
Elara tengah mengajar saat seorang muridnya yang paling bijak yang tidak lain adalah Calvin berceloteh kencang didalam ruangan.
"Kak Ela, kenapa setiap hari kau sangat cantik? Tidak bisakah kau biasa saja, agar aku bisa fokus belajar?"
Elara terkekeh dalam posisinya, diikuti suara tawa yang juga terdengar di seantero kelas.
Harus Elara akui jika Calvin adalah anak yang pintar dan cepat tanggap, tapi Elara juga tak dapat memungkiri jika Calvin termasuk bocah yang pandai merayu diusianya yang masih sangat kecil.
Elara menghampiri posisi Calvin, dimana bocah tujuh tahun itu duduk sambil menangkup kedua pipi dengan jemarinya sendiri disertai tatapan kagum pada Elara.
"Hai, Calv?" sapa Elara.
"Hai, Kak." Calvin menyahut dengan senyum percaya dirinya yang tampak semringah karena dihampiri oleh guru idolanya.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Elara ingin mendengar Calvin mengulangi pertanyaannya.
"Ehm ... kenapa setiap hari kakak sangat cantik? Tidak bisakah biasa saja, agar aku bisa fokus belajar?" ulang bocah itu menuruti permintaan Elara.
Alih-alih menjawab, Elara malah memberikan Calvin pertanyaan yang bernada sama. "Kau sendiri, kenapa setiap hari harus merayuku? Tidak bisakah kau diam saja dan memperhatikan?" tanyanya dengan senyuman tipis.
Semua teman sekelas Calvin kembali terkekeh. Hal ini sudah biasa dimata mereka dimana Calvin menggoda Elara dan dibalas Elara dengan perlakuan serupa. Justru terkadang ini hiburan tersendiri bagi mereka sebab Elara sangat sabar menghadapi bocah kecil itu.
"Aku tidak bisa tidak merayumu, Kak. Ini sudah menjadi kebiasaan ku."
"Oh my God," desis Elara tidak percaya. Ada kulumann senyum yang tertahan. Bibirnya berkedut jenaka mendengar jawaban Calvin yang lagi-lagi diluar prediksinya. "Kau perayu ulung rupanya," gumamnya kemudian. Namun, mendadak ia mengingat pria dewasa yang dia beri julukan seperti itu. Ah, kenapa harus mengingatnya disaat seperti ini?
"Aku hanya merayumu, Kak." Calvin kembali berceloteh.
"Sudah ya, kita lanjut belajar saja." Elara tidak berniat melanjutkan untuk menanggapi Calvin.
"Tapi bagaimana dengan permintaanku tadi?" ujar Calvin kemudian saat Elara hendak berbalik.
"Permintaan yang mana?" Elara mengernyit.
"Bisakah kau biasa saja agar aku lebih fokus belajar?"
"Besok aku akan datang mengajar dengan wajah menyeramkan. Kau puas?"
Calvin terkikik. "Kau galak, Kak. Untung saja kau cantik," jawabnya.
"Oh, come on, Calv." Elara sedikit menyentakkan kepalanya ke belakang. "Kita kembali ke pelajaran," lanjutnya menegaskan seolah menunjukkan sekarang saatnya untuk serius.
Elara keluar dari ruangan tersebut dua puluh menit kemudian dan mendapati Jasmine yang juga baru keluar dari kelas sebelah. Ah iya, tempat mengajar mereka hanya memiliki empat ruang kelas yang didalamnya diisi oleh anak-anak sesuai jenjang umur mereka masing-masing. Karena yang diajar disini berkisar antara 7 sampai 14 tahun, maka empat kelas yang tersedia diisi oleh murid yang umurnya disetarakan.
"Kau kenapa?" tanya Jasmine melihat air wajah Elara yang tampak agak keruh.
"Aku mengingatnya lagi."
Dan Jasmine tau siapa yang dimaksud oleh Elara disini.
"Are you oke?"
"Ya, i'm fine. Hanya saja tingkah Calvin sering membuatku angkat tangan."
__ADS_1
"Woa, jangan bilang kalau Calvin adalah Shane versi mini yang mengingatkanmu pada pria itu."
Elara menghela nafas panjang seolah mengiyakan perkataan Jasmine tersebut.
"You miss him. Right?" tebak Jasmine.
Lagi-lagi Elara hanya diam. Ada jeda yang tercipta diantara mereka sebab Jasmine memang tak menuntut Elara untuk menjawab dugaannya.
"Terkadang, aku hanya kewalahan menghadapi Calvin. Mungkin karena biasanya yang merayuku adalah mahasiswa tapi sekarang aku dirayu oleh bocah kecil," kata Elara akhirnya.
"Ku pikir bukan itu, karena yang ku simpulkan disini adalah kau menganggap Calvin seperti sosok yang kau rindukan."
"Jas ..."
"Sorry, aku kelepasan." Jasmine menyengir sembari mengacungkan dua jari berbentuk huruf V.
Mereka kembali ke asrama dimana mereka tinggal selama ini. Mereka memang diberi fasilitas seperti ini saat memutuskan menjadi relawan pengajar di pelosok desa yang kini mereka tinggali.
"Kau mau titip makan siang?" tanya Jasmine sebelum mereka memasuki ruang kamar yang letak pintunya berhadap-hadapan.
"Tidak, aku sempat masak pagi tadi," jawab Elara.
"Oh, baiklah. Selamat istirahat."
Elara mengangguk dan menekan handle pintu. Saat berbalik tubuh dan hendak memasuki kamarnya, Elara lantas terjingkat kaget. Masalahnya adalah, ia melihat sosok itu sedang duduk di sebuah kursi kayu yang ada disana. Siapa lagi jika bukan pria yang sudah ia tinggalkan enam bulan yang lalu.
"Oke, ini cuma halusinasi ku saja," batin Elara. Ia tau sejak di kelas tadi ia selalu mengingat Shane dan sekarang sosok itu muncul di kamarnya bagaikan hantu yang tidak diundang.
Elara mengelus dadanya sendiri, mencoba menenangkan diri mengingat sosok yang ia anggap halusinasi itu kini malah menyeringai kearahnya.
"Lara, i miss you so much," kata Shane yang mengambil jemari Elara dari pipinya, kemudian membawa itu kedepan bibirnya untuk ia kecup.
Elara membeku. Ini tidak mungkin. Pasti ia sedang berada dalam mimpi di tengah hari, pikirnya.
Belum sempat Elara mengucap sepatah katapun untuk menunjukkan keterkejutannya, Shane sudah membekap bibirnya dengan ciuman yang terasa mendesak dan menggebu-gebu.
Ini terasa nyata. Elara tidak bermimpi. Ia membalas ciuman itu dan sempat larut karenanya, namun mendadak Elara tersadar bahwa ini semua tidak mungkin. Mustahil Shane berada disini bersamanya. Sebab Shane tidak pernah mengetahui kemana dirinya pergi.
Elara sedikit mendorong dada Shane untuk menghentikan ciuman tersebut, hingga akhirnya melepaskan diri dengan nafas yang terengah-engah.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Shane dengan suara beratnya, yang direspon Elara hanya dengan sikap diam. Elara masih bingung akan situasi ini.
Shane membawa tubuh Elara untuk duduk di kursi kayu yang tadi ia tempati hingga kini ia berdiri dihadapan gadis yang sudah terduduk itu. Shane memegang kedua pundak Elara dengan tangannya. Ia menatap dalam pada gadis yang mendadak tertunduk tanpa mau mengadah kepadanya.
"Kau terkejut dengan kehadiranku, ya?" tanya Shane yang sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu ia tanyakan sebab seharusnya ia sudah lebih tahu jawabannya.
Mendadak Elara menangis dalam posisinya.
Shane memejamkan mata dengan rapat kemudian berlutut untuk mensejajarkan posisinya dengan Elara.
"Maaf," kata Shane sembari mengelus bahu Elara dengan masing-masing jemarinya.
Elara tetap tak menjawab, justru tangisannya semakin pecah. Shane mendekap tubuh itu. "Maafkan aku yang terlalu lama menjemputmu, maaf, maaf," katanya. Kini Shane menumpukan dagunya di puncak kepala Elara sambil tangannya terus mengelus surai panjang milik gadis itu.
__ADS_1
Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, hingga akhirnya Elara mampu mengeluarkan suaranya yang sejak tadi tercekat di tenggorokan.
"Kenapa kau bisa disini?"
"Aku mencarimu."
"Sejak kapan kau tau aku disini?"
"Sejak dua hari dari kepergian mu."
Elara melerai pelukan mereka dan menatap mata kehijauan milik lelakinya.
"Jika begitu, kenapa kau baru datang sekarang?"
Shane tersenyum tipis. "Aku datang setelah memastikan bahwa kita dapat menikah dengan restu ibuku."
Mata Elara berkaca-kaca kembali saat mendengar perkataan Shane didepannya.
"Kau ... masih mau, kan?"
Elara membuang pandangan ke samping sambil melipat bibirnya sendiri.
"Kau masih mau menjadi istriku, kan?" ulang Shane lagi.
"Kau terlambat."
"A-apa?" Mata Shane membola karena jawaban Elara kali ini.
"Sudah ada yang melamarku lagi."
"Shhitt!" Shane mengumpat, entah pada siapa. Lalu ia kembali menatap pada Elara. "Dan kau menerimanya?" tanyanya kemudian.
"Dia begitu manis, bagaimana bisa aku menolaknya," papar Elara dan Shane menggeram mendengarnya.
"Katakan padaku siapa dia!" Shane mendadak emosi.
"Apa yang mau kau perbuat padanya?"
"Aku hanya ingin tau lelaki seperti apa lagi-- yang akan menjadi sainganku."
Elara sedikit mendorong Shane agar ia bisa beranjak dari sana.
"Kau tidak bisa menyainginya."
"Kau menyukainya?"
"Ya."
"Sangat menyukainya?"
"Of course," jawab Elara dengan yakin dan tenang.
Melihat itu, Shane ikut-ikutan berdiri. "Jika kau tidak mau mempertemukan ku dengannya maka aku akan mencarinya sendiri."
__ADS_1
Dalam hati, Shane merutuki Max yang tidak memberitahunya mengenai hal ini. Seharusnya semua info tentang Elara ia ketahui, kan? Kenapa mengenai Elara yang dilamar oleh pria lain harus luput dari pengetahuannya. Sialan kau Max, batin Shane mengumpat asistennya itu.
...Bersambung ......