ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
51. Berkemah


__ADS_3

Pada akhir pekan, Shane mengajak Elara untuk berkemah. Ia ingin mengenang kebersamaannya saat pertama kali bertemu dengan Elara waktu itu. Tentu saja Elara menyambut usul Shane dengan riang, bahkan sudah berkemas untuk keperluan mereka selama di perkemahan.


Tujuan mereka kali ini bukan hutan liar seperti dimana pertama kali mereka bertemu, karena Elara tidak akan pernah menyetujui untuk kesana lagi mengingat hal terakhir yang terjadi pada mereka, dimana akhirnya mereka harus terpisah dengan Shane yang harus menghadapi binatang buas.


Jadi, Elara mengusulkan untuk berkemah di sebuah bumi perkemahan saja. Meski awalnya Shane menolak, dengan alasan jika tempat itu tidak menantang adrenalin sama sekali, tetapi Elara tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Kau tau, aku begini karena begitu mengkhawatirkanmu. Aku tidak mau kau bertemu hewan buas lagi. Aku juga tidak mau kita terpisah lagi nanti."


Dan Shane menanggapi ucapan istrinya dengan tawa pelan.


"Baiklah, aku paham kau melakukan ini karena takut kehilanganku, kan?" goda Shane.


Elara hanya mendengkus pelan, kemudian lanjut memasukkan bahan makanan ke sebuah tempat kedap udara yang dapat diatur suhunya untuk membuat makanan yang disimpan lebih awet dan tahan lama.


"Ehm, bicara mengenai hal itu. Kita tidak pernah membahasnya kan, Sayang?" Shane berujar sambil menatapi kegiatan istrinya yang sok sibuk sendiri.


"Hal itu, apa maksudmu?" tanggap Elara.


"Bagaimana keadaanmu saat terakhir kali aku tidak kembali? Jujur, saat itu yang paling kupikirkan adalah dirimu ketimbang keselamatanku sendiri."


Elara mengembuskan nafas kasar, sesungguhnya memori mengenai hal itu ingin ia lupakan. Terlepas dari kebersamaannya dengan Shane waktu itu, dihari terakhir Shane menghilang Elara dilanda ketakutan yang luar biasa saat harus menetap sendirian di hutan.


"Waktu itu ... aku sangat takut ..." Elara menjeda ucapannya, lalu ia ragu melanjutkan. "Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi," paparnya kemudian.


Shane memaklumi itu dan ia tidak memaksa Elara untuk bercerita. Satu yang ia ketahui tanpa harus Elara menjelaskannya, pasti gadis yang sudah menjadi wanitanya itu merasa sangat ketakutan saat itu. Shane bahkan tidak bisa membayangkan ketakutan Elara saat harus bermalam di tenda sendirian. Dia jadi merasa bersalah jika mengingat bahwa saat itu tidak bisa kembali ke kemah untuk melindungi Elara dari rasa takut.


"Maafkan aku ya," kata Shane. Ia mendekap Elara dipelukannya sampai wanita itu mengangguk dalam posisi tersebut.


...***...


Akhir pekan telah tiba, Shane dan Elara tiba di sebuah bumi perkemahan yang hutannya tidak terlalu lebat.


Shane memasang tendanya disana dan Elara tampak sibuk memanggang barbeque disana.


Elara tertawa-tawa kemudian, saat melihat itu, dahi Shane langsung mengerut keheranan.


"Apa ada yang lucu?"


"Tidak ada," kilah Elara.


"Jadi, kenapa kau tertawa?"


"Bukan apa-apa."


"Ayo katakan." Shane mendekat pada posisi istrinya dimana Elara duduk tak jauh didepan tenda yang sudah terpasang.


"Tidak ada.".


"Jadi apa yang lucu menurutmu?"

__ADS_1


Elara menggeleng dan Shane berlagak memiting wanita itu sampai Elara memekik tertahan karena ulah suaminya.


Tangan Shane terulur dengan niat menggelitik perut Elara, tapi secepat kilat Elara mencegahnya.


"No, Shane!"


"Katakan apa yang membuatmu tertawa. Aku ingin mengetahuinya!" desak Shane.


"Sudah ku bilang tidak--" Elara tidak melanjutkan karena kalimatnya terputus, disusul oleh suara cekikikan yang lolos dar bibirnya seiring tangan Shane yang sengaja menggelitiknya.


"Iya, iya, baiklah aku akan mengatakannya." Elara menyerah.


Shane memicing pada wajah sang istri yang sudah memerah karena digelitiki.


"Aku hanya lucu, saat melihat sekitar kita. Disini tempat kebanyakan anak usia sekolah yang berkemah, sedangkan kita?" ujar Elara dengan senyum yang dikulumm.


Dan Shane mengesah panjang sekarang. "Apa ku bilang, seharusnya kita tidak berkemah disini," ujarnya. "Tapi demi dirimu, aku rela ditertawakan para anak-anak itu," lanjut Shane dengan seringainya.


Elara sontak semakin terkekeh. Ia memang mendengar desas-desus sepanjang mereka berjalan menuju tanah perkemahan yang menjadi tempat berdirinya tenda mereka. Anak-anak sekolah itu membicarakan mereka yang justru berkemah ditempat ini. Tidak seharusnya.


"Jadi, bagaimana? Apa kita pulang saja?" tawar Elara akhirnya. Ia takut Shane semakin malu.


Alih-alih mengiyakan ajakan Elara untuk pulang, Shane malah mengendikkan bahu acuh tak acuh.


"Kenapa harus pulang? Biar saja mereka semua membicarakan kita. Apa peduliku," kata Shane cuek.


Elara terkikik sekarang. Suaminya ini memang selalu acuh tak acuh. Tapi terkadang Elara mensyukuri sikap suaminya ini dimana Shane pun jadi jadi tidak begitu memperhatikan wanita lain ketimbang dirinya.


Dan tak menolak, Shane segera menyahut makanan itu dengan mulutnya.


"Bagaimana rasanya?"


"Tentu saja enak."


"Baguslah, aku membawa banyak makanan, karena aku takut kita akan kekurangan makanan lagi seperti waktu itu."


Shane tertawa pelan. Ia menepuk-nepuk lembut punggung tangan istrinya. "Good wifey," katanya memuji. Padahal, jikapun mereka kekurangan makanan diarea ini, masih ada orang berjualan disini dan letaknya tidak terlalu jauh.


"Makan yang banyak, aku mau kau bertambah gemuk," tutur elara membuat Shane tergelak.


"No. No. Kalau aku gemuk, nanti aku akan kehilangan enam kotak yang ada di perutku. Aku tidak mau hal itu terjadi."


"Tapi aku mau kau gendut, Shane."


"No. Nanti tidak akan ada perut kotak-kotak yang bisa kau sentuh lagi."


"Tak apa, aku rela menyentuh perut yang sama dalam bentu yang berbeda."


Shane hanya geleng-geleng kepala mendengar ekspektasi istrinya tersebut.

__ADS_1


"Itu tidak akan mungkin, karena aku rutin berolahraga. Apalagi olahraga denganmu," kata Shane dengan kedipan mata nakal.


Elara memutar bola matanya. "Lihat saja nanti! Kau akan ku buat gendut," katanya seakan bertekad.


Shane mengacak rambut Elara gemas. "Kalau aku gendut, aku takut kau kabur dariku," ujarnya terus terang.


Elara memicing sekarang. Tatapannya tampak tidak bersahabat pada Shane.


"Kenapa?" respon Shane atas sikap istrinya. "Bukankah para wanita memang menyukai tubuh pria yang proporsional?" tanyanya kemudian.


"Ya tapi bukan berarti aku akan kabur jika kau gendut," protes Elara.


Shane semakin tergelak. Ia kembali menikmati makanan yang sudah dibuatkan istirnya itu.


"Aku akan selalu memakan apapun yang kau sediakan untukku. Tapi jangan salahkan aku jika aku juga akan berolahraga lebih keras, termasuk olahraga malam denganmu."


Elara ikut terkekeh. "Kau ini! Apa dikepalamu itu tidak ada pemikiran lain selain hal itu?" tanyanya.


"Tidak ada," jawab Shane cepat.


Elara menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ujaran suaminya itu.


"Ehm, ada satu hal lagi yang juga ada dikepalaku," tutur Shane kemudian.


"Apa?"


"Bagaimana caranya aku membahagiakanmu, dan bagaimana caranya supaya kau terus bersamaku."


Elara menyentuh rahang tegas milik suaminya itu. "Listen to me, aku sudah bahagia bersamamu, dan aku juga akan terus bersamamu jadi jangan terlalu memikirkan hal itu karena aku sudah menjadi milikmu."


Shane mengulas senyuman khas-nya sekarang.


"Ehm, tapi ... bagaimana jika nanti aku yang tidak bisa membahagiakanmu, Shane?" tanya Elara. "Selama ini, kau yang selalu berusaha membahagiakanku. Jadi, jika ternyata aku tidak mampu membalas dengan hal serupa. Bagaimana?"


"Aku tidak mengharap kau membalas dengan hal yang sama. Selagi kau terus bersamaku maka aku akan selalu bersyukur dan berbahagia." Shane balas menangkup pipi Elara. "Dan yang terpenting adalah, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku sekalipun aku yang memintanya."


"Memangnya kau mau memintaku pergi?"


"Tidak."


"Lalu, kenapa kau mengatakan hal ini?"


"Entahlah, mungkin ada saat dimana aku kehilangan kendali, marah, atau mungkin terpengaruh oleh hal disekelilingku hingga menyebabkan ku harus menyatakan hal itu padamu maka berjanjilah untuk tetap mendampingiku karena jikapun itu terjadi maka itu bukan sepenuhnya keinginanku. Keinginanku yang terbesar adalah bersamamu dalam keadaan apapun."


Elara tampak menyimak ucapan suaminya itu. Ia tau mungkin ada keadaan yang bisa menyebabkan hal itu terjadi. Entahlah, ia tidak bisa melihat masa depan. Yang jelas, ia harus bertahan sesuai ucapan Shane saat ini.


"Kau dengar, kan? Berjanjilah untuk terus bersamaku, apapun yang terjadi." Shane mencium puncak kepala Elara dengan dalam dan lama.


"Iya, aku berjanji akan selalu bertahan."

__ADS_1


...Bersambung ......


...Bersambung ......


__ADS_2