
Shane mendapat panggilan ketika ia baru saja tiba di Apartmennya. Itu adalah panggilan dari sang Ibu. Shane tidak begitu terkejut, justru ia dapat menebak apa yang akan ibunya bicarakan melalui sambungan seluler itu. Shane juga menebak jika sang ibu sudah tiba dikediaman keluarganya sekarang.
"Shane, kenapa kau harus pergi dari rumah? Ibu sudah pulang dan kau tidak ada. Kau bilang mau bicara dengan ibu. Ibu tunggu kau di rumah, sekarang juga!"
Shane sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara sang ibu yang melebihi kecepatan kereta listrik. Namun Shane hanya menyahut singkat atas semua kalimat panjang ibunya.
"Hmmm ..."
Lalu panggilan itu pun terputus begitu saja.
Shane menipiskan bibir, tersenyum kecil sambil memutar-mutar ponselnya sekilas, lalu ia kembali keluar dari unit apartmennya dengan gelagat yang sangat tenang.
Shane sudah bertekad tidak akan melawan ibunya dengan suara keras, melainkan ia akan menghadapi ini dengan santai agar bisa membuka pikiran ibunya.
Shane tiba dikediaman keluarga Gladwin dua puluh menit kemudian. Menghadap ibunya yang sudah ia duga didampingi oleh wanita berbadan dua. Siapa lagi jika bukan Stevi.
Shane menduga jika Stevi sudah menceritakan pada sang ibu mengenai kepergiannya dari rumah. Entah cerita itu ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi agar terdengar dramatis di telinga ibunya.
Namun yang jelas, Shane tidak akan gentar sekarang, karena ia sedang mempertahankan keyakinannya dan prinsip yang ia junjung--bahwa ia tidak akan pernah mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan perbuatannya.
"Shane? Akhirnya kau pulang juga."
Shane duduk berhadap-hadapan dengan kedua wanita itu. Melipat kedua tangan di dada dan bersedekap dengan santainya.
"Siapa yang mau bicara lebih dulu?" tanya Shane memulai.
Emma menatap putranya yang menunjukkan sikap tenang, namun entah kenapa itu terlihat menyebalkan dimatanya.
"Oke, ibu yang duluan bicara disini."
Shane mengangguk-anggukkan kepalanya. "Silahkan," katanya mempersilahkan.
Lagi-lagi Emma merasa sikap Shane agak berbeda, Emma melirik Stevi dan wanita itu mengangkat bahu perihal isyarat tanya yang diberikan oleh Emma.
"Kapan kau akan menikahi Stevi?" Emma memulai pembicaraannya secara to the point.
"Ibu sudah tau itu tidak akan terjadi."
__ADS_1
"Ibu masih berharap kau berubah pikiran Shane."
"Kenapa, Bu?"
"Tentu saja karena Stevi mengandung keturunan keluarga kita. Anak yang ada didalam kandungan Stevi itu cucu ibu, Shane."
"Ya, mungkin itu benar. Atau mungkin juga tidak." Kini Shane menyeringai pada Stevi yang memasang wajah ketat disana.
"Shane!" protes wanita berbadan dua itu. "Tentu saja ini adalah anak Shawn, yang artinya adalah keturunan keluarga Gladwin," tukasnya menekankan.
Shane mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Kita tidak pernah tau sebelum bayi itu lahir dan mengecek DNA nya," ujarnya santai.
"Shane!"
Sementara Emma menatap interaksi Stevi dan Shane yang baru saja dimulai dan sudah membuat keributan.
Stevi tampak meledak-ledak tak terima dengan ujaran Shane, sementara Shane sendiri--lebih menyikapinya dengan sikap tenang.
Emma jadi pusing sendiri. Wanita tua itu memijat pelipisnya.
"Sudah! cukup!"
"Cukup, Shane! Kau berujar seolah aku wanita murahan yang bermain dengan banyak lelaki selain mendiang kakakmu!" Stevi menangis dan Emma semakin bingung melihatnya.
Emma mencoba membujuk Stevi, sementara Shane berdecak lidah melihatnya. Ia merasa jika sekarang Stevi sedang memainkan akting sedih saja.
"Oke, baiklah. Ku anggap itu sebagai anak Shawn." Shane kembali berkata-kata. "Tapi, seperti yang sudah ku katakan bahwa aku tidak akan mempertanggungjawabkan anak itu sebab itu bukan perbuatanku!" lanjutnya menekankan.
"Shane! Apa kau tidak kasihan pada Stevi? Ayolah, Nak. Kasihan bayi ini jika dia lahir tanpa sosok ayah," mohon Emma pada putranya.
"Bilang saja Ayahnya sudah meninggal. Kenyataannya memang begitu, kan?" Shane masih menyahut pelan tanpa emosi sedikitpun.
Namun jawabannya kali ini berhasil membuat emosi Emma semakin meninggi.
"Kau keterlaluan sekali, Shane! Ibu percaya pada Stevi jika itu adalah anak Shawn, jadi tolong menikahlah dengan Stevi. Anggap itu sebagai permintaan terakhir ibu!"
"Tidak, Bu!" Kali ini Shane berkata tegas. "Aku tidak mau dan itu sudah final," katanya sembari ingin beranjak.
__ADS_1
Emma menatap Shane dengan tatapan kecewa, kendati demikian ia tidak mungkin memaksa Shane lagi karena ini memang bukan tanggung jawab Shane.
"Baiklah, ibu. Aku akan pergi saja, dan membawa anakku ikut bersamaku!" ancam Stevi sembari mengusap kasar airmatanya sendiri.
Emma menggeleng lemah, ia merasa bayi dalam kandungan Stevi adalah cucu pertamanya, mana mungkin ia membiarkan Stevi pergi bersama bayi itu.
"Tidak, tolong jangan melakukan hal itu, Stevi. Anakmu adalah cucuku, ibu akan memaksa Shane apapun caranya."
Shane yang masih berada diambang pintu, dapat mendengar itu dengan cukup jelas. Emosinya tiba-tiba membumbung tinggi lalu secara mendadak sebuah ide terlintas dikepalanya.
"Dengar!" Suara tegas Shane berhasil membuat kedua wanita yang saling bicara itu menoleh kembali padanya. "Selain mau menolak mengenai pernikahanku dengan Stevi, aku juga mau mengatakan satu hal bahwa ..." Shane menatap wajah ibunya lamat-lamat, sebelum akhirnya melanjutkan kata.
" ... bahwa, kekasihku juga tengah mengandung anakku dan itu juga keturunan Gladwin, aku harap ibu dapat memikirkannya lagi. Mana yang lebih pantas ku pertanggungjawabkan sekarang. Apakah menikahi Stevi yang hamil anak Shawn? Atau justru bertanggung jawab pada darah daging ku sendiri yang ada di kandungan kekasihku!"
Dan ujaran Shane, berhasil membuat mata Stevi terbelalak. Pun dengan Emma, wanita tua itu terduduk lemas di sofa sambil memijat pelipisnya.
Jika Shane menikahi kekasihnya yang juga hamil, lalu siapa yang akan menjadi ayah untuk anak Stevi?
"Se-sejak ka-kapan kau punya kekasih?" tanya Emma dengan nada tak percaya.
"Aku tidak perlu mengumumkan soal hubunganku yang belum jelas. Tapi, karena sekarang Lara hamil, ku pikir sekarang waktunya aku memberitahu pada Ibu."
"Kau sedang bercanda kan, Shane?" timpal Stevi yang menginterupsi perkataan Shane pada sang ibu.
Kini Shane menatap Stevi kembali. Ia tersenyum meremehkan. "Kau yang bercanda, Stevi! Bagaimana bisa kau memintaku menikahimu, lelucon macam apa itu?" sarkasnya.
Stevi mendengkus keras. Ternyata firasatnya tidak salah, jika Shane sudah memiliki kekasih. Tapi, mendengar kekasih Shane hamil maka harapannya untuk dinikahi oleh pria itu akan segera musnah.
"Aku tidak percaya. Jika benar gadis yang kau kencani itu hamil, seharusnya kau membawanya juga kesini!" kata Stevi memancing, ia ingin segera bertemu dengan kekasih Shane agar ia bisa mencari cara apapun untuk memisahkan mereka. Dengan kata lain, Stevi mengatakan ini agar Shane memperkenalkan wanita itu padanya supaya ia mengetahui siapa orangnya.
"Baik, nanti kau akan tau ketika aku mengenalkannya pada ibu." Shane menatap ibunya. "Bagaimana ibu?" tanya Shane dengan seringaian tipis.
Emma yang masih dijalari rasa pening, hanya menggeleng samar sebagai respon pertanyaan Shane.
"Aku tetap akan mengenalkannya pada ibu. Dan ku harap ibu bisa bersikap adil karena Lara juga sedang mengandung cucu ibu, sama seperti Stevi," ucapnya menekankan.
...Bersambung ......
__ADS_1
Mana dukungannya, guys? Ayo kirim kopi + bunga kesini biar semangat up Othornya❤️ makasih🙏