
Tiba di hari ke-5, Shane dan Elara berencana menikmati kawasan pantai sebelum besoknya harus kembali ke Hamburg.
Mereka akan menjelajahi Dubai Marina dengan Yellow Boat Tour.
Tur ini cukup memanjakan Shane dan Elara untuk melalui penjelajahan wisata Dubai Marina, Atlantis Hotel dan Burj Al Arab Hotel.
Dengan menggunakan boat, mereka ditemani oleh seorang pengemudi dan seorang pemandu wisata yang bisa menjelaskan setiap destinasi wisata disana.
Sebelum mengikuti tur ini, Elara memakaikan sunscreen di tubuhnya juga di tubuh sang suami. Ini ia lakukan agar kulit mereka tidak terbakar oleh paparan sinar matahari yang cukup terik. Tak lupa pula mereka membawa kacamata hitam agar tetap bisa melihat pemandangan meski disana menyilaukan dan boat yang mereka naiki sedang melaju dengan kencangnya.
Dengan menggunakan boat selama kurang lebih 1,5 jam, Shane dan Elara menjelajahi Dubai Marina, melihat pemandangan Hotel Atlantis dan Burj Al Arab yang nampak seperti kapal layar dari kejauhan..
Sebenarnya pemandangan itu juga akan indah disaksikan pada malam hari, namun karena mereka sudah terlanjur mengatur jadwal untuk kesana pada siang hari jadi Elara dan Shane tetap menikmati liburannya.
Hotel Atlantis adalah kawasan yang berada di Pulau Palm Jumeirah dan termasuk kawasan yang private. Kebetulan Shane dan Elara memang tamu yang menginap di Hotel tersebut. Mereka menyewa kamar di sana selama berada di Dubai dan dapat menikmati fasilitasnya. Tapi, jika mereka bukan tamu Hotel maka mereka tidak dapat memasuki kawasan lebih dalam lagi dan hanya bisa menyaksikan pemandangan bangunan itu dari kawasan pantai.
Tidak seperti beberapa hari sebelumya yang tampak menikmati liburan, di hari terakhir ini, Shane tampak berbeda, ia terlihat banyak melamun. Dan hal itu justru menimbulkan tanya bagi Elara.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Shane?" selidik wanita itu.
Elara merasa Shane begini setelah kemarin mendapat pesan yang dia katakan berasal dari Max.
"Apa ada masalah di perusahaanmu?"
"Tidak ada."
"Lalu? Bisakah kau jujur padaku mengenai apa yang terjadi?"
Shane tidak mau merusak momen liburan mereka dengan berita yang baru diketahuinya, apalagi ini masih simpang siur karena Max belum melaporkan lagi kelanjutannya. Shane takut Elara justru kembali gusar apalagi ini menyangkut Kyle yang adalah sahabat Elara.
Shane tidak mau mengatakan kecurigaannya karena Elara pasti tak akan mempercayainya begitu saja.
"Apa kau percaya padaku, Lara?"
Elara mengernyit dalam. "Tentu saja aku percaya padamu," jawabnya mantap.
Shane tersenyum tipis. "Ya, kau pasti mempercayaiku," ujarnya, meski Shane ragu Elara akan tetap mempercayainya jika ia menyangkut-pautkan nama Kyle pada semua insiden yang terjadi pada Elara.
"Lalu? Apa yang terjadi?"
Shane menggeleng lemah. "Tak ada. Sudah, jangan dipikirkan. Kita sedang liburan, kan? Ayo, kita jalan-jalan lagi," katanya kembali menggandeng tangan Elara.
Elara merasa heran. Jika Shane memintanya untuk tidak memikirkan, tapi kenapa suaminya itu yang justru terlihat sedang memikirkan sesuatu. Elara yakin ada hal yang Shane sembunyikan.
__ADS_1
"Shane ... kau bisa mengatakannya padaku. Aku pasti mempercayaimu," bujuk Elara.
Meski istrinya sudah berkata demikian, tapi Shane tau semua masalah ini tidak sesederhana yang Elara duga. Ia tak akan bicara sebelum semua informasinya lengkap dan akurat, ia masih menunggu laporan selanjutnya dari Max dan Jose.
"Enough, Lara ... kita tidak usah membahasnya lagi. ini keputusanku."
"Tapi, Shane? Kenapa kau tidak bisa memberitahuku? Apa ini menyangkut diriku? Jika ya, maka aku berhak tau."
"Kau akan tau disaat yang tepat. Aku tidak mau kau mengira aku sudah menuduh tanpa bukti, jadi ... biarkan dulu semua bukti itu terkumpul, lalu kau memang berhak untuk mengetahui segalanya."
Dan sekarang Elara yakin jika hal yang masih Shane tutupi memanglah mengenai dirinya.
"Oke, aku akan menunggu waktu yang tepat dan tidak akan memaksamu."
Shane menipiskan bibir dan membawa Elara ke dalam rangkulannya.
"Thank, kau sudah mengerti."
Meski Elara mengangguk, namun tetap saja hatinya bertanya-tanya, apa dan siapa yang sedang Shane tutup-tutupi. Kenapa Shane seolah belum berani mengatakan padanya. Bahkan Shane sampai menanyakan tingkat kepercayaannya?
Seharian yang melelahkan namun membahagiakan kembali terlewati di Dubai. Ini adalah makan malam terakhir mereka disana.
Sebuah Restoran yang mewah dan romantis menjadi pilihan Shane untuk menghabiskan malam bersama istrinya. Dari tempat mereka duduk, mereka masih bisa menyaksikan atraksi Dubai Fountain yang kembali dipertontonkan malam itu.
Shane menatap Elara lama, sampai Elara merasa heran dengan tatapan suaminya. Disamping rasa heran itu, Elara juga selalu gugup dipandangi oleh mata Shane yang seakan menghujamnya. Meski sudah berkali-kali sorot yang sama ia terima, tapi tetap saja intimidasi mata Shane selalu mampu menghipnotis Elara.
"Malam ini, aku mau mengatakan sesuatu padamu."
"Aku ingin menceritakan kisahku padamu. Tepatnya, riwayat hidupku."
Elara menipiskan bibir kemudian mengangguk pertanda ia akan dengan sukarela mendengar semua cerita yang akan keluar dari mulut suaminya
"Ada seorang anak laki-laki ... dulunya dia memiliki keluarga yang lengkap. Sepasang orangtua yang saling mencintai. Seorang kakak yang memiliki wajah serupa. Ya, anak lelaki itu terlahir kembar. Shawn dan Shane, mereka saling menyayangi."
Elara tersenyum lembut mendengar cerita Shane yang layaknya dongeng pengantar tidur. Namun dia memutuskan diam tanpa berkomentar, ia akan mendengarkan cerita Shane sampai selesai.
"Terlahir sudah dalam keadaan kaya," lanjut Shane dengan senyuman tipis. "Tapi, tidak dibenarkan menikmati kekayaaan begitu saja. Semuanya ada harga. Agar anak lelaki itu terbiasa ditempa. Hidupnya keras. Dia dituntut mahir sebelum waktunya. Saat anak seusianya memikirkan sebuah mainan, dia justru harus memikirkan sebuah perancangan."
Elara masih diam menyimak, saat Shane mengambil air untuk diteguk lalu ditandaskan.
"... saat remaja, anak lelaki itu kembali diuji dengan sebuah kehilangan karena kematian. Saat anak lain menangisi keadaan, tetapi dia tidak. Dia harus kuat dan menjadi penopang. Untuk ibunya, saudaranya, juga dirinya sendiri yang telah ditinggalkan sosok pria yang selama ini dikenal sebagai figur Ayah. Ya, Ayahnya meninggal karena sebuah insiden kebakaran. Tragis ..."
Shane menyunggingkan senyum miris saat menceritakannya. Matanya pun tampak menerawang seolah kembali ke masa-masa dimana hal buruk pernah menimpa.
"Singkat cerita, anak lelaki itu tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Dia masih terus dicoba dengan keadaan. Sebuah hubungan toxic yang memanfaatkan. Lalu, dilanjutkan dengan paksaan dari ibunya sendiri."
Ya, Elara tau kemana cerita Shane sekarang.
__ADS_1
"Tapi ..." Shane menjeda ucapannya, ia tersenyum pada Elara, lalu menggenggam erat jemari wanitanya diatas meja. "... pria itu punya pendirian. Dia tidak akan mau disetir oleh orang lain. Termasuk ibunya sendiri. Semuanya sudah cukup saat dia pernah dimanfaatkan. Sampai akhirnya, dia terjatuh pada satu sosok yang mampu membutakannya."
Kini, Shane mengangkat jari jemari Elara yang ia genggam, kemudian mengecupnya pelan.
"... pria itu jatuh cinta ... padamu," lanjut Shane menekankan kata terakhirnya yang merujuk pada Elara.
Elara mengulumm senyum dengan semua cerita Shane. Ia jadi tertarik untuk bertanya sekarang.
"Anak lelaki itu adalah dirimu, right?"
Shane mengangguk. Tapi bukan itu yang menjadi pertanyaan utama seorang Elara.
"Apakah sebelum bertemu denganku kau tidak pernah jatuh cinta? Bagaimana dengan Megan?"
Shane mengendikkan bahu. "Waktu bersamanya aku masih remaja. Labil. Aku tidak merasa itu cinta. Aku hanya memacarinya untuk memperlihatkan pada teman-temanku dan ya, hal itu seperti ikut-ikutan saja, dimana temanku yang lain juga mulai berpacaran," katanya terus terang.
"Selain Megan? Tidak mungkin kau tidak memiliki mantan kekasih yang lain?" sarkas Elara.
"Sudah ku katakan kan, jika anak lelaki itu terlalu sibuk. Bahkan saat dia masih kecil, dia sudah harus menguasai banyak bidang. Aku tidak sempat untuk jatuh cinta."
"Lalu denganku?" Elara sedikit terkekeh sekarang.
"Denganmu berbeda. Kau ku temukan disaat aku sudah jengah dengan kehidupanku. Kau semacam jawaban yang diberikan Tuhan. Kau dikirimkan padaku secara tiba-tiba tanpa pernah ku sangka. Apa kau kira aku bisa menduga bisa menemukan gadis cantik di hutan?" Shane berkelakar diujung kalimat.
"... jadi, ku katakan bahwa kau dan aku memang sudah di takdirkan untuk bertemu dan dipertemukan. Well, semesta mulai berbaik hati padaku setelah mengujiku sejak aku kecil, buktinya kau dikirimkan ke kehidupanku," pongahnya.
Shane mengulas seringainya sekarang. Dan itu tampak sangat jumawa dimata Elara, membuat wanita itu memutar bola matanya saat menyaksikan kepercayaan diri suaminya.
"Fated to love you, Elara. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk mencintaimu."
Shane dengan segala rayuannya, batin Elara. Wanita itupun terkekeh. Dan Shane ikut tertawa seakan tau isi kepala istrinya itu.
Sebuah deringan ponsel membuat keduanya harus menunda untuk terus bercengkrama.
Saat Shane melihat itu adalah panggilan dari Max, buru-buru ia me-reject nya. Ia tau ada hal penting lagi yang akan Max sampaikan. Tapi, ia tak mau gusar karena berita selanjutnya sehingga ia menunda untuk mengetahuinya.
"Kenapa teleponnya dimatikan?" tanya Elara yang sempat melihat Shane menolak panggilannya.
"Itu hanya Max."
"Mungkin ada hal penting?"
"Entahlah, aku hanya masih ingin bercengkrama denganmu."
"Telepon dia Shane, mungkin Max ingin memberitahumu hal yang mendesak," saran Elara.
"Aku akan meneleponnya nanti. Lagipula, besok kita sudah kembali ke Hamburg, kan?" ujar Shane berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, kau yang paling tau apa yang kau perbuat," kata Elara yang tak mau berdebat.
...Bersambung ......