
Kyle tidak bisa mengendalikan diri saat Elara menelponnya. Dengan sangat berat hati ia harus mengutarakan kekecewaannya terhadap wanita itu.
Dilain sisi, Shane yang berada dikantornya mendapatkan laporan mengenai bingkisan yang diterima Elara hari ini. Dan ia juga mengetahui siapa pengirimnya.
Shane mengetuk jari di pinggiran meja sambil berpikir. Ia yakin jika saat ini Elara pasti tengah merasa bersalah pada Kyle.
Mengenai perasaannya sendiri, sebenarnya sejak awal, Shane memang tak begitu senang dengan persahabatan antara istrinya dan pria bernama Kyle itu. Tapi mau bagaimana lagi, Shane tak mau egois dengan melarang istrinya untuk berteman.
Setidaknya, Elara sudah menjadi miliknya dan yang membuat Shane merasa menang adalah Elara memilihnya karena mencintainya.
Dengan mengingat kedua hal itu, Shane berharap bisa menepis rasa cemburunya terhadap sahabat istrinya sendiri. Meski sebenarnya Shane tidak tau sampai kapan ia bisa menahan perasaan sesak seperti ini.
Saat memikirkan tentang hal itu, Shane dikejutkan dengan kedatangan ibunya ke ruangannya di kantor.
Pagi tadi, Shane memang sarapan di satu meja dengan Emma dan tidak banyak berbicara dan membahas apapun. Tapi sekarang, Emma sepertinya datang untuk membicarakan sesuatu.
"Shane apa kau sibuk? Ibu ingin makan siang denganmu nanti."
Dan Shane harus segera mengenyahkan segala pemikirannya mengenai Kyle dan Elara hanya karena kedatangan ibunya ke ruangannya.
"Baiklah. Aku akan memesan tempat di restoran seberang untuk kita makan siang," respons Shane.
"Tidak usah. Jose sudah mengurusnya," kata Emma merujuk nama asistennya.
"Oke." Shane menyahut singkat.
Emma berlalu dari ruangan Shane tanpa basa-basi lagi. Mereka memang sudah terbiasa datar-datar saja jika di kantor.
Tepat di jam makan siang, Shane akhirnya menemui ibunya di Restoran yang sudah di-reservasi oleh Jose. Shane datang kesana bersama Max kemudian duduk dihadapan ibunya setelah Max dan Jose menempati meja yang lain.
"Apa ada hal penting ibu?"
Emma tampak menelisik sekitar, merasa aman untuk bicara barulah ia melanjutkan.
"Kau sudah mendengar sesuatu mengenai mendiang kakakmu?"
Shane mengernyit. "Apa maksud ibu?" tanyanya.
"Ada saksi mata yang melihat jika Shawn selamat dari kecelakaan itu."
Shane menggeleng keras. "Itu tidak mungkin," paparnya tak percaya.
Mobil sport hitam yang digunakan Shawn dihari terakhirnya, bahkan ringsek parah dan terbakar. Seonggok jenazah bahkan ada dibalik kemudi dengan keadaan terpanggang. Apa itu tidak cukup membuktikan jika Shawn benar-benar telah meninggal?
"Sejak awal, ibu memang tidak siap menerima hasil otopsi jenazah kakakmu. Jadi, ibu tidak pernah membuka hasil otopsi itu untuk melihat jawabannya."
Shane sedikit terperangah akan hal ini. "Jadi, ibu tidak membuka map hasil otopsinya?"
Emma mengangguk, mengiyakan.
"Dan setelah ibu mendengar mengenai seseorang yang melihat Shawn, ibu lantas membuka hasil otopsi tersebut dan kau tau apa hasilnya?"
__ADS_1
Shane menaikkan sebelah alis sekarang, bersiap mendengar jawaban ibunya.
"Yang kita kuburkan waktu itu jelas bukan Shawn," desis Emma kemudian.
Shane menarik nafas dalam-dalam sekarang. Jika Shawn memang selamat dari insiden kecelakaan itu, lalu kenapa Shawn tidak kembali ke rumah? Atau Shawn sengaja menghilang dari pandangan publik dan membiarkan saja mengenai kabar kematiannya? Apa sebenarnya yang direncanakan oleh kakaknya itu.
"Lalu dia siapa? Kenapa dia mengemudikan mobil Shawn?" tanya Shane.
"Kita akan mengetahuinya jika kita dapat menemukan jejak kakakmu. Ibu curiga Shawn sengaja menghilang karena kehamilan Stevi dan akan ada saatnya dia kembali apalagi anak yang Stevi lahirkan bukanlah darah dagingnya."
"Maksud ibu ... Shawn sengaja merekayasa ini agar tidak dituntut pertanggungjawaban dari Stevi?" tebak Shane menarik kesimpulan.
"Bukan merekayasa, Shane. Tepatnya, Shawn mengambil kesempatan yang terjadi untuk tidak bertanggung jawab atas kehamilan Stevi."
"Astaga ..." Shane menyugar rambutnya sendiri. Merasa gusar. Jika ternyata Shawn benar-benar masih hidup dan sampai membuat mereka semua terkecoh maka jika nanti Shane bertemu dengan kakaknya itu lagi, ia tidak segan-segan untuk membuat perhitungan.
"Apa segitunya Shawn tidak ingin memiliki anak? Sampai saat Stevi hamil pun dia seolah sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk lepas tanggung jawab," ujar Shane blak-blakan.
"Maksudmu?" Emma yang mengernyit sekarang.
"Shawn pernah mengatakan padaku bahwa dia ingin childfree."
Emma memijat pangkal hidungnya sekarang. "Shawn bilang begitu padamu?"
"Ya."
Emma terdiam nampak berpikir. "Atau justru, sejak awal Shawn tau jika yang dikandung Stevi memang bukan darah dagingnya."
"Bisa jadi," jawab Shane tegas. "Dan hampir saja aku yang harus mempertanggungjawabkan semua itu!" protesnya kemudian.
"Hmm ..." Shane hanya berdehem. Sesungguhnya ia sangat bingung mau menjawab apa atas pernyataan terakhir ibunya itu.
Mereka larut dalam keheningan beberapa saat. Sampai akhirnya, Emma memecah senyap dengan ucapannya yang membuat Shane menyetujui usul itu.
"Temukan kakakmu, Shane. Ibu yakin dia memantau kita dari kejauhan."
"Ya, ku rasa juga begitu. Aku akan mencari cara untuk memancingnya datang," ujar Shane.
...****...
Shane pulang ke rumah dan mendapati istrinya yang sedang membaca buku di balkon kamar sore itu.
"Kau sudah pulang?" Elara terperanjat kaget saat merasakan ada sebuah tangan yang tiba-tiba mengusap puncak kepalanya.
"Terlalu fokus membaca novel membuatmu tidak menyadari kepulangan suamimu bahkan tidak menyambutnya," kata Shane berlagak mengeluh.
Elara memasang wajah sungkan. "Maafkan aku, ya, ya, ya?" Ia menangkup sisi wajah Shane dengan kedua telapak tangannya.
Shane mengambil jari jemari Elara yang ada dipipinya, kemudian mengecup itu singkat.
"Aku akan memaafkanmu dengan syarat ..."
__ADS_1
Elara memicing sekarang, bersiap mendengar syarat yang akan diberikan suaminya.
"Apa?" tanya Elara.
"Temani aku mandi."
Elara menggeleng keras. "Tidak, Shane. Aku sudah mandi tadi dan bisa basah lagi jika menemanimu mandi." Bukan hanya basah, bahkan bisa saja ia ikut dimandikan oleh suaminya ini, pikir Elara.
Shane berlagak merengut. "Kalau begitu, aku tidak akan memaafkanmu," ancamnya.
Elara mendengkus pelan dan Shane justru terkekeh melihatnya.
"Bagaimana, Honey?"
Elara mengerucutkan bibir sambil bersungut-sungut. "Apa aku punya pilihan lain?" tanyanya.
"Tidak."
"Ya sudah, aku tidak memiliki pilihan lain."
Dan dugaan Elara tidak meleset sedikitpun, Shane benar-benar membawanya ikut mandi di bathub yang bertabur busa sabun.
"Ada yang ingin ku bicarakan ..." Shane berujar pelan di dekat telinga Elara, membuat wanita itu sedikit menelengkan kepalanya agar dapat melihat Shane yang duduk dibelakangnya.
"Apa?"
"Aku mendengar kabar jika Shawn masih hidup."
Elara sontak terkejut, bukan hanya karena berita yang Shane sampaikan tapi juga karena Shane menghisapp lehernya dengan kuat setelah kalimatnya tercetuskan.
"Shane, nanti dulu... aku mau mendengar soal Shawn, apa aku tak salah dengar tadi?" tanya Elara sambil mendorong sedikit wajah Shane yang sudah dicondongkan ke ceruk lehernya.
Shane mengangguk. "Ya, kabarnya dia masih hidup," paparnya.
"Lalu yang ada di makam?"
"Sepertinya ada kesalahan. Ibu yang tidak sanggup atas kematian Shawn, tidak membuka hasil otopsi, hingga akhirnya jenazah itu dikuburkan dengan identitas Shawn."
Elara menyimak perkataan Shane dengan sedikit melongo.
"... kabarnya, setelah ibu mendengar selentingan jika Shawn masih hidup, barulah ibu membuka hasil otopsi dari Rumah Sakit dan hasilnya ... jenazah itu memang bukan Shawn.
"Astaga ..." Tentu saja hal ini mengejutkan Elara juga meski sebenarnya ia tidak mengenal Shawn.
"Aku memberitahumu mengenai hal ini karena aku ingin kau tidak terkejut lagi nanti jika suatu saat Shawn datang ke rumah dan memperkenalkan diri sebagai saudaraku."
Elara mengangguk. "Wajahnya mirip denganmu?" tanyanya kemudian.
"Ya, begitulah. Kami memiliki wajah yang nyaris sama. Karena aku dan Shawn adalah kembar identik."
Dan kini Elara tau kenapa Stevi bersikukuh untuk dinikahi Shane waktu itu, mungkin karena faktor kemiripan wajah yang menjadi salah satu pemicu obsesinya. Wajah Shane jelas mengingatkan Stevi akan kekasihnya sendiri, Shawn.
__ADS_1
"Tapi aku yakin kau pasti bisa membedakan kami nantinya." Shane menyimpan bibirnya di perpotongan leher Elara dan kembali menghisapnyaa kuat-kuat.
...Bersambung ......