
Perjalanan ke Dubai, cukup membuat mood baik dalam diri Elara muncul. Senyum di bibirnya mulai terlihat, membuat Shane turut bahagia melihat istrinya kembali bersemangat.
Ada secercah harapan besar dalam hati Shane, semoga kebersamaan mereka kali ini dapat membuahkan hasil dengan kehamilan Elara.
Untuk hal ini, Shane sudah menanyakannya kepada Ferdinand, meski Elara tak memiliki sepasang ginjal yang utuh tapi ia masih bisa mengandung jika memang keadaan reproduksinya sehat. Dalam arti lain, kehilangan satu ginjal tidak membuat Elara harus mengubur impiannya jika memang sangat menginginkan untuk hamil.
Untuk itulah, Shane berharap Elara segera mengandung. Selain merindukan keturunan, Shane juga ingin hal itu menjadi semangat baru untuk istrinya.
Kebetulan mereka tiba di Dubai sekitar pukul 19.40 waktu setempat.
Ketika sampai di Airport Dubai, mereka langsung merasakan perbedaan suhu. Panasnya udara di sana sangat terasa, meskipun itu pada malam hari.
Apalagi, jika mereka datang disaat puncak musim panas di bulan Agustus. Kabarnya, suhu udara disana bisa mencapai di atas 50 derajat Celcius.
Tiba di Dubai, mereka langsung ditawarkan banyak sekali wahana, atraksi dan berbagai destinasi wisata menarik lainnya.
Namun saat itu, Shane dan Elara lebih tertarik untuk langsung menuju hotel agar bisa segera beristirahat. Shane memang tidak mau memaksakan Elara, mengingat kondisi istrinya itu.
Lelah dalam perjalanan, membuat keduanya pun tertidur hingga pagi.
Dihari kedua, barulah mereka menjelajahi Dubai Downtown, termasuk Burj Khalifa.
Elara yang phobia ketinggian, sempat menolak ajakan Shane untuk mencapai lantai tertinggi di Burj Khalifa.
"Shane, aku bisa mati ketakutan," tolak Elara berkelakar.
Tapi Shane berusaha meyakinkan sang istri.
"Kau tau, ini adalah kesempatan pertamamu berada di lantai 124-125 gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, maka beranikan dirimu untuk menjajakinya."
"Tapi, Shane ... bagaimana kalau saat diatas nanti aku pusing?"
Shane terkekeh dan Elara benar-benar merasa ditertawai oleh suaminya sendiri.
"Jangan bilang kalau aku norak!" cetus Elara dan Shane kembali melanjutkan tawanya.
"Kau terus menertawakan ku!" Elara cemberut.
"Sayang, sebenarnya aku juga takut ketinggian. Tapi, kita sudah terlanjur disini. Ayolah! Jika kau takut, kau bisa memelukku dengan erat." Shane menyeringai. "Dan tidak perlu memandang ke bawah, lihat pemandangan yang ada disekitarnya saja, anggap jika kau sedang berada di lantai Apartmen ku, bagaimana?"
Elara tau yang dikatakan Shane itu benar. Lagipula ini memanglah kesempatan pertamanya dan mungkin yang terakhir. Entahlah, karena ia tidak tau kapan ia akan bisa datang kesini lagi. Hingga akhirnya, Elara pun menyetujui untuk naik ke gedung tertinggi di dunia tersebut.
"Oh my, God. Shane ... tolong pegangi aku," kata Elara polos.
Shane menahan geli melihat tingkah lucu istrinya.
"Huh, norak sekali aku ini." Elara lanjut menggerutu. Ia merutuki sikapnya sendiri.
"Kau bukan norak, Honey. Kau itu menggemaskan," akui Shane yang terdengar tulus. Ia paling suka jika melihat wajah Elara sudah ketakutan, entah kenapa itu mengingatkannya pada saat dimana dulu mereka berada di Hutan dan Elara sering memasang raut takut yang sama.
Elara hanya mendengkus pelan demi menanggapi ucapan suaminya. Lambat-laun, dia mulai bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski hatinya masih gamang berada di ketinggian itu, tapi genggaman tangan Shane yang tidak lepas dari jemarinya berhasil membuatnya sedikit merasa tenang.
Mereka juga tak lupa untuk melakukan pengambilan foto yang memperlihatkan pemandangan kota Dubai dari bangunan tertinggi itu.
Meski Elara menyunggingkan senyum saat berfoto. Tapi tak dapat dipungkiri jika senyum itu nampak kaku di fotonya.
Kendati demikian, Elara cukup bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil menaklukkan ketakutannya. Ya, akhirnya ia berani naik ke gedung Burj Khalifa sembari menikmati pemandangan kota dari gedung tertinggi di dunia itu.
Setelah menikmati panorama Dubai dari lantai 124-125 gedung Burj Khalifa, Shane dan Elara memilih untuk makan siang di sebuah food court di dalam Dubai Mall.
Puas mengisi perut, mereka melanjutkan jalan-jalan dengan menikmati wahana Dubai Aquarium yang letaknya masih dalam lingkup Mall yang sama.
__ADS_1
Elara memperhatikan begitu banyak spesies ikan yang terdapat disana. Ia memandangi tempat itu dengan takjub.
"Kau suka disini?"
"Hmm ..." Elara mengangguk cepat atas pertanyaan suaminya.
Shane ikut menatap pada objek yang kini menjadi atensi Elara disana, yakni sebuah ikan laut berukuran besar yang sedang berenang bebas.
"Semoga suatu saat nanti kita bisa kembali kesini bersama anak-anak kita." Shane pun merangkul bahu istrinya.
Elara menoleh pada wajah Shane disisinya. "Yah, i hope so. Semoga saja harapanmu itu akan terkabul," katanya yang juga disertai harapan dalam hati.
Shane mengelus pundak Elara dengan seulas senyum. "Amin ..." timpalnya.
Menjelang malam, mereka tidak mau melewatkan atraksi yang paling dinanti yaitu Dubai Fountain yang terletak di depan gedung Burj Khalifa.
Dubai Fountain dinobatkan sebagai air mancur atau air menari terbesar di dunia.
Selain itu, setiap 20 menit sekali, secara bergantian akan ada atraksi LED yang terlihat di tubuh gedung Burj Khalifa dari pukul 8 malam hingga 11 malam.
Shane dan Elara menyaksikan pertunjukan itu sampai hari menjelang larut.
Mereka kembali ke Hotel setelah puas berkeliling seharian ini.
"Thank you, Shane. Jalan-jalan kali ini membuatku sedikit melupakan keadaanku."
Shane mengangguk dalam posisinya yang sudah berbaring disebelah sang istri. "Kau senang?" tanyanya.
"Yah, ini menyenangkan."
Elara memeluk Shane dan menyurukkan wajah di dada bidang suaminya.
"Jangan tinggalkan aku, Shane. Meski sekarang aku sudah tidak sempurna."
"Tidak akan pernah."
Dan kegiatan mereka malam itu berlanjut dengan yang semestinya dimana Shane ingin menargetkan agar istrinya cepat mengandung.
Meski lelah, tapi Elara selalu menyambut keinginan suaminya dengan sepenuh hati. Hingga mengantarkan keduanya pada buaian ga i rah yang membuncah.
Shane melepaskan be-nihnya ke dalam rahim Elara dengan seuntai doa, semoga darah dagingnya cepat hadir disana sebagai bentuk nyata cintanya pada sang istri, juga sebagai pelipur lara untuk Elara.
...***...
Perjalanan Shane dan Elara di Dubai belum berakhir. Banyak tempat destinasi yang masih ingin mereka nikmati termasuk Old Town Dubai yang terletak di daerah Al Fahidi dan Bur Dubai. Mereka memutuskan kesana di hari ketiga.
Di daerah Old Town ini banyak toko-toko yang menjual suvenir dengan harga yang cukup terjangkau.
Shane dan Elara membeli cukup banyak benda-benda untuk dijadikan oleh-oleh yang Elara bilang sebagian nanti akan ia kirimkan ke Indonesia.
Elara juga tak lupa untuk membelikan Lisa dan Nolan. Pelayan dan pengawal setianya yang sering menemaninya jika keluar Mansion tanpa Shane.
"Ah, aku juga mau membelikan Jasmine. Tapi, aku tidak tau kapan kami akan bertemu lagi," gumam Elara merujuk pada sebuah gelang tangan yang sama seperti yang ingin ia belikan untuk Lisa.
"Kau juga bisa mengirimkannya untuk Jasmine, Sayang."
"Benarkah? Bagaimana caranya mengirim barang ke pelosok?"
"Kan aku pernah janji kalau kita akan kesana lagi."
__ADS_1
Kelopak mata Elara melebar seketika. Ia berbinar senang. "Kau serius? Kau mau menemaniku kesana?" tanyanya memastikan.
"Of course yes!"
"Kalau begitu, aku belikan juga untuk Calvin dan Phoenix," lanjut Elara merujuk pada dua orang bocah kesayangannya saat mengajar di desa tersebut.
Shane senang-senang saja selagi Elara menyukai kegiatannya. Mereka menyudahi kegiatan membeli oleh-oleh itu saat merasa sudah terlalu banyak barang yang dibeli.
Malamnya, mereka menyempatkan untuk makan malam di Dhow Cruise, itu adalah semacam kapal kecil, dimana disana menyajikan masakan internasional sekaligus dapat menikmati pemandangan terbaik Dubai dari beberapa sudut yang tak terduga. Suasananya elegan dan romantis.
...***...
Di hari ke-4, Shane dan Elara menghabiskan hari dengan bermain di setiap wahana yang ada di Legoland. Mereka bermain cukup banyak wahana di sana dan mengabadikan foto, salah satunya di depan gerbang Legoland.
Mereka seperti kembali menjadi anak-anak diusia yang tidak muda lagi. Tapi, karena hal ini pula Elara menjadi merasa liburannya semakin lengkap. Suaminya ini memang patut diacungi jempol. Padahal mereka belum memiliki anak tapi bisa-bisanya Shane tetap mengajaknya ke wahana permainan. Sungguh diluar prediksi.
Pergi ke Dubai akan kurang rasanya jika tidak menjelajahi suasana gurun pasir. Oleh sebab itu, di hari berikutnya perjalanan ke Dubai mereka habiskan untuk menuju wisata gurun pasir dengan menggunakan jasa tour.
Dune Bashing, tour menjelajahi padang gurun dengan menggunakan mobil sambil menikmati atraksi dari sang sopir dalam menyetir.
Setidaknya selama 10 hingga 15 menit, mereka akan merasa seperti sedang dalam wahana mini jet coaster atau kora-kora yang mengocok perut.
Setelah menikmati atraksi Dune Bashing, Shane dan Elara dibawa oleh pihak tour ke dalam satu kawasan pemukiman kecil yang terdiri dari banyak tenda dan berkumpul dengan semua turis lainnya.
Disana mereka menyaksikan Atraksi Belly Dance atau tari perut.
Shane pikir Elara akan marah jika ia menyaksikan atraksi tersebut, tapi yang ada Elara malah terkekeh saat melihat Shane yang seakan tidak berminat untuk melihat perut wanita lain yang terpampang disana.
"Kenapa kau tidak mau melihatnya?" cibir Elara.
"Entahlah, mungkin karena perut istriku lebih bagus," kelakar Shane. Ia tidak bisa menyaksikan dimana tarian itu mempertontonkan gerakan perut, pinggul dan pinggang yang bergoyang-goyang. Itu cukup membuatnya gusar dan tak enak hati.
"Bagus apanya? Perutku ada parut bekas luka bakar, sekarang malah bertambah lagi dengan bekas jahitan." Elara mengingat bekas jahitan dimana ginjalnya dicangkok tanpa persetujuannya.
Shane menangkap nada sedih Elara dan ia segera mendekap istrinya. "I'm sorry, aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan hal itu lagi," katanya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Shane. Aku tau letak kekuranganku."
"Lara, jangan membahas soal kekuranganmu lagi. Bagiku kau selalu sempurna."
"Dasar perayu ulung." Elara terkekeh dan dibalas Shane dengan hal serupa. Sudah lama julukan itu tidak Elara lontarkan pada dirinya dan Shane senang jika Elara telah kembali seperti dirinya yang dulu.
Saat mereka masih asik bercengkrama, sebuah pesan di ponsel Shane membuyarkan atensi Shane pada istrinya. Itu adalah pesan dari Max yang melaporkan penyelidikannya.
"Kyle Ritter memang melakukan transplantasi ginjal, Tuan. Tapi kami menemukan kejanggalan bahwa penerima ginjal Kyle bukanlah Nona Stevi."
Shane terdiam cukup lama untuk meresapi apa yang baru saja dilaporkan Max kepadanya.
"Shane ..."
Dan lamunan Shane buyar karena Elara memanggilnya.
"Ada apa? Kau menerima pesan dari siapa?" tanya Elara kemudian.
"Max ..."
"Ada apa dengan Max?"
"Tidak ada apa-apa, ini hanya masalah pekerjaan."
Elara mengangguk, dia kembali menyaksikan tarian yang masih tersaji di depan mata.
__ADS_1
Sementara, Shane sendiri masih kepikiran dengan pesan yang Max kirimkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kyle mendonorkan ginjalnya? Tapi penerimanya justru bukan Stevi? Lalu kenapa data rumah sakit menyatakan jika Stevi menerima ginjal dari Kyle? Ada apa ini?
...Bersambung ......