
"Kyle? Tunggu!"
Kepulangan Kyle ke rumah, disambut oleh Stevi yang memandangnya penuh selidik. Kyle sudah dapat menebak akan kemana pertanyaan sepupunya ini. Dia hanya menatap Stevi dengan tatapan biasa seolah tidak tertarik untuk menjawab suatu hal yang sudah dia perkirakan.
"Aku dengan dari Aunty Eve, kau pergi ke pesta pernikahan Shane dan Elara. Apa iya?" serobot Stevi dengan nada mendesak.
"Ya." Kyle menyahut singkat.
Stevi mengesah panjang, tak lama ia kembali mendongak pada sepupunya tersebut.
"Kau ..." Stevi hampir kehilangan kata. "Bagaimana bisa kau datang kesana? Ini pasti amat menyakitkan untukmu, Kyle! Seharusnya kau tidak usah datang!" paparnya.
"Sudahlah, Stev. Aku sudah memutuskan datang dan buktinya aku pulang dengan selamat sekarang."
Stevi mendengkus. "Kau memang selamat tapi hatimu itu pasti sudah tercabik-cabik, kan?" omelnya.
"Sudahlah, aku mau istirahat sekarang."
Stevi kesal sendiri melihat Kyle yang kembali patah hati. Padahal kemarin, saat Kyle belum mengetahui jika Elara telah menikah dengan Shane, sepupunya itu masih tampak baik-baik saja. Bahkan Kyle giat bekerja sembari mencari keberadaan Elara yang nyatanya malah sudah dinikahi Shane saat di Indonesia.
Perasaan Kyle semacam digantung tinggi-tinggi oleh harapan jika dia akan lebih dulu menemukan Elara ketimbang Shane. Saat perasaannya sudah tinggi, justru harus dijatuhkan sejatuh-jatuhnya hanya karena kabar pernikahan tersebut.
Sedikit banyak, Stevi sangat bisa mengerti bagaimana sakitnya menjadi Kyle.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku, Kyle?"
Ucapan Stevi berhasil menghentikan langkah Kyle yang hendak menuju kamarnya.
"Harusnya kau mengatakan padaku. Atau mengajakku ke pesta itu, biar aku bisa melihat bagaimana wajah bahagia mereka diatas perasaan sakit hatimu!" marah Stevi.
"Stev ..." Kyle kembali menoleh, nada suaranya terdengar memperingatkan. "Sudahlah, bukankah kau mau fokus untuk kesembuhanmu? Lagipula mereka tak salah, karena mereka saling mencintai. Aku hanya angin yang tak berpengaruh untuk hubungan mereka."
Dan Stevi tertawa sumbang sekarang. "Kau memang angin. Tapi kau bisa menjadi angin ribut yang menghancurkan mereka jika kau mau!" tukasnya.
"Sudahlah, Stev. Yang terpenting bagiku hanya kebahagiaan Elara. Selagi dia bahagia bersama Shane maka aku akan membiarkannya. Tapi jika nanti dia terluka, jangan salahkan aku jika kembali menjemputnya," ujar Kyle lalu benar-benar berlalu dari hadapan Stevi.
Stevi sedikit tertegun dengan ujaran sepupunya itu. Sampai segitunya Kyle berkorban untuk Elara. Jadi, Kyle akan membiarkan semua ini selagi Elara bahagia dan akan bergerak lagi jika nyatanya Elara tidak mendapatkan kebahagiaan itu dari pernikahannya bersama Shane.
"Baiklah, aku harus membuat Elara tidak bahagia dalam pernikahannya dengan Shane. Agar Elara yang datang sendiri padamu, Kyle. Anggaplah ini balasan dariku untuk segala kebaikan yang kau beri untukku!" tekad Stevi didalam hati.
...***...
Tangan Shane terulur untuk mencari-cari seseorang disampingnya. Seseorang yang berstatus istrinya, yang ingin ia peluk sekarang. Namun, saat Shane benar-benar sadar, ia tau jika Elara sudah tak disisinya. Elara tidak lagi berada di tempat tidurnya sepagi ini? Kening Shane langsung mengernyit heran.
Shane lantas bangkit dari posisinya, ia pun mencari sang istri di kamar mandi.
"Hoek ... Hoek!"
Dan Shane mendapati Elara sedang muntah-muntah di wastafel.
"Sayang? Kau kenapa?" Dengan tergopoh-gopoh, Shane menghampiri Elara disana.
"Aku tidak tau, sepertinya aku kurang enak badan."
__ADS_1
"Sejak kapan kau muntah begini?"
"Baru hari ini."
"Ya sudah, nanti aku minta Ferdinand mengecek kesehatanmu." Shane merujuk salah seorang dokter keluarga yang bernama Ferdinand.
"Hmm, tidak usah." Elara mau melanjutkan kata, namun tidak sempat karena ia kembali muntah-muntah dengan parahnya.
Shane memang tidak bekerja hari ini, selain lelah karena pesta semalam. Ia memilih untuk cuti karena Elara juga tampak pucat.
"Kau sakit, aku tidak akan meninggalkanmu." Shane mengelus punggung Elara dengan sebelah tangan, sedang tangan yang satunya lagi membantu memegangi rambut Elara agar wanita itu dapat melanjutkan kegiatan muntah-muntahnya sampai tuntas.
Pria itu juga turut membantu membersihkan bibir Elara dengan air, lalu mengelap dahi Elara yang mengeluarkan peluh dengan secarik tisu wajah.
"Sudah lebih baik?" Shane melihat Elara mengangguk.
Shane membimbing Elara untuk kembali ke pinggiran ranjang. Ia tampak sangat pengertian dan sabar. Elara mengulas senyum ke arah suaminya.
"Terima kasih, Sayang."
Shane tersenyum cerah, karena ia sangat jarang mendengar Elara memanggilnya dengan mesra seperti itu. Ia menyelipkan rambut Elara ke belakang telinga lalu menatap ke dalam netra istrinya.
"Ini sudah kewajibanku jadi kau tidak perlu mengucapkan terima kasih."
"Tak ada salahnya berterima kasih pada suami sendiri."
"Oke, baiklah." Shane mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Ia tak akan mendebat wanita cantik ini.
"Mau mandi?" tawar Shane.
Shane tergelak. Tak biasanya Elara-nya malas mandi. "Aku mandikan, hmm?" tawarnya sembari menaik-naikkan kedua alisnya.
"Hanya mandi ya?"
Shane kembali terkekeh. "Untuk apa aku libur kerja jika hanya mandi saja?" sindirnya.
Elara memukul pundak Shane dan pria itu berlagak mengaduh kesakitan.
"Arkh ... ternyata meski sedang tak enak badan, pukulanmu sakit juga, Honey." Shane tampak meringiss.
Elara langsung merasa bersalah. Sepertinya dia tidak memukul sekuat itu tadi.
"Apa sakit?" Elara memegang pundak Shane yang tadi ia pukul.
Shane mengangguk. "Kau harus dihukum jika sudah begini. Ini kekerasan dalam rumah tangga namanya."
Dan sekarang Elara memutar bola matanya. "Sepertinya kau pandai mengambil kesempatan ya," sindirnya.
Shane mengulumm senyum, lalu menatap istrinya dengan binar penuh maksud.
"Oke, baiklah...." Elara memahami keinginan suaminya, meski sebenarnya ia sangat malas untuk mandi--entah kenapa.
Shane langsung menggendong Elara saat mendengar persetujuan dari bibit istrinya dan membawa tubuh itu untuk memasuki kamar mandi mereka.
__ADS_1
...****...
Elara tertidur kembali setelah mandi yang benar-benar melelahkan bersama Shane, membuat pria itu menggeleng tak percaya atas tindakan istrinya yang langsung nyenyak begitu saja.
Shane merasa Elara agak berbeda. Mungkin karena tidak enak badan dan ia tetap meminta jatahnya pada wanita itu.
"Maafkan aku, Sayang." Shane mengecup pelipis Elara lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Ferdinand.
Shane meminta sang dokter untuk menyambangi kediamannya agar bisa memeriksa keadaan istrinya.
Saat ferdinand datang, disitulah Elara mulai tersadar dari tidurnya. Ia melihat Shane bercakap-cakap dengan dokter itu.
"Sudah berapa lama kau muntah-muntah, Elara?" tanya Ferdinand dengan nada bersahabat.
"Muntah-muntah baru pagi tadi. Tapi badanku kurang enak sudah sejak beberapa hari ini."
"Apa yang paling mengganggumu?"
"Ku pikir dadaku terasa sesak dan ..." Elara ragu mengatakannya secara gamblang.
"Apa?" tanya Ferdinand ingin memastikan pemeriksaannya.
"Payud@raku juga terasa nyeri," akui Elara akhirnya.
Ferdinand manggut-manggut. "Kapan terakhir kali kau menstruasi?" tanyanya kemudian.
Shane yang ada disana mendengarkan saja percakapan antara Elara dengan sang dokter. Ia juga baru tau jika Elara mengalami hal itu. Apa Elara merasa nyeri karena perbuatannya yang kadang terlalu keras bermain dengan Elara? Shane jadi merasa bersalah.
"Bulan lalu," kata Elara tampak ragu-ragu. "Ah, aku belum datang bulan di bulan ini, Dokter. Apa ini penyebabnya? Tapi biasanya aku hanya nyeri kepala dan tidak pernah muntah-muntah, atau jangan-jangan aku ..." Elara tak melanjutkan kalimat, sepertinya ia sudah menemukan jawaban atas rasa tak enak yang menderanya ini.
"Ya, sepertinya kau hamil, Elara." Ferdinand menjawab pertanyaan yang ada dibenak Elara. Jawaban itu juga sontak membuat Shane berbinar di posisinya.
"Benarkah?" timpal Shane dengan wajah semringah.
Ferdinand menatap Shane sekarang. "Ini masih spekulasi ku, tapi kemungkinannya begitu. Akan lebih baik jika istrimu melakukan tes menggunakan tespack atau cek ke Rumah Sakit untuk lebih pasti," jelasnya.
"Ah, thank, Ferdi." Shane menyalami tangan Ferdinand dengan bersemangat. "Aku akan langsung mengajak Elara untuk memeriksakannya," paparnya.
"Sama-sama, Shane. Jangan sungkan menghubungiku kembali jika ada sesuatu."
Seperginya sang Dokter, Shane menangkup kedua pipi Elara.
"Aku yakin kau benar-benar hamil, Sayang."
Elara mengulas senyum. "Semoga saja, tapi jangan terlalu berharap, Shane."
"Kenapa?"
"Aku takut hasilnya mengecewakanmu."
"Tidak mungkin. Aku sangat yakin. Aku akan bersiap-siap untuk membawamu periksa. Tunggulah sebentar." Shane berderap setelah sebelumnya mencium pipi Elara.
...Bersambung ......
__ADS_1
Tolong Vote Senin dikirim ke sini ya, biar othor lanjut karena cerita ini bakal memasuki konflik.🙏