
Shane masih tidak habis pikir kenapa bisa Elara mengerjainya seperti ini. Padahal ia sudah bersiap untuk menemui pria yang 'katanya' telah melamar Elara.
Akan tetapi, saat Elara memperkenalkannya dengan Calvin pagi tadi, mau tak mau akhirnya Shane terkekeh juga. Bukan hanya karena lamaran itu yang ternyata dilakukan oleh seorang bocah berumur 7 tahun, tetapi juga karena sifat bocah itu memang sangat menyebalkan.
"Jangan mencoba membawa Kak Elara dari sini, dia itu calon istriku!" kata Calvin menantang Shane dengan keberaniannya.
Disitulah Shane sadar jika Elara telah mengerjainya. Meski akhirnya, Shane harus menjawab segala pertanyaan konyol Calvin yang cukup banyak--agar bisa mengajak Elara pergi dari tempat itu.
Salah satu pertanyaan konyol bocah itu adalah,
"Apakah kau pernah membuat Kak Elara tertawa? Jika tidak, maka biarkan dia bersamaku disini, karena disini dia selalu ku buat bahagia."
Rasanya tidak cukup jika Shane hanya menepuk jidatnya satu kali. Melihat tingkah Calvin membuatnya harus menepak kepala sendiri secara berkali-kali.
Yang akhirnya pertanyaan Calvin itu dijawab Shane bukan dengan jawaban melainkan dengan pertanyaan juga.
"Pernahkah kau membuat Elara yang penakut menjadi pemberani? Aku sudah melakukannya karena dulunya Lara-ku takut dengan cacing, sekarang tidak lagi dan kau tau ... semua itu berkat diriku," ujar Shane dengan pongahnya yang hakiki.
Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot dengan bocah kecil itu, akhirnya Shane benar-benar merealisasikan ucapannya untuk mengajak Elara pergi ke kota hari ini--tepatnya ke kediaman keluarganya--untuk menemui sang ibu.
Ya, bagaimanapun bersikukuhnya Calvin saat menahan kepergian Elara, nyatanya Elara memang harus ikut bersama Shane yang telah menjadi pemenangnya. Baik dulu maupun saat ini.
Dan disinilah mereka sekarang. Berada didalam mobil yang disopiri oleh Max dengan Shane dan Elara yang duduk di belakang dengan pemikiran masing-masing. Elara banyak diam, sedang Shane masih kepikiran soal rival kecilnya yang sempat mengajaknya beradu argumen beberapa saat sebelumnya.
"Kau kenapa, Lara?" tanya Shane pada Elara yang memperhatikan jalanan lewat jendela mobil.
Gadis itu menoleh lalu menggeleng singkat. "Aku tidak apa-apa," jawabnya. Yang kemudian menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan. "Aku hanya kepikiran anak-anak. Terutama Calvin. Kasihan dia sampai menangis karena aku pergi," paparnya.
"Oh jadi kau memikirkan anak itu?"
"Ya, kepergian ku mendadak, harusnya aku sudah berpamitan pada mereka dulu sebelum memutuskan pergi, tapi aku tidak tau kau datang kemarin dan mengajakku langsung pergi hari ini," jawab Elara dengan sendu.
Shane menggaruk pelipisnya sekilas. "Maafkan aku, karena sudah mendesakmu untuk segera meninggalkan tempat itu," katanya pelan.
"Ya, mau bagaimana lagi. Cepat atau lambat aku memang akan meninggalkan tempat itu, hanya saja aku tidak menyangka saat itu adalah sekarang yang terasa tiba-tiba. Harusnya aku membuat perpisahan yang baik dimata semua muridku disana."
Shane mengelus punggung tangan Elara lembut. "Kita masih bisa kesana lagi nanti, setidaknya untuk melihat perkembangan dan mengunjungi mereka yang sempat kau kenal dengan baik. Sekarang saatnya untuk kita menyelesaikan urusan pribadi kita lebih dulu," papar Shane dengan genggaman yang terasa semakin mengerat pada jemari Elara.
Elara tersenyum simpul sembari menganggukkan kepala. Shane benar, sekarang saatnya bagi mereka untuk mengurus segala hal yang tertunda selama enam bulan berpisah.
"Apa kau menyukai Calvin?"
Elara terkikik sekarang. "Jangan bilang kalau kau cemburu padanya?" ujarnya mengolok.
"Ya, harus ku akui dia anak yang pintar dan manis. Wajahnya jika dewasa juga pasti tampan. Syukurnya dia hanya seorang bocah, jika dia pria dewasa mungkin kau juga akan tertarik padanya," keluh Shane terus terang.
Sekarang Elara memutar bola matanya dan Shane ikut tertawa.
"Kau tau, kau dan Calvin memiliki sikap yang mirip. Terkadang aku melihat kau didalam dirinya. Jasmine benar jika Calv seperti kau versi mini."
"Hahaha." Shane benar-benar terbahak sekarang. "Dan sepertinya dia perayu ulung juga sepertiku. Iyakah?" tebaknya.
Elara mengangguk. "Aku sempat menyebutnya begitu," ujarnya terus terang.
__ADS_1
"Sepertinya nanti aku akan datang kesana lagi dan mengucapkan terima kasih pada Calv."
"Why?" Elara mengernyit bingung.
"Karena berkat dirinya kau jadi terus mengingatku."
Kali ini Elara tak menjawab, seolah pernyataan Shane barusan memang benar adanya.
Shane merangkul bahu Elara dan membawa tubuh gadis itu untuk didekapnya dalam posisi yang bersampingan.
"Apa ibumu akan menerima kedatanganku hari ini?"
Shane mengangguk dalam posisinya. "Pasti," jawabnya yakin.
"Kenapa kau seyakin ini?"
"Karena ibu yang memintaku untuk mencari dan membawamu padanya."
Sekarang Elara mendongak agar dapat melihat pada wajah tampan pria itu. Tatapan mereka bertemu dan Shane mengulas senyum kelegaan disana.
"I love you," kata Shane tanpa suara.
Wajah Elara langsung terasa memanas. Mungkin saat ini pipinya sudah merona. Ia sengaja mengalihkan pandangan agar terlepas dari jerat tatap yang Shane berikan. Elara menyusupkan sisi wajahnya ke dada bidang Shane dan ikut memeluk pinggang pria itu dari samping. Hingga lambat laun merasa amat nyaman dalam posisi tersebut.
Shane tersenyum lega sekarang, karena kini gadis yang dicintainya sudah berada dalam sisinya, ia takkan mau terpisah lagi meski ia sadar ada satu masalah lagi yang akan ia hadapi dihadapan sang ibu. Tentu saja soal kebohongannya mengenai kehamilan Elara.
Shane merasakan embusan nafas Elara yang menerpa dadanya secara teratur, Shane melirik gadisnya sekilas dan sadar jika Elara tengah tertidur. Shane membiarkan itu, lagipula perjalanan mereka masih amat jauh. Andaikan saja perjalanan ini bisa dilakukan menggunakan pesawat mungkin Shane akan memilih transportasi itu untuk memudahkannya membawa Elara kembali namun pedesaan tempat Elara mengajar tidak terdapat landasan penerbangan apalagi bandar udara.
Shane sempat berpikir untuk menggunakan helikopter saja, tapi ia tau itu akan menarik perhatian banyak orang di desa sehingga mau tak mau akhirnya ia mengikuti aturan yang seharusnya dimana ia hanya bisa menggunakan transfortasi roda empat yang tidak terlalu mencolok.
Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam itu membuat Elara sangat lelah. Ia tidak ingat sejak kapan tepatnya ia mulai tertidur dalam pelukan Shane saat didalam mobil, yang jelas sekarang ia terbangun--tepatnya dibangunkan--oleh Shane ketika mereka sudah tiba disebuah pelataran yang Elara yakini jika mereka telah tiba di perkotaan.
"Kita sudah sampai, Shane?" Elara melihat sekeliling dan sadar jika kini mereka bukan sedang dihalaman rumah besar keluarga Gladwin.
Shane tak menyahut, dia terlalu fokus menyaksikan Max yang membantu menurunkan beberapa barang milik Elara dari dalam mobil.
"Kita dimana, Shane?" Elara mengadah pada gedung tinggi di hadapannya. Ia tau ini bukan gedung Apartmen yang sempat ia tinggali saat di Hamburg.
"Ini gedung Apartmenku. Ayo!" ajak Shane kemudian.
"Bukankah kita akan bertemu ibumu?" tanya Elara.
"Ya, tapi ku lihat kau begitu lelah jadi istirahatlah beberapa jam disini agar kau bisa menemui ibuku dengan keadaan yang lebih segar."
Elara paham sekarang dan ia mengikuti saja langkah Shane yang membawanya sampai ke puncak teratas gedung. Ya, tempat tinggal Shane adalah sebuah penthouse yang berada dipuncak alias tower tertinggi gedung pencakar langit tersebut. Elara tak tau tempat ini sebab ia memang belum pernah kesini sebelumnya, bahkan saat ia dan Shane masih baik-baik saja--dulu.
"Masuklah," kata Shane mempersilahkan Elara.
Elara masuk ke hunian yang ya ... mewah itu. Ia melihat dan memindai sekeliling yang bernuansa nyaman. Ia dapat menilai selera prianya yang manly dari tampilan desain ruang yang ada di tempat tersebut. Ia juga tau jika Shane adalah tipikal pria dewasa yang tidak menyukai pernak-pernik berlebih dalam rumahnya. Overall, kediaman Shane sangat menenangkan.
"Kau suka disini?" tebak Shane saat melihat sikap Elara yang memperhatikan sekitar.
"Ya, disini nyaman." Elara mengakui secara terus terang.
__ADS_1
"Baguslah. Kau bisa tinggal disini mulai sekarang."
Elara berdecak, menunjukkan protesnya akan kalimat Shane.
"Kita belum menikah, Shane."
"Aku tau." Shane memangkas jarak diantara mereka, menatap Elara lamat-lamat dari posisinya. "Tapi bukan berarti kau harus tinggal jauh dari pengawasanku lagi," lanjutnya dengan nada intimidasi yang kental.
"Aku bisa tinggal di Apartmen ku yang lama." Elara membuang muka sembari menahan dada Shane dengan kedua tangannya.
"Kau lupa jika kau sudah tidak mengajar di universitas lagi? Ku pikir fasilitas Apartmen lamamu sudah ditarik."
Dan Elara melengos sebab yang diucapkan Shane itu benar. Dalam hati Elara berterima kasih pada Shane karena mengingatkannya yang lupa akan kenyataan itu.
Shane memajukan wajah saat merasa dorongan tangan Elara di dadanya mulai melemah, ia ingin melabuhkan sebuah kecupan pada bibir ranum yang selalu membuatnya merindukan.
"Barang-barangnya sudah saya susun di--" ucapan Max terhenti bersamaan dengan gerakan Shane yang juga terhenti di depan bibir Elara.
Kedua pria dewasa itu saling menatap. Max dengan tatapan sungkan karena tidak menyangka akan menyaksikan adegan Shane yang akan mencium Elara. Sementara Shane menatap asistennya itu dengan sorot kesal sebab Max mengganggu momennya.
"Maaf, Tuan. Saya akan segera pergi dari sini," papar Max yang sadar diri, takut dimarahi ia pun buru-buru meninggalkan unit apartmen tersebut dengan langkah yang jenjang.
Sementara Elara sendiri, sangat malu karena kebersamaannya dengan Shane harus tertangkap oleh lensa mata Max. Wajah Elara bahkan sudah memerah karena kejadian ini.
Shane ingin kembali mencium Elara dan melanjutkan hal yang sempat tertunda karena kemunculan Max yang tiba-tiba tapi Elara malah enggan meneruskannya.
"Aku malu, Shane."
"Max sudah pergi," lirih Shane.
"Kita tidak bisa hanya berdua disini atau akan ada kesalahan lain nantinya," kata Elara memperingatkan.
"Tapi, Sayang?"
Elara membuat jarak diantara mereka, kemudian berujar pelan. "Kau memintaku kesini untuk beristirahat, kan? Aku akan istirahat sekarang tapi bisakah kau tidak menggangguku?"
Dan sekarang Shane hanya bisa menghela nafas panjang, sepertinya ia memang harus lebih bersabar untuk mendapatkan Elara seutuhnya.
"Baiklah, kau bisa istirahat di kamarmu."
"Kamarku?"
"Ya, kamarku adalah kamarmu juga."
"Aku tidak mau, Shane," tolak Elara.
"Aku tidak menetap di kamar itu selama kau tinggal disini. Bagaimana?"
Elara mengangguk menyetujui dan berlaku menuju letak kamar yang baru saja Shane tunjukkan.
"Hais ... sabar Shane, sabar ..." Shane mengurut dadanya sendiri untuk memberi dorongan kesabaran disana.
...Bersambung ......
__ADS_1
Mohon dukungan buat novel ini. Dukung dengan like, komen, vote dan berikan gift nya💚🙏✅✅