ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
63. Sangat lemah


__ADS_3

Shane teringat jika kemarin ia mendatangi Megan karena menyangka jika hilangnya Elara ada kaitannya dengan wanita itu.


"Kau menuduhku menculik istrimu?" Begitulah respon Megan saat Shane langsung mengintimidasinya soal hilangnya sang istri.


"Ya, aku mencurigai mu!"


Dan Megan malah tertawa sumbang. Ciri khas Megan sekali, saat dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


"Aku tidak menculiknya. Tapi melihat kepanikanmu ini, mungkin lain kali aku akan mempertimbangkan untuk melakukannya, supaya aku bisa mendapat uang tebusan yang banyak darimu." Megan menyeringai dengan segala ujarannya yang lagi dan lagi tak jauh-jauh dari uang.


Tanpa tedeng aling-aling, Shane langsung menyergah leher Megan saat itu juga, seolah ingin men-ce-kik wanita itu.


Shane sedang dalam mode tak ingin bercanda. Jadi, ucapan Megan kembali menyulut emosi yang sudah mati-matian ditahannya.


"Jangan mempermainkan ku atau kau tidak ku izinkan untuk bernafas lagi mulai hari ini!" ancam Shane tidak main-main.


Kesalahan besar bagi Megan memang, dimana Shane sedang dilanda kekalutan karena kehilangan Elara, sementara Megan malah mencandainya.


"Le--lepaskan a-aku!" pinta Megan susah payah. Shane benar-benar membuatnya sulit bicara karena tekanan jemari pria itu di lehernya.


Namun Shane tidak bergeming.


"Aku bisa ma--ti, S-Shane!" lirih Megan kembali. Suaranya tercekat karena kerongkongannya mulai dibanjiri rasa sakit akibat ulah Shane.


"Kau pikir aku peduli!"


Wajah Megan semakin memerah saja seiring dengan cekikan Shane yang semakin keras dilehernya.


"Lep--pas!" pinta Megan dengan sangat.


Akhirnya Shane melepaskan tangannya dari leher wanita itu, karena bisa saja ia hilang kendali dan benar-benar mematahkan leher Megan didetik yang sama.


Megan pun langsung terbatuk-batuk keras. Wajahnya merah padam. Ia sempat meronta seperti ingin menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Lalu, setelah beberapa saat barulah Megan bisa untuk kembali bersuara.


"Sudah ku katakan, jika hilangnya istrimu tidak ada kaitannya denganku." Suara Megan terdengar lemah sekali. Mungkin jika Shane telat menghentikan aksi tadi--sedetik saja--maka dapat dipastikan jika nyawanya akan langsung melayang.


Megan kini menatap serius pada Shane, meyakinkan pada pria itu lewat sorot matanya bahwa ucapannya tidak lagi tengah bercanda.


"Per-se-tan denganmu!" umpat Shane kemudian. Ia tak akan percaya begitu saja. "... jika ternyata hilangnya Elara ada sangkut-pautnya denganmu, maka ku pastikan kau akan hidup dalam rasa ketakutan!" ancam Shane, lantas ia berlalu dari hadapan Megan yang tampak menciut.


Mau bagaimana lagi, Shane memang bukan lawan yang sepadan untuk Megan ajak bermain-main, jadi mana mungkin ia nekat menculik Elara. Itu mustahil untuk ia lakukan, begitulah batin Megan yang langsung bergidik membayangkan kemarahan Shane jika ia betul-betul melakukan tindak penculikan itu.


...***...


Shane terbangun di tengah malam. Hari-hari yang ia lalui tanpa istrinya sangat menyebalkan. Ia berubah menjadi sosok yang semakin tempramen. Tak jarang Shane mengumpat siapapun yang berani mengganggu kesendiriannya. Meski itu ibunya sendiri.


Sudah genap lima hari Elara menghilang, dan Shane menghabiskan malam-malamnya tanpa terpejam. Ia nyaris tak tidur dan hanya bisa terlelap setelah menghabiskan beberapa botol minuman keras. Itupun, ia tertidur dalam keadaan mabuk karena jika dalam kondisi sadar, Shane hanya bisa memikirkan Elara tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Yang ada di kepala Shane adalah kemana Elara pergi? Siapa yang membawanya? Apa istrinya baik-baik saja? Apa Elara sudah makan? Dan lain sebagainya.

__ADS_1


Belum lagi jika pikiran buruk menghantuinya. Shane seperti orang yang terkena sindrom paranoid. Ia ketakutan sendiri jika membayangkan istrinya yang pulang dalam keadaan tak bernyawa. Ketakutan-ketakutan itu muncul dengan sendirinya seiring Shane yang selalu memikirkan nasib Elara. Dan ini sangat menyiksanya.


Shane tampak kacau. Dan Emma bingung sendiri mengahadapi perubahan Shane yang sangat drastis dalam kurun waktu lima hari saja.


Ternyata Elara benar-benar berpengaruh untuk putranya.


"Shane, ibu tau kau tidak tenang memikirkan Elara. Tapi, ingatlah juga dengan kesehatanmu. Kau perlu makan, juga tidur dengan teratur. Jangan minum alkohol dengan berlebihan. Elara juga pasti akan marah dan sedih jika tau kau seperti ini, Shane." Emma berusaha membujuk sang putra.


Namun, bukan Shane namanya jika mengiyakan begitu saja. Justru ujaran Emma menyulut kemarahannya lagi.


"Bagaimana bisa ... aku tidur dan makan dengan enak, sementara disaat yang sama, aku tidak tau apakah diluar sana istriku sudah makan atau belum. Bahkan apakah dia bisa tidur dengan layak? Aku tidak bisa memastikannya, Bu! Dan ini membuatku sangat kesal!"


Dan rasanya Emma mau menyerah saja untuk membujuk Shane jika Shane terus bersikap begini. Andai Shawn juga ada disini, pasti dia akan membantu Emma untuk menenangkan Shane. Sayangnya, Shawn pun belum ditemukan dan seperti sengaja untuk menghilang.


Sedikit banyak, Emma tau perasaan kehilangan yang Shane rasakan. Mungkin ini nyaris sama seperti Emma yang juga merasa kehilangan Shawn.


Apalagi, Shane dan Elara masih terbilang sebagai pasangan pengantin baru. Ini merupakan kesakitan tersendiri bagi Shane, pikir Emma.


Apakah putranya ini akan gila hanya karena kehilangan istri?


Emma sampai memikirkan kemungkinan terburuk itu saat melihat betapa kacaunya Shane saat ini.


Emma berharap Elara segera ditemukan. Cepat atau lambat. Dalam keadaan apapun. Tapi, tentu Emma berharap Elara ditemukan dalam keadaan yang masih bernyawa.


Suara deringan ponsel Shane terdengar meraung-raung. Sementara sang empunya sangat enggan menjawab panggilan masuk tersebut.


Shane membaca nama di layar ponsel, itu adalah panggilan dari Max. Mungkin Max akan mengatakan hal serupa lagi seperti kemarin yakni dia yang kembali tidak berhasil untuk menemukan Elara.


Shane mendengkus pelan, tapi kemudian menerima juga panggilan dari Max disana.


"Tuan, saya menemukan Nyonya Elara," pekik Max diseberang sana.


Mata Shane langsung membola dengan kelopak mata yang terbuka lebar-lebar.


"Benarkah? Dimana? Apa dia baik-baik saja?"


"Ya, Nyonya Elara mengenali saya. Tapi--"


Ucapan Max terhenti, karena dipotong Shane yang tidak sabar. "Segera bawa dia pulang!" sergahnya.


"Ya, Tuan. Sekarang kami sedang didalam perjalanan menuju Mansion anda."


Shane mengembuskan nafas lega. Ia menatap Emma yang menunggu info darinya disana.q


"Ada apa, Shane?" tanya Emma yang melihat semburat harapan lagi dimata sang putra.


"Mereka menemukan Elara, Bu!"


"Benarkah? Syukurlah!" Emma tampak antusias. Dalam hati ia amat bersyukur atas hal ini.


Shane memutuskan mandi demi menyambut kepulangan istrinya. Rasa rindu begitu menyeruak dalam dada. Lima hari yang terasa melelahkan otak dan tubuhnya ketika Elara menghilang secara tiba-tiba.

__ADS_1


Shane sudah menyusun banyak pertanyaan jika nanti Elara pulang. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana bisa Elara pergi begitu saja dari Rumah Sakit?


Jika Elara sengaja, tak mungkin pencarian mereka akan sangat berlarut-larut seperti ini. Shane justru mengira jika istrinya benar-benar diculik. Apalagi jika ia mengingat sekilas mengenai potongan rekaman cctv dimana ada seorang wanita yang didorong dengan kursi roda tampak keluar dari koridor toilet--yang setelah Shane amati--wanita di kursi roda itu tidak sadarkan diri.


Tapi, kenapa mendadak Elara ditemukan? Sudahlah, yang terpenting Elara akan segera pulang, batin Shane.


Usai bersiap, Shane menunggu dengan harap-harap cemas di beranda Mansion-nya.


Hingga akhirnya, mobil yang dikendarai Max tiba dan berhenti disana. Disusul dengan pintu yang dibukakan lalu menampilkan sosok istri tercintanya yang turun dengan perlahan sekali dari dalam mobil.


Tapi ... kenapa Elara tampak tidak bersemangat? Istri Shane itu juga terlihat pucat. Apa Elara tidak senang kembali kesini? Apa Elara juga tidak mau memeluk Shane dan tidak merindukan suaminya, selayaknya Shane yang sangat merindukan Elara?


Didetik yang sama, Shane segera menyongsong kepulangan istrinya.


"Sayang? Kau baik-baik saja, kan?"


Elara memberi respon hanya dengan anggukan samar.


"Kau kenapa? Kau darimana, Lara?"


Elara menggeleng. "Aku lelah sekali, Shane," tuturnya dengan suara pelan, bahkan nyaris berbisik.


Baiklah, Shane tak akan memaksakan sang istri untuk menceritakan apa yang terjadi. Ia pun mengiring Elara untuk menuju kamar mereka.


Elara tampak sangat lemah, Shane sampai tidak tega melihatnya. Mengingat hari terakhir Elara bersamanya, wanita itu memang sedang tidak enak badan. Mungkin keadaan lemah Elara ada kaitannya dengan hal itu?


Shane berinisiatif untuk menggendong Elara dikedua tangannya saat mereka hendak menaiki tangga. Wanita itu tidak protes, meski tubuhnya memberi respon sedikit tersentak--yang juga dapat Shane rasakan saat menyentuh tubuh itu secara tiba-tiba.


Shane membaringkan Elara dengan hati-hati di ranjang kamar mereka. Betapa ia bersyukur karena akhirnya menemukan istrinya kembali.


"Shane, aku mau bicara." Elara memulai percakapannya.


"Ya. Apa? Bicarakan padaku."


Elara menatap Shane dengan mata yang berkaca-kaca. Tampak sangat ingin menangis.


"Ada apa? Kau mau bilang apa?"


"Aku tidak ingat dan tidak tau apa yang terjadi, Shane ... tapi aku merasa ada yang aneh dan janggal dari diriku."


Ucapan Elara membuat Shane terdiam sejenak. Ia langsung memperhatikan Elara dengan cermat seakan ingin menelisik lebih jauh penampilan istrinya yang memang--harus Shane akui--tampak berbeda.


"Kau bisa mengatakan padaku apa yang aneh itu?"


"A-aku merasa tubuhku remuk-redam. Sakit. Dan juga ... sangat lemah."


"Selain itu? Apa ada lagi? Ceritakan padaku apa yang kau ingat?" Shane tampak sangat khawatir.


Elara menggeleng samar. Kemudian sedikit bergerak untuk menyingkap baju yang ia kenakan.


Dan mata Shane terbelalak saat melihat ada bekas sayatan panjang di bagian samping perut Elara. Meski itu juga terlihat sudah dijahit, tapi tentu menimbulkan tanda tanya bagi keduanya karena Elara pun mengatakan bahwa ia tak ingat apapun.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2