ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
49. Hukuman


__ADS_3

Sekarang Elara tau apa hukuman yang harus diterimanya karena telah bermain-main dengan suaminya sendiri. Shane menghukumnya dengan mempermainkannya juga.


Pria itu membawanya kembali ke penginapan dan tanpa ba-bi-bu langsung menyergap bibirnya dengan gelagat yang menuntut. Elara hanya bisa pasrah dalam kendali Shane disaat tubuhnya seakan terdorong ke belakang lalu kakinya menabrak sisi ranjang hingga membuatnya terbaring jatuh ke peraduan.


Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Shane melakukannya dengan sedikit kasar, merasa jika Elara sudah terbiasa dengan segala perlakuan lembutnya sehingga ia mau mencoba dengan hal yang berbeda.


Meski begitu, tampak sekali jika Shane menahan mati-matian untuk tidak menyakiti Elara dalam permainannya. Ia berusaha mengendalikan diri yang selalu tidak bisa bersabar jika menyangkut naluri yang sudah tersulut.


"Jika aku tidak sengaja menyakitimu, maka minta aku untuk segera berhenti." Shane mewanti-wanti Elara dan hanya mendapat anggukan samar dari wanita itu. Sesungguhnya Elara mulai menyukai permainan Shane kali ini. Tidak, ini sebenarnya adalah hukuman untuknya, tapi entah kenapa Elara menikmatinya.


Seluruh tubuh Elara dihujani ciuman basah oleh pria itu dan Shane selalu saja berlama-lama diperut Elara, tepatnya di bekas lukanya. Shane benar-benar membuktikan ucapannya jika parut itu merupakan kesukaannya, dan ulah Shane disana justru selalu membuat Elara berjengit geli. Mungkin sekarang Elara memahami jika Shane tau bahwa disana merupakan salah satu titik sensitiifnya.


Dan yang kali ini membuat mata Elara mendelik adalah saat Shane membuka kakinya lebar-lebar lalu menahan kedua pahanya untuk tidak tertutup.


Sesungguhnya Elara sangat malu, ia bahkan merasakan wajahnya yang memanas. Mungkin jika Elara dapat bercermin, ia akan mendapati kedua pipinya yang memerah.


"Shane! Jangan melihatnya seperti itu!" Terang saja Elara malu jika Shane memperhatikan miliknya dengan intens seperti itu.


Shane tidak menyahut, lantas membuat bola mata Elara seketika membulat kala dia menyelipkan wajah diantara kedua kaki Elara dan tanpa pernah Elara duga pria itu malah mencicipinya di bawah sana.


Gila! Elara nyaris melolong karena hal itu.


"Shane!" Elara terkesiap, spontan ingin merapatkan kaki, namun tangan Shane menahan pergerakannya.


Lambat laun, Elara mulai menikmati sentuhan lidah Shane disana. Hingga akhirnya semua jari-jemari kaki Elara menekuk. Elara hampir tiba pada pelepasannyaa.


"S--Shane..."


Dalam posisinya, Shane merotasikan bola mata untuk dapat melihat respon Elara akan ulahnya, dan ia tau jika istrinya akan tiba. Sebentar lagi.


"Shane aku ... aku ..." Hampir saja Elara benar-benar klim@ks, tapi mendadak Shane menarik diri. Sontak saja Elara langsung menyorotnya dengan tatapan protes.


"Why?" lirih Elara dengan nafas memburu yang perlahan melemah.


Shane menyeringai. Ini adalah hukuman yang sesungguhnya. Dan Elara tau jika ternyata Shane mempermainkannya.

__ADS_1


Mulut Elara sudah terbuka untuk menyuarakan protesnya, tapi belum sempat itu terjadi karena Shane sudah keburu mengisi Elara dengan kej@ntanannya yang telah menger@s.


Selanjutnya, Elara tidak lagi protes, melainkan kembali menikmati hentakan yang Shane lakukan secara beruntun ke pusat tubuhnya.


...***...


Bukannya marah karena baru saja dihukum beberapa kali bahkan dengan berbagai gaya, Elara malah tersenyum memperhatikan Shane yang kini terpejam dalam pangkuannya.


Tangan Elara mengusap lembut rambut cokelat Shane secara berulang. Sementara yang diusap rambutnya, menikmati sentuhan itu dan lambat laun benar-benar jatuh tertidur.


"Shane, terima kasih sudah hadir didalam kehidupanku." Elara selalu bersyukur karena ia ditakdirkan mencintai dan dicintai oleh sesosok pria seperti Shane. Pria yang kini menjadi suaminya.


...***...


Kembali ke Hamburg dengan status yang telah berubah menjadi sepasang suami-istri adalah sebenar-benarnya definisi memulai hidup baru untuk Shane dan Elara.


Atas permintaan Emma, mereka pun tinggal di Mansion keluarga Gladwin sebagai penerus selanjutnya, karena didalam keluarga Shane, apabila anak lelaki telah menikah, maka dia yang diutamakan untuk menempati Mansion tersebut.


Mansion itu menjadi milik bersama yang dapat ditinggali berikut dengan keluarga barunya. Namun, jika Shane mempunyai tempat tinggal lain yang lebih nyaman, maka Shane bebas membawa keluarganya untuk meninggalkan Mansion.


"Ini kamar kita," ucap Shane mengajak Elara masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati seorang diri saat masih menyandang status lajang.


Desain kamar itu sangat nyaman, dengan warna pastel yang membuat Elara tidak menyangka jika ini dulunya adalah kamar yang juga Shane tempati saat masih single.


"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Shane menangkap sikap Elara yang memperhatikan sekitar tanpa mengucapkan apapun, ia menyangka Elara tidak menyukai ruang kamarnya.


Elara tentu saja menggeleng. "Aku suka. Sangat suka. Tapi apa ini benar-benar kamarmu yang dulu?" tanyanya dengan nada tak percaya.


Shane tertawa pelan. "Ya, tapi beberapa minggu yang lalu--sebelum kita kembali kesini, aku meminta seorang arsitek untuk mengatur ulang desain dan warnanya demi kenyamananmu."


"Shane ..." Elara menatap pria disisinya dengan mata berkaca-kaca haru. "Terima kasih, karena selalu mengusahakan yang terbaik untukku." Elara benar-benar tulus mengatakannya.


Dan Shane menanggapi ujaran istrinya dengan seringaian kecil.


"Kau tau kan, jika semua ini tidak gratis?"

__ADS_1


Dengan sebelah alis yang naik, Elara sudah langsung mengetahui arti dibalik kalimat suaminya. Terkadang Shane memang gampang ditebak, apalagi jika menyangkut hal semacam ini.


"Lara?"


"Hmm ..." Elara merespon hanya dengan gumaman pelan.


"Kau mendengarku, kan?" Tampaknya Shane tidak akan puas jika Elara tidak mengiyakan ucapannya.


"Iya, Shane. Aku tau. Aku tau jika semuanya tidak gratis." Elara mencebik, namun hanya sesaat karena tiba-tiba dia memekik disaat yang nyaris bersamaan.


Hap.


Itu semua terjadi karena--dalam sekali pergerakan--kedua tangan Shane sudah menyergap dan melingkari kedua kaki Elara, sampai ia bisa mengangkat tubuh istrinya tinggi-tinggi dan menertawakan reaksi terkesiap Elara karena ulahnya.


Elara menunduk demi bisa menatap wajah suaminya, kedua tangannya pun ia simpan dipundak Shane agar dapat menyeimbangkan posisinya.


"Maukah kau membayar cicilannya hari ini?" tanya Shane mendongak pada Elara yang jadi lebih tinggi karena gendongannya.


"Cicilan apa?" tanya Elara dengan kulumann senyum.


"Cicilan untuk membayar usahaku yang selalu mengusahakan mu," jawab Shane penuh maksud.


"Ehm--hm ..." Elara menyahut singkat sebab ia tau makna cicilan yang dimaksud oleh suaminya ini.


Entah Elara yang ringan atau memang bobot tubuhnya tidak begitu berpengaruh untuk Shane, sehingga dengan mudahnya pria itu sudah mengubah posisi menjadi menggendong Elara ala bridal style. Tatapan pria itu seakan memaku Elara untuk tetap diam dan tidak menyuarakan protes.


Dan benar saja, sepersekian detik berikutnya Elara sudah ditidurkan diatas ranjang dalam posisi kaki yang masih menjuntai ke lantai, dan kini kedua kaki Shane yang masih berdiri tegak--sudah mengungkung posisi Elara.


"Ku pikir cicilanmu tidak akan lunas, karena kau sudah menandatangani kontrak untuk hidup bersamaku selamanya," bisik Shane tepat ditelinga Elara membuat wanita itu meremang seketika.


"Dan ya, aku baru sadar jika kau menambahkan banyak bunga sehingga cicilanku tidak akan pernah lunas."


Shane tertawa sekarang. Ia menyatukan dahinya dengan dahi Elara. Menatap ke dalam netra istrinya yang selalu menghipnotisnya.


"Kau menganggapku rentenir, Sayang?"

__ADS_1


Dan anggukan Elara direspons Shane dengan ciuman yang hangat dan dalam.


...Bersambung ......


__ADS_2