ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
58. Menyesal


__ADS_3

Kini Elara telah beringsut dari tempat tidur, membuat Shane kelabakan melihatnya.


"K-kau mau kemana, Sayang?" Shane pikir Elara akan kembali ke kamar mandi, tapi ternyata wanita itu malah berderap menuju pintu kamar, sepertinya dia hendak keluar.


"Ku pikir di Mansion ini ada banyak kamar lain yang bisa ku tempati," jawab Elara ambigu, namun Shane seolah memahami arti dari ucapan istrinya itu.


Buru-buru Shane melompat dan menghadang Elara sebelum wanita itu benar-benar meninggalkan kamar mereka.


"Jangan menghalangiku, Shane. Aku kesal sekali padamu."


Shane merentangkan tangannya demi mencegah Elara melangkah lebih jauh.


"Sayang ..." lirih Shane dengan memasang puppy eyes nya. Pria itu tampak seperti anak kucing yang tengah memohon.


Elara tak tega melihatnya, buru-buru ia membuang tatapan ke arah lain.


"Apa kau tega membiarkanku tidur sendirian malam ini?" bujuk Shane.


"Kenapa tidak?"


Mata Shane langsung membulat. Ia juga terlihat menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Biarkan aku tidur di kamar lain malam ini, Shane. Setidaknya sampai rasa kesalku padamu sedikit mereda," kata Elara bernegosiasi.


"No." Shane menggeleng kuat-kuat. "Aku minta maaf, aku tau letak kesalahanku," ujarnya dengan penuh penyesalan.


...***...


Meski Elara harus tidur dengan membelakanginya, namun itu lebih baik ketimbang wanita itu tidur di kamar yang lain. Shane sudah mencoba membujuk Elara dengan segala cara tapi tetap saja istrinya marah besar kepadanya.


Ya, harusnya tadi ia menjawab saja saat Megan menanyakan siapa Elara. Tapi entah kenapa lidahnya seakan enggan sekali menyahuti pertanyaan wanita itu. Terlebih, sebenarnya Shane ingin melindungi Elara dari kegilaan Megan jika wanita itu tau bahwa Elara adalah istrinya.


Meski pada akhirnya Megan mengetahui jika Elara adalah istrinya dari mulut Ryder, tapi Shane tak punya pilihan lain. Setelah ini ia akan semakin menjaga Elara dari ke-bar-baran Megan yang bisa melakukan apa saja.


Yang akhirnya membuat Shane menyesal adalah saat tadi Elara mengatakan padanya sebuah perkataan yang menohok.


"Jika seandainya keadaannya dibalik menjadi pertemuan tak sengaja dengan seorang mantan kekasihku, lalu aku tidak mengenalkan mu sebagai suamiku. Apa kau bisa menerima hal itu?"


Dan Shane tak berani menyahut, karena ia hanya bisa menjawab dalam hatinya saja. Dan jika itu benar-benar terjadi maka, ya, dia juga pasti akan marah seperti yang Elara lakukan saat ini kepadanya.


Maka dari itu, Shane amat menyesal kenapa tadi ia tidak blak-blakan saja pada Megan mengenai status Elara. Ini seperti dirinya tidak menghargai Elara dan sama saja ia tidak memikirkan perasaan Elara.


Penyesalan memang selalu datang terlambat.


Hingga pada akhirnya, Shane harus rela tidur dalam posisi seperti ini, dimana Elara memunggunginya, bahkan mendiamkannya dan itu cukup membuatnya tersiksa. Padahal ia sudah terbiasa tidur sambil memeluk Elara sembari mencium aroma buah yang menguar dari rambut wanitanya.


Shane melirik Elara lewat sudut matanya. Ah, entah kenapa rasa rindu malah menyerangnya. Tapi jika ia menyentuh Elara lagi, itu sama saja dengan dia yang akan mengganggu tidur istrinya, karena Elara pasti akan tersentak lalu menepis pelukan darinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Honey, jangan marah terlalu lama." Shane berbisik di telinga Elara. Entahlah wanita itu sudah benar-benar tertidur atau belum, tapi yang jelas, Shane benar-benar merasa amat menyesal sekarang. Ia berharap Elara mendengar permintaan maafnya yang tulus.


...___...


Sementara ditempat lain, Stevi juga baru selesai menjalani rawat jalannya di Rumah Sakit. Ia memilih untuk keluar dari ruang perawatan dan jika menemukan donor ginjal yang tepat, maka ia akan kembali ke tempat itu.


Kyle menemani sepupunya, karena memang tidak ada yang mengurus Stevi selain Kyle dan Eve, ibu Kyle.


"Kau yakin jika kau tidak apa-apa jika keluar dari Rumah Sakit?" Eve menanyai keponakannya itu dengan raut khawatir.


Eve juga menyayangkan mengenai sikap Adiknya--Gracia--yang tidak lain adalah ibu Stevi. Ia kecewa Gracia mengabaikan penyakit Stevi begitu saja, hanya karena marah mengenai anak yang dilahirkan Stevi.


"Tidak apa-apa, Aunty. Lagipula nanti aku akan rutin periksa dan akan mengikuti saran dokter untuk cuci darah selama belum mendapatkan donor," kata Stevi yang didorong Kyle dengan kursi roda.


Mereka meninggalkan koridor rumah sakit dan Kyle membantu menggendong Stevi untuk memasuki kabin mobil.


"Bagaimana keadaan Maura, Aunty?" tanya Stevi.


"Aunty sengaja tidak membawanya ke Rumah Sakit untuk ikut menjemputmu, karena takut Maura akan terpapar penyakit disini. Saat Aunty tinggal, Maura baik-baik saja. Dia dirumah bersama Giselle." Giselle adalah Asisten rumah tangga di kediaman Eve dan Kyle.


"Maaf karena banyak merepotkan kalian, Aunty."


"It's oke, yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu. Maura sangat membutuhkanmu." Eve membelai rambut Stevi dengan lembut.


Stevi tersenyum sendu. Ia tidak tau harus membalas kebaikan Kyle dan ibunya dengan cara apa.


"Untuk sementara, tinggallah disini dulu. Aku tidak akan tenang jika kau dan Maura memilih tinggal di Apartmen sendiri," kata Kyle yang menaruh tas berisi barang-barang Stevi dari rumah sakit di sebuah meja dalam kediamannya.


"Hmm... thank Kyle."


Kyle merasa jika Stevi masih tanggung jawabnya karena mereka adalah keluarga.


Menjelang sore, Kyle melihat Stevi yang melamun di teras rumah. Kyle menghampirinya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya menanyakan Stevi.


"Stev ..."


Wanita itu menoleh dan mendapati sang sepupu dibelakangnya. Pria jangkung itu tampak ingin membicarakan sesuatu.


"Ada apa, Kyle?"


"Maaf jika ini akan menyinggungmu." Kyle memulai perkataannya. "Kalau aku boleh tau, siapa ayah kandung Maura yang sebenarnya?" tanyanya akhirnya.


Stevi terdiam dengan tatapan lurus-lurus ke depan.


"Aku ... tidak tau," jawab Stevi akhirnya. Suaranya terdengar lirih.


"Kau tidak ingat dengan siapa kau berhubungan terakhir kali?" Kyle menanyakan ini untuk membantu Stevi menemukan pria yang sepatutnya bertanggung jawab atas diri Stevi dan Maura. Ia kasihan melihat nasib sepupunya itu.

__ADS_1


Stevi menggeleng. "Di bulan yang sama, aku berhubungan dengan Shawn. Aku juga sempat menghabiskan malam bersama dengan pria yang ku temui di club'."


Kyle terdiam. "Jika Maura bukan anak Shawn, bukankah itu berarti dia anak pria yang kau temui itu?" tanyanya memberi pendapat.


"Entahlah, karena pria yang ku temui di club' bukan hanya satu orang. Aku dua kali berhubungan dengan orang yang berbeda," ungkap Stevi jujur. Sebenarnya ia malu mengakui hal ini, tapi mau bagaimana lagi.


Kyle melenguhh panjang seraya mengusap wajahnya sendiri saat mendengar kenyataan ini dari sepupunya itu.


"Kau mengenal salah satu dari mereka?"


"Hanya mengenal singkat di malam itu, aku tidak mengenal terlalu jauh," akui Stevi.


"Maaf jika aku terlalu jauh bertanya. Aku hanya berniat membantumu."


Stevi kembali menggeleng, kali ini dia menatap sendu ke arah Kyle.


"Jangan membantuku lagi, Kyle. Aku tidak tau bagaimana caranya untuk membalasmu nanti."


"Aku tidak mengharap kau membalas kebaikanku. Aku hanya peduli padamu."


"Thank, Kyle. Kau sangat baik. Aku harap kau menemukan seseorang yang baik juga untuk mendampingimu kelak." Stevi berujar tulus.


Dan respons Kyle adalah mengulas senyuman tipis yang justru membuat Stevi merasa bersalah telah menyinggung soal pendamping pada pria itu.


"Sorry, Kyle."


"Tak apa."


Dalam hati, Stevi ingin sekali Kyle mendapatkan kebahagiaannya lagi. Sepupunya ini amat baik, jadi Stevi juga ingin membantu Kyle mendapatkan yang diinginkannya.


"Sekarang, bolehkah aku yang bertanya padamu?" tanya Stevi kemudian.


"Apa?"


"Jika seandainya, tiba-tiba Elara datang padamu ... apa kau mau menerimanya meski keadaannya bukan lagi seorang gadis?"


Kyle menarik satu sudut bibirnya. "Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanyanya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengetahuinya saja."


"Ya, untuk saat ini dan entah untuk berapa lama ... jika yang kau katakan itu benar-benar terjadi, maka aku ... pasti akan menerima Elara dengan tangan terbuka."


"Kau begitu mencintainya?"


Kyle mengendikkan bahu. "Aku sangat menyayanginya. Dia seperti separuh hidupku. She's my soulmate," papar Kyle yang tatapannya kini tampak menerawang.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2