
Beberapa bulan kemudian ...
Suara ketukan pintu membuat Elara mau tak mau harus bangkit dari duduknya. Ia berdiri lalu membukakan pintu untuk seseorang yang baru saja tiba.
"Sayang, sudah berapa kali ku katakan jangan mengunci pintu dan jangan mengurung diri di dalam kamar," ujar Shane begitu memasuki ambang pintu yang baru saja dibukakan oleh istrinya.
"Maaf, aku lupa. Selalu mengunci pintu membuatku terbiasa melakukan hal itu." Wajah Elara langsung terlihat sedih, matanya pun tampak berkaca-kaca.
Shane dapat melihat itu, buru-buru ia menangkup wajah istrinya. "Sorry, aku tidak bermaksud memarahimu, aku hanya terlalu khawatir jika kau kenapa-napa didalam kamar sendirian sementara aku masih bekerja. Ini sudah memasuki Minggu terakhir kehamilanmu," ujar Shane.
Elara mengangguk pelan dengan wajah yang masih tampak menyedihkan. Ia memang terlalu sensitiff sejak awal kehamilan sampai trimester akhir seperti ini.
"Sekali lagi maafkan aku, ya."
Elara tak menyahut, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Oh my God." Shane menarik nafas panjang, melihat wajah istrinya ia jadi benar-benar merasa bersalah. "Kemarilah, aku mau memelukmu," sambungnya.
Elara tak beranjak, membuat Shane mengulumm senyum dan menghampirinya, dengan sekali pergerakan Shane mendekap tubuh wanita yang amat dicintainya itu.
"Maafkan aku, hmm?" ujar Shane sembari menghirup aroma rambut Elara dalam-dalam. Wajahnya ia tumpukan pada kepala wanita itu.
"Hmmm..." respons Elara akhirnya.
"Jangan marah lagi."
"Hmmm..."
"Jangan hanya bergumam, aku butuh jawaban."
Elara berdecak lidah. "Iya, iya," katanya malas.
"Jangan menggerutu."
Elara sontak memaksa pelukan Shane agar terlepas.
"Haha, aku cuma bercanda," kata Shane yang tau istrinya sangat sensitiff dan gampang merajuk akhir-akhir ini.
Shane kembali mendekap Elara, berlama-lama dalam posisi itu, sampai akhirnya ia merasa jika perut istrinya bergerak-gerak--tidak adanya jarak diantara tubuh mereka karena pelukan itu--membuat Shane dapat merasakan pergerakannya.
Shane melerai pelukannya lalu dia berlutut didepan perut istrinya.
"Hallo, putra Daddy ..." panggilnya sembari mengelus perut Elara yang membesar.
Shane merasa takjub karena panggilannya itu direspon oleh sang jabang bayi. Kini pria itu mendongak ke arah istrinya.
"Ku pikir dia marah karena aku hampir membuat ibunya menangis."
"Ya, kau melakukannya," kata Elara acuh tak acuh.
Shane hampir tergelak sekarang, namun ia menahannya dan kembali mengelus perut itu.
"Kau marah pada Daddy? Atau kau merindukan Daddy?" tanya Shane pada perut istrinya seolah-olah perut itu dapat menjawab pertanyaannya.
"Oh ... ternyata kau merindukan Daddy, ya. Baiklah... Daddy akan segera menjengukmu." Shane mengadah pada Elara, namun sang istri yang sudah tau maksud dari ucapan suaminya itu, malah melengos sembari memutar bola matanya.
Kini Shane tak dapat lagi menahan tawa, ia tergelak bahkan terpingkal sambil memegangi perutnya.
"Kau lucu sekali, Sayang."
Dan Elara dengan kesensitifannya justru menyahut ucapan suaminya dengan raut jutek.
"Ya, aku memang lucu dan patut ditertawakan."
Shane menepuk jidatnya sendiri, ternyata ia salah bicara.
Shane segera berdiri kembali sembari memegang kedua pundak istrinya.
"Maksudku bukan begitu. Maksudku adalah kau begitu menggemaskan."
Elara membuang pandangan dari sorot suaminya yang masih mengulumm senyum jenaka.
"Sudahlah, tidak usah berusaha untuk menghiburku. Bilang saja kalau aku ini menjengkelkan."
"No. Kau menggemaskan bukan menjengkelkan, honey."
__ADS_1
Elara tetap saja cemberut, bahkan bibirnya mengerucut. Shane semakin gemas melihatnya dan mengecup bibir itu berkali-kali.
"Ya, kau memang menjengkelkan sejak hamil," akui Shane akhirnya. Elara hendak marah lagi, padahal kata-kata 'menjengkelkan' itu dia sendiri yang memulai mengatakannya tadi, tapi tidak jadi marah karena Shane buru-buru menyambung kalimatnya.
"... meski begitu, Aku tetap akan menjadi orang pertama dan terakhir yang membersamaimu dan mencintaimu," tandasnya.
...***...
"Shane, ini semua karena perbuatanmu! Akh ... sakit sekali," keluh Elara yang merasakan kontraksi karena hendak melahirkan.
Shane pasrah dan menerima segala tuduhan yang Elara berikan.
"Iya, Sayang. Ini semua salahku. Sabar ya, kita akan segera tiba di Rumah Sakit."
Elara terus meringis kesakitan disebelah Shane. Elara menyalahkan pria itu karena Shane mengajaknya bercintaa dikala jadwal melahirkannya tinggal beberapa hari lagi. Menurut Elara seharusnya Shane tidak melakukan itu, tapi Shane tau jika tindakannya akan membuat Elara bisa merasakan kontraksi sesuai jadwalnya. Shane sudah memperkirakan hal ini masak-masak.
"Seharusnya kau tidak mendekatiku tadi."
"Meski tidak melakukannya pun, tapi ini memang sudah jadwalnya kau merasakan kontraksi, Sayang." Shane mencoba membela dirinya.
"Jangan mencari alasan dan kebenaran," desis Elara.
Shane hanya bisa mengiyakan setiap ucapan sang istri.
Mobil yang disopiri oleh Max itu akhirnya tiba di pelataran Rumah Sakit setelah beberapa menit berada diperjalanan.
Menggunakan brangkar, Elara segera dibawa ke ruang penindakan untuk ditindak lanjuti.
Tak sekalipun Shane melepaskan genggaman tangannya di jemari Elara.
"Shane, maaf sudah menyalahkanmu." Elara menatap sendu ke arah suaminya. Ia merasa bersalah tiba-tiba.
"Tak apa, Sayang. Tak apa."
Elara harus melewati masa-masa sulit untuk menunggu pembukaannya. Meskipun selama hamil Elara sudah mengikuti kelas kehamilan, tapi bagian seperti ini tetap terasa menyakitkan. Apalagi ini adalah kali pertama Elara akan melahirkan. Ia belum berpengalaman.
Shane harus menerima segala perlakuan Elara, mulai dari cengkraman yang terasa menyakitkan di sekujur tangannya, ataupun cakaran yang kadang Elara lakukan demi menetralisir rasa sakitnya. Apalagi saat Elara benar-benar mau melahirkan, Shane pasrah saat istrinya justru menjambak rambutnya kuat-kuat.
Bagi Shane, kesakitan Elara pasti jauh lebih berat ketimbang apa yang ia rasakan.
Putra pertama mereka akhirnya lahir dengan selamat. Memiliki berat badan yang cukup serta tinggi badan yang semestinya.
"Lihat, Sayang. Dia tampan sekali."
Elara mengangguk. "Ya, dia mirip sepertimu."
"Tapi bibirnya sepertimu, Honey."
"Syukurlah ada yang mirip denganku," canda Elara.
Mereka larut dalam kebahagiaan itu sampai akhirnya Emma datang kesana untuk menjenguk menantu serta cucu pertamanya.
"Siapa namanya, Shane?" tanya Emma yang kini beralih menggendong putra Shane dan Elara itu.
"Javier Antony Gladwin."
Nama itu adalah pilihannya dengan Elara, nama belakang keluarga Shane ikut tersemat, serta nama tengahnya berasal dari nama Ayah kandung Elara.
"Hai, Jav ..." Emma memanggil sekaligus memberi nama kecil untuk cucunya. Ia begitu senang menyambut cucu yang begitu ia nantikan. Emma mengajak Jav bermain dengan celetukan dan celotehannya.
Elara menyaksikan itu dengan tatapan haru sekaligus bangga yang bersatu padu.
Tak lama dari itu, ia juga melakukan video call dengan keluarga besarnya di Indonesia yang tidak bisa menjenguknya secara langsung.
Kendati demikian, Elara sudah sangat bahagia karena mereka semua selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Elara berjanji akan pulang lagi ke Indonesia untuk memperlihatkan Baby Javier pada Ayah, Bunda dan kedua adiknya.
"Tunggu Ela pulang ya. Nanti, saat Jav udah berumur dua atau tiga tahun," janji Elara pada keluarganya.
...****...
Elara sudah kembali ke Mansion beberapa hari setelah pemulihannya pasca melahirkan. Ia memomong Baby Javier dengan perasaan sayang. Ia senang sekali memiliki anak karena ini adalah impiannya sejak pertama kali menikah dengan Shane.
Shane sendiri, tadinya sedang menemani Elara, tapi mendadak harus pergi kala mendapat telepon penting dari perusahaan. Awalnya Shane ingin mengabaikan itu, tapi Elara memintanya untuk pergi saja.
"Shane?" panggil Elara. Ia mendengar handle pintu ditekan. Ia tidak mengunci pintu memang, mengingat suaminya selalu marah jika ia melakukan itu karena Shane selalu menghawatirkannya.
__ADS_1
Elara mendapati Shane yang termangu didepan pintu kamar mereka.
"Shane, kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Elara. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri Shane yang tampak tidak bergerak disana.
Saat Elara sudah mendekat, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh dari sosok itu. Elara pun mundur beberapa langkah masih dengan menggendong bayi mungilnya.
Lantas, wanita itu menggelengkan kepala pelan.
"Kau bukan Shane ..." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. "Shawn? Kau sudah kembali?" kali ini barulah Elara benar-benar bertanya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan. Ia tau betul jika iris mata suaminya berwarna kehijauan, sementara yang saat ini ada didepannya memiliki netra keabu-abuan.
"Aku mau melihat keponakanku," ujar Shawn dengan senyuman tipis.
Elara tersenyum haru, kehadiran putranya ke dunia lah yang mampu memancing Shawn untuk pulang ke Mansion tersebut.
"Ya, yah. Tentu saja kau boleh melihat Baby Jav."
Elara hendak menyerahkan bayinya pada saudara kembar suaminya itu. Namun, Shawn menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa dan tidak berani menggendong bayi. Aku akan melihatnya dari gendonganmu saja," jawabnya.
Elara mengangguk, ia memperlihatkan wajah baby Javier kepada Shawn disana.
"Ternyata begini rasanya ..." ujar Shawn ambigu. Elara tak paham apa maksudnya, hingga wanita itu menatap Shawn dengan kernyitan heran.
"Aku sempat memiliki keinginan untuk childfree tapi saat melihat anak kalian aku merasa sangat terharu dan senang disaat yang bersamaan," kata Shawn yang paham dengan keheranan Elara.
Elara akhirnya mengangguk mengerti.
"Kemana Shane?"
"Dia pergi beberapa saat lalu ke perusahaan."
"Oh, baguslah. Jangan katakan padanya jika aku pulang."
"Aku tidak bisa berbohong pada suamiku."
"Ku mohon, Elara. Aku hanya mau memantau kalian dari jauh saja. Dan Javier ... aku terpaksa pulang hanya untuk melihatnya, bagaimanapun juga ... dia keponakanku."
Elara semakin yakin jika Shawn kembali karena kehadiran putranya ke dunia.
"Jadi, kau kesini murni karena ingin melihat Jav putraku?"
Shawn mengangguk.
"Baiklah, aku akan merahasiakan ini dari Shane asal kau beri aku satu alasan logis kenapa kau harus pergi lagi dan tidak menetap disini?"
Shawn tampak diam dan menimbang-nimbang.
Sampai akhirnya, pria itu pun berujar pelan.
"Terkadang, kekecewaan membuatmu sulit untuk menerima dan kembali menjalani. Jadi, aku pergi untuk menyembuhkan rasa kecewaku dan itu belum benar-benar sembuh sampai saat ini."
Elara menebak jika Shawn pernah berada dalam keadaan kecewa yang benar-benar paling kecewa. Dan pria itu sedang menyembuhkan rasa sakitnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan Stevi?" tebak Elara.
Shawn tak menjawab, dia hanya menipiskan bibir.
"Ku harap kau segera kembali jika lukamu benar-benar telah sembuh, karena ada ibu dan adikmu yang selalu menunggu kepulanganmu. Juga, kini ada Javier yang pasti ingin mengenal sosok pamannya."
Shawn mengangguk samar sampai akhirnya ia benar-benar berlalu dari hadapan Elara.
"Aku akan kembali pada waktu yang benar-benar tepat," batin Shawn saat melangkah meninggalkan Mansion keluarganya itu.
...The End .......
Cerita Elara udah tamat ya. Nah, kalo ada yang nanya...
"Thor, kenapa endingnya gantung?"
"Sebenarnya gak gantung juga ya. Semua masalah udah clear. Gracia udah meninggoy. Kyle udah pergi jauh gak balik lagi. Stevi udh gak memusuhi Elara dan Shane. Terus, Shawn juga udah pulang meski cuma mampir sebentar. Jadi, gak bisa dibilang gantung ya...
Tapi ... yang penasaran sama kelanjutan cerita tentang anaknya Shane dan Elara, boleh baca novel terbaruku. Judulnya : SEBATAS TEMAN TIDUR.
nanti ketemu Javier disana. Dia jadi Tuan Penguasa yang punya rahasia karena selalu menjadikan Elin sebagai teman tidurnya tapi tanpa sentuhan sama sekali. Bener-bener sebatas teman tidur aja, kayak judulnya.
__ADS_1
Yang penasaran, boleh mampir.π
Makasih ya yang udah baca kisah mereka sampai Endβ€οΈβ€οΈβ€οΈlove sekebon buat kalian semuaπππππππ