
Sudah delapan hari Elara dan Shane berada di hutan tersebut, sebenarnya Shane sangat senang berada disana bersama gadis yang membuatnya jatuh cinta itu, tetapi ia memikirkan jika Elara harus mendapatkan perawatan yang lebih baik sebab Shane takut ada luka dalam di tubuh Elara yang tidak terlihat oleh mata mereka.
Belum lagi Shane memikirkan cuaca dan suhu tempat itu yang semakin hari semakin dingin dan sejuk. Shane harus mendapat jalan keluar sesegera mungkin.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Shane dan akan segera ia realisasikan, hanya saja ia tak mau kejadian tempo hari terulang lagi saat ia menjalankan idenya kali ini.
Elara melihat Shane yang nampak bersiap pergi, ia penasaran dan mencoba menanyakannya meski ia tahu Shane akan tetap memberitahunya meski ia tak bertanya.
"Kau mau kemana, Shane?"
"Aku akan memanjat pohon kemarin lagi, kali ini aku akan meminta bantuan untuk mengirimkan helikopter ke lokasi kita."
"Apa kau yakin akan berhasil?"
"Kemarin kita sudah berhasil mendapatkan sinyal disana. Aku harus kesana lagi hari ini sebelum daya ponselku habis, lagipula alat pengisi baterai ponsel ku sudah digunakan sepenuhnya, jadi di ke depan hari ponsel ini akan kehabisan daya tanpa bisa di charge."
"Baiklah, aku ikut!" ujar Elara dan Shane langsung menggelengkan kepalanya.
"Tetaplah di tenda, Lara. Aku tidak mau kejadian seperti tempo hari terulang lagi. Lagipula, disini akan lebih aman. Diluar sedang gerimis."
Shane tak mau mendengar penolakan Elara, ia bergegas pergi dan tak lupa menitipkan sebuah be-la-ti untuk Elara agar bisa berjaga-jaga seperti biasanya.
"Aku pergi. Jaga dirimu untukku." Kalimat yang sama terlontar dari bibir pria itu. Ia mengecup lembut pipi Elara kiri dan kanan kemudian tersenyum kecil pada gadis itu.
Elara menatap kepergian Shane dari tendanya yang terbuka, ia tau Shane terpaksa meninggalkannya disini sebab inilah yang lebih baik ketimbang Elara ikut bersama Shane ke pohon tinggi itu lagi.
Lekas Elara mengancing pintu tendanya kembali, sebab tak dapat dipungkiri jika ia takut berada disana sendirian.
Elara memikirkan kebersamaannya yang lebih dari seminggu bersama Shane. Betapa ia sudah masuk terlalu dalam di kubangan bernama cinta yang juga membutakannya.
"Shane, cepatlah kembali."
__ADS_1
Elara menunggu Shane sambil membaca buku yang sudah ia ketahui isinya karena hanya itulah hiburan yang ia punya. Sampai larut, Elara tidak menemukan tanda-tanda Shane akan kembali.
Elara berusaha berpikir positif, ini bukan kali pertama Shane seperti ini. Tempo hari Shane juga pulang lambat, Elara memahami medan yang dilalui Shane kadang tak mudah, belum lagi banyak semak yang harus Shane terobos. Akan tetapi, Elara tau jika kekasihnya mampu melalui itu sebab keandalan Shane tidak diragukan lagi.
Lambat laun, suara jangkrik hutan terdengar semakin keras menandakan hari sudah beranjak petang. Dengan hati-hati, Elara mengintip ke luar tenda ia berharap Shane sudah kembali dengan beberapa makanan liat yang dapat dikonsumsi. Begitulah pemikiran gadis itu, ia sangka Shane begitu lama karena menyempatkan diri untuk kembali mencari stok makanan untuk mereka.
Sayangnya, sampai larut malam Shane tak juga kembali membuat Elara khawatir sekaligus meneteskan airmatanya.
"Shane, aku takut.... kau dimana, Shane? Kenapa belum kembali?"
Elara bergumam lirih, ia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Ia menatap pada tas besar milik Shane yang masih berada di tenda, semua barang itu tertinggal disana jadi tak mungkin Shane meninggalkannya dengan sengaja.
Di kepala Elara mulai membuat kesimpulan kesimpulan yang justru membuat ketakutannya semakin menjadi.
"Shane, jangan lupa jalan kembali.. hiks!" Elara menangis dan semakin ketakutan saat membayangkan sesuatu telah terjadi pada Shane.
Elara meringkuk dan tidak bisa tertidur nyenyak malam itu. Ia masih mengharapkan kepulangan Shane ke tenda mereka. Ia menangis tanpa suara, takut jikalau suaranya dapat memancing perhatian hewan buas yang kebetulan melintas.
Bayangkan saja, ia berada di hutan seorang diri, biasanya ada Shane yang membuat ketakutannya sirna. Biasanya ada Shane yang selalu menenangkannya. Tapi kali ini, sepertinya Shane tidak akan pernah kembali ke tenda mereka.
Lambat laun, Elara tertidur dengan pipi yang basah oleh air mata. Sesekali ia bergumam lirih dalam tidurnya.
"Shane ..."
"Shane ..."
...***...
Menjelang pagi, Elara sudah terjaga dari tidurnya. Gadis itu mengemasi barang-barang yang tertinggal di tenda, termasuk milik Shane. Berbekal ilmu yang diajari Shane padanya, Elara membuat tanda panah untuk dapat kembali ke tendanya nanti. Ia berniat mencari keberadaan Shane di pohon yang sempat mereka datangi beberapa hari lalu. Bukankah Shane akan mencari sinyal disana?
Dengan tekat yang kuat untuk menemukan Shane, serta perasaan yang menuntun, Elara melupakan rasa takutnya dan menyampingkan kemampuannya yang amatir dalam mencari jalan. Bisa dikatakan Elara buta dalam hutan ini, ia tidak memiliki bakat mendaki, hanya mengetahui sekilas dari pria yang membersamainya seminggu lebih ini.
__ADS_1
Elara berjalan meninggalkan tenda, tak lupa membawa be-la-tinya, Ia juga menancapkan tanda panah karena ia berniat untuk kembali ke tenda nantinya jika Shane tidak dapat ia temukan.
Cukup lama Elara menyusuri jalan, untungnya masih ada jejak-jejak sepatu Shane di tanah dan itulah yang dapat Elara ikuti sebagai referensi penunjuk jalannya. Jalan yang sudah dilalui Shane juga sudah lengang dan tidak bersemak sehingga itu memudahkan Elara.
Sampai akhirnya, Elara tiba di pohon yang kemarin ia datangi bersama Shane. Meski disana banyak pohon, tapi Elara yakin dan tau jika inilah pohon yang sama dengan yang dipanjat Shane ketika menghubungi orangtuanya.
Elara tidak melihat siapapun disana, yang ada hanya suara lolongan anjing hutan dan itu justru mengingatkan Elara pada peristiwa tempo hari dimana ia dikepung oleh dua ekor anjing kemudian Shane menyelamatkannya dengan suara pistol pria itu.
"Shane, kau dimana?" tanya Elara entah pada siapa. Sekali lagi ia menyampingkan rasa takut meski bayangan kejadian beberapa hari lalu masih terngiang di memori ingatannya dengan sangat jelas.
Dan benar saja, Elara menemukan bahaya itu. Ingin rasanya Elara menjerit nama Shane seperti saat kemarin. Sayangnya pria itu sudah tak ada dan kali ini Elara harus bisa melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan Shane.
Elara tak bisa mengandalkan orang lain kecuali dirinya sendiri ketika seekor ular yang menjadi momok bahaya baginya kali ini--sudah merayap tak jauh dari kakinya yang hanya beralaskan flatshoes tipis.
Elara ingin diam disana tanpa bergerak, tapi ia tau jika itu tak akan mempengaruhi apapun sebab ular itu semakin mendekat. Dengan keberanian yang hanya seujung kuku, Elara menarik sarung be-la-ti yang ia pegang sejak tadi.
Srekkk!!
Entah keberanian dan kenekatan dari mana, Elara justru berhasil menyayat ular itu sebelum semakin menuju kearahnya. Gerakannya berubah menjadi cekatan karena dituntut keadaan. Bukankah kondisi yang darurat mampu merubah orang lain menjadi seorang yang asing? Elara merasa ini bukan dirinya namun ini benar-benar perbuatannya yang sulit Elara percaya.
Elara lantas berlari setelah melihat ular itu berdarah-darah, pun sama dengan be-la-ti di tangan Elara yang meninggalkan cairan merah yang sama dan berasal dari hewan melata itu.
Elara berlari semampunya, hingga ia merasa ngos-ngosan.
Sampai di tenda, Elara menyeka keringatnya yang terasa dingin.
"Shane!!!!" Elara memekik kuat dalam hatinya, padahal jika bisa ia ingin mengeluarkan suara itu dari kerongkongannya namun ia tak bisa.
Satu hal yang paling membuat Elara takut, telah terjadi. Ketakutan ini melebihi saat ia menemukan ribuan cacing di sungai, juga lebih dari sekedar dikepung dua ekor anjing hutan serta hampir digigit ular, ketakutan ini lebih parah sebab disertai rasa sesak dihatinya. Kehilangan Shane tanpa sebab yang jelas. Meninggalkan tanda tanya besar di kepala Elara.
Kemana perginya pria itu? Apa terjadi sesuatu? Atau justru Shane sengaja meninggalkannya karena telah lelah menjaganya?
__ADS_1
...Bersambung ......