
Menghabiskan waktu weekend dengan berkemah, membuat Elara dan Shane harus kembali ke Mansion saat memasuki hari kerja.
"Maaf harus meninggalkanmu lagi," kata Shane pada Elara yang menyimpulkan dasinya.
Elara lantas mendongak sekilas untuk melihat raut enggan yang dipancarkan suaminya. Nampak sekali jika Shane malas melakukan aktivitasnya hari ini tapi tanggung jawab yang besar menuntutnya untuk tetap pergi ke perusahaan.
"Tidak apa-apa, Shane. Aku tau kau memiliki kewajiban dan tanggung jawab lain di kantormu." Elara sudah selesai memasangkan dasi suaminya, ia menepuk-nepuk pelan sisi bahu Shane seolah membersihkan sesuatu disana.
"Thank," ujar Shane berterima kasih atas tindakan istrinya.
Elara menyunggingkan senyum lembut.
"Baiklah, saatnya kau berangkat, Shane."
Shane menghela nafas berat. "Sebenarnya aku masih mau bersamamu," keluhnya.
Elara justru terkekeh. "Kita sudah menghabiskan akhir pekan bersama. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?' ujarnya.
Shane menggeleng. "Belum cukup, aku masih rindu padamu," akuinya.
"Shane ... pergilah," kata Elara lembut.
"Ada baiknya kau ikut agar menjadi moodbooster ku di kantor."
Elara tertawa sekarang. Terkadang suami tampannya ini memang manja dan sangat berlebihan. Entah memang selalu demikian atau justru hanya padanya saja. Tapi, sepertinya Shane hanya bertingkah kekanakan didepannya saja dan entah kenapa Elara justru menyukainya.
Shane memangkas jarak diantara mereka, mengecup dahi Elara dalam-dalam.
"Aku berangkat bekerja ya, Sayang."
Elara mengangguk dalam posisi dimana Shane masih menangkup pipinya dengan jari-jemari besar milik pria itu.
"Iya."
Shane gemas sekali melihat wajah imut sang istri, rasanya ia tidak rela meninggalkan Elara berlama-lama. Lebih tidak rela lagi jika orang lain yang ada di rumah justru bisa lebih lama menatap istrinya ketimbang dirinya yang harus menghabiskan waktu di kantor.
"Ayo!" Elara mengingatkan suaminya untuk segera beranjak.
Meski sejak awal sudah enggan, tapi akhirnya Shane berderap juga.
Elara mengernyit kebingungan melihat Shane yang kembali memutar arah ke arahnya dalam beberapa detik kemudian.
"Ada apa lagi? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Elara memastikan.
"Ya." Shane kembali berdiri dihadapan Elara sambil menunjuk pipinya sendiri dengan telunjuknya.
Elara langsung mengerti keinginan Shane, ia sedikit berjinjit untuk meraih pipi suaminya itu lalu melabuhkan sebuah kecupan ringan disana.
"Satu lagi." Shane menyodorkan pipinya yang lain, yang belum mendapat jatah kecupan.
__ADS_1
Elara menggeleng samar sambil mengulumm senyum, namun tak urung melakukan juga keinginan suaminya. Sepertinya setiap hari memang akan ada drama seperti ini yang dilakukan olehnya dan suami manjanya ini.
Cup.
Elara mendaratkan satu ciuman lain di pipi kiri Shane dan membuat suaminya itu mengulas senyum semringah.
"Thank you, honey. Aku berangkat dulu." Dan akhirnya Shane mengecup bibir Elara sebelum benar-benar pergi. Tidak sekedar kecupan sebenarnya, karena Shane sempat melumattnya.
Elara melepas kepergian Shane hari itu dengan senyuman yang mengembang dan lambaian tangan sampai mobil yang mengantarkan Shane benar-benar berlalu dari hadapannya.
Baru saja Elara hendak berbalik masuk saat seorang penjaga rumah memanggilnya.
"Permisi Nyonya ..."
Elara menoleh pada pria yang memanggilnya itu.
"Ada apa, Pak?" sahut Elara.
"Ada kiriman untuk Anda." Pria itu menyerahkan sebuah bingkisan untuk Elara. "Maaf jika isinya sudah lebih dulu saya cek untuk memastikan keselamatan Anda," ujar pria itu dengan tatapan sungkan.
Elara mengangguk singkat, sedikit banyak ia sudah mengetahui beberapa peraturan di Mansion ini, terutama soal paket barang yang harus dipastikan keamanannya terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan penerima yang tinggal di kediaman tersebut.
"Ya, terima kasih," kata Elara yang lantas membuka isi bingkisan itu.
Elara melihat jika disana ada satu box yang cukup besar dengan berisikan aneka macam buah berry, kesukaannya. Strawberry, blueberry, blackberry dan rasberry. Sejak dulu ia memang menyukai buah-buah kecil itu, ditambah dengan satu varian berry lain yaitu berry hutan--karena membuatnya selalu mengingat kejadian di Hutan bersama Shane--menjadikannya penggila berbagai macam jenis berry apa saja.
Sontak hal ini membuat Elara mengernyit saat menerima box buah tersebut. Apa mungkin ini dari suaminya?
"Kenapa aku tidak menanyakannya saja pada penjaga itu," batin Elara.
Elara melambaikan tangan pada pria yang tadi memberinya bingkisan tersebut.
"Aku lupa bertanya, siapa yang mengirimkan bingkisan ini tadi?" tanya Elara pada pria itu yang sudah berdiri dihadapannya.
"Seorang pria, katanya dia adalah sahabat Anda, Nyonya."
Dan perasaan Elara langsung mencelos saat mendengarnya.
"Kyle. Ya, namanya Kyle. Hanya itu yang dia ucapkan."
Elara terlalu terkejut dengan kiriman dari Kyle ke Mansion suaminya ini. Apa Kyle sudah mendengar soal kabar pernikahannya dengan Shane? Mengingat itu, Elara sampai tidak merespon apapun saat penjaga Mansion undur diri dari hadapannya.
Elara masuk ke dalam rumah dan terduduk di ruang tengah sambil menatap lurus-lurus pada bingkisan yang baru diterimanya.
"Seharusnya aku sudah dapat menebak jika ini dari Kyle," gumam Elara. Ia mengingat momen dimana Kyle sering mengunjunginya dengan buah-buahan yang sama. Kyle memang selalu tau kegemaran dan kesukaannya dan Elara tidak menampik hal itu.
Mendadak, Elara merasa dihantam perasaan bersalah. Ia tau tidak seharusnya ia menyembunyikan kabar pernikahannya dari Kyle hingga pria itu mendengar kabar ini dari orang lain. Tapi, mau bagaimana lagi. Awalnya Elara hanya berniat merahasiakan ini dari Stevi. Jika Kyle tau maka Stevi akan tau juga, kan? Mengingat jika mereka bersepupu. Tapi semakin kesini, Elara tau jika hal ini dapat membuat Kyle semakin kecewa padanya.
"Maafkan aku, Kyle." Elara menatap nanar pada bingkisan tersebut.
__ADS_1
Tak ayal, ia meraih itu dan mulai membukanya. Setelah disadari, Elara menemukan secarik surat yang mungkin sengaja Kyle letakkan disana.
"Selamat atas pernikahanmu, aku berharap kau selalu bahagia. My best friend, FOREVER."
Elara terhenyak saat membaca ujung kalimat disana. Kyle seakan mau menekankan jika hubungan mereka adalah sahabat selamanya. Tapi disini Elara juga menangkap makna bahwa Kyle sangat kecewa karena Elara seakan tidak menganggap persahabatan mereka karena menyembunyikan kabar besar mengenai pernikahannya dengan Shane.
Disana Kyle mencantumkan sebuah nomor ponselnya. Yang Elara tau jika itu masihlah nomor lama Kyle. Mungkin Kyle ingin menyindir Elara yang tidak menghubunginya. Mungkin pula merasa jika Elara sudah tidak menyimpan nomor ponsel pria itu.
Mengenai hal ini, Elara tentu tidak menghapus nomor Kyle begitu saja. Harus ia akui jika ia memblokir nomor Kyle sejak saat pelariannya ke pelosok desa waktu itu. Bukan demi menyembunyikan rencana pernikahannya melainkan ia melakukan itu untuk menjaga jarak sejak Kyle melamarnya tempo hari.
Sekali lagi Elara merasa bersalah pada sahabatnya itu. Padahal dulu ia sudah bertekad tidak akan menjauhi Kyle hanya karena hubungannya dengan Shane. Bahkan dulunya ia rela berdebat dengan Shane hanya untuk mempertahankan hubungan persahabatannya dengan Kyle. Tapi nyatanya, ia sendiri yang menjauh dari sahabatnya itu. Apa Elara salah? Hatinya mengatakan jika ia memang bersalah.
"Tidak seharusnya aku mengesampingkan mu, Kyle. Maafkan aku." Elara mengingat segala sikap baik Kyle, maka dari itu ia merasa berdosa telah mengabaikan sahabatnya begitu lama.
Elara meraih ponselnya dan segera membuka blokiran nomor Kyle. Ia pun mencoba menghubungi pria itu demi permintaan maaf yang tulus.
Elara merasa benar-benar bersalah.
Hanya terdengar sekali nada sambung, panggilan Elara langsung bersambut.
"K-Kyle ..." Suara Elara bahkan sangat tercekat saat memanggil nama sahabatnya.
Bingkisan yang dikirimkan Kyle hari ini seperti teguran keras buat Elara, seolah ia telah melupakan sahabatnya begitu saja dengan sangat tidak berperasaan sama sekali. Tega. Begitulah Elara mengumpati dirinya sendiri.
"Kau meneleponku? Apa aku tidak sedang bermimpi?" respon Kyle diseberang sana.
Elara mematut senyum sendu meski ia tau Kyle tak dapat melihat itu.
"Maafkan aku, Kyle. Aku pasti menaruh luka yang membuat hatimu begitu kecewa," tutur Elara dengan segala persepsinya.
"Ya, kau benar." Dan Kyle memilih untuk mengakui itu daripada berbohong hanya untuk menenangkan Elara. Jujur jika Kyle memang sangat terpukul atas semua ini, terutama mengenai pernikahan Elara dengan Shane. Tapi jika hubungan persahabatannya dengan Elara dapat membaik, maka Kyle lebih memilih menggenggam bara api itu daripada kehilangan Elara selamanya,maka dari itu ia masih berniat menjawab telepon dari wanita itu.
"Kau mau memaafkan ku, kan?" tanya Elara kemudian.
"Jangankan hanya maaf, bahkan jika kau meminta yang lain ... aku akan mengusahakannya."
"Jangan berujar seperti itu, Kyle. Aku jadi merasa sangat bersalah padamu."
"Dan kau melakukannya, Ela. Kau memang bersalah padaku. Apa kau tidak bisa memberitahuku soal pernikahanmu? Ku pikir, ini bukan hal kecil. Apa hubungan persahabatan kita segitu tidak berartinya di matamu?" cetus Kyle tanpa bisa menahan diri lagi.
"A-aku tau, untuk itulah aku meminta maaf."
"Apa bingkisan dariku yang membuatmu sadar? Kalau hari ini kau tidak menerima bingkisan itu, apa kau juga akan menyadari kesalahanmu? Aku ragu kau masih mengingatku jika aku tak berinisiatif mengirimkan bingkisannya padamu, atau justru ... kau akan melupakanku selamanya, Ela?"
"Jangan bicara begitu, Kyle. Aku tidak mungkin melupakanmu," sanggah Elara.
Kyle tertawa sumbang diseberang sana. "Kenapa, Ela? Kenapa dari sekian banyak hal yang ada dalam hidupmu, kau justru memilih untuk menyingkirkan aku?" tanyanya menohok.
Dan seketika itu juga--karena ucapan Kyle itu pula--Elara langsung merasa miris dengan tindakan yang telah ia perbuat pada sang sahabat.
__ADS_1
...Bersambung ......