap menolak lamaranmu. Jadilah baik dan jangan berkelahi."
Elara mulai beringsut, Kyle pikir Elara sudah tiba pada keputusannya yakni kembali pada Shane, tapi langkah gadis itu bukan menuju Shane disana, melainkan ke arah yang berbeda dimana sebuah Bis baru saja berhenti di depan Halte. Elara berlari dan akhirnya menaiki Bis tersebut.
Dilain sisi, Shane juga tercenung dengan kepergian Elara, ia pikir Elara akan mengikuti Kyle atau justru kembali padanya setelah ia melihat secara langsung saat gadis itu memisahkan diri dengan Kyle--yang tadinya sudah Elara tarik agak menjauh dari tempat tersebut.
Kedua pria itu sama-sama menatap Bis yang baru saja dinaiki Elara dan perlahan mulai menjauh dari kawasan tersebut.
Saat pandangan Shane bersitatap dengan sorot mata Kyle disana--keduanya sontak membuang muka secara bersamaan.
Shane langsung berderap pergi. Tujuannya adalah Apartmen Elara, namun setelah beberapa saat dalam perjalanan kesana, ia tidak mendapati gadisnya berada di Apartmen tersebut.
Bersamaan dengan itu, Kyle juga tiba ditempat yang sama. Dengan gerak perlahan, Kyle menempati sebuah kursi tunggu--yang terletak diantara koridor disana.
"Kau mencintainya?" tanya Kyle mengarah pada Shane.
__ADS_1
"Ku pikir kau tidak perlu menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya."
"Ku rasa lebih baik kau hanya memberiku jawaban, ya atau tidak."
"Ya," jawab Shane lugas.
"Kalau saja Ela tidak berpesan untuk tidak berkelahi, aku pasti sudah menghajarmu dari tadi," sarkas Kyle dengan sudut bibir yang tertarik sinis. Ia masih saja mengira jika Shane hanya mau mempermainkan dua wanita.
Shane diam, tidak menanggapi. Bagaimanapun, ia merasa tak ada urusan dengan Kyle dan baginya meladeni Kyle hanyalah membuang-buang waktunya saja.
"Kau mempermainkan dua orang wanita. Yang satu sahabatku dan yang satu lagi adalah sepupuku!" sergah Kyle akhirnya.
Ucapan Kyle, berhasil membuat langkah Shane terhenti, rahangnya terasa mengeras saat mendengar kalimat bernada sarkasme dari mulut Kyle.
"Aku tidak tau seberapa besar kau menginginkan Elara ... yang jelas, jika kau memang mencintainya seharusnya kau bisa melepasnya demi kebahagiaannya."
Shane malah tertawa sumbang. "Aku tidak se-naif itu, aku punya komitmen untuk mempertahankan hal-hal yang aku yakini," jawabnya mantap.
"Dan akhirnya komitmen itu justru membuat Elara merasa dipaksa."
Shane menyeringai. "Dia tidak akan merasa terpaksa selagi dia mencintaiku."
"Apa kau yakin Elara mencintaimu?"
"Aku tidak pernah meragukannya."
"Elara terlalu polos untuk itu, harusnya kau mengerti bahwa yang dia rasa hanyalah perasaan sesaat."
"Aku sudah menebak jika percakapan denganmu hanyalah membuang waktuku. Permisi," kata Shane yang melangkah kembali.
Kyle menatap punggung Shane yang perlahan menghilang di ujung koridor.
Kyle terlalu mengenal Elara, sehingga tanpa mengetuk pintu apartmen Gadis itu-- ia sudah dapat menebak jika Elara tidak ada disana setelah semua permasalahan ini.
Tadinya, Kyle memutuskan untuk ke Apartmen Elara sebab yakin jika Shane akan kesana. Ia hanya mau mempengaruhi pria itu untuk segera menjauh dari Elara dan memikirkan semua ini lebih lanjut. Kyle tidak mau Shane terus memaksa Elara, sayangnya pria itu sulit untuk diprovokasi--karena ternyata Shane memiliki keyakinan jika Elara akan tetap kembali padanya selama perasaan mereka masih tetap sama.
"Apa aku harus menyerah?" batin Kyle. Ia selalu mau yang terbaik untuk Elara. Dan soal Shane, Kyle tidak mau jika Elara tersakiti oleh pria itu.
...Bersambung ......
__ADS_1
Dukungannya mana??