
Klek ...
Itu adalah suara pintu yang baru saja ditutup bersamaan dengan Shane yang muncul setelahnya.
Pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu, tampak membuka tuxedo yang nyaris setengah harian ini ia kenakan.
"Sayang?" Shane mencari keberadaan istrinya--dimana seharusnya Elara memang sudah memasuki kamar pengantin mereka lebih dulu daripada dirinya.
Sebenarnya sejak tadi Shane ingin menyusul Elara, tapi ia harus menerima seorang rekan yang kebetulan hadir di pesta pernikahan mereka. Tuan Gilbert adalah seorang relasi Shane yang sedang ada urusan di Indonesia, sehingga saat Shane mengetahuinya, ia mengundang pria itu untuk hadir di acara pernikahannya hari ini.
Dan ditengah kesibukan tuan Gilbert, pria itu menyempatkan untuk datang di detik akhir acara pernikahan Shane, sehingga mau tak mau Shane pun harus menunda keinginannya untuk menyusul Elara yang sudah lebih dulu undur diri untuk masuk ke kamar mereka--karena merasa sudah sangat lelah telah menjamu tamu seharian ini.
Tidak mendapat sahutan, membuat Shane melangkah lebih jauh ke dalam kamar yang sudah dimasukinya. Pria itu berjalan pelan sembari menggulung lengan kemeja putih yang masih ia kenakan.
Saat menyadari jika Elara baru saja keluar dari kamar mandi. Bahu Shane yang tadinya meluruh karena lelah--mendadak menegak seketika. Tatapan matanya beradu dengan pemilik netra bening itu, siapa lagi jika bukan wanita yang telah menjadi istrinya.
"Apa tamumu sudah pulang?" tanya Elara dengan seulas senyuman.
"Y-ya. Su ... dah," jawab Shane agak terbata. Masalahnya adalah, Elara bukan keluar kamar mandi dengan handuk atau bathrobe, tetapi gadis yang sudah menyandang sebagai istrinya itu tampak mengenakan baju tidur berbahan satin dengan tali spaghetti. Dan itu tampak sangat pas membentuk seluruh lekukan tubuh Elara yang sintal.
Glek ...
Sekarang Shane menelan ludah, memperhatikan istrinya secara cermat justru membuat sesuatu dalam dirinya langsung menyala dan berkobar-kobar. Has-ratnya membuncah seketika.
Namun berbeda dengan Shane, Elara malah melenggang begitu saja, seolah tidak melihat kilatan gelora yang terpancar dimata suaminya.
"Mandilah, aku akan menyiapkan baju tidurmu," ujar Elara yang berjalan ke arah lemari disudut kamar, sepertinya ia akan mencari sesuatu dalam koper milik Shane dan merealisasikan ucapannya untuk mencarikan setelan baju tidur untuk pria tersebut.
Shane masih diam, memperhatikan gerak-gerik Elara yang sudah berganti gelar dari gadis menjadi seorang wanita bersuami.
"Kau mau pakai kaos atau piyama tidur?" Elara sedikit menoleh kepada Shane yang mematung ditempatnya.
"Shane?" Elara sedikit berseru, sebab tidak mendapat jawaban dari suaminya yang masih termangu.
"Ehm ... kau menanyakan hal apa?" sahut Shane akhirnya.
"Baju tidurmu--"
"Untuk apa baju tidur kalau malam ini aku akan menghabiskannya tanpa berpakaian," sela pria itu, membuat wajah Elara memanas dengan bola mata yang nyaris melotot.
Shane mendekat pada Elara saat kakinya yang tadi mematung sudah dapat digerakkan kembali. Sedang sekarang Elara yang justru terpasung dalam posisinya.
Shane berdiri tepat dihadapan Elara. Hanya berjarak tidak lebih dari dua puluh centi saja. Dia dapat melihat segala aspek yang ada diwajah cantik istrinya. Memetakan semua itu, seolah ingin mengabadikan raut istrinya dalam ingatan--bagaimana memerahnya wajah Elara saat malam pengantin mereka.
Tapi, ini semua belum dimulai sebab Shane tidak hanya akan membuat wajah Elara saja yang memerah, melainkan ia akan membuat sekujur tubuh istrinya merona--malam ini juga.
"Ja-jangan me--menatapku begitu, Shane." Elara mendadak tergagap, membuang pandangan, tak berani bersitatap dan membalas sorot teduh yang diberikan pria yang sudah bergelar suaminya tersebut.
Shane justru mengulumm senyum, melihat gelagat Elara malah semakin membuatnya gemas.
Kedua tangan Shane terulur, menempati lengan atas Elara dan tak lama mengelusnya secara berulang dari pangkal bahu menuju jemari tangan Elara hingga membuat Elara meremang karenanya.
Shane memberikan Elara waktu untuk bernafas dan menyesuaikan diri dengan sentuhannya. Tangan Shane terus bergerak mengusap-usap lengan mulus sang wanita, lalu berhenti di kedua pundak Elara hanya untuk menurunkan tali spaghetti di kiri-kanannya.
Saat tali baju yang seharusnya menjadi pertahanan itu bergerak turun, bersamaan dengan hal tersebut baju yang Elara kenakan pun langsung meluncur ke bawah. Tidak tanggung-tanggung karena pada akhirnya kain satin itu langsung teronggok dibawah kaki Elara--tepatnya dilantai yang Elara injak.
"Shane ..." desis Elara. Shane langsung menarik leher Elara dengan gerakan kilat yang akhirnya tampak enggan melepaskan.
__ADS_1
Pria itu memulai lebih dulu untuk melabuhkan ciuman cintanya di bibir sang istri sampai Elara mendesis nikmat saat keadaannya yang mulai terlarut dalam ciuman tersebut.
"Mau membantuku mandi?" bisik Shane seduktif dan Elara menganggukinya.
...***...
Hal yang pertama kali membuat Shane berbinar adalah ketika ia bisa melihat lagi parut di perut Elara. Untuk waktu yang cukup lama, ia memang tidak bisa melihat hal itu lagi, tapi sekarang ... ia memilikinya.
"Kenapa?" tanya Elara saat sadar jika Shane tengah memperhatikan tubuhnya. Elara takut jika ia mengecewakan Shane. Apa Shane mendadak kehilangan has-rat saat melihat ketidaksempurnaannya?
Shane tak menyahut, kepalanya justru merunduk untuk melihat bekas luka itu dari jarak yang lebih dekat.
"Kau ... kecewa? Karena bekas luka itu tidak hilang sampai saat ini?" ujar Elara dengan segala pemikirannya.
Shane justru merespon ucapan Elara dengan kecupan lembut di perut rata wanita itu--tepat diatas parut yang menunjukkan bekas lukanya.
"Shane ..." Elara mengerangg lirih.
"Hmm?" Shane hanya berdehem singkat, matanya menatap Elara dari posisinya, namun bibirnya masih setia menempel di bagian yang tidak sempurna itu.
Mendapat tatapan Shane dari bawah sana, justru menimbulkan ga i rah tersendiri bagi Elara. Ia menggigitt bibirnya, mencoba menahan desahann yang nyaris keluar dari bibir mungilnya.
"Jangan berlama-lama disana. Aku malu, itu kekuranganku yang tidak bisa ku tutupi lagi didepanmu," kata Elara berterus terang.
Shane mengangkat wajah, lantas mengulas senyum menawan khas-nya.
"Justru aku merindukan bekas luka itu, dimana aku selalu teringat saat dulu ikut andil untuk mengobatinya," jawab Shane.
"Aku ... malu," tutur Elara yang kembali menggigit bibirnya.
"Yang benar saja," gumam Elara merasa tak percaya diri akan kekurangannya.
Shane hanya diam, namun ia bergerak demi melepas kain terakhir yang masih menutupi dada istrinya. Sebelum itu terjadi, Shane lebih dulu bertanya pada Elara.
"Kau mau buka sendiri? Atau ku bukakan?" tanya Shane dengan senyum yang menggoda.
Elara membuang pandangan ke samping, terlalu malu dengan pertanyaan Shane. Bahkan parut diperutnya tidak membuat pria itu kehilangan has-ratnya. Padahal Elara sudah takut jika Shane akan menyuarakan soal kekurangannya, sebab setelah luka itu benar-benar mengering justru bekasnya cukup membuat Elara minder pada suaminya sendiri.
Dan pada akhirnya, Shane yang membukanya karena Elara hanya diam sambil mengigiit bibirnya sendiri.
"Ahpp, Shane ..." Elara mendesis dan mengerangg nikmat saat lidah dan tangan Shane benar-benar memainkan perannya dengan baik di kedua b0ngkah@n d@danya.
"Kau suka? Jika ya, minta aku terus melakukannya tapi jika tidak, aku akan menghentikannya sekarang juga."
Dan seperti yang Shane tebak, Elara malah mengangguk sebagai persetujuan.
"Aku mau mendengar jawabanmu," kata Shane sambil sesekali kembali mengulumm puncak dada Elara dengan lidah dan dalam mulutnya yang hangat.
"Ah, ya ... teruskan Shane."
"Bilang kau menyukainya."
"Yeah, i like it!" seru Elara yang sudah terbuai gelombang hasratt.
"Really?"
"Ya, aku sangat suka. Bisakah kau terus melanjutkan saja?" Elara mulai meracau dan itu justru membuat Shane semakin bersemangat.
__ADS_1
Tangan Shane yang tadinya berada di dada kiri Elara dan memilinn ujungnya, kini bergerak perlahan sampai mencapai tujuannya yaitu inti tubuh sang istri.
Merasakan jika Shane menyentuh titik paling sen-si-tif di tubuhnya, seketika itu juga Elara m3nggelinj@ng.
"Shane ..." Elara menjeriti nama suaminya.
"Yes, it's me." Shane menjawab sambil terus bekerja keras memancing respon tubuh istrinya agar membuatnya semakin bersemangat juga.
Tahu sendiri Shane sudah memendam keinginan ini terlalu lama. Bahkan terasa sangat lama baginya.
"Aku kembali pada rumahku, Sayang." Shane menjeda ucapannya saat ia ingin menyatukan tubuhh mereka berdua. "Dia merindukanmu," bisik Shane tepat ditelinga Elara yang sudah pasrah saat Shane telah membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dia yang dimaksud Shane disini, tentu saja adalah senjata laras panjang miliknya.
"Aku juga merindukanmu, Shane. Sangat."
"I know, so i'm coming, Baby."
Elara sedikit tersentak saat merasakan miliknya dimasuki oleh Shane. Sementara Shane tampak mengadahkan kepalanya sejenak, ia merasakan jepitan dibawah sana dan itu ... sangat enak.
"Are you oke?" tanya Shane untuk memastikan keadaan Elara.
Elara hanya bisa merespon itu dengan anggukan. Sekelebat ingatannya justru membawanya pada momen dimana pertama kali mereka melakukan hal itu di Hutan. Jika dulu itu adalah hal terlarang dan penuh kekhilafan, maka sekarang adalah sebuah kewajiban bagi keduanya.
Melihat anggukan Elara, Shane pun meneruskan ucapannya.
"Ku rasa kau sudah sangat siap." Shane tau hal itu karena dapat merasakan area basah dibawah sana. "Aku akan bergerak sekarang," tuturnya sambil mengecup pelipis Elara dalam-dalam.
Dan seterusnya, Elara merasakan hentakan dan hujaman mulai dilakukan Shane dengan ritme konstan dan teratur.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Shane dengan suara paraunya.
"No! I feel so good, kau sangat membuatku--uhh ..." ucapan Elara menggantung karena gelombang kenikmatan terus menghantamnya.
Kedua sudut bibir Shane melengkung sempurna saat melihat pemandangan tersebut. Ia bertekad akan memberikan pelepasan yang indah malam ini. Hal yang juga tidak akan bisa dilupakan oleh Elara.
"Lara, you're so da*mn good, Honey!" Shane ikut membalas untuk memuji Elara.
"Yes ... kau juga. Bisakah untuk lebih cepat, Shane?" racau Elara. Keadaannya tampak berantakan, dengan kepala yang menggeleng ke kiri dan kanan dengan raut tidak sabar.
"Yeah, with my pleasure." Shane memacu semakin cepat sesuai permintaan Elara. "Apa begini?" tanyanya dengan kenikmatan yang juga ia rasakan.
"Yes. Yes. Terus, please!" Tubuh Elara terhentak-hentak bersamaan dengan pergerakan Shane yang semakin cepat seperti tengah mem0mpa.
"Kau suka?" tanya Shane lagi.
"Sangat."
"Akan mengulanginya lagi?"
"Of course! With you, suamiku."
Dan ucapan Elara membuat Shane semakin bersemangat lagi, ia menghentakkan miliknya sampai keduanya mencapai tujuan yang seharusnya. Shane melepaskan seluruh b3nihnya dalam rahimm Elara. Dan hal itu memberinya seribu kenikmatan yang tak terkira.
Malam itu, keduanya melampiaskan segalanya yang selama ini seakan tertahan untuk mereka lakukan.
...Bersambung ......
Jujurly, aku selalu pusing saat memasuki bab seperti ini. Rasanya mendeskripsikan hal ini, ehm ... gimana ya? 🤣🤣🤣🤣 gimana coba?
__ADS_1