ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
64. Sakit


__ADS_3

Shane melihat istrinya yang sudah terlelap di tempat tidur mereka. Perasaan lega saat melihat Elara telah kembali masih terasa dalam dirinya. Tapi, melihat istrinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, membuat perasaan Shane langsung mencelos.


Belum terungkap kemana dan apa penyebab Elara bisa menghilang, sekarang Shane harus menyelidiki juga mengenai apa yang terjadi pada Elara selama istrinya menghilang 5 hari belakangan.


Ini seperti sebuah teka-teki bagi Shane yang harus ia pecahkan dan menemukan jawabannya untuk memuaskan keingintahuannya mengenai siapa dalang dibalik semua ini.


Yang paling membuat Shane gusar adalah bekas jahitan di perut istrinya. Ini seperti ....


Tidak, tidak, jangan sampai yang Shane pikirkan benar-benar terjadi. Shane juga memikirkan mengenai kandungan Elara. Tapi, apa benar istrinya itu tengah mengandung? Bahkan mereka belum sempat memeriksakannya.


"Max, aku akan membawa istriku ke Rumah Sakit lagi tapi bukan Rumah Sakit yang kemarin. Siapkan segalanya karena aku tidak mau kejadian serupa terulang kembali."


Shane menelepon asistennya untuk menyiapkan segala sesuatunya. Ia akan segera membawa Elara untuk memeriksakan kesehatannya karena Shane merasa sesuatu yang besar telah terjadi pada istrinya.


...***...


Pada saat Elara terbangun, wanita itu merintihh kesakitan dan mengatakan nyeri di seluruh tubuhnya. Shane panik dan gelagapan. Ia juga menyalahkan diri sendiri terkait apa yang sudah terjadi pada Elara, meski pada kenyataannya ini bukan mutlak kesalahan Shane, tapi Elara tetaplah tanggung jawabnya yang seharusnya tidak merasakan hal ini jika Shane lebih menjaganya.


Untung saja Max dapat menyiapkan semuanya tepat waktu, sehingga Shane dengan tanggap langsung membawa Elara ke Rumah Sakit saat itu juga.


"Sayang, sabar sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit."


Elara menangis dalam pangkuan Shane, ia merasakan sakit yang tidak terhingga. Terutama di bagian punggung, perut dan sekitarnya. Bekas jahitan yang ada diperutnya juga terasa sangat nyeri.


Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit yang sudah di sterilkan atas permintaan Shane. Lantai 4 itu tidak terdapat orang lain kecuali mereka karena Max menyewa satu lantai pemeriksaan tersebut hanya untuk kenyamanan istri dari boss-nya. lagipula, Max tidak mau kejadian kemarin terjadi lagi hingga menyulut kemarahan Shane.


Elara diperiksa dengan teliti oleh Dokter yang berkompeten. Shane menjelaskan semua yang terjadi pada istrinya karena Elara sepertinya tidak sanggup untuk berkata-kata, dia hanya merintihh sakit dan sesekali meringis.


Setelah melewati bebagai tahap pemeriksaan. Sang Dokter dengan raut yang tampak prihatin pada Elara itu akhirnya mengucapkan diagnosanya.


"Dari hasil pemeriksaan... dengan sangat terpaksa saya harus mengatakan yang sebenarnya..."


Ucapan dokter itu membuat Shane menyiapkan telinga agar dapat mendengar dengan seksama tanpa kehilangan detail pentingnya.


"Maaf, Pak. Sepertinya istri Anda mengalami pencurian organ. Dari pemeriksaan, Ibu Elara kehilangan satu ginjalnya."


"Apa?" Mata Shane terbelalak. Ia hampir saja membalikkan meja yang ada dihadapannya sangking emosi mendengar pernyataan dokter tersebut.

__ADS_1


"Sejak awal saya sudah curiga saat melihat luka bekas jahitan di bagian samping perutnya."


Tubuh Shane gemetaran sekarang. Sepertinya ia akan menangis sekarang. Padahal hal itu sesuatu yang tabu bagi seorang Shane Gladwin.


"Tubuhnya membutuhkan waktu setidaknya sekitar 4–6 minggu untuk pulih sebelum Ibu Elara bisa menjalani aktivitas dengan normal kembali. Selama proses pemulihan itu, beliau akan merasa nyeri dan tidak nyaman. Namun, saya akan memberikan resep obat sebagai penghilang rasa sakitnya."


Shane tak dapat berkata-kata sekarang. Matanya nanar, sedikit saja berkedip maka air mata yang sudah ada di pelupuk matanya akan merembes keluar.


"Saya turut berduka dan prihatin atas insiden yang menimpa istri Anda, Pak. Semoga pelaku yang melakukan tindak pencurian ini segera ditemukan dan diberikan hukuman yang pantas," kata Dokter itu penuh harap.


Sekarang Shane mengerti kenapa istrinya terus merasa sakit. Ini bahkan diluar prediksi Shane. Ia sama sekali tidak menduga jika satu ginjal istrinya sudah dicuri. Terang saja Elara kesakitan dan merasa lemah, bahkan ini baru berselang 5 hari. Jika proses pengambilan ginjal itu diambil dari hari pertama Elara menghilang maka seharusnya Elara masih dalam masa perawatan pasca transplantasi ginjal tersebut. Apalagi tindakan itu dilakukan secara paksa, bukan karena keinginan Elara sendiri.


Sepertinya Elara dibius total, bahkan sebelum oknum itu mencuri ginjalnya. Sehingga Elara tidak mengingat apapun yang terjadi, sampai pada akhirnya Elara tersadar dalam kondisi yang sudah tak sama lagi.


"Ehm, saat hari terakhir sebelum istri saya menghilang, kami sempat mau memeriksakan kandungannya. Bukan, masih mau mengecek apakah Elara hamil atau tidak. Jadi, apa sekarang saya bisa tau hal itu? Apa Elara memang sempat mengandung?"


Sang dokter menatap Shane dengan tatapan yang sulit untuk Shane artikan. Sepertinya dokter wanita itu turut merasa miris dengan apa yang terjadi dan menimpa Elara.


"Saya tidak bisa memastikan apakah sebelumnya Ibu Elara hamil atau tidak, apalagi jika sebelumnya kehamilan itu masih sangat muda, itu tidak akan meninggalkan bekas apapun karena jika janinnya gugur maka yang keluar hanya berupa gumpalan darah."


Shane benar-benar meneteskan airmatanya sekarang. Sampai dokter melanjutkan kalimatnya lagi.


Kepala Shane berdenyut sekarang. Ia nyaris seperti orang bodoh yang kehilangan kepiawaiannya saat itu juga.


...***...


Untuk saat ini, Shane memutuskan agar Elara di rawat di rumah sakit sampai wanita itu benar-benar pulih.


Kenyataan yang harus Shane terima adalah kini Elara hidup dengan satu ginjal saja. Lalu, mengenai Elara yang sempat hamil atau tidak pada waktu itu, entahlah ... Shane tidak mendapatkan jawabannya.


Sekarang, yang terpenting bagi Shane adalah kesembuhan istrinya. Dan dia hanya ingin fokus untuk hal itu. Dan tentu saja sembari terus mencari tahu siapa yang ada dibalik semua kejadian ini.


"S-Shane ..."


Buru-buru Shane menghampiri ranjang, dimana disana adalah tempat istrinya sedang terbaring lemah.


"Sayang? Kau butuh apa?"

__ADS_1


Elara menggeleng lemah. "Aku merasa sudah lebih baik," tuturnya pelan.


"Ya, aku meminta agar kau dirawat saja disini. Kau akan lebih baik lagi. Apakah masih terasa sakit?"


"Tidak. Pasti dokter sudah memberiku obat ya?"


Shane mengangguk, demi apapun ia ingin menyembunyikan kesedihannya dari mata istrinya. Ia tak mau Elara melihatnya bersedih. Ia tak mau Elara menyangka jika ia adalah pria yang lemah.


"Kata dokter aku sakit apa, Shane?"


Dan sekarang Shane bingung harus menjawab apa.


"Kau tidak apa-apa, kau baik-baik saja. Jangan memikirkan apapun, kau akan segera keluar dari rumah sakit ini," jawab Shane ambigu.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa sakit sekali sebelumnya?"


Shane menggeleng dengan seulas senyum palsu. "Mungkin tubuhmu hanya sedang dalam fase lelah. Sudahlah, yang penting sekarang kau baik-baik saja," ujarnya.


Elara tau Shane sedang menyembunyikan sesuatu. Lagipula ia bukan anak kecil yang bisa dialihkan dengan kata-kata penghiburan. Elara yang merasakan sendiri bagaimana sakitnya, lalu bagaimana bisa Shane mengatakan bahwa dia tidak sakit apapun? Ini terasa janggal bagi Elara, tapi sebisa mungkin ia menerima penjelasan dari sang suami.


"Apa kau masih mencintaiku?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu? Tentu saja aku selalu mencintaimu, Lara."


Sekarang Elara dapat melihat raut kesedihan yang sebelumnya mati-matian ditutupi oleh Shane.


"Benarkah? Meskipun sekarang aku sakit?" ujar Elara lagi.


"Ya, apapun keadaanmu. Bukankah aku sudah berjanji untuk selalu mencintaimu?"


Elara mengelus rahang Shane yang tampak ditumbuhi bulu-bulu kasar.


"Kau tampak kacau. Berapa lama kau tidak bercukur, Shane?"


Haruskah Shane menjawab ia jadi begini sejak Elara menghilang?


"Bukankah biasanya kau tidak pernah melewatkan hari tanpa alat cukurmu itu?" canda Elara, ia ingin Shane melupakan kesedihannya karena sekarang Elara yakin ada yang pria itu tutupi terutama mengenai penyakit Elara.

__ADS_1


"Maka dari itu, cepatlah sembuh." Shane menatap ke arah langit-langit kamar rawat itu demi menghalau airmatanya agar tidak jatuh. "Dan setelah itu, bantulah aku bercukur," katanya kemudian.


...Bersambung ......


__ADS_2