ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
40. Menurutlah


__ADS_3

Elara keluar dari kamar mandi saat ia mendengar Shane yang terlibat percakapan melalui sambungan seluler. Entah siapa yang Shane hubungi, yang jelas Elara mendengar Shane marah-marah disana.


Saat Elara kembali ke hadapan pria itu dengan pakaian rumahannya, Shane segera memutus panggilannya. Sebelumnya, Elara memang berpamitan untuk membersihkan diri karena ia baru pulang mengajar saat Shane sudah berada didalam huniannya.


"Siapa orang sial yang kau telpon?" tanya Elara datar.


Shane mengambil posisi disamping Elara dan mengambil alih handuk kecil yang digunakan Elara untuk mengeringkan rambutnya. Elara menolak bantuan Shane namun pria itu memberi isyarat mata yang Elara tau artinya jika Shane tak ingin ditolak.


Elara membiarkan Shane membantunya untuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil itu. Ia menikmati pijatan ringan Shane yang juga dilakukan bersamaan saat melakukan kegiatan itu.


"Kau tidak mau memberitahuku siapa orang sial yang kau telpon itu?" tanya Elara lagi.


"Kenapa kau menyebutnya orang sial?" respons Shane.


"Karena aku mendengar beberapa kali saat kau mengatakan dia sialan," tutur Elara jujur dari posisinya yang membelakangi Shane.


Shane melanjutkan pijatannya di kepala Elara. "Itu Max, asistenku. Aku hanya marah padanya karena pekerjaannya tidak becus," paparnya.


Elara sedikit menelengkan kepala untuk melihat Shane sekilas. "Kau mau cepat tua dengan marah-marah?" kelakarnya.


"Tidak, aku tidak ingin menua jika tidak bersamamu."


Elara menahan geli, ternyata Shane tidak berubah juga. Masih saja si perayu ulung.


"Maka dari itu, jangan sering marah-marah," kata Elara memperingatkan.


"Aku marah pada Max karena dia tidak memberitahuku soal pria yang melamarmu. Bukankah aku membayarnya untuk menjagamu dari jauh, lalu bagaimana bisa saat ku tanya dia mengatakan tidak mengetahui mengenai hal itu. Dia juga bilang tidak pernah melihat kau dekat dengan pria manapun. Tidak salah kan, jika aku marah padanya saat hal penting seperti itu terlewatkan olehnya?"


Elara menipiskan bibir. Ia jadi merasa bersalah pada Max, karena ujaran Elara sebelumnya--yang mengatakan mengenai lamaran--justru membuat asisten Shane itu terkena dampaknya.


"Sepertinya rambutku mulai mengering. Terima kasih, Shane."


Elara ingin beranjak tapi Shane memegang pergelangan tangannya sambil mendongak ke arahnya.


"Ibu mau bertemu denganmu."


Mendadak, tubuh Elara menegak.


"Ibu ... mau meminta maaf padamu."


Sekarang Elara menoleh pada Shane dan tatapan pria itu tampak meyakinkan Elara jika semua yang ia katakan itu adalah kebenaran.


"Kau mau, kan?" tanya Shane lagi. "Kau mau memaafkan ibu, kan? Meski nanti ibu akan mengucapkannya secara langsung tapi aku mewakilinya lebih dulu. Tolong, maafkan ibuku, demi ... kita."


Dan ujung kalimat Shane yang mengatakan 'demi kita' adalah hal yang membuat hati Elara terenyuh.


"Apa kau sudah lupa jika tadi aku mengatakan bahwa ada seseorang yang sudah melamarku?" desis Elara.


"I know. But I don't care. Sejak awal, kau adalah milikku, maka aku akan memintamu kembali padaku."


"Shane ..."


"Jangan mempersulit ku lagi, Lara. Tidak bisakah kau berkata iya untuk membuatku tenang? Tidak cukupkah selama enam bulan ini kita sama-sama tersiksa karena jarak dan perpisahan. So please, jangan uji aku lagi," mohon Shane membuat Elara bungkam.

__ADS_1


Ya, memang Elara berniat menguji Shane saja soal ujarannya yang mengatakan mengenai lamaran dari pria lain. Yang dimaksud Elara disini tentu saja lamaran dari si bocah--Calvin--dan Elara memang berniat mengerjai Shane saja, rupanya pria itu menganggap semuanya serius sampai memarahi Max yang tidak memberikan info terkait hal ini. Jelas saja, Elara memang tak pernah dekat dengan pria manapun selama mengajar di pelosok Desa.


"Soal Stevi?" tanya Elara hati-hati.


"Dia sudah pergi dari kediaman keluargaku."


"Bagaimana bisa?" Elara cukup terkejut dengan hal ini.


Shane mengendikkan bahu. "Itu memang sudah semestinya. Stevi melahirkan putrinya dan ternyata itu bukan anak kakakku. Sejak itu, ibu langsung memintanya untuk pergi karena dia sudah menipu ibuku."


Elara menganggukkan kepala. Dia sudah memahami situasinya dan tau kenapa baru sekarang Shane menemuinya lagi meski pria ini mengatakan jika dia sudah mengetahui keberadaan Elara sejak dua hari kepergiannya.


"Kau mau, kan?" tanya Shane yang kini ikut berdiri dihadapan Elara.


"Ya," jawab gadis itu dengan senyuman tipis.


Kelopak mata Shane melebar mendengarnya. "Thank you, thank you," ujarnya dan menghujani ciuman di telapak tangan Elara yang masih ia pegang.


...***...


Elara tidak enak jika Shane terus berada di huniannya. Selepas makan siang bersama dengan Shane yang menikmati masakannya, Elara meminta pria itu untuk segera pergi.


Akan tetapi, Elara sempat teringat bagaimana awalnya Shane bisa berada dan masuk ke dalam tempat tinggalnya itu dan jawaban Shane cukup membuat Elara terperangah.


"Aku bisa melakukan apapun yang ku mau."


Dan Elara berdecak lidah saat mendengarnya.


Shane terkekeh. "Aku menemui kepala yayasan di desa ini. Aku bilang jika aku tunanganmu dan ingin memberimu kejutan dengan kedatanganku."


"Dan kepala yayasan percaya begitu saja?" tanya Elara.


"Tentu saja aku harus meyakinkannya dulu, dan aku berhasil." Shane memangkas jarak diantara mereka dan Elara sudah dapat menebak apa yang akan Shane lakukan sekarang.


"No, Shane."


Shane berdecak saat Elara menolaknya yang ingin mencium gadis itu. Elara bahkan memundurkan wajah agar mereka kembali berjarak.


"Kau sudah melakukannya tadi dan sekarang tidak lagi."


"Once again. Setelah itu aku pergi."


Elara berdehem sekilas. "Tidak, Shane. Disini adalah tempatku mengajar jadi jangan melakukannya lagi," ucapnya.


"Disini hanya kita berdua. Dan ini bukan ruang kelas."


"Jangan mencari alasan. Itu keputusanku."


Shane menghela nafas pelan. "Baiklah. Aku menerima keputusanmu," ujarnya dengan senyuman tipis. Ia memahami keadaan Elara sebagai tenaga pengajar yang tidak seharusnya melakukan hal itu di ruang lingkup pekerjaan.


"Kau menginap dimana selama disini?" tanya Elara.


"Ada sebuah penginapan sangat sederhana yang ku sewa. Letaknya tidak terlalu jauh dari sini."

__ADS_1


Elara mengangguk, sepertinya ia tau tempat yang dimaksud oleh Shane sebab tempat seperti itu memang tidak banyak di desa ini.


"Besok ku jemput pagi-pagi sekali agar kita bisa kembali ke kota."


Ucapan Shane membuat mata Elara membola.


"Tapi pekerjaanku?"


"Aku sudah mengurusnya," jawab Shane dengan entengnya.


"Tapi Shane ..."


"Lara, banyak yang akan kita urus setelah ini. Aku juga masih harus menemui keluargamu, kan? Jadi ... sekali saja, dengarkan aku, ikuti aku dan jangan mendebatku."


Elara menghela nafas panjang. "Baiklah," jawabnya pasrah.


Shane hampir meninggalkan kediaman Elara saat tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Shane berbalik lagi dan membuat Elara mengernyit bingung diposisinya.


"Apa lagi?" tanya Elara.


"Pria yang melamarmu itu, aku ingin bertemu dengannya."


Sekarang Elara mengulumm senyum. "Apa aku ada mengatakan jika dia seorang pria?" ujarnya menahan geli.


"What? Maksudmu?" tanya Shane heran.


"Nanti kau juga akan tau. Aku akan mengenalkan mu padanya."


"Oke, aku menunggu momen itu dan tidak sabar bertemu dengannya yang berniat mengambil milikku," kata Shane serius.


Elara terkekeh pelan, yang pada kenyataannya ia ingin tergelak kencang sekarang.


"Ya, ya, ku harap kau tidak berkelahi dengannya."


"Tergantung keadaannya," jawab Shane acuh tak acuh.


Elara menahan geli kemudian melambaikan tangan sebagai isyarat menyuruh Shane lekas beranjak.


Shane mengangguk kemudian benar-benar keluar melewati pintu hunian itu.


"Shane? Apa kau adalah Shane?"


Shane menghentikan langkah saat mendengar seseorang menyebut namanya. Pria itu menoleh dan mendapati Jasmine di belakang tubuhnya.


"Ya, aku Shane. Kau pasti Jasmine."


Jasmine tersenyum sambil mengangguk, ia tak menyangka Shane mengetahui namanya.


"Syukurlah kau sudah datang menjemputnya," kata Jasmine yang ikut bahagia dengan hal ini.


"Ya, terima kasih sudah menemani Elara selama enam bulan ini," kata Shane tulus.


...Bersambung ......

__ADS_1


Vote nya mana yaaa? lanjut enggak sih? 😅


__ADS_2