ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
23. Ela, Lara, Elara


__ADS_3

Shane mencoba meraih tangan Elara untuk ia genggam, namun gadis itu masih saja menghindar. Tampaknya Elara tidak mau mempercayai Shane begitu saja sebelum ia mendengar kebenarannya.


"Baiklah, aku akan menjelaskannya," kata Shane yang memahami penolakan Elara padanya.


"Stevi adalah kekasih Shawn, dia adalah kakakku. Mereka sudah bersama cukup lama, tapi beberapa bulan yang lalu Shawn meninggal karena kecelakaan. Kami semua kehilangannya."


Mata Elara membola mendengar penjelasan Shane.


".. tapi, disaat bersamaan Stevi juga baru mengetahui jika dia tengah mengandung anak Shawn."


"Maaf," kata Elara penuh penyesalan karena berhasil membuat Shane mengingat sang Kakak yang telah tiada.


"Tak apa." Shane tersenyum sendu.


"Jadi, Stevi benar-benar bukan istrimu?" tanya Elara kemudian.


Shane menghela nafas berat. "Ya. Aku belum pernah menikah. Tapi menurut orang lain, Stevi memang istriku," paparnya.


"Why?"


"Karena dalam perut Stevi ada keturunan keluarga Gladwin, jadi ibuku merancang sebuah pesta yang mengatasnamakan pernikahanku dan Stevi agar janin itu memiliki garis keturunan yang jelas." Shane kembali mengembuskan nafas panjang.


"Jadi, ini yang membuat ibumu mengatakan pada Ayahku bahwa Stevi adalah istrimu?" Elara sampai pada sebuah kesimpulan.


Pria itu mengangguk, semua memang berantakan karena Shawn yang meninggal dan juga kehamilan Stevi yang tidak direncanakan.


"Sebenarnya Ibu sudah memintaku untuk menikahi Stevi, katanya itu lebih baik. Tentu saja aku tidak mau. Aku memiliki hidup sendiri. Bagaimana bisa aku harus bertanggung jawab atas perbuatan Shawn?


"... aku selalu bertengkar dengan ibu. Dan saat sebelum aku pergi ke hutan waktu itu, aku juga sempat menentang permintaan ibu yang terus memintaku untuk menikahi Stevi."


Elara mulai paham jika disini Shane sedang mengemban beban yang cukup berat. Dimana ia diminta mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


"Jadi, setelah semua yang terjadi padamu, apa sekarang ibumu masih terus meminta kalian untuk menikah?"


Shane mengangguk lesu. "Ya. Karena kehamilan Stevi juga, ibu memintanya untuk menempati Mansion keluarga kami, katanya agar Stevi dan kandungannya lebih terjaga disana," jelasnya.


"Tapi, waktu itu aku tidak bertemu dengan ibumu, aku hanya bertemu dengan Aunty Gracia, dia ibu Stevi, kan?"


"Iya, ibu sedang di Milan, sedangkan Aunty Gracia baru datang dari LA dan mau mengunjungi Stevi yang sudah tinggal dikediamanku."


Elara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, aku sudah memahaminya sekarang," tuturnya.


Shane langsung terkesiap mendengar penuturan gadis itu. "Jadi, kau mau melanjutkan hubungan kita, kan? Aku tidak pernah membohongimu, Lara," ujarnya to the point dan sungguh-sungguh.


Elara menggeleng samar. "Maaf, Shane. Sejujurnya, aku tidak bisa terlibat denganmu lagi," ujarnya dengan berat hati.


Elara lantas berdiri dari duduknya. Baginya, meski Shane bukanlah suami Stevi seperti yang selama ini ia perkirakan, tapi pria itu tetap masih terikat dengan hubungan yang rumit sebab sang ibu juga meminta Shane untuk menikahi Stevi.

__ADS_1


"Why? Aku serius dengan perasaanku padamu, Lara." Shane menatap gadis itu dengan sendu. Ia tidak pernah seserius ini dengan seorang perempuan. Jika sejak awal ia hanya berniat mempermainkan Elara, mungkin ia takkan terlalu berusaha seperti ini.


"Aku pikir, meski kau tidak terikat pernikahan dengan Stevi, tapi hubungan kalian sangat rumit. Ibumu juga tidak mungkin menyukaiku begitu saja." Elara bicara secara realistis.


Elara membuat Shane termangu dengan penyataannya itu.


"Aku permisi, Shane. Terima kasih atas jamuan makannya. Semoga kau mendapatkan hidup yang baik karena aku tau kau juga pria yang baik." Elara sedikit membungkukkan badan, kemudian beranjak untuk meninggalkan ruangan itu.


...***...


Penolakan yang Elara lakukan, bukan cuma menyakiti Shane tapi juga menyakiti dirinya sendiri. Kendati demikian, gadis itu berusaha untuk menjalani kehidupannya seperti sediakala. Elara tau, ada banyak hal yang tidak perlu dipaksakan, termasuk hubungannya dengan Shane yang memang semestinya hanya sesaat dan tidak untuk dilanjutkan.


Sementara dilain sisi, Shane juga tidak menyangka Elara tetap menolaknya meski ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Ia tau, Elara adalah gadis yang memiliki komitmen, namun entah kenapa kali ini Shane tidak menyukai komitmen yang dibuat Elara untuk dirinya.


Kejujuran Shane yang dijawab dengan permintaan maaf dan penolakan oleh gadis itu, membuat Shane semakin marah dengan keadaan yang sudah terlanjur membelenggunya.


"Shane? Kau baru pulang?" sambut Stevi saat pria itu sudah kembali ke kediamannya.


Shane tidak menggubris wanita itu, berkat Stevi semuanya jadi seperti ini. Shane ingin marah, namun masih bisa berpikir waras untuk tidak membentak wanita yang tengah mengandung keponakannya itu.


Melihat Shane melengos, Stevi malah mengikuti langkah Shane dibelakang tubuh tegap pria itu.


"Kau tau, kau baru saja pulih karena insiden di hutan waktu itu. Kau koma di ICU selama sebulan. Apa kau tidak mau memikirkan kesehatanmu, Shane?" kejar Stevi pada Shane yang sedang dalam mood buruk.


Shane akhirnya menoleh pada wanita itu. Ia berdecak sekilas. "Stev, berhentilah menggangguku, jangan bersikap seperti itu atau orang lain akan mengira jika kau benar-benar istriku," ujarnya dengan menahan kesabaran.


Kali ini Shane menatap Stevi tajam, sampai wanita itu gelagapan hanya karena sorot mata pria didepannya.


"Ku bilang jangan menggangguku!" Shane pun masuk ke dalam kamarnya sendiri, menutup pintu dengan cukup keras sehingga membuat Stevi cukup terkejut disana.


"Sebenarnya apa yang kau kerjakan selepas keluar dari Rumah Sakit, Shane? Ku pikir kau belum memasuki dunia kerja, tapi kau seperti sedang mengurusi sesuatu yang sangat penting?" batin Stevi bertanya, apa kiranya yang sedang Shane lakukan sampai pria itu mengabaikan kesehatannya sendiri. Shane juga nampak sibuk sendiri. Atau jangan-jangan Shane sudah memiliki kekasih?


...***...


Elara tau keputusannya menolak Shane adalah keputusan yang cukup besar untuk diambilnya. Tetapi, ia juga bingung harus bagaimana.


Mengingat jika pria itu tinggal serumah dengan Stevi tanpa hubungan yang jelas, membuat Elara berpikir jika mereka tidak layak meneruskan hubungan sebab Elara tidak mau jika nantinya ia akan selalu berpikir negatif mengenai keduanya.


"Mulai sekarang, aku harus melupakan Shane. Semuanya akan baik-baik saja, sama seperti sebelum aku mengenalnya," batin Elara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Alih-alih merealisasikan tekadnya itu, Elara justru memimpikan kebersamaan dengan Shane ketika ia tertidur.


Shane tampak sangat tenang, menggenggam tangan Elara dengan senyuman khasnya.


Pria itu beberapa kali menghujani puncak kepala Elara dengan ciuman. Tampak jelas kasih sayang Shane yang begitu tulus kepada gadisnya.


Elara sempat larut dengan kebersamaan itu, ia tau jika ia sangat mencintai Shane dan hanya pria itu yang pernah hinggap di hatinya. Tidak ada yang lain.

__ADS_1


"Shane, kau tau kan bagaimana perasaanku?" tanya Elara pada pria yang menatapnya intens itu.


"Tentu saja, Sayang."


"Darimana kau tau?"


"Aku tau karena aku bisa membaca isi hatimu."


"Ish, dasar perayu ulung! Bagaimana bisa kau membacanya? Hatiku bahkan tidak bisa kau lihat," sungutnya.


"Aku tau, karena aku membacanya lewat jendela hatimu. Orang bilang, jendela hati itu terpancar jelas lewat kedua mata dan aku melihatnya di matamu."


Elara menahan gelak karena ujaran Shane. Pria ini terkadang sangat pandai berkata-kata, itu sebabnya sejak pertemuan di Hutan, Elara sudah menjuluki Shane sebagai perayu ulung yang handal melelehkan hati wanita, termasuk dia tentunya.


Shane mengambil kedua tangan Elara, kemudian membawa itu ke lehernya agar Elara bergelayut disana.


Elara menurut saja, ia mengalungkan kedua lengannya di leher Shane. "Jadi? Sudah berapa banyak?" tanyanya ambigu pada pria itu.


"Apanya yang berapa banyak?" Shane memangkas jarak, menyatukan kedua dahi mereka agar bersentuhan satu sama lain.


"Berapa banyak wanita yang sudah kau rayu seperti aku?"


Shane tersenyum dalam posisi wajahnya yang sangat dekat dengan Elara. "Yang ku rayu hanya tiga," katanya terus terang.


Elara tertawa kecil, ia dapat merasakan embusan nafas Shane yang menerpa kulit wajahnya. "Siapa?" tanyanya kemudian.


"Ela, Lara dan Elara," jawab Shane, lalu didetik yang sama ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang hangat dan lama.


Elara pun tersentak dari tidurnya, ia memegang bibirnya yang entah kenapa masih merasakan kehangatan ciuman Shane meski itu hanya terjadi disebuah bunga tidur.


Elara menjadi bimbang, mengingat penolakannya pada pria itu sore tadi.


"Shane, apa aku menyakitimu?" tanya Elara seolah bicara pada pria itu.


Elara termangu cukup lama, sadar bahwa ia juga merindukan pria itu.


"Shane, aku merindukanmu," gumamnya bermonolog.


Elara tau ini tidak akan mudah, tapi ia harus terus berusaha melupakan Shane seperti yang selama ini sudah ia usahakan.


...Bersambung ......


Dukungannya, mana???



__ADS_1


__ADS_2