ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
45. Kau berharga


__ADS_3

"Ela, ayah mau tanya sama kamu. Apa kamu serius mau menikah dengan pria itu?"


Jika kemarin Anton menanyai Shane akan tujuannya yang berkunjung ke kediamannya, kali ini pria baya itu menanyai putrinya.


Elara mengangguk. "Iya, Ayah," tuturnya.


"Kamu yakin?"


Sekali lagi Elara mengangguk.


Anton pun menatap sang istri yang juga berada bersama mereka diruang keluarga itu dan sebuah anggukan dilakukan oleh Nadine untuk merespon tatapan suaminya. Sebenarnya kedua orangtua Elara itu sudah mendiskusikan ini semalam--sesuai dengan ucapan yang Anton katakan pada Shane--bahwa dia butuh waktu untuk membicarakan hal ini dengan istrinya dan jawaban Nadine adalah mereka tidak boleh menghalang-halangi niat baik Shane dan Elara.


"Sebenarnya, Ayah sangat sulit melepaskan kamu untuk dijaga oleh pria lain, tapi Ayah sadar bahwa putri ayah bukan lagi bayi kecil yang dulu harus ayah jaga bahkan dari gigitan nyamuk. Sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu menentukan pilihan hidup kamu sendiri dan Ayah merestuinya, Nak."


Ucapan sang Ayah langsung membuat kelopak mata Elara melebar.


"Ayah serius? Ayah udah dapat keputusan dan mau merestui hubungan Ela dengan Shane?"


Meski sebenarnya Anton lebih mengenal Kyle ketimbang Shane, tapi ia tau jika putrinya tidak akan memilih pasangan yang sembarangan. Meski Shane masih asing di keluarga mereka--tidak seperti Kyle yang sudah mengenal lebih dulu--tapi Anton sudah tiba pada keputusan yang juga sudah ia sepakati dengan Nadine. Elara berhak memilih pasangannya sendiri dan jika orang itu adalah Shane maka mereka hanya mampu merestui dan mendoakan yang terbaik.


"Iya, Ayah merestui kalian. Jadi, apa kalian sudah menentukan tanggalnya?" tanya Anton kemudian.


Kini Elara menggeleng. Ia dan Shane memang belum membicarakan soal tanggal pernikahan sebab menunggu restu dari kedua orangtua Elara lebih dulu.


"Apa boleh ayah dan bunda yang menentukan tanggalnya?"


"Ya, Ayah. Ela justru senang jika Ayah dan Bunda ikut mengurus soal pernikahan Elara."


Demi apapun, rasanya sekarang Elara sangat bahagia. Perasaan itu juga bercampur dengan rasa lega yang luar biasa. Setelah ini, ia akan segera menelpon Shane untuk memberitahukan kabar baik tersebut karena Shane memang tidak berada dikediaman Elara, melainkan menginap di sebuah Hotel selama bertandang ke Indonesia.


...***...

__ADS_1


Kabar mengenai lamarannya yang sudah diterima, disambut baik oleh Shane dan Emma yang juga sudah mendengarnya lewat saluran telepon.


Tak main-main, hari itu juga Shane berniat untuk membeli beberapa seserahan untuk melengkapi prosesi pernikahannya nanti. Shane ditemani oleh adik lelaki Elara untuk mengunjungi beberapa outlet yang letaknya tidak diketahui oleh pria itu.


Shane juga menanyakan pendapat Saka mengenai apa saja yang akan dibeli. Saka sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara pasti, dia hanya mendapat daftar belanjaan yang dikirim Elara kepadanya untuk dibeli oleh Shane. Elara sengaja tidak ikut dengan mereka sebab gadis itu ingin momen ini membuat Shane untuk lebih akrab dengan Saka.


Sementara Shane sibuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk seserahan. Elara sendiri sibuk mengikuti keinginan Liora yang mengajaknya untuk memanjakan diri di salon.


"Kakak kan mau lamaran besok, jadi gak ada salahnya kalau kita ke salon dulu hari ini. Pasti kakak udah lama gak ke salon, kan?" ujar Liora pengertian.


Mendebat Liora hanya akan berujung percuma, jadi Elara mengikuti saja keinginan adiknya. Mereka melakukan berbagai macam perawatan di salon. mulai dari merawat kuku, sampai melakukan body massage. Sejujurnya Elara memang membutuhkan semua ini karena ia memang sangat lelah, bukan saja karena perjalanannya dari Jerman ke Indonesia melainkan sejak ia kembali dari pelosok desa ke kota pun rasa lelah di tubuhnya sudah bertumpuk-tumpuk.


"Gimana, Kak? Udah lebih fresh kan?" ujar Liora begitu mereka keluar dari salon kecantikan tersebut.


"Iya, dek. Makasih ya udah ingatin kakak buat manjain diri."


Mereka tiba di rumah dan ternyata Shane serta Saka sudah tiba lebih dulu disana. Shane tampak berbincang dengan Nadine dan Anton dalam percakapan yang cukup akrab. Melihat itu, Elara merasa sangat bahagia. Syukurlah jika calon suaminya itu bisa membaur dengan cepat tanpa bantuannya.


"Kalian sudah pulang?" tanya Shane begitu menyadari jika Elara dan Liora sudah kembali.


"Ela, sini ..." Nadine menepuk sofa disisinya, mengajak Elara bergabung disana.


Elara mengikuti permintaan Nadine dan duduk di sebelah sang bunda. Dengan begini, posisinya dan Shane menjadi berhadap-hadapan sekarang.


"Shane udah beli semua perlengkapan untuk acara seserahan resmi besok."


Elara mengangguk, ia dapat melihat semua belanjaan itu yang tersusun di sudut ruangan. Bahkan itu tampak sangat banyak dan diluar ekspektasi Elara sendiri.


"Bunda juga udah bilang sama Shane soal tanggal pernikahannya dan dia udah setuju."


Elara menatap Shane dan pria itu memberi anggukan sebagai tanda bahwa semuanya sudah dilewati dengan baik.

__ADS_1


"Ayah juga udah telepon Ibu Shane di Hamburg. Kita tadi udah bicara-bicara juga lewat video call," timpal Anton.


"Benarkah?"


"Iya, Ibu Shane langsung mengenali Ayah. Beliau ingat jika Ayah sempat mengunjungi Shane saat dia berada di ICU waktu itu."


Mimik wajah Elara tampak terkejut. Ia kembali melihat pada Shane.


"Ibuku sudah menjelaskan pada Ayahmu bahwa waktu itu ada kekeliruan mengenai status Stevi," terang Shane seolah memahami apa yang tadi dijelaskan Anton pada Elara dengan bahasa Indonesia.


"Syukurlah, jadi sekarang semuanya sudah jelas. Dan Ayah percaya kan jika Shane tidak membohongi ayah soal statusnya?"


"Ya, awalnya Ayah bukan tidak mempercayai Shane tapi Ayah cuma ragu. Sekarang semuanya sudah terjawab. Memang ada baiknya menanyakan langsung pada Ibu Shane," kelakar Anton kemudian.


Setelah membicarakan hal tersebut, Anton dan Nadine beranjak dari sana, meninggalkan Elara dan Shane di ruang tamu itu.


"Apa saja yang kau beli?" tanya Elara merujuk ke arah banyaknya paperbag yang tersusun.


"Sesuai list yang kau berikan pada Saka."


"Tapi sepertinya bungkusannya terlalu banyak," gumam Elara yang merasa heran.


"Hmm, ada beberapa yang memang sengaja ku tambahkan," ujar Shane kemudian.


Shane sangat royal dan Elara sudah menyadari hal itu sejak awal perkenalannya dengan sang pria. Bahkan saat mereka terjebak di hutan dengan bahan makanan yang seadanya, pria itu selalu mengusahakan yang terbaik untuk Elara, tanpa pernah perhitungan mengenai apa yang akan mereka makan besok.


"Shane, kenapa kau selalu berlebihan?" lirih Elara.


"Aku ingin menikah satu kali dan itu hanya bersamamu, ku pikir ini semua tidak berlebihan karena semuanya memang pantas untuk kau terima. Ayahmu benar, Lara. Jika kau begitu berharga."


Elara mengulumm senyum sekarang. "Dasar perayu," gumamnya dan itu masih terdengar di indera pendengaran Shane membuat pria itu ikut tertawa karenanya.

__ADS_1


...Bersambung ......


Maaf gak bisa panjang-panjang, lagi kurang enak badan tapi mengusahakan untuk tetap up. Mohon dukungannya ke novel ini ya


__ADS_2