ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
15. Mulai Pulih


__ADS_3

Keadaan Elara semakin sehat, ia hampir pulih seperti sedia kala. Anton masih berada di Jerman untuk menjaga putrinya, kendati demikian Elara merasa bisa menjaga dirinya sendiri.


Kini Elara sudah kembali ke apartmennya di Berlin, sebab ia memang dipulangkan ke Rumah Sakit yang ada kota itu sejak ditemukan oleh Tim SAR di Hutan.


Soal pekerjaannya di Hamburg, Elara belum bisa mengurusinya. Rektor yang memindahtugaskan dirinya sudah mendengar kabar mengenai Elara namun belum memberikan keputusan lebih lanjut terkait bagaimana pekerjaan Elara selanjutnya.


Elara hanya menerima pesan formal yang mengatakan ia diizinkan untuk beristirahat sampai kondisinya benar-benar pulih dan bisa kembali ke dunia pekerjaannya.


"Ela, ada Kyle di depan ..." Terdengar suara Anton mengetuk pintu kamar putrinya.


"Iya, Ayah. Tolong katakan padanya untuk menunggu sebentar."


Elara segera mengenakan cardigannya, lalu keluar untuk menemui Kyle yang berkunjung.


"Hai, Kyle."


"Ela! Aku membawakan ini untukmu." Kyle menyerahkan bingkisan yang dibawanya ke hadapan Elara.


Elara melihat jika itu adalah buah kesukaannya. Berbagai macam jenis buah Berry. Namun, itu justru kembali mengingatkannya pada Shane yang sering mencarikannya berry liar saat mereka terjebak di hutan.


"Kau tidak suka dengan yang ku bawa?" tanya Kyle saat melihat wajah Elara berubah sendu.


"Bukan begitu!" Elara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Tentu saja aku suka, Kyle. Kau selalu tau kesukaanku," sambungnya.


"Syukurlah, aku pikir seleramu sudah berubah sejak mengalami kecelakaan itu," canda Kyle.


Elara menanggapi perkataan Kyle dengan tawa kecil.


"Ah, iya, bagaimana keadaanmu?"


"Aku sudah mulai membaik. Kau tau kan, hampir sebulan ini aku menjadi gadis penurut agar bisa cepat sembuh."


"Hahaha, aku senang kau yang penurut," kelakar Kyle.


Mereka berbincang cukup lama dan Elara tau Kyle masih saja mengkhawatirkan dirinya.


"Aku sudah baik-baik saja, Kyle." Elara mencoba meyakinkan pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka sama-sama menjadi mahasiswa di salah satu universitas yang ada di Jerman itu.


"Are you sure? Aku merasa kau agak berbeda." Kyle menatap Elara serius. "Ehm, maksudku ... seperti ada yang kau sembunyikan," lanjutnya.


"Kyle, aku tidak menyembunyikan apapun. Lagipula apa yang harus ku sembunyikan?"


"Entahlah, aku pikir kau mau menceritakan padaku bagaimana kau bisa bertahan di Hutan itu selama 9 hari. Apa kau tidak mau memberitahuku? Aku menunggumu memulai cerita itu, namun sampai saat ini kau masih tidak mengatakannya."


"Aku cuma tidak mau mengungkit masa-masa sulit yang ku jalani saat aku bertahan hidup di Hutan," sanggah Elara.


Sebenarnya, Elara memang tidak mau terbuka pada Kyle terkait pertemuannya dengan Shane, sehingga Kyle mengira jika Elara hidup dan bertahan sendirian di Hutan. Jadi, pantas saja kalau Kyle menjadi penasaran dan ingin tahu bagaimana cara Elara bertahan disaat-saat sulit itu.

__ADS_1


"Baiklah, Ela. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita jika itu akan membuatmu kembali bersedih."


Kyle pulang dari Apartmen Elara setelah ia memastikan kondisi Elara benar-benar sudah membaik nyaris seratus persen.


Setelah kepulangan Kyle, Elara berjalan menuju kulkas yang ada di dapur untuk menyimpan berry pemberian Kyle.


"Apa Kyle sudah pulang?"


Elara menoleh dan mendapati sang Ayah yang tampak sibuk di dapur.


"Kyle baru saja pulang, yah. Ayah sedang apa?" Elara menjawab sekaligus memberikan pertanyaan pada Ayahnya.


"Kenapa dia cepat sekali pulang? Padahal ayah sedang memasak dan mau mengajaknya makan malam bersama," kata Anton tanpa menatap Elara sebab ia sibuk mengaduk makanan diatas wajan.


"Mungkin Kyle masih ada urusan lain," jawab Elara singkat.


Gadis itu mendekat ke arah ayahnya dan melihat apa yang sedang dimasak pria paruh baya itu. Wajah Elara langsung semringah melihat masakan apa yang sedang diaduk sang Ayah.


"Wah, ayah masak capcai udang."


"Iya, pasti kamu udah lama gak makan makanan seperti ini, kan?"


"Makasih, Ayah." Elara memeluk tubuh sang Ayah dari samping, ia senang Ayahnya masih ingat makanan kesukaannya. "Iya, emang udah lama gak makan masakan Ayah," tuturnya.


"Ya sudah, ayo kita makan!" seru Anton sambil menyajikan capcai ke piring saji.


Elara membantu Anton untuk menata meja makan dan Anton tersenyum senang melihat putri sulungnya sudah sehat kembali. Suatu mukjizat Elara bisa selamat dari kecelakaan pesawat tempo hari dan Anton sangat bersyukur Elara dapat membaik seperti sedia kala tanpa kurang satu apapun.


"Enak, gak?" tanya Anton.


"Selalu enak!" jawab Elara bersemangat, ia juga mengacungkan jempol.


Mereka menikmati makan malam dengan hening sampai akhirnya pertanyaan Anton membuat Elara sedikit tersedak.


"Kamu sama Kyle pacaran?"


Elara meminum segelas penuh air putih sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang Ayah.


"Yah, sejak dulu Ela sama Kyle cuma bersahabat."


"Yakin? Ayah pikir gak ada yang namanya persahabatan antara perempuan dan lelaki."


Elara terkikik dengan penuturan sang Ayah. "Ada dong, contohnya kita berdua," jawabnya yakin.


"Kalau Kyle suka sama kamu, gimana?"


"Ya, kalau gak suka gak mungkin bersahabat, Ayah."

__ADS_1


"Maksud Ayah, bukan suka yang seperti itu. Kamu udah dewasa, Elara. Harusnya kamu paham sama perkataan Ayah, kan?"


Elara mengendikkan bahu. Baginya Kyle tetaplah seorang sahabat sampai kapanpun.


"Ayah suka sikap Kyle. Dia pria dewasa yang sopan. Dia juga bertanggung jawab bahkan terlihat sekali menyayangi kamu. Dia paling aktif mencari kabar mengenai kamu saat berita kecelakaan pesawat itu terjadi."


"Terus?"


"Ya, ayah rasa gak ada salahnya kalau kamu sama dia."


Elara menghela nafas pendek. "Ayah, Ela sama Kyle memang saling menyayangi, tapi itu gak lebih dari sekedar sahabat," pungkasnya.


"Jadi?"


"Ya, jadi, kalau ayah mengharap lebih dari hubungan pertemanan kami, maaf, itu gak mungkin terjadi."


Anton mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya itu terserah kamu, sih. Cuma kalau berniat sama dia ayah gak ngelarang," paparnya.


"Hih, ayah. Ada-ada aja, deh." Elara kembali terkikik.


"Kok ada-ada aja. Kamu udah 24 tahun, Sayang. Ayah rasa kamu udah bisa memikirkan calon yang tepat untuk masa depan kamu nanti. Pria yang baik untuk mendampingi kamu," kata Anton serius.


Elara mengangkat kedua bahunya. Baginya ucapan Ayahnya memang benar, tapi bagaimana ia mau memikirkan dirinya sendiri jika dikepalanya masih mengganjal mengenai Shane


Saat mereka hampir menghabiskan makan malam itu, rupanya ponsel milik Anton berdering dan penelpon itu mencari Elara dan ingin bicara dengan gadis itu.


Sejak insiden kecelakaan pesawat, Elara memang belum memiliki ponsel sendiri. Ia hanya memberikan nomor ayahnya satu kali pada seorang anggota Tim SAR untuk memberinya kabar terkait update pencarian pria yang hilang di Hutan yang setelah Elara konfirmasi jika pria itu adalah Shane.


Jadi, jika saat ini ada penelpon yang mencarinya ke nomor Ayahnya, apa mungkin itu adalah anggota Tim SAR yang ingin memberinya kabar?


"Hallo?" Elara menerima teleponnya setelah Anton menyerahkan benda itu padanya.


"Nona Elara?"


"Ya?"


"Saya Darius. Anggota Tim SAR yang tempo hari menjenguk Anda. Maaf baru mengabari sekarang karena kemarin saya pergi ke luar Negara untuk sebuah urusan keluarga."


"Ada apa, Pak? Apa pria bernama Shane itu sudah ditemukan?" serobot Elara langsung.


"Ya, dia ditemukan setelah dua hari Anda ditemukan. Keadaannya kritis waktu itu. Dan langsung di rujuk ke Rumah Sakit tempat dia tinggal."


"Dimana?" sergah Elara. Ia sangat antusias dengan berita ini.


"Di Hamburg."


Jadi, Shane tinggal di Hamburg? Batin Elara mulai menyimpulkan hal ini.

__ADS_1


"Bisa kirimkan nama Rumah Sakitnya, Pak?"


...Bersambung .......


__ADS_2