ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
42. Memaafkan tapi belum melupakan


__ADS_3

Saat menginjakkan kaki di kediaman Gladwin--untuk yang ke sekian kalinya--Elara merasa sangat gugup. Bukan hanya karena akan bertemu Ibu Shane lagi, tapi ia juga akan mendengar bagaimana Emma meminta maaf padanya.


Sejujurnya Elara takut berekspektasi terlalu tinggi. Nyatanya Emma memang memohon maaf padanya saat ia baru saja bertatap wajah--lagi--dengan wanita itu. Bahkan Emma sudah menyebutkan dirinya sebagai ibu dihadapan Elara.


"Maafkan ibu, Lara. Ibu memang keterlaluan. Maafkan ibu yang sudah menghinamu waktu itu. Jika saat ini kau tidak bisa untuk langsung memaafkan ibu, maka ibu tidak akan memaksamu, hmm?"


Sebelum menjawab pernyataan maaf dari Emma, Elara melirik Shane untuk sejenak. Sebuah anggukan pelan adalah respon yang Shane berikan--sebagai isyarat bahwa Elara berhak mengatakan apapun pada sang ibu. Shane percaya bahwa Elara pasti akan menyikapi semua ini dengan cukup bijak.


"Ehm, maaf, Aunty ... sebelumnya saya memang sangat merasa direndahkan dan terhina. Jadi, maafkan saya juga jika saat ini saya belum bisa melupakan segalanya begitu saja, tapi saya akan terus mencoba untuk memaafkan Aunty karena ... saya tau Aunty sungguh-sungguh menyesalinya sekarang."


Dan jawaban Elara itu justru membuat Emma lega ketimbang Elara langsung memaafkannya begitu saja. Emma juga menyadari sikapnya yang begitu keterlaluan, pun ia memahami jika disini Elara tidak mau munafik dengan berpura-pura untuk memaafkannya. Dalam arti lain, Emma tau jika Elara berusaha jujur dengan apa yang ia rasakan atas tindakan Emma yang memang sangat salah telah menghinanya waktu itu.


"Ya, ya, ibu tau kau perlu waktu untuk memaafkan sikap ibu waktu itu."


Elara tersenyum simpul diposisinya. Ia harap Emma benar-benar mengerti kekecewaannya dan perasaannya yang tidak mungkin melupakan itu begitu saja. Namun Elara tetap menghargai Emma yang mau meminta maaf kepadanya.


Emma menarik pelan lengan Elara dan mengajaknya menikmati makan malam bersama, diikuti oleh Shane dibelakang tubuh keduanya.


"Kau tau, ibu ingin menebus kesalahan ibu dengan makan malam yang lebih baik daripada waktu itu."


Elara mengangguk dan menerima perlakuan khusus Emma hari ini. Ibu dari Shane itu bahkan mengambilkan Elara lauk dan menyikapi kedatangannya dengan sangat hangat.


"Maaf ya, atas ujaran ibu yang menyakitkan waktu itu. Ibu sadar bahwa ibu sangat keterlaluan. Sebenarnya ibu tidak pernah melihat seseorang dari derajatnya tapi bisa-bisanya ibu mengatakan hal itu kepadamu."


Emma tau saat itu ia terpengaruh oleh ujaran Stevi. Melihat sikap anggun Elara yang nyaris sempurna--sehingga ia seperti mencari kekurangan yang ada pada gadis itu. Dan itulah kesalahan terbesarnya karena pada akhirnya ia justru menjatuhkan Elara dengan mengungkit soal status sosial gadis itu.


Elara cukup kikuk menghadapi Emma yang seperti ini. Sebisa mungkin Elara berusaha melupakan apa yang pernah Emma ucapkan kepadanya. Bagaimanapun ia menghargai Shane disini.


Shane bahkan tidak banyak bicara pada momen itu, kebanyakan adalah Emma yang menanyakan kegiatan Elara saat ini.


"Apa passion mu memang di bidang mengajar?" tanya Emma kemudian.


"Iya, Aunty. Terkahir aku mengajar anak-anak desa di pedalaman yang membutuhkan pendidikan pra sekolah. Karena kebanyakan dari mereka bahkan belum sekolah di usia yang seharusnya sudah mendapatkan pendidikan itu."

__ADS_1


"Ibu akui kau memang hebat, Lara." Kali ini Emma memuji Elara tulus, bukan karena semata-mata Elara memiliki hubungan spesial dengan Shane, tapi terlepas dari hal itu ia harus mengakui jika pekerjaan Elara tidak mudah dan patut diapresiasi. "Dan mengenai kau yang harus menyendiri sampai bekerja di pelosok karena ingin menjauhi Shane, itu pasti akibat sikap ibu waktu itu. Sekali lagi maaf, ya?" lanjutnya.


Elara menipiskan bibir. Ia tau Emma benar-benar menyesal. Entah berapa banyak permintaan maaf yang Emma utarakan malam ini kepadanya.


"Jika kau dan Shane memang sepakat untuk menikah, maka ibu tidak akan menghalang-halanginya lagi. Segeralah menikah. Ibu sudah merestuinya."


"Benarkah?" Elara dan Shane berucap nyaris serentak. Keduanya hampir tak percaya dengan ucapan Emma yang terdengar berujar dengan entengnya.


"Ya. Itu sudah menjadi keputusan ibu. Anggap saja ini juga sebagai penebusan dosa ibu karena sudah berusaha memisahkan kalian berdua."


"Tapi ibu ... ada satu hal lagi yang ingin ku katakan," ujar Shane kemudian.


"Apa?" tanya Emma tenang.


"Soal kehamilan Elara." Shane tertunduk dalam setelah mengucapkan hal tersebut.


Dan Emma melengkungkan bibirnya. "Kau mau mengatakan jika sebenarnya Elara tidak hamil, kan?" tebaknya.


"Darimana ibu tau?"


Elara menatap Shane dengan sorot kesal. Seharusnya Shane sudah memberitahukan ibunya soal kebohongan ini dari jauh-jauh hari. Kenapa Shane baru membicarakannya malam ini? Untung saja Emma menanggapi ini dengan tenang, jika Emma kembali kecewa dengan kebohongan yang dibuat Shane maka makan malam ini pasti akan berakhir tidak baik--lagi.


"Kau sudah berpisah dengan Elara selama enam bulan. Dan jika Elara benar-benar hamil, seharusnya saat datang kesini tadi ibu sudah menyambut seorang wanita berbadan dua, sayangnya tidak demikian, kan?"


Dan Shane mengangguki ujaran sang Ibu. Ia malu sekaligus merasa bersalah telah membohongi Emma tapi ia juga sudah terlanjur melakukannya waktu itu.


"Aku ... juga minta maaf pada ibu mengenai kebohonganku, tolong maafkan aku ibu." Shane memegang tangan Emma dan berujar dengan sungguh-sungguh.


"Ya, ibu paham kenapa kau harus bersikap begitu. Ibu yang selalu memaksakanmu, jadi ibu tidak bisa menyalahkanmu begitu saja. Kau, punya alasan mengapa kau melakukan itu. Kau sangat ingin bersama Elara sementara waktu itu ibu terus mendesakmu untuk menikahi Stevi."


Demi apapun, rasanya Shane amat bersyukur jika kini ibunya mau memahami segalanya tanpa perlu ia jelaskan panjang lebar. Shane yakin ibunya belajar banyak dari ulah Stevi yang tega menipunya.


Mungkin Shane tak jauh berbeda dengan Stevi yang sama-sama berbohong pada Emma. Tapi Shane melakukan itu karena ia tidak menyukai keputusan ibunya dan sedang mempertahankan cintanya. Sementara yang dilakukan Stevi adalah mutlak kesalahan, karena wanita itu berbohong demi obsesinya yang ingin hidup di tengah-tengah keluarga Gladwin.

__ADS_1


Intinya, kebohongan Shane dan Stevi sangat berbeda konteks. Dan tentu saja Emma mampu memaafkan putranya, tapi tidak dengan yang Stevi lakukan. Sebab walau bagaimanapun, kebohongan yang Stevi lakukan tak bisa diremehkan. Bagaimana jika Emma terus menganggap putri Stevi sebagai keturunan Gladwin padahal nyatanya tidak demikian? Bukankah kebohongan Stevi itu akan berimbas semakin banyak lagi nantinya.


Sekarang giliran Elara yang menatap Emma dengan tatapan sungkan.


"Maaf untuk kebohongan yang ku lakukan, Aunty."


"Hei, hei... ibu tau yang merencanakan itu adalah Shane dan bukan dirimu. Kau hanya masuk dalam permainannya yang mau mengelabui ibu. Tapi sayang, ibu terlanjur tau kebohongannya sebelum dia mengakuinya," gelak Emma kemudian.


Emma benar-benar merealisasikan ucapannya yang ingin membuat makan malam kali ini jauh lebih baik ketimbang makan malam tempo hari.


"Jadi, kapan rencanamu untuk mengunjungi keluarga Elara di Indonesia, Shane?" tanya Emma pada sang putra.


"Aku sedang menyelesaikan deadline pekerjaanku, setelah semuanya siap aku dan Elara akan segera terbang ke Indonesia." Shane menjeda ucapannya demi melirik Elara disisinya. "Kau mau kan?" tanyanya.


Karena sekarang Elara tidak terikat pekerjaan apapun alias sudah menjadi pengangguran maka ia menyetujui ajakan Shane begitu saja. Ia juga sudah tidak sabar untuk mengunjungi keluarganya di negara asal.


"Baiklah, aku akan mengurus segalanya termasuk tiket kepergian kita," kata Shane pengertian.


"Ibu mendukung segala yang terbaik untuk kalian. Jika sudah ada berita baik dari Indonesia, segera hubungi ibu. ibu tidak sabar untuk pesta pernikahan kalian." Emma tampak sangat antusias sekarang.


Elara menghela nafas lega sepulangnya dari kediaman Gladwin.


"Terima kasih untuk hari ini. Kau menjadi dirimu sendiri dan terima kasih sudah mau mendengar permintaan maaf ibuku," ujar Shane saat mengantarkan Elara sampai ke depan pintu apartmen.


"Hmm ..." Elara mengangguk. "Aku masuk dulu, kau pulanglah," usirnya terang-terangan.


Shane tertawa pelan. "Baru kali ini aku diusir dari Apartmenku sendiri," cibirnya.


Elara ikut terkekeh. "Baru sekali ini juga aku mengusir pemilik Apartmen," ujarnya mengolok ucapan Shane.


Shane menepuk-nepuk kepala Elara dengan lembut. Lalu ia memeluk Elara singkat.


"Aku pulang ya. Siapkan dirimu untuk kepergian kita ke Indonesia."

__ADS_1


Sebuah kecupan lembut Shane labuhkan di pelipis gadisnya, tak lama pria itu benar-benar pergi dari koridor apartmen miliknya yang kini ditinggali oleh Elara.


...Bersambung .......


__ADS_2